
Langit Jingga yang memanjakan mata membuatku menarik nafas dalam. Ini sudah sangat petang, namun Pak Tono tak kunjung menjemputku. Mobilku mogok beberapa hari lalu, membuatku harus meminta supir pribadi mama untuk mengantar-jemputku.
“Udahlah,Ga. Pulang aja sama Aku. Gapapa kok sekali-kali nebeng ke Aku.” itu Dona, teman praktikumku.
“Gapapa, na. Ini mama ngabarin juga bentar lagi pak Tononya dateng.”
“Oke,gapapa. Tapi ngomong-ngomong Kamu kenal Rachel Evelyn ga?”
“Kenal, Kita tetanggaan.Kenapa gitu?”
“Wah beneran kenal? Kebetulan Adik Aku satu sekolahan sama Dia, Dia ngasih tau ke anak-anak di sekolah kalau Dia pacar namanya persis kaya nama Kamu, jadi itu beneran Kamu ya?”
“Haha, Anak itu? ngomong gitu? Emang ga habis-habis halunya Dia ya.”
“ Yah, Aku kira beneran. Syukur deh hehe.Tapi Rachel itu terkenal banget loh di Sekolahnya, Dia cantik dan banyak yang deketin juga. Kayanya Dia ngomong gitu juga biar cowo-cowo ga pada deketin Dia,termasuk Adik Aku hehe.”
“Jadi, Adik Kamu naksir sama dia gitu?”
“Iya, ga adik Aku aja. Hampir semua anak cowo di
sekolah itu naksir ke Rachel. Tapi sayangnya, dia malah naksir ke om-om kaya
Kamu”
“Om-om? Aku masih dua puluh loh. Kamu ga lihat apa muka Aku masih muda gini juga”
“Coba deh ngaca sana, itu kumis udah berapa lama ga dicukur. Entar kalau Kamu beneran sama Rachel, bisa dikira om-om loh”
“Ah, iya juga. Eh, itu Pak Tono udah datang. Aku duluan ya”
“Iya hati-hati. Salam juga ya ke Rachel, bilang adikku patah hati gegara dia”
“Haha, iya-iya”
*
Aku menatap Rachel yang kini duduk di sebelahku sambil makan eskrim. Untuk seorang gadis yang akan
berumur 23 tahun, Rachel terlihat lebih muda dari gadis lain seusianya. Lihatlah dandanannya itu, ia bahkan tidak memakai dress atau pakaian yang lebih feminim. Apakah ia pikir dirinya masih pantas memakai celana jeans dan kaus berwarna pink seperti itu. Namun, jujur saja Rachel memang tidak banyak berubah
sejak dulu. Bahkan ia masih terlihat cocok berdandan seperti remaja, Aku bahkan gemas ketika melihat ia memakai jepitan rambut yang sangat lucu itu. Sedikit kekanakkan memang namun cocok dengannya.
“Arga, apa Kau tidak mau eskrimnya? sini biar kuhabiskan” dengan santai, ia mengambil eskrim milikku
yang memang belum kucicipi sama sekali.
“Hum, milik orang lain memang lebih lezat” gumamnya.
“Apakah Aku juga lezat?” tanyaku padanya jenaka.
“Haa? Kau?”
“ Iya Aku, bukahkah Aku juga ‘milik’ orang lain?”
“Tapi..Aku belum mencobanya” lirihnya tanpa sadar.
__ADS_1
“Haa? Apa katamu?” Aku pura-pura tak mendengarnya dan membuatnya terkejut setelah menyadari apa yang
baru saja Aku katakan.
“Hei, berani sekali Kau menyamakan dirimu dengan eskrim ini. Jika dibandingkan denganmu, eskrim ini
bahkan jauh lebih baik” Lihatlah ia bahkan mengalihkan pembicaraan dengan berkata aneh seperti itu.
“Bagaimana Kau tau bahwa itu lebih baik, Kau bahkan belum mencobaku”
“Lalu, apakah Kau ingin Aku mencobamu, ha?” tanyanya emosi.
“Coba saja kalau berani”
“Apa Kau kira Aku tidak berani?”
“Kalau Kau memang berani, lakukanlah” Ia terdiam sesaat.
"Lihatlah, Kau bahkan tidak berani. Dasar anak kecil”
“Anak kecil katamu? Apa Kau gila?” Ia bangkit da menarik bajuku dengan kuat membuat lelehan eskrim
ditangannya ikut menetes ke bajuku.
“Hei, Anak kecil. Lihat Kau mengotori bajuku!” Aku dapat melihat emosinya semakin bergejolak, ia bahkan
menyumpal mulutku dengan eskrim sekarang.
Aku akan membalasnya ketika..
bahwa Ia seseorang yang bekerja di bidang yang sam dengan Rachel, melihat dandanannya.
Rachel membalikkan badannya dan menatap wanita itu terkejut.
“Eh, Ka Vera. Kebetulan banget Kita ketemu disini” Aku mengambil sapu tangan dan menyeka mulutku yang
penuh eskrim akibat ulah Rachel, kuberikan senyum terbaik pada wanita yang berada di depan Rachel.
“Hm, Rachel apakah dia ‘Sponsor’ mu? Aku belum pernah melihatnya sebelumnya”
“Aa..Aa..Paa?!,‘Sponsor’?” Aku dan Rachel sama-sama terkejut dengan pertanyaan wanita itu.
“Iya ‘Sponsor’ bukankah orang-orang seperti Kita punya ‘Sponsor’ untuk menyokong karier Kita. Dan tentu
saja biasanya mereka seusia dengan om-om yang ada di sebelahmu ini” Apa?! Om-om? Hey,Aku masih 27 tahun. Mengapa ini terasa de javu?. Aku dapat melihat Rachel menahan tawanya mendengar perkataan wanita itu.
“Oh, jadi itu mengapa Kamu bersama Tuan itu hari ini?” Rachel menunjuk seorang lelaki berumur sekitar
akhir 30-an yang menghampiri Kami.
“Ehh..eh.. iya, kenalkan ini Om Hendra” dengan salah tingkah Wanita itu memperkenalkan lelaki itu
setelah ia sampai di hadapan Kami, Aku dapat melihat Rachel menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum penuh arti. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga wanita di depannya, dan bergumam lirih namun Aku masih dapat mendengarnya.
“Aku tidak menyangka bahwa Ka Vera yang begitu terkenal, memiliki ‘ini’ dibelakangnya” Seolah
__ADS_1
terkejut karena telah membuka kedoknya sendiri, tubuh wanita itu menegang tanpa sebab. Namun, setelahnya ia membalas Rachel dengan sebuah senyum penuh arti.
Aku tau sejak awal, wanita ini tidak suka dengan Rachel. Ia dengan sengaja memojokkan Rachel dengan
menyebut ‘sponsor’, Aku bahkan tau bahwa Aku tidak setua itu. Bagaimana bisa Ia mengatakan Aku ‘sponsor’, dan melihat dirinya saat ini Ia pasti akan kembali menyerang Rachel.
“Lalu, mengapa Kau tidak mengenalkan pada Kami pria di sampingmu ini Rachel?”
“Kenalkan ini Kekasih Sahabatku, Arga” Aku dapat melihat wanita itu tersenyum miring pada Rachel. Apa Rachel bodoh? Mengapa ia malah mengatakan itu, ia dapat menyebutku tetangganya atau apapun itu, mengapa harus itu?
“Aku tidak menyangka Rachel yang terkenal itu, jalan bersama kekasih sahabatnya sendiri”
“Apa yang salah dengan itu? Setidaknya Aku tidak jalan bersama ‘sponsor’ atau sesuatu yang seperti
itu?” balasnya, membuat wajah wanita itu memerah menahan amarah.
“Bukankah Menjijikkan, merebut Kekasih sahabat sendiri”
“Huh, Aku tidak bilang Aku merebutnya, Kami hanya jalan bersama. Apa yang salah tentang itu? Lagipula
Sahabatku yang menyuruhnya”
“Apa? Aku pikir lingkungan pergaulan sama gilanya dengan dirimu”
“Berani-beraninya Kau mengatai Sahabatku seperti itu, Kau ingin mati,ha?” Rachel menarik rambut
wanitu, membuat Aku dan lelaki di samping wanita itu terperanjat.
“Lihatlah, Kau bahkan menunjukkan kegilaanmu sekarang”
“Dasar Kau wanita Gila” Rachel akan menampar wanita itu, namun Aku segera menghentikannya sebelum
tangannya menyentuh wajah wanita itu.
“Sudahlah,Rachel. Tidak ada gunanya meladeni ****** sepertinya”
“Ha, liatlah cara Dia membelamu. Bukankah memang ada sesuatu yang menjijikan di antara kalian”
“Ka Vera! Aku menghormatimu selama ini, namun akhir-akhir ini Kau terus mencari masalah
denganku. Apa kau tak tau bahwa tempramenku ini mungkin saja bisa merusak wajah cantikmu itu!”
“Ahh, Aku takut sekali” Wanita itu berpura-pura ketakutan lalu melemparkan senyum mengejek pada Rachel,
membuat emosi Rachel semakin tersulut.
“Sudahlah Rachel, Ayo kita pergi” Aku akan meraih tangan Rachel dan membawanya pergi
meninggalkan tempat itu. Namun, tepat sebelum itu Rachel melemparkan Eskrim di
tangannya ke wajah wanita itu, lalu berkata.
“Ayo Kita lari,Arga.Rubah betina itu mungkin akan mengamuk” Ia meraih tanganku dan membawaku berlari dengan cepat meninggalkan tempat itu. Aku dapat melihat betapa emosinya wanita itu,sangat disayangkan lelaki di sampingnya justru ikut menertawakannya bukan membantunya.
***
__ADS_1