
Alif sudah mengetahui bahwa Raina bukanlah adik kandungnya setelah Raina kembali ke Jakarta saat itu, Alif saja cukup tersentak mengetahui kebenaran bahwa dia dan Raina itu berbeda. Entah mengapa setelah itu Alif malah merasa canggung melihat Raina hanya Alif dan tuhanlah yang tahu tapi Raina tetap bersikap biasa dan menganggap Alif adalah seorang kakak laki-laki baginya.
***
Waktu berlalu dengan cepat, Raina yang sudah merasa sangat nyaman tinggal bersama mamanya dan tidak ingin jauh dengannya namun lusa dia harus sudah kembali ke Jakarta karena hari liburnya hampir habis.
“Ma?” Raina bergelayut manja ditangan mamanya.
“Kenapa Raina sayang, apa yang kamu inginkan?” tanya mama.
“Enggak mama, aku bersyukur memiliki ibu yang tangguh dan hebat seperti mama. Aku ingin seperti ini terus ya ma? Sampai aku dewasa dan menikah nanti.” ucap Raina dengan tulus sambil tersenyum lebar.
“Insyaallah sayang” sahut mama tersenyum getir.
‘Semoga seperti yang kamu harapkan Raina’ batin mama.
“Iya gitu loh ma” Raina meyakinkan mamanya.
“Iya Raina iya” mama menuruti perkataan putrinya lalu tersenyum.
“Mama nggak kerja?” tanya Raina pada mamanya karena sejak dia tinggal bersamanya dia tidak pernah melihat mamanya pergi bekerja dan selalu menemani Raina dirumah.
“Nggak sayang, mama bisa ngecek kerjaan dari rumah. Mama tidak ingin menyia-nyiakan waktu saat bersama putri mama” ucapan yang terlihat sepele namun sangat berkesan bagi Raina dan membuatnya terharu.
“Yaudah ayo aku temani mama bekerja, sebagai bos yang baik harus mencontohkan perilaku yang baik pada pegawainya.” ujar Raina membuat mamanya terbahak.
Awalnya Raina malu dan pendiam namun semakin kesini sifatnya terlihat jelas bahwa Raina tidak bisa diam bahkan beberapa kali sifat usilnya diperlihatkan pada mamanya.
Mama Lita tidak menyangka bahwa putri yang selama dia kira lemah lembut dan kalem ternyata berbanding terbalik namun itu juga menjadi hiburan tersendiri untuknya.
Sesuai dengan yang diucapkan Raina dengan senang hati dia menemani mamanya bekerja. Mama memperkenalkan Raina kepada semua pegawai bahwa dia adalah putrinya. Pegawai yang mendengarnya otomatis terkejut, banyak orang yang mengatakan bahwa bosnya itu perawan tua bahkan ada juga yang bilang ditinggalkan suaminya karena tidak bisa memiliki anak. Tentu saja, Mama Lita tidak menghiraukan berita yang jelas tidak benar itu.
“Apa kamu lapar sayang?” tanya mama yang masih fokus memperhatikan laptop.
“Tidak ma” sahut Raina sambil memperhatikan sekeliling ruang kerja mamanya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian perut Raina berbunyi keras menandakan ingin diisi dengan makanan membuat mereka terbahak. “Biar mama telpon pelayan agar mengantarkan makanan kemari” ucap mama yang sudah memegang gagang telpon.
“Nggak usah ma, aku aja yang keluar sekalian jalan-jalan” Raina langsung berdiri dan keluar dari ruangan mama.
Raina berjalan menuju dapur yang ada direstoran membuat semua orang menunduk seketika, “Aku mohon bersikaplah biasa jangan seperti itu.” ucap Raina membuat semua pelayan tersenyum.
“Chef, mama biasanya makan apa disini?” tanya Raina kepada salah satu chef.
“Makan nasi mbak” sahut chef menggoda Raina.
“Iya aku juga tahu, lauknya apa gitu? Ehm boleh nggak aku aja yang masak buat mama, tapi chef bantu juga hehe” ujar Raina tertawa kecil.
“Random sih mbak, Bu Lita menyukai semua menu yang ada disini” ujar chef membuat Raina mendengus kesal.
“Duh jangan gitu dong chef, yaudah kalau gitu aku masak spagetti aja deh” ucap Raina membuat chef itu terkekeh geli.
“Kita buat kepiting saus padang aja mbak” ucap chef membuat Raina berpikir sejenak.
“Ehm... aku nggak bisa masak seafood eh belum pernah maksudnya, chef aja yang masak aku tinggal bantu ya hehe” ucapan Raina yang terkesan konyol membuat orang yang berada didapur tertawa seketika.
“Terima kasih untuk bantuannya chef...” ucapan Raina yang menggantung.
“Reno” sahut chef itu sambil tersenyum.
“Makasih Chef Reno, selamat bekerja semoga harimu menyenangkan. Assalamu’alaikum” ucap Raina sambil tersenyum.
“Wa’alaikumsalam” sahut chef itu yang juga mengulas senyumnya.
Raina meninggalkan dapur dan berjalan menuju ruangan mamanya diikuti beberapa pelayan yang membawakan makanan dan minuman hasil jerih payahnya, eh maksudnya jerih payah Chef Reno karena sebenarnya dari tadi Raina hanya memandangi caranya memasak. Inget loh yang dipandangi caranya memasak bukan orang yang memasak hehe.
‘Tok..tok..tok’ Raina masuk keruangan mamanya sambil tersenyum.
“Hai mama, jeng jeng jeng mari kita makan. Oh ya mbak, mas makasih udah dibantu bawa letakkan saja dimeja ya" ujar Raina yang masih tersenyum.
“La, apakah Raina membuat keributan?” tanya mama pada salah satu pelayan.
__ADS_1
“Tidak kok bu, justru ini makanan yang masak Mbak Raina.” sahut Lala sambil tersenyum.
“Eh yang masak Chef Reno ma, aku juga bantu sih bantu ngelihat doang haha..” balas Raina dengan tertawa kecil dan yang lain ikut tertawa mendengarnya.
“Mari bu, mbak” ujar para pelayan.
“Besok aku akan suruh mama untuk memberi kalian bonus hehe” bisik Raina pada mereka namun masih terdengar ditelinga mamanya. Membuat Mama Lita tertawa geli, ada-ada saja tingkahnya.
Raina dan mamanya makan dengan lahap, sampai akhirnya mereka berdua pulang kerumah karena hari sudah malam. Hari yang paling membahagiakan untuk Mama Lita karena baru pertama kali ini dia bekerja ditemani oleh putri tersayangnya seharian penuh.
Hari berjalan begitu cepat tibalah dihari Raina harus segera balik ke Jakarta, awalnya Raina ingin pulang menggunakan kereta seperti biasanya namun mama sudah memesankan tiket pesawat business class untuk putrinya, Raina mau menolakpun tiket itu akan terbuang sia-sia.
Mama Lita mengantarkan Raina kebandara, sebelumnya ia berhenti terlebih dahulu dipanti memberikan kesempatan Raina untuk pamit pada keluarganya yang ada disana.
“Sayang, mama akan sangat merindukanmu. Mama sangat menyayangimu, maafkan mama sudah pernah membuatmu kecewa, terima kasih sudah mau menerima segala kekurangan mama, tetaplah menjadi anak baik untuk semua orang.” ucap mama dengan tulus dan penuh kasih sayang bahkan tidak sengaja buliran bening lolos begitu saja dari pelupuk matanya.
“Mama semester depan kita akan bertemu lagi jangan bersedih, aku juga sangat sangat menyayangi mama, aku sangat beruntung memiliki ibu yang tangguh dan hebat seperti mama. Sudah janganlah menangis aku akan kembali semester depan.” balas Raina sambil menghapus air mata yang membasahi pipi mamanya.
Mama Lita menatap Raina dengan mengulas senyumnya, kemudian mencium kedua pipi dan kening Raina sebagai tanda bahwa ia akan sangat merindukan putrinya.
“Aku berangkat ma, Assalamu’alaikum” Raina juga mencium pipi mamanya kemudian menyalami lalu memeluknya.
“Wa’alaikumsalam hati-hati sayang” dengan berat hati mama melepaskan pelukan Raina dan hanya menatap punggungnya yang semakin jauh.
.
.
.
Assalamu'alaikum, aku bener bener mau ngucapin terimakasih untuk semua para readers yang berkenan membaca cerita yang aku buat, makasih untuk like yang kalian berikan, makasih untuk kalian yang udah masukin novel aku daftar favorit kalian, makasih untuk dukungan uang kalian buat aku.
Aku masih sangat amat pemula di bidang ini, tanpa kalian aku bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.
Aku sangat berharap bisa terus konsisten untuk membuat cerita cerita yang akan menjadi sebuah novel, hanya itu yang ingin aku katakan. sekali lagi makasih semuanya🤗🌻🖤
__ADS_1