
Assalamu'alaikum, JANGAN LUPA LIKE🖤
.
.
.
Secepat kilat ada seseorang yang menarik Raina hingga dia selamat dan terhindar dari sebuah kecelakaan. Raina beruntung bahkan sangat beruntung, jika orang itu telat sedetik mungkin dia sudah luka parah akibat tertabrak mobil atau bahkan meninggal.
“Kamu nggak papa?” tanya seorang cowok yang masih menangkup kedua lengan Raina dari belakang.
“Ah iya saya nggak papa....” ucap Raina yang masih sedikit syok.
“Kak Deva?” Raina menoleh kebelakang ternyata Deva lah yang menolongnya, terkejut pasti dan juga tidak menyangka bahwa dialah yang menolongnya.
“Makasih kak, aku nggak tahu gimana aku tadi kalau kakak nggak nolongin aku. Yaudah kak saya duluan ya sekali lagi terima kasih.” Raina mengucapkan terima kasih berkali-kali lalu ingin meninggalkan Deva yang telah menolongnya.
Deva langsung mencekal tangan Raina, “Aku anterin kamu ya?” tanya Deva saat Raina menoleh kebelakang.
Raina tampak berpikir dan belum mengeluarkan suaranya, “Aku maksa.” Deva langsung menggandengnya menuju mobilnya yang tidak jauh dari tempat kejadian.
***
POV Devano On
Aku terbangun dari tidurku karena mendengar ponselku yang terus berdering, aku meraba ponsel dan mengangkat telepon yang entah dari siapa.
“Hhmmm?” suara serak khas bangun tidurku yang pertama kali kuucapkan.
“Woy! Masih tidur lo? Sini dong Dev bantuin gue, cepet gue tunggu ya dicafe nggak pake lama! 10 menit dari sekarang!” teriakan sahabat yang sangat familiar ditelingaku yaitu Verrel.
Dengan sangat berat aku membuka paksa mataku lalu melihat jam yang ada diponsel ternyata sudah menunjukkan pukul 08.00. Aku berniat memejamkan mataku sebentar lagi namun lagi-lagi ponselku kembali berdering.
“Bangun woy! Awas lo ya kalau tidur lagi dan nggak kesini dalam waktu 10 menit ....” Verrel kembali menelepon namun langsung kumatikan.
Aku langsung menuju kamar mandi dan langsung bersiap-siap, selesai mandi aku melihat papa dan adikku sedang sarapan dimeja makan.
“Kok tumben udah bangun Van? Udah rapi lagi, mau kemana? Kencan ya?” papa langsung mencecarku dengan berbagai pertanyaan saat melihatku menuruni anak tangga.
“Pagi pa, pagi dek” aku menyapa mereka terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh papa.
“Iya pa mau kencan, nanti pulang aku bawain calon mantu ya?” ucapku dengan wajah serius padahal itu hanyalah sebuah candaan.
“Emang Kak Deva punya pacar?” tanya Bianca padaku sambil menatap heran.
__ADS_1
“Oke, kalau kamu nggak bawa pacar kamu semua fasilitas akan papa cabut!” ancam papa menanggapi serius perkataanku. Namun entah papa juga ikut bercanda atau memang benar-benar mengancamku.
Aku hanya terdiam sambil menggaruk tengkukku yang sama sekali tidak gatal, “Yaudah pa, dek aku berangkat ya. Assalamu’alaikum” aku langsung pamit setelah menghabiskan roti tawar dan meminum beberapa teguk susu.
Aku menaiki mobil menuju V’SA Cafe, sampainya disana bukanlah sambutan dari seorang sahabat namun malah mendengarkan ocehan karena aku telat 10 menit. “Banyak omong lo, masih mending gue sampai sini nggak balik tidur. Ngapain sih nyuruh gue kesini?!” ucapku memotong ocehan darinya.
“Oh iya, jagain cafe dulu ya. Soalnya gue mau pergi bentar sama Tasya, gue mau putusin dia dulu.” ujar Verrel dengan santai.
“Lo emang gila ya? Putus tinggal putusin aja napa, emang seberapa lama lo mau pergi kenapa lo nyuruh gue buat jagain biasanya lo tinggal juga nggak masalah?!” sahutku yang lumayan kesal.
“Nanti bakalan ada tamu penting, seorang pengusaha darimana gitu gue lupa, nanti kalau pemilik cafenya nggak ada kan ya gimana gitu. Dan terus lo gantiin gue dulu ya jadi pemilik cafe!” ucap Verrel dengan entengnya.
Aku berdebat cukup lama dengan Verrel karena jauh-jauh dari rumah aku hanya disuruh menjaga cafenya, sungguh menyebalkan itulah pikirku namun setelah bernegosiasi akhirnya aku menyetujuinya begitu saja lalu Verrel pergi dan aku langsung masuk keruang kerjanya.
Dan ya seperti yang diucapkan Verrel, ada seorang pengusaha kuliner dari luar negeri yang me-review makanan yang ada dicafe milik Verrel kemudian menawarkan sebuah kerja sama pada Verrel.
Aku tidak langsung menjawab ya karena cefe ini milik Verrel jadi bagaimanapun juga harus mendapat persetujuan darinya. Bahkan sepertinya Verrel tidak tahu bahwa pengusaha yang datang akan memberikan tawaran kerjasama padanya.
“Nih kartu namanya, tadi dia nawarin kerjasama sama cafe lo tapi gue belum jawab semua keputusan ada ditangan lo.” ucap ku pada Verrel setelah dia kembali ke cafe lalu aku menjelaskan apa yang pengusaha itu jelaskan.
“Menurut lo gue terima nggak Dev?” Verrel meminta saran padaku.
“Lo telusuri aja dulu dia gimana, latar belakang sama usaha-usahanya nanti kalau meyakinkan ya terima aja. Yaudah gue balik dulu, bosen gue disini!” ucapku padanya lalu aku keluar dari cafenya dan berjalan menuju rumah.
Saat Raina ingin menyebrang aku mempercepat langkahku agar tidak kehilangan jejaknya, namun aku terkejut mendengarkan teriakannya.
“Kyaaaaaa!!!” teriakan Raina yang langsung membuatku berlari, untung saja Allah memberiku kesempatanku untuk menolongnya jika saja aku terlambat sedetik mungkin aku akan sangat menyalahkan diriku saat melihat Raina kecelakaan didepanku.
“Kamu nggak papa?” tanyaku yang masih memeganginya dari belakang. Aku melihat wajahnya sangat pucat, beberapa saat kemudian Raina baru menyadari bahwa aku menolongnya. Lalu aku memaksanya mengantarkan pulang karena aku tidak ingin dia kenapa-napa dijalan nanti.
POV Devano Off
***
Diperjalanan Deva sesekali melirik Raina yang tiba-tiba menjadi pendiam, entah masih syok atau sedang memikirkan sesuatu.
“Kamu nggak papa?” Deva memberanikan diri membuka suara.
“Ah iya kak” Raina menjawab seadanya.
“Kamu lagi mikirin sesuatu ya?” tanya Deva sambil meliriknya sepintas.
“Nggak tahu kak, dari semalam aku kangen sama mama. Terus tadi pagi keluar dari kost niatnya mau cari sarapan tapi malah jalan sampai mall dan akhirnya aku beli novel, lalu aku baca novel sebentar tadi ditaman dan aku pengen balik ke kost tapi ditengah jalan aku ngerasa pusing gitu, aku nggak tahu deh misal tadi Kak Deva nggak nolongin aku.....” Raina berbicara seakan-akan yang didepannya adalah orang terdekatnya.
“Jadi kamu belum makan dari pagi?” potong Deva, Raina menggeleng pelan.
__ADS_1
Mereka berdua berhenti didepan sebuah rumah mewah berwarna putih, namun Raina memejamkan matanya sehingga dia tidak tahu sedang dimana sekarang. Deva menatap Raina dan tidak tega membangunkannya namun dia langsung menggeleng cepat baginya tidak sopan memandangi lawan jenis yang sedang tertidur pulas.
“Ra? Raina? Bangun, udah sampai nih...” Deva membangunkannya dengan hati-hati karena takut mengejutkannya. Namun Raina sama sekali tidak merespon membuat Deva panik seketika dan ternyata dia pingsan.
Deva langsung membopong tubuh Raina dan membawanya masuk kedalam rumah karena tadi niat Deva ingin mengajaknya untuk makan dirumahnya.
Tiga satpam yang melihat Deva membopong seorang cewek dalam keadaan pingsan ikut terlonjak kaget karena seumur hidup belum pernah ada teman cewek Deva yang memasuki wilayah rumahnya bahkan Sonya sahabatnya sekalipun.
“Kamu bawa siapa Van?” tanya Papa dengan heran yang sedang duduk santai diruang tamu.
“Pa, tanyanya nanti aja. Dia pingsan tolong hubungi Dokter Maya secepatnya!” ucap Deva setengah teriak pada papanya karena panik.
Deva langsung merebahkan tubuh Raina dikamar tamu yang ada dilantai bawah, papa dan beberapa pelayan ikut mengikuti Deva kekamar tersebut. Deva meminta para pelayan menjaganya sampai dokter datang lalu dia keluar bersama papanya.
“Kamu apain dia? Papa tadi cuma bercanda waktu nyuruh kamu bawain calon mantu! Kamu malah macem-macem sama cewek sampai dia pingsan gitu?! Siapa yang ngajarin kamu jadi anak kurang ajar!?” Papa memarahi Deva habis-habisan bahkan tidak memberinya kesempatan untuk mengatakan sepatah katapun.
“Pa dengerin aku dulu, siapa juga yang macem-macem dia itu adik kelas aku di SMA tadi dia hampir kecelakaan terus aku tolongin dan niat aku bawa kerumah tadi aku mau ngajak dia makan bareng tapi ternyata dia pingsan tadi aku aja juga panik saat tahu dia pingsan, papa beneran masih nggak percaya? Nanti coba deh tanya langsung kedia kalau udah sadar,” ucap Deva panjang lebar berusaha meyakinkan papanya.
Tak lama kemudian Dokter Maya datang dan langsung memeriksa keadaan Raina, “Dia cuma dehidrasi kok, nanti setelah sadar langsung suruh dia minum segelas ya. Saya rasa tidak perlu memberinya obat, yasudah tidak lama lagi dia akan sadar kok.” ucap Dokter Maya pada Deva dan papanya.
“Terima kasih dok, maaf menganggu waktunya.” ujar Deva saat mengantarkan Dokter Maya sampai kedepan.
“Pacar ya? Cantik, dijaga baik-baik loh jangan disakitin.” ucapnya membuat Deva langsung menyuruhnya pulang.
Deva kembali ke kamar tamu dan ternyata Raina baru membuka matanya, pelayan yang menunggu langsung memberikan segelas air untuk diminumnya.
“Gimana keadaan kamu?” tanya Deva setelah Raina selesai minum.
“Maaf aku bawa kamu kerumah, soalnya kamu tadi pingsan dijalan” Deva terpaksa berbohong.
“Makasih kak, maaf aku merepotkan.” hanya itu yang keluar dari mulut Raina, malu pasti karena lagi-lagi disaat pingsan Deva lah yang selalu menolongnya.
“Mbak, tolong bawakan makanan kesini ya.” titah Deva pada salah satu pelayan.
“Kak aku pulang ya? Nggak enak kalau disini apalagi aku tadi pingsan,” Raina merasa tidak nyaman merepotkan Deva terus menerus.
“Nanti aku antar kamu sampai kost, jadi kamu tenang aja nggak usah sungkan ya?” ucap Deva dengan tulus.
‘Ya Allah, ampuni aku jika aku merasa nyaman bersamanya’ batin Raina.
Ingin menolakpun pasti Deva akan memaksanya itulah yang ada dipikirannya.
Tak lama kemudian pelayan membawa beberapa makanan kedalam kamar, Raina tertegun melihat kemewahan yang ada didalam rumah Deva.
Kemudian Deva menawarkan ingin menyuapi Raina namun ditolak akhirnya Raina makan sendiri.
__ADS_1