
Rea merasa kesal melihat kebersamaan Arga dan Rachel dari salah satu unggahan sosial media milik Rachel. Ia kesal mengapa seolah hanya Ia yang dirugikan setelah semua ini. Tidak hanya dirugikan Rea bahkan harus kehilangan banyak hal karena keterlibatannya dengan Rachel. Ia selalu merasa bahwa rasa cintanya pada Samuel, akan cukup untuk menyayangi Rachel yang juga merupakan Adik Samuel. Namun, Ia tau bahwa hubungannya dan Rachel hanya sebatas itu. Ia tidak pernah benar-benar menyukai Rachel, kepeduliannya hanya karena rasa cintanya pada Samuel. Ia hanya terjebak dalam sebuah terowongan, dimana tak pernah ada jalan keluar atas semua itu. Ia terjebak dalam perasaannya pada samuel, hingga kegelapan mulai menyelimutinya.
*
Jeno memutuskan untuk mengunjungi makam 'Samuel' untuk pertama kalinya. Entah mengapa Ia ingin sekali mengunjungi seseorang yang telah menggantikan jasadnya di bawah sana. Seseorang yang rela memberikan identitas ini di saat-saat terakhir kehidupan yang Ia miliki. Lelaki tangguh yang sangat dicintai sang kuasa, hingga memintanya untuk kembali secepatnya.
Namun, ketika akan melangkah ke pemakaman itu Jeno melihat seorang gadis yang tengah menangis tersedu. Gadis itu seolah mengalami patah hati yang teramat dalam, dan tiada yang mampu mengobatinya. Sesekali tangannya yang lemah memukul makam tersebut seolah meminta seseorang di bawah sana untuk bangun.
Jeno berjalan ke arah makam Samuel dan menghentikan tangan gadis itu. Ia ambil saputangan miliknya dan menyeka air mata gadis itu.
" Apa yang Kau lakukan disini? " tanya gadis itu.
" Melihatmu menangis? " jawab Jeno membuat gadis itu mengambil sapu tangan dari tangan Jeno dan menghapus air matanya.
" Ayo Kita kembali. " ujar gadis itu, namun Jeno hanya berdiri diam disana.
" Mengapa Kau diam? " tanya gadis itu lagi.
" Untuk apa Aku kembali, tujuanku adalah kesini. " Jeno meletakkan bunga yang Ia pegang dan meletakkannya di atas makam.
" Kau mengenal Samuel? " tanya gadis itu.
Namun, tak ada jawaban apapun dari Jeno.
" Mengapa Kau diam? Katakan! Apa Kau mengenal Samuel? " tanya gadis yang bernama Rea itu sembari menarik kerah Jeno lalu memukul dada lelaki itu dengan tenanganya yang lemah.
" Apa Kau pikir Kau sudah sangat mengenalku hanya karena Kita melakukan kesepakatan bodoh itu. " ujar Jeno gamblang.
" Kesepakatan apa? " tanya Rea.
" Kesepakatan antara Kau, Aku dan Arga. Apa Kau lupa semua itu? " Rea terdiam.
" Kau mengira bahwa dirimu lah yang membodohi Rachel menggunakan Aku dan Arga. Kau tidak tau bukan bahwa selama ini Kau lah yang dibodohi. Apa Kau kini menyesali kesepakatan itu dan datang ke makam ini untuk menangis, apakah itu yang mau Kau lakukan?! " seru Jeno dengan nada tinggi.
Rea masih terdiam sambil menatap nyalang.
" Apa Kau pikir orang di bawah sana akan mendengarmu? Mendengar keluh kesahmu? Dia sudah mati, Rea. Tak ada gunanya Kau menangisinya seperti itu! " lanjut Jeno.
__ADS_1
" Dia mungkin sudah mati, namun di hatiku. Tidak ada pernah ada hal seperti itu. " ujar Rea.
" Apa Kau melakukan semua ini karenanya? perjanjian bodoh itu? "
" Aku hanya ingin melindungi adikknya, seperti yang Ia pinta. Tapi, bagaimana bisa adiknya itu merebut segalanya dariku! "
" Lalu, apakah ini salah lelaki yang tidak pernah mati di matamu itu? "
" Tidak,tidak. Samuel tidak bersalah atas apapun. "
" Kau bahkan membelanya ketika sudah begini. "
" Rea, lihat Aku. " ujar Jeno tiba-tiba.
" Kau mungkin tak mengenaliku, tapi tatap mataku sekali ini saja. "
Rea mendekatkan wajahnya dan menatap mata Jeno, Ia memang jarang bertatapan lama dengan Jeno. Ketertarikan lelaki itu kepadanya sedikit membuatnya risih.
Namun, ketika matanya masuk ke dalam visualisasi netra Jeno, Ia tau ada sebuah hal yang tak Ia sadari selama ini. Mata berwarna kelam itu adalah mata yang takkan pernah Ia lupakan.
" Sa...Samuel..ba...ba...bagaimana..bi...sa?"
" Aku senang Kau masih disini. " Rea ikut memeluk Jeno dengan erat seolah tak ingin melepaskannya lagi.
*
" Aku bingung mengapa Rachel tiba-tiba mengundurkan diri dari perusahaanmu. " Ibu Rachel menatap suaminya dengan penuh tanya.
" Entahlah, Aku terkadang lupa Ada seorang wanita yang merusak reputasi anaknya sendiri di pesta pertunangan orang lain. " balas lelaki yang kini menyesap winenya, sarkas.
" Akhir-akhir ini Kau sangat pintar bicara, Apakah karena ini? bukankah Aku sudah melarangmu untuk minum? " Ibu Rachel mengambil gelas wine tersebut dan menghabiskannya dalam satu tegukan.
" Jujur saja, Aku melakukan hal itu demi Rachel. " ujar Ibu Rachel tiba-tiba.
" Demi dirinya? Apa Kau sadar bahwa drama murahanmu telah mempermalukan dirinya dan juga Aku selaku suamimu. "
" Kau bahkan berani menikahi seorang janda dengan jarak usia yang cukup jauh sepertiku, Apa Kau masih merasa berhak untuk malu? "
__ADS_1
" Aku tidak punya pilihan, Aku butuh seseorang yang cerdas sepertimu untuk menjaga hartaku kelak. "
" Pintar sekali bicaramu itu, Kau pikir Aku tidak tau berapa banyak wanita yang Kau tiduri di luar sana. Kau bahkan tanpa berpikir menghabiskan uangmu untuk mereka, dan Kau ingin Aku menjaga harta milikmu? yang benar saja, jika Aku tidak tau malu Aku sudah membawanya lari sejak lama. "
" Aku benar-benar bertanya-tanya bagaimana bisa wanita sepertimu masih mempunyai rasa malu? "
" Baiklah, jika begitu Kau benar-benar tidak masalahkan jika Ku habiskan hartamu itu? "
" Tidak, tidak begitu sayang. Kau tau bahwa asetku sudah atas namamu, jika Aku mati Kau akan memiliki semuanya. "
" Rasanya Aku ingin membunuhmu saat ini juga, agar segera memilikinya. "
" Aku tau Kau tidak akan melakukannya. "
" Aku tidak begitu peduli tentang harta sebenarnya, menikah denganmu pun Aku hanya ingin agar hidup Rachel terjamin kelak jadi Aku membutuhkanmu untuk membiayainya. Apa Kau tau saat Aku melahirkannya, Aku bahkan tidak punya uang untuk biaya persalinan. Aku terpaksa menelfon lelaki tidak bertanggung jawab itu, dan meminta sedikit uang kepadanya. Setelahnya, Ia justru pergi liburan bersama istri dan anak pungutnya. Melupakan fakta bahwa putri biologisnya baru saja lahir. "
" Aku masih tidak mengerti mengapa Kau tidak berlaku seperti sebagamainanya seorang ibu? mengapa Kau harus terlihat seperti ini di mata putrimu sendiri, Aku terkadang sedikit Iba. "
" Kau tau? kehidupan Kami begitu sulit dan Aku tidak siap untuk menjadi seorang Ibu. Hingga akhirnya Aku menikah dengan seorang lelaki yang mau menerima Kami, namun entah bagaimana lelaki itu sekarang berakhir di rumah sakit jiwa. "
" Aku dengar Ia menjadi Ayah yang baik untuk Rachel selama ini, mengapa Kau memilih meninggalkannya? "
" Aku rasa Ia terlalu baik untuk Kami berdua. "
" Lalu, Apa hubungan semua ini dengan Arga? Mengapa Kau repot-repot merusak pertunangannya? "
" Dia cinta pertama putriku. "
" Ah, pantas saja lelaki itu begitu posesif ketika Aku mencoba menyentuh putrimu. "
" Apa katamu?! Aku bisa memaklumi sikap mesummu itu, namun jika Kau kembali melakukannya pada putriku. Aku tidak akan segan-segan. "
" Tenanglah, Aku tidak akan berani lagi. Arga begitu mengerikan. "
" Syukurlah, sepertinya Arga juga menyukai putriku. Aku sama sekali tidak menyesal telah merusak pertunangannya. " Ibu Rachel tersenyum penuh kelegaan, sepertinya opera sabunnya memang tidak sia-sia.
" Hm, Kau pasti senang sekarang. "
__ADS_1
***
Terowongan mungkin gelap dan Kita bisa saja tersesat, namun akan selalu ada cahaya terang menanti di ujung sana.