
Ketika Kamu melakukan sesuatu akan selalu ada efek samping ya akan Kamu alami. Dan semua itu disebabkan karena hal yang berlebihan. Ketika Kamu makan terlalu banyak, itu tidak baik untuk tubuhmu. Ketika Kamu tidur terlalu banyak, itu juga tidak baik. Semua hal yang berlebihan itu tidak baik.
Sama halnya dengan perasaan.Entah itu perasaan Cinta maupun Benci, ketika Kamu terlalu berlebihan terhadapnya, akan muncul efek samping yang cukup beresiko. Ketika Kamu menyukai seseorang terlalu banyak, Kamu akan merasa tersakiti ketika Ia berpaling. Ketika Kamu membenci orang terlalu banyak, Kamu akan merasa bersalah ketika ternyata rasa bencimu itu adalah hal yang salah.
Lalu, bagaimana jika Kamu menyukai dan membenci seseorang sama banyaknya? Akankah ada efek samping?
*
" Ihh Jeff udah Aku bilang kan, jangan jemput Aku hari Rabu. Kamu tau sendiri Papa ada di rumah hari Rabu. " Flora mengomel pada lelaki di sebelahnya yang tengah asik menyetir.
" Tapikan tadi ga ketahuan, Bby. " balas lelaki yang bernama Jeffan Erlangga itu, Kekasih Flora.
" Sama aja, nanti kalau kepergok Papa kan bisa berabe. " Jeff menghembuskan nafasnya pelan, dan melirik Flora yang masih tampak kesal.
" Flo, kenapa sih Kamu takut banget Papa Kamu tau kalau Kamu pacaran sama Aku. Seengga layak itukah Aku buat Keluarga Kamu? " ujar Jeff Sendu.
Jeff tau, meskipun Ia berasal dari Keluarga yang berada. Namun, posisi keluarganya masih begitu jauh jika dibandingkan dengan keluarga Flora. Sebenarnya tidak hanya Flora yang khawatir dengan hubungan mereka, Ia sama khawatirnya. Ia merasa tidak layak untuk Flora, namun rasa cintanya terkadang mampu menepikan hal itu sejenak.
" Engga, Bby. Engga gitu. Kamu tau sendiri kan dari kecil itu Papa udah protektif banget sama Aku. Papa ga izinin Aku buat berhubungan sama cowo manapun, dan kalau Papa tau Kita pacaran, Aku gatau apa yang akan terjadi. " jelas Flora, sebenarnya gadis itu selalu takut untuk membicarakan topik ini dengan Jeff. Ia takut bahasa yang Ia gunakan akan memancing rasa inferioritas Jeff, meskipun Flora mencoba kesenjangan antara mereka, akan selalu ada saat dimana Jeff bertanya seperti hari ini.
" Oke, sampai Papa Kamu bisa ngizinin Kamu berhubungan sama cowo. Aku bakal berusaha agar Kita ga ketahuan. " ujar Jeff lembut. Ia tidak mau membahas hal ini lebih lanjut, mau bagaimanapun Flora baru akan berumur 20 tahun, tentu saja orang tuanya masih cukup protektif. Terlepas bahwa yang sebenarnya terjadi adalah Papa Flo hanya tidak ingin Flora bersama lelaki sembarangan, sepertinya.
*
Calvin tidak tau mengapa Papanya ngotot menyuruhnya untuk pergi ke Hotel Edelweis malam itu. Namun, setelah sampai disana Ia mengerti.
__ADS_1
Seorang lelaki berumur sekitar 50-an terbujur kaku dengan pisau yang menancap di perut. Seorang lelaki berpakaian hitam baru saja akan keluar dari sana. Calvin segera menghentikannya dan menelpon polisi serta ambulan.
Bagaimana Papanya tau akan ada kejadian seperti ini di hotel milik keluarga mereka?
*
Calvin menatap seorang gadis yang tengah menghampiriAyahnya dengan khawatir itu. Apakah dia benar-benar anaknya? Bagaimana bisa seorang anak konglomerat menggunakan pakaian club yang mencolok itu.
" Flo, Kamu habis darimana? " ujar lelaki paruh baya yang terbaring di tempat tidur itu.
" Da..Dari kampus kok, Pa. " balas gadis itu dengan nada gemetar.
" Anu pa, Papa gapapa kan Pa. Bagian mana yang sakit.. " mencoba mengalihkan topik dengan bodohnya.
" Cepat bilang sama Papa, Kamu habis darimana!" meskipun tubuh lelaki paruh baya itu tampak lemah, namun nada suaranya cukup mencekam.
" Da...dari Club, Pa. " Gadis yang diketahui bernama Flo itu menundukkan kepalanya.
" Flo, kalau Papa ga ngalamin hal ini Kamu bakal berapa lama lagi di Club? Ini aja udah jam 12. Papa ga nyangka Kamu berani membakang Papa kaya gini. " Calvin dapat mendengar nada kecewa dalam perkataan lelaki itu.
" M-maaf Pa, kali ini Flo emang salah. Flo janji, habis kejadian ini Flo ga akan ngecewain Papa lagi. " gadis itu terus menundukkan kepalanya. Sedangkan lelaki paruh baya itu memilih untuk tidak berkata apapun lagi.
Calvin membuka jas miliknya dan menghampiri mereka berdua. Ia sampirkan jas miliknya menutupi pundak indah gadis itu, membuat Handoko salut dengan sikap gentlemannya.
__ADS_1
Flo yang terkejut menatap pria itu tak suka, siapa dia? Mengapa lancang sekali?
Handoko yang memahami situasi saat ini langsung memperkenalkan mereka berdua.
" Flo, kenalin. Ini orang yang udah nyelamatin Papa. Calvin namanya. " Flo memandang Calvin dari atas sampai bawah. Dan berhenti ketika menatap mata dingin lelaki itu tertuju padanya.
" Papa yakin dia yang nyelamatin Papa? Kok auranya lebih kaya pelakunya? " ucap Flo sarkas.
" Flo, jaga bicaramu! " Sial, gadis itu bahkan tidak hanya tidak berterimakasih namun juga berani mengkritiknya. Menarik.
" Gapapa, Om. Kalau gitu saya pamit dulu ya. Lagian juga sudah larut dan Putri Om sudah datang. " Calvin bukannya muak dengan sikap Flora, Ia hanya tidak ingin membuat Handoko semakin pusing melihat aura tidak bersahabat antaranya dan Flora. Lagipula, mengapa gadis itu seolah telah memilih menjadi musuhnya sejak saat ini.
" Iya, nak. Hati-hati ya. Makasih sudah membantu saya dan putri saya untuk menjaga harga dirinya. Lain kali saya harap Kita bisa banyak mengobrol. " ujar lelaki itu.
" Papa! Harga diri apanya!"
" Kamu ga malu ya, pakai pakaian itu di depan lelaki. Untung Calvin peka ngasihin Kamu jas itu. " ucap Handoko, Calvin hanya memilih diam dan menunggu waktu yang tepat untuk meninggalkan ruangan itu.
" Saya pamit Om. "
" Ah, iya. Gara-gara Kamu nih Flo, Calvin ga jadi-jadi perginya. Udah cepat anterin Calvin ke depan, kalau engga Papa ga mau maafin kesalahan Kamu hari ini. " titah Handoko.
Flo hanya menurut dan mengantar Calvin dengan muka jengkel.
***
__ADS_1