
Langit tampak begitu gelap malam ini, tak ada bintang maupun sinar bulan yang tertutupi oleh awan kini. Beberapa jam yang lalu hujan turun dengan deras, membuat bau tanah basah memenuhi penciuman manusia yang berpijak di atasnya.
"Ahh, Aku suka bau hujan." gadis yang kini tengah duduk di sebuah kursi kayu lusuh itu tampak menutup matanya menikmati bau hujan yang memenuhi penciumannya.
"Namun, bukankah Kau lebih menyukaiku?" seorang lelaki yang cukup tinggi, duduk di sebelahnya seraya memberikan segelas kopi hangat yang berada di tangannya.
"Kak Arga, apa yang Kakak lakukan disini?" gadis itu kebingungan melihat lelaki yang kini asik dengan menikmati kopi hitamnya itu.
"Apa Kau tau mengapa Aku begitu suka warna hitam?" Gadis itu berpikir sejenak, lelaki disampingnya ini memang begitu menyukai warna hitam, hal itu ia ketahui setelah ia menyelidiki hobi dan kesukaan lelaki itu secara diam-diam.
"Kakak belum menjawab pertanyaanku, apa yang kakak lakukan disini?" Tak ada jawaban atas pertanyaannya, ia mengulang kembali perkataannya.
"Kau tau,Rachel. Ayahku akan selalu mengajaku keluar malam hari, karena ia selalu pulang larut. Ibu akan memarahi kami dan mengancam kami agar tidur diluar saja. Namun, Ayah akan selalu mengajakku untuk menikmati kopi hitam di kedai ujung sana." jari tangan lelaki itu menunjuk sebuah tenda yang berada tidak jauh dari sana.
Gadis yang bernama Rachel itu membuka ponselnya, dan berpikir,
'Ah, pantas saja." batinnya.
"Apa Ayah Kakak juga akan selalu memakai baju serba hitam seperti saat ini?" gadis itu mencoba menanggapi lelaki itu, dan tidak lagi peduli dengan pertanyaannya yang juga belum mendapat jawaban.
"Tentu saja, Kau tau pekerjaan Ayahku bukan? Meskipun Kami jarang bertemu namun Dia adalah orang paling keren yang pernah kukenal."
"Benar sekali, jika tidak bagaimana mungkin lahir lelaki yang juga tak kalah keren seperti kakak."
"Kau benar-benar pintar menggoda orang lain,Rachel. Jangan lakukan ini jika bersama lelaki lain, hal buruk mungkin akan terjadi padamu" Lelaki itu mengelus lembut puncak kepala gadis di sebelahnya.
'Kak, meskipun Aku tau bahwa ini bukan karena Aku. Tapi, bersamamu disini Aku sangat senang' batin Rachel.
"Ah iya, Samuel menyuruhku untuk pulang bersamamu. Ayo kita kembali" Lelaki itu menggandeng tangan gadis itu dan bangkit menuju mobilnya yang berada tidak jauh dari sana.
Gadis itu menahan senyumnya, dan terus menatap ke arah tangan mereka berdua yang saling bertautan.
'Aku tidak akan menyesal karena selalu menunggumu, lihatlah Kau bahkan datang saat ini" batinnya.
Rachel benci bangun di pagi hari, jika ia tidak cuti seperti sekarang , jadwal pagi harinya akan penuh dengan pemotretan dan syuting iklan, hal itulah yang membuatnya harus selalu bangun pagi-pagi sekali.Namun saat ini ia sedang liburan, jadi tidak masalah bukan jika ia tidur sedikit lebih lama dari biasanya.
"Rachel! Rachel!" suara Rea memenuhi pendengarannya, ia mengambil bantal dan menutup wajah serta telinganya. Mengapa gadis itu begitu berisik pagi-pagi begini,pikirnya.
"Rachel! Rachel! Aku akan kembali hari ini, Kau tidak ingin mengantarku?" Apa katanya?! Apa pendengarannya sedang bermasalah, bagaimana mungkin ia mendengar bahwa Rea kan kembali.
Dengan malas, Rachel bangun dan membuka pintu kamarnya. Disana Rea berdiri dengan airport fashionnya, membuat Rachel membelalakkan matanya.
"Kau mau kemana dengan pakaian seperti itu?"
__ADS_1
"Bukankah Aku sudah mengatakannya, Aku akan kembali ke Surabaya hari ini" Ah sial, sepertinya ia tidak salah dengar.
"Yang benar saja, Kau mengatakan bahwa Kita akan berlibur bersama, bagaimana bisa Kau kembali secepat ini?" protes Rachel.
"Kau tau bahwa kondisiku sedang tidak baik bukan? Ini bukan waktu yang tepat untuk liburan" Rachel merasa bersalah dan menatap Rea sedih.
"Ah, apa yang harus kulakukan. Tunggulah sebentar Aku membereskan barangku, dan ikut kembali denganmu"
"Tidak,Rachel. Kau bahkan membatalkan jadwalmu untuk liburan ini, bagaimana bisa Kau kembali bersamaku secepat ini"
"Apa yang harus kulakukan? Jika Kau kembali, bukankah Aku hanya akan sendirian disini, terlebih Aku juga tidak tau Apakah Jeno juga akan kesini lagi nanti"
"Hey, Kau punya Arga disini. Kalian dapat menghabiskan liburan bersama" Rachel memegang kening Rea yang tak panas dan mencibir.
"Sepertinya Kau benar-benar Sakit,Rea. Apa yang Kau pikirkan? Membuat Kekasih dan Sahabatmu menghabiskan liburan bersama, Apa Kau sudah gila?!"
"Ahaha, tidakkah Kau berlebihan Rachel? Aku hanya kasihan dengan Kau dan Arga yang sudah lama tidak mengambil cuti, kalian harus benar-benar berlibur kali ini. Lagipula Aku sudah membayar tempat ini mahal-mahal, bagaimana bisa kalian menyia-nyiakannya"
"Ah yang benar saja, Kau benar-benar perhitungan Rea. Aku lebih baik bekerja sepanjang hari daripada harus menghabiskan waktu cutiku bersama kekasihmu itu, tidakkah Kau takut bahwa Aku mungkin akan dilabeli sebagai perebut pacar orang setelah ini?"
"Apa yang harus kutakutkan? Bukankah Kita sama-sama tau bahwa hal itu mungkin saja tidak akan pernah terjadi?"
"Entahlah,Rea. Namun, jangan salahkan Aku jika terjadi hal yang tidak diinginkan"
"Kau benar-benar gila,Rea. Aku nyaris tidak percaya bahwa Aku berteman dengan orang sepertimu"
"Ahaha, Aku akan pergi sekarang. Tidak perlu mengantarku, Kau dapat memulai liburanmu bersama Arga sekarang. Jangan repotkan kekasihku yaa, namun jika mau merebutnya silahkan saja"
"Rea, Kau benar-benar sudah gila!"
Aku bingung, sangat bingung. Bagaimana Aku akan menghadapi Rachel hari ini. Aku bahkan tidak yakin bahwa dapat menghabiskan liburan ini bersamanya dengan baik. Namun, bukankah Kita tidak akan pernah tau jika tidak mencobanya.
Baiklah, Ayo kita lihat list yang sudah Aku siapkan untuk liburan ini. Aku berencana untuk mendapatkan kembali hati Rachel dengan liburan ini. Aku benar-benar berharap bahwa Rachel dapat bekerja sama denganku, namun dengan tempramennya itu semua ini pasti tidak akan berjalan dengan mudah.
"Arga,Arga" suara Rachel terdengar dari balik pintu kamarku. Aku mengambil kunci mobil, dan membukakan pintu untuknya.
"Tidak sopan! Berani sekali Kau memanggilku dengan namaku, dulu Kau bahkan selalu memanggilku 'Kak' dengan begitu sopan. Apakah waktu melahap habis sopan-santunmu?" Tanpa dipersilahkan, gadis itu masuk ke kamarku. Ah, dimana Rachel yang dulu Aku kenal.
"Kita sudah dewasa, sangat kekanakkan memanggilmu seperti itu. Lagipula bukannya dulu Kau tidak suka Aku panggil begitu" dengan santai Rachel duduk di tempat tidurku dan mengambil beberapa buku yang tergeletak disana.
“Apakah seorang dokter juga harus mempelajari hal-hal seperti ini?” Rachel menunjukan buku roman yang ada ditangannya, memang benar bahwa Aku membaca buku itu semalam untuk mengetahui bagaimana cara untuk menaklukan hati wanita seperti Rachel. Namun, sangat memalukan ketika Rachel memergokiku seperti itu.
“Tentu saja, Kami para dokter juga harus mampu memahami emosi pasien dengan buku-buku seperti ini” Aku manarik buku di tangannya dan ikut duduk diatas tempat tidur, membuat Rachel sedikit terkejut namun ia berusaha menyembunyikannya.
__ADS_1
“Cih, Kau bahkan bukan Psikolog dan hanya seorang dokter bedah. Untuk apa Kau repot-repot memahami emosi pasien, jika yang Kau hadapi kebanyakan mereka yang sudah dibius tidak sadarkan diri” Cibir gadis itu, Ah kejam sekali dia.
“Apakah Kau meremehkan pekerjaanku? Baiklah anggap saja jika itu memang benar seperti yang Kau katakan, maka alasan Aku membaca buku ini adalah agar Aku memahami gadis sepertimu. Tidakkah Kau senang mendengarnya?”
“Ahaha, Apa Kau pikir Aku anak 17 tahun yang akan tersipu hanya dengan mendengar gombalan murahanmu itu? Hei Tuan, sadarlah Kita sudah bukan di usia yang seperti dulu lagi”
“Lalu Kau mau bagaimana? Apakah Aku harus merayumu dengan ‘dewasa’ seperti yang Kau inginkan?” Aku mendekatkan wajahku padanya, ia terlihat gugup dan memundurkan wajahnya. Haha, Aku tidak akan kalah begitu saja denganmu, Rachel.
“Hei, apa yang Kau lakukan? Tidak baik menggoda seorang gadis di tempat seperti ini” Aku dapat mendengar suaranya sedikit bergetar, apakah ia benar-benar gugup?
“Menggoda katamu? Lihatlah otakmu itu, Aku bahkan tidak bermaksud begitu. Sepertinya Kau bukan lagi Rachel kecil yang dulu ku kenal, lihatlah Kau bahkan melemparkan dirimu padaku dengan masuk ke kamarku. Bukankah ini semua salahmu?”
“Aku memang bukan anak kecil, godaanmu itu sama sekali tidak membuatku takut. Aku sudah dewasa, hal seperti itu tidak akan menggangguku. Melemparkan diri katamu? Bukankah Kau sendiri yang membukakan pintu untukku”
“Jika Kau memang seberani itu, cium Aku”
“Apa katamu?!” Rachel bangkit dari duduknya dan menatapku penuh amarah, mukanya langsung merah padam, entah karena malu atau justru emosi melihatku.
“Iya, cium Aku. Bukankah Kau sudah dewasa? Hal kecil seperti itu tidak akan mengganggumukan”
“Arga, sadarlah! Kau itu Kekasih sahabatku, apa Kau memang sangat senang menggoda teman-teman kekasihmu seperti ini,hah?” Ah, yang benar saja. Aku benci ketika kata-kata itu keluar dari mulut Rachel.
“Aku tidak peduli, orang dewasa tidak akan mempermasalahkan hal-hal seperti itu”
“Tapi, Aku..”
“Bukankah katamu Kau sudah dewasa?” Aku hanya memprovokasi Rachel, Aku tidak benar-benar memintanya menciumku, itu terlalu cepat.
“Baiklah Aku akan…” Sial, Apa dia benar-benar akan melakukannya?
“Akan apa?”
“Aku akan melarikan diri…” dalam sekejap mata gadis itu menghilang dari pandanganku, ia lari dengan sekuat tenaga untuk keluar dari kamarku.
Ah gadis itu, apakah ia pikir Aku singa yang akan menerkamnya? Mengapa ia lari seperti itu. Benar-benar kekanakkan.
Aku menarik sudut bibirku dan tersenyum, Rachel memang sudah terlihat dewasa namun dirinya masihlah anak-anak dari dalam, lihatlah cara berlarinya yang kekanakkan itu. Aku bahkan khawatir ia akan jatuh jika lari seperti itu.
Ah, Aku bahkan ragu ia pernah berciuman sebelumnya. Melihatnya setakut itu, mungkin ia benar-benar tidak ingin mencium seorang pria.
Baiklah, mungkin akan menarik jika Aku menjadi yang pertama untuknya,haha.
***
__ADS_1