
Keila melihat botol obat terletak asal di atas tempat tidur Lyra.
" Duh, ni anak bisa-bisanya dia konsumsi ini pas kerja. Ketiduran dia pasti tuh. " batin Keila.
Sahabatnya yang satu itu memang kesulitan tidur di malam hari. Lyra akan selalu memintanya untuk meresepkannya obat tidur jika gadis itu tidak bisa tidur. Keila yang notabenenya seorang mahasiswi kedokteran tentu saja tau obat yang cocok untuk masalah itu.
Ini sudah 5 tahun sejak Lyra mengalami gangguan tidur di malam hari. Biasanya jika Ia tidak bisa tidur di malam hari, Ia akan meminum obatnya dan tidur di siang hari sebagai gantinya. Karena anehnya obat itu hanya bereaksi di siang hari. Keila selalu berpikir bahwa hal itu terjadi karena ada masalah psikologis yang mungkin dialami Lyra, membuat obat itu tidak bereaksi di malam hari.
Namun, karena akhir-akhir ini Lyra harus bekerja. Ia tidak menganjurkan Lyra untuk mengonsumsi obat itu. Namun, gadis itu malah mengonsumsinya tadi malam.
Keila mengambil botol obat itu dan memasukkannya ke dalam tasnya , Ia akan memastikan bahwa Lyra tidak mengonsumsi obat itu untuk sementara. Itu jelas akan mengganggu pekerjaannya.
*
" Lyra, Loe kecapekan ya? " tanya Ayu pada Lyra.
" Engga, Kok. Emang kenapa, Yu? "
" Gue liat tadi pas makan siang Loe tidur nyenyak banget. "
" Ah, itu. Gue emang suka ketiduran kalau siang, maaf banget ya. Padahal gue baru disini tapi udah bikin yang lain ga nyaman. "
" Engga kok, disini mah pada santai. Loe liat aja Radit, dia hampir tiap hari tidur kok. Tapi kerjaannya selalu beres, jadi Kita ga permasalahin sama sekali. " Kata Ayu sambil menunjuk seorang Pria yang tengah tertidur di meja kerjanya.
" Oke, kalau gitu buat ngeganti kesalahan gue yang ketiduran tadi, Gue bakal nyelesain beresin semua kerjaan hari ini juga. " ujar Lyra semangat.
" Loe mau lembur? " tanya Ayu.
" Iya kayanya, lagian Gue ga bisa tidur kalau malam. Jadi, lebih baik disini nyelesaiin kerjaan kan? "
" Loe yakin? "
" Iyaa. "
*
Keila menelpon Lyra yang tengah asik menyelesaikan kerjaannya. Gadis itu lembur hari ini, jadi Keila memutuskan untuk menemaninya di kantor.
" Lyra, Gue kesitu ya? Ga tenang nih Gue Loe lembur segala. " ujar Keila khawatir.
" Gausah, Keila. Gue gamau repotin Loe. " ujar Lyra.
" Engga kok, lagian Loe belum makan kan? Ini gue masak pasta buat Loe. Gue anterin ke Kantor ya? "
" Hm, yaudah deh. Tapi hati-hati ya daerah kantor Gue suka sepi kalau malem. "
" Lah, itu tau. Jadi, ngapain Loe lembur. "
" Hehe. "
__ADS_1
*
Keila memasuki Kantor Lyra namun tidak ada satu orang pun disana, Ia memanggil nama Lyra namun tak ada yang menjawab.
" Lyra..Lyra.." ujarnya pelan.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang mendekat ke arahnya, namun Ia tidak berani menolehkan kepalanya ke belakang.
" Lyra..Itu loe kan? "
Tak terdengar jawaban, Keila menjadi Parno sendiri karena keadaan kantor yang remang-remang.
"Lyra..."
Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahunya membuat Keila berteriak ketakutan.
" Aaaaaaaaa. "
Seorang lelaki yang tadi memegang bahu Keila menatap gadis itu datar. Lalu dengan suara beratnya ia bertanya.
" Loe ngapain disini? "
" Radit? " seru Keila, mengenali suara siapa yang baru saja di dengarnya.
Klik
Lampu ruangan tersebut menyala, seorang gadis tengah mengelap mukanya dengan handuk.
" Eh Loe udah dateng, La. Maap tadi ke toilet bentar cuci muka. Eh, ada Radit juga, Loe belum pulang?"
" Oh iya, Lyra. Nih, makanan Loe. Ga jadi ah gue nemenin Loe ada ini orang. " Keila menatap Radit sinis.
" Kalian saling kenal? " tanya Lyra, melihat pandangan tidak suka Keila pada Radit.
" Ga! " ujar Keila dan Radit serempak.
" Lah, terus? "
" Tau ah, Gue mau balik aja. " Keila akan beranjak pergi namun Radit menahan tangannya.
" Gausah repot-repot, Gue mau balik ke rumah aja hari ini. Temenin aja tuh Lyra, kasian Lembur sendirian. " Keila menatap Radit penuh tanya, sejak kapan lelaki itu mengalah padanya.
" Iya bener kata Radit, Loe disini aja. Lagian kapan lagi Radit balik ke rumahnya kalau Loe ga dateng hari ini. "
" Ah, entahlah. Udah sana cepet pergi, males gue liat muka Loe lama-lama. "
" Iya ini juga mau pergi, jubaedah." seru Radit yang sibuk mencari kunci motornya di meja kerja.
*
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, Raka mengendarai sepeda motornya melintasi jalanan Kota. Meskipun sudah tengah malam, masih banyak kendaraan yang berlalu-lalang. Lelaki itu menghentikan kendaraanya di depan sebuah bangunan.
" Bro, lama banget sih, Lo. " ujar seorang lelaki berperawakan besar.
__ADS_1
" Maaf, Loe tau sendiri keluarga Gue curigaan orangnya, mana bisa Gue keluar rumah gitu aja. " jelas Raka.
" Loe bawa barangnya, kan? " tanya lelaki satunya yang bertubuh cungkring.
" Bawalah, tapi harganya tetap kesepakatan awal ya? Gue gamau ada tawar-menawar. " ujar Raka.
" Tenang aja, Kita juga udah siapin uangnya seperti yang Loe mau. Siniin barangnya. "
Raka memberikan barang yang ada di tangannya kepada kedua pria itu, namun ketika Ia akan mengambil tas berisi uang yang diserahkan si pria cungkring, suara tembakan terdengar dari belakang.
Raka yang terkejut tidak menyadari bahwa kedua lelaki di depannya telah pergi membawa uang yang seharusnya menjadi miliknya. Dari belakang tampak segerombolan orang yang seperti siap mengejarnya.
Ia berlari, namun terlambat karena mereka mulai memukulinya dengan keras. Salah satu dari mereka memukuli kakinya dengan tongkat bisbol dan yang lainnya membogem wajahnya dengan keras. Raka yang tidak sanggup melawan, terkapar begitu saja di lantai bangunan itu. Darah bercucuran hampir di seluruh bagian tubuhnya, bibirnya sobek dan wajahnya memar parah. Seorang lelaki berdiri di atas tubuhnya, menginjak dengan keras dada Raka hingga tulang rusuknya patah dan dadanya penuh sesak.
Setelah merasa bahwa Raka sudah sekarat, mereka meninggalkannya disana. Semua orang itu telah pergi, dan Raka mencoba untuk tetap sadar meskipun pandangannya mulai buram. Ia mengumpulkan kekuatan terakhir yang ia miliki, dan mengambil ponselnya. Menekan nomor yang sudah Ia hafal luar kepala.
*
Keila sudah tertidur lelap di kursi kantor Lyra, pada akhirnya Lyra sendirian mengerjakan pekerjaannya. Gadis itu masih begitu terjaga karena Ia terbiasa bekerja di malam hari.
Ketika Ia akan melanjutkan ke tugas berikutnya, ponselnya tiba-tiba berdering. Sebuah nama yang tidak Ia duga sama sekali terpampang disana. Tanpa basa-basi, Ia langsung mengangkat telpon itu dengan antusias.
" Raka, Kenapa loe baru nelpon gue sekarang?! " dumelnya penuh dengan kekesalan.
Satu detik Dua detik.
Tak ada jawaban disana.
" Rakaa? Raka? "
" Haaahh..." deru nafas Raka yang begitu pelan terdengar oleh Lyra, membuat kepanikan menguasainya.
" Raka ada apa? Loe dimana? "
" Lyra...." lirih lelaki itu dari sebrang sana.
" Raka jawab! Loe dimana? "
" Lyra..Loe harus bisa nemuin..Gue.." setelah itu hanya dengung yang terdengar. Lyra begitu panik dan berlari keluar kantor. Ia segera menghubungi polisi untuk melacak keberadaan Raka. Ia bahkan lupa dengan Keila yang tertidur di kantornya.
Dengan pakaianyang sudah acak-acakan, rambut berantakan dan sendal jepit Ia menunggu kabar dari kepolisian, setelah tau dimana keberadaan Raka. Ia segera memesan kendaraan untuk menuju kesana. Syukurlah bahwa ternyata Raka masih berada di Lokasi yang dekat dengan kantornya. Ia terus menyuruh sopir untuk mengebut karena takut akan terjadi sesuatu pada Raka.
Sesampainya di tempat itu, Ia melihat motor Raka yang sudah sangat dikenalinya. Tak lama kemudian polisi juga datang, mereka mencari keberadaan Raka di bangunan Tua yang cukup gelap itu.
Ketika mereka menemukannya, hati Lyra hancur begitu saja melihat Raka yang terkapar tak berdaya di tengah ruangan itu. Badannya penuh darah dan memar. Matanya tertutup rapat, berbagai macam kemungkinan buruk memenuhi kepalanya.
Ia berlari ke arah Raka dan memeluk lelaki itu. Memanggil namanya dan menyuruhnya untuk bangun. Namun, tak ada jawaban dari lelaki itu. Polisi membantunya untuk memapah Raka ke ambulan yang sebelumnya sudah dipersiapkan.
Selama di ambulan Lyra tak henti-hentinya memanjatkan Do'a agar Raka dapat bertahan. Tangannya tak pernah lepas dari tangan Raka, air mata membasahi wajahnya, membuat make up nya berantakan.
" Raka, Gue mohon.Loe harus bangun, Kita bahkan belum ketemu setelah sekian lama. Loe harus bangun, karena ga ngabarin Gue. Loe harus bangun karena ga bertanggung-jawab setelah ninggalin Gue bertahun-tahun. Raka Loe harus bertahan, Gue mohon.
__ADS_1