
"Parfum?" tanya Raka.
" Iya, Parfum." Jawab Lyra.
" Lah, buat apa? lagian inikan juga parfum dari London kan. " ujar Raka.
" Emang, haha. "
" Maksudnya apa sih ? "
" Nanti loe juga tau sendiri, udah simpan aja. "
"Heem."
" Ka, Loe laper ga? "
" Laperlah, lagian Loe ngajak kesini buat liat bintang bukannya ngajak makan. "
" Ih, siapa bilang. "
Lyra mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah kotak makanan yang sangat cantik.
" Nih, makan. " Lyra menyerah kotak makanan yang berisi nasi goreng udang kesukaan Raka.
" Lah, kapan Loe nyiapinnya? " Lyra menatap Raka tak peduli.
" Udahlah makan aja "
***
" Woy, woy bangun woy. " Raka membangunkan Rara yang menyenderkan kepalanya di punggung Raka. Bisa-bisanya gadis itu berniat tidur di perjalanan . Tangan gadis itu memeluk tubuh Raka erat agar tidak terjatuh.
" Masih jauh, kan. Bentar aja ya, Ka. Capek banget nih gue. " ujar Lyra dengan suara parau.
" Gue ngebut nih, lepas ga? " Raka mencoba melepaskan tangan Lyra yang berada di pinggangnya.
" Ka, janji deh entar kalau udah deket rumah gue bangun deh. " ujar Lyra kembali meletakkan tangannya di pinggang Raka.
" Lah, modelan Loe mah kalau udah tidur berasa mayat hidup. Ga akan ngeh apapun. " sindir Raka.
" Kali ini aja ya, Ka. Kapan lagi coba Gue tidur di motor bareng Loe gini. Cuma kali ini kok. " Raka tak bersuara setelahnya, secara tidak langsung menyetujui permintaan Lyra. Ia mengendarai motornya dengan kecepatan sedang agar Lyra dapat tidur dengan nyaman.
*
Mereka sampai di rumah ketika jam menunjukkan pukul 10 malam. Pak Heru, satpam rumah membantu Raka untuk menurunkan Lyra yang tertidur di motor.
Raka memapah Rara menuju kamarnya, Papa dan Mamanya yang sedang duduk di ruang tamu menatap penuh tanya.
" Lyra ketiduran. " ujar Raka, seolah menjawab beragam pertanyaan yang muncul di benak orang tuanya.
Setelah sampai di kamar Lyra, Raka membaringkannya di tempat tidur. Namun, ketika lelaki itu akan pergi. Lyra tiba-tiba saja menarik jaket Raka, hingga wajah lelaki itu begitu dekat denga Lyra.
" Ka, kenapa sih Loe harus ke London. Entar gue bareng siapa? yang jagain gue siapa? " Lyra mengalungkan tangannya di leher Raka.
Raka melepaskan tangan gadis itu, dan beranjak meninggalkan kamar itu.
" Ka,jangan pergi. " ujar gadis itu.
__ADS_1
Raka kembali menatap gadis itu yang masih setengah sadar. Ia kembali mendekat dan membuka kalung yang ia kenakan, meletakkannya di tangan gadis itu.
" Gue selalu disini kok, Lyra. "
***
Lyra terbangun dan menuju dapur, namun tidak ada satupun orang di rumah. Bahkan Ia tidak menemukan Raka di kamar lelaki itu.
Tiba-tiba, asisten rumah tangga mereka mendatanginya sambil membawa sebuah kotak makan.
" Non Lyra, ini sarapan dulu. Bapak, Ibu sama Den Raka tadi pagi-pagi banget udah ke bandara. " ujar Bi Nina.
" Raka mau ke London? Tapi inikan belum hari sabtu, kok Aku ga diajak buat nganterin ke bandara? " tanya Lyra.
" Engga, Non. Tadi pagi Bapak dapat info kalau keluarga di Jerman ada yang meninggal. Jadi, semuanya pada ke Jerman. Entar hari sabtu Den Raka langsung terbang ke London dari Jerman. " jelas Bi Nina panjang lebar.
" Yah, bisa-bisanya. " ujar Lyra kecewa.
" Terus, Tante Diana sama Om Steven kapan balik ke Indo?. " tanya Lyra kembali.
" Belum tau, Non. Tapi kayanya sekitar minggu depan. " balas Bi Nina.
" Oke deh. Terus ini apa? Kok tumben pake kotak makan segala? " tanya Lyra bingung karena Bi Nina memberikannya kotak makan.
" Oh itu, kata Den Raka itu kotak makannya Non Lyra. Tadinya mau ngembaliin tapi Non Lyra masih tidur, jadi sekalian deh Den Raka buatin sarapan terus dimasukin ke situ. " ujar Bi Nina.
Lyra membuka kotak makan itu dan melihat ada sandwich penuh dengan sayuran disana.
" Sialan si Raka tau aja gue gasuka sayur " dumel Lyra.
*
Setelah Mandi, Lyra mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Raka .
Tak lama kemudian Raka membalas pesan Lyra.
Maaf nyet, lagian Loe sih tidurnya kek kebo. Dibangunin susah banget. Gimana enakkan sandwich buatan gue. Jarang-jarang kan gue bikinin sarapan buat Loe
Lyra menatap pesan itu dengan jengkel. Bisa-bisanya lelaki itu mengatainya.
Iya siap laksanakan, komandan. Loe jaga diri juga, jangan pecicilan.
*
5 Tahun Kemudian
" Lyra, Lyra bangun " Keila membangunkan sahabatnya agar tidak terlambat.
" Apa sih, La. Lagi libur juga. " ujar Lyra dengan suara parau.
" Apanya Libur, bukannya Loe ada wawancara di RDTV hari ini? " Lyra sontak saja terkejut dengan perkataan Keila.
" Beneran? " tanya Lyra, kembali memastikan.
" Iya, Jubaedah. Udah sana cepet bangun, mandi. Bisa-bisanya Loe niat nyari kerja ga sih. " Keila menepuk tubuh Lyra.
" Oke, oke lima menit lagi deh ngumpulin nyawa dulu. " ujar Lyra, kembali tidur.
" Lyra, wawancaranya jam 8! "
__ADS_1
" Siap Komandan, mandi nih gue sekarang! "
*
Setelah selesai mandi, Lyra memilih pakaian yang akan Ia gunakan untuk wawancara hari ini. Sebenarnya Ia tidak begitu gugup mengenai wawancara hari, karena Ia merasa bahwa ia telah mempersiapkan semuanya. Namun, entah mengapa ada sesuatu yang mengganggu pikirannya namun tidak tau apa itu.
" Lyra, Loe tau kan kalau hari ini dia bakal balik. " Ketika Lyra merapikan riasannya, Keila tiba-tiba mengatakan hal tersebut.
" Ah, iya yah. Udah lima tahun. " balas Lyra singkat.
" Btw, kalian emang ga pernah ada perasaan satu sama lain apa, kok bisa sih padahal tinggal serumah juga dulukan. " Lyra menatap cermin sejenak sebelum akhirnya menjawab.
" Hm, dalam hubungan Kita ga ada sih hubungan kaya gitu. " ujar Lyra seolah yakin.
" Yakin? Masa sih, gue jadi Loe mana bisa ga naksir orang kaya dia. Udah tinggi, ganteng, baik, perfect deh pokoknya. "
" Yakinlah, coba aja Loe jadi Gue ga akan kepikiran buat suka sama dia. Udah ya, Gue mau berangkat dulu. Do'ain Gue berhasil ya. " Lyra mengambil tasnya dan beranjak ke pintu keluar.
" Iyah-iyah. Tiati. Semangat. "
*
Selama sesi wawancara, Lyra dapat dengan mantap menjawab pertanyaan yang diberikan. Ia tidak begitu khawatir dengan hasilnya, mau bagaimanapun ini wawancara pertamanya. Jika gagal berarti Ia masih bisa mencoba di lain waktu. Ia memutuskan untuk tidak terlalu obsesif dengan pekerjaan, Ia hanya ingin menikmati hal-hal yang ia senangi.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Ia berencana untuk makan di restoran di depan gedung tempatnya wawancara. Namun, tiba-tiba seseorang lelaki memanggilnya dari kejauhan.
" Permisi, Lyra ya? " seorang lelaki menghampiri gadis itu.
" Iya siapa ya? " tanya Lyra.
" Kenalin Aku Juan. Juanda Ariesta. " balas lelaki itu.
" Errr.. Kamu kerja disini? " tanya Lyra.
" Iya, Aku tim kreatif disini. Btw, Aku tadi ga sengaja liat Kamu ikut wawancara makanya nyamperin " Ujar Juan.
" Iya, terus kenapa? "
" Kamu mau tau? "
" Iya apa? "
" Sini deh " Juan menyuruh Lyra untuk mendekat.
" Hm? "
" Tadi Aku denger kalau hasil wawancara Kamu bagus dan udah pasti lolos. " bisik Juan.
" Apa? Beneran?! " ujar Lyra dengan suara yg sedikit keras.
" Iya, beneran. Percaya kata Aku ya, kalau Kamu beneran lulus kudu traktir Aku makan ya. " ujar Juan sambil mengedipkan sebelah matanya lalu pergi meninggalkan Lyra.
" Ehh..." Lyra mengangkat tangannya untuk memanggil Juan.
" Aku tunggu traktirannya, Bye Lyra. Semangat!" Ujar Juan dari kejauhan.
__ADS_1
" Semangat! " balas Lyra mengangkat kedua tangannya.
***