Inseparable

Inseparable
Bianca Membuat Ulah


__ADS_3

Assalamu'alaikum, JANGAN LUPA LIKE🖤🖤🖤


.


.


Satu Minggu kemudian.


Satu minggu setelah Mama Lita mengunjungi Raina, dengan berat hati Raina melepaskan mamanya saat itu. Namun dia tidak ingin egois dan berjanji liburan semester 1 besok akan pulang ke Surabaya dan lebih lama disana padahal masih ada 2 bulan lagi menuju liburan semester 1. Yah, hanya satu hari Mama Lita datang ke Jakarta hanya untuk melihat putri satu-satunya itu namun Raina sangat menikmati setiap detik bersama mamanya.


“Ra, kamu waktu itu buru-buru pulang ke kost kenapa?” hampir setiap hari Senja menanyakan pertanyaan yang sama pada Raina, namun Raina hanya tersenyum bahkan mengalihkan pembicaraan.


“Nja baca novel diperpus yuk?” lagi-lagi Raina mengalikan pembicaraan.


“Berangkat sendiri sana! Tau ah males aku sama kamu, kamu main rahasia-rahasiaan sama aku? Okay!” Senja merajuk namun Raina malah menertawakannya.


“Sahabat macam apa kamu, temennya lagi marah bukannya dibujuk malah diketawain!” Senja kembali mengomel layaknya ibu-ibu kost yang menagih bayaran bulanan.


“Yaudah ayo aku ceritain tapi diperpus aja.” Raina akhirnya mengalah, tidak ada salahnya jika dia sedikit terbuka pada sahabat satu-satunya itu.


Sampainya diperpustakaan Senja kembali mengomel tidak jelas karena Raina sibuk mencari novel untuk dibacanya, bahkan hingga Senja ditegur beberapa penghuni yang ada didalam perpustakaan.


Raina mendapatkan novel yang ingin dibacanya, dia mencari tempat duduk yang sepi sehingga tidak menganggu yang lainnya sedangkan Senja hanya mengekor sambil menyabet satu buku yang diambilnya secara asal.


“Waktu itu mama aku dateng ke kost aku Nja makanya aku buru-buru....” Raina belum selesai berbicara Senja sudah menyelanya.


“Loh terus adik-adik panti kamu sama siapa?” Senja bertanya hal yang sangat konyol menurutnya.


“Mama kandung aku Nja, bukan Bunda pemilik panti asuhan yang aku tempati.” ujar Raina.


Senja mengerjabkan matanya sambil berpikir karena tidak paham dengan apa yang dibicarakan Raina.


Tanpa menunggu pertanyaan dari Senja, Raina menceritakan apa yang terjadi sebenarnya bahwa sebenarnya dia adalah seorang anak yang hanya dititipkan di panti asuhan dan bukan anak kandung pemilik panti asuhan tempatnya tumbuh besar.


“Ya Allah Ra, ternyata kehidupan kamu lebih rumit dari aku. Terus papa....” Senja terenyuh namun tingkat keingin tahuannya juga tinggi, tanpa sadar dia menyinggung soal papa kandungnya Raina namun belum selesai mengucapkan Raina sudah menyahuti.


“Aku belum tahu wajah bahkan nama dari papaku Nja, tapi aku nggak mau maksa mama aku buat cerita karena aku yakin suatu saat semuanya akan terbuka dengan sendirinya.” sahut Raina yang sudah menguatkan hatinya sendiri.


“Kamu cewek tangguh Ra, aku salut. Semoga kamu selalu bahagia dengan keluarga kamu ya.” perkataan Senja tiba-tiba membuat Raina terharu, tanpa disadari mereka berdua berpelukan untuk saling menguatkan.


Tanpa mereka sadari ternyata Bianca juga ada didalam perpustakaan namun berada dibalik rak buku yang membuat Raina dan Senja tidak melihatnya. Entah sejak kapan, entah berapa lama dia berada disitu dan entah seberapa banyak dia mendengarkan serpihan hidup dari Raina.


‘Cewek beasiswa, tinggal dipanti asuhan? Dan nggak tahu siapa papanya? Jadi selama ini dia pakai jilbab hanya untuk menutupi kedoknya?! Wah pasti dia anak h*ram nih!’ batin Bianca sambil menyeringai.

__ADS_1


***


Raina melaksanakan sholat dhuha pada saat istirahat pertama bahkan sahabatnya sudah mulai ikut sholat bersamanya, satu peningkatan dari Senja setelah berteman dengan Raina bahkan sholatnya sudah 5 waktu meskipun belum bisa tepat waktu.


Keluar dari masjid, ada beberapa yang berbisik namun masih terdengar ditelinga Raina bahkan Senja seperti menyindir namun Raina tidak peduli berbeda dengan Senja yang merasa tidak nyaman.


“Wah kelihatannya jilbaban tapi ternyata anak dari hasil hubungan gelap!”


“Iya nih, anak beasiswa tinggal dipanti asuhan.”


“Dan nggak tau bapaknya.. hahahaha”


Itulah beberapa kalimat yang didengarkan oleh Raina dan Senja. Sampai dikantin masih terdengar kalimat bahkan yang lebih tajam, Senja ingin marah namun ditahan oleh Raina bagaimana tidak mereka semua menyebutkan ‘wanita yang berjilbab’ otomatis Raina lah yang kena karena dia satu-satunya cewek berhijab disekolahnya.


Raina heran mengapa bisa ada berita yang sangat tidak enak didengar menurutnya, sangat salah jika dia merasa tidak tersindir namun dirinya sangat pandai menutupi karena jika dia marah berati itu adalah kenyataan.


‘Brak!!’


Senja menggebrak meja membuat semua terlonjak kaget begitupun dengan Raina yang duduk didepannya, semua hening diam seketika setelah Senja mengejutkan seluruh pengunjung kantin.


“Bisa diem nggak! Percuma kalian sekolah disekolahan yang elit dan mahal kalau mulut kalian aja murah! Lagian kalian ngapain sih? Siapa yang kalian sindir?! Dan, apa yang kalian ucapkan itu hanyalah sampah! SIAPA YANG NYEBARIN BERITA NGGAK BENER INI HAH!!” kemarahan Senja memuncak seketika padahal Raina sudah mencoba untuk menenangkannya.


“Temen nggak bener gitu dibelain.”


“Kalau nggak salah harusnya cewek itu berani bantah dong ya? Lah ini temennya yang maju”


Mereka hanya bisik-bisik menanggapi apa yang dituturkan Senja, ingin kembali menentang apa yang mereka tuduhkan namun Raina menghentikannya.


“Aku emang cuma anak beasiswa disekolah ini dan aku besar dipanti asuhan namun aku terlahir diatas ikatan pernikahan kedua orang tuaku, huftt... aku nggak tahu sih kenapa kalian tiba-tiba tertarik dengan kehidupanku, bahkan apakah sebegitu menariknya aku dimata kalian?” ucapan Raina langsung mengena dihati semuanya, ada benarnya juga bahkan mereka menjelek-jelekkan Raina atau menyebar fitnah pun tidak menguntungkan bagi mereka namun hanya untuk kepuasan semata.


Selesai mengutarakan apa yang ingin diutarakan Raina, Senja langsung menarik tangan Raina meninggalkan kantin.


Dihari berikutnya kepala sekolah langsung mengumpulkan seluruh warga sekolah untuk berkumpul dilapangan. Kepala sekolah menyampaikan kepada seluruh murid perihal rumor Raina yang langsung beredar luas disekolahan, lebih tepatnya beliau menegur keras pembuat masalah beserta pendukungnya karena termasuk tindakan bullying.


Setelah selesai, Raina dipanggil keruang kepala sekolah hatinya juga tidak tenang. Bagaimana jika menyangkut beasiswa atau bahkan dikeluarkan dari sekolahan karena rumornya yang tidak jelas? Begitulah pikirnya.


“Saya minta maaf pak, atas kejadian ini. Saya benar-benar tidak tahu mengapa ada seseorang yang membuat rumor yang sama sekali meresahkan, memang benar saya besar dipanti asuhan namun saya bisa jamin bahwa saya adalah anak yang terlahir dari sebuah ikatan pernikahan.” Raina meminta maaf dengan sangat tulus, kepala sekolah tersenyum namun Raina tidak melihatnya.


“Saya yang minta maaf, harusnya saya bisa menjaga citra sekolah ini. Bahkan saya sangat malu sekolahan elit seperti SMA XX merendahkan bahkan menyebarkan hal yang tidak-tidak mengenai kamu, saya harap kamu akan tetap bertahan hingga lulus nanti karena kamu salah satu murid terbaik kami.” ucapan bapak kepala sekolah yang sangat Raina tidak duga sedikitpun, berbanding terbalik dengan apa yang ada dipikirannya tadi.


Raina tersenyum dan berterima kasih pada kepala sekolah yang sangat baik hati. Didepan pintu keluar Senja langsung memeluk Raina. Meskipun masalah sudah selesai namun Senja tetap mencari siapa orang dibalik ini semua.


***

__ADS_1


Seiring berjalannya waktu, rumor mengenai Raina seperti hilang ditelan bumi. Dia sama sekali tidak mempedulikan siapa yang membuat rumor tersebut namun berbeda dengan Senja yang dari saat itu mencari tahu tapi belum membuahkan hasil.


“Ra, aku ketoilet bentar ya?” ucap Senja pada Raina yang tengah menikmati makan dikantin. Raina hanya mengangguk karena mulutnya sedang mengunyah makanan.


Senja masuk ketoilet yang sepi, namun beberapa saat ada suara yang sangat familiar ditelinganya. Ingin keluar dari toilet namun dia mengurungkan niatnya dan malah menguping pembicaraan mereka.


‘Bianca?’ batin Senja.


“Sial! Kenapa kepala sekolah pake belain cewek beasiswa sih?!” ucap Feby teman Bianca.


“Iya ya? Padahal seru tuh bikin cewek itu risih,” sahut temannya yang bernama Raya.


“Padahal bener kan kalau dia itu anak beasiswa yang tinggal dipanti asuhan dan anak h*ram!” seru Bianca membuat telinga Senja memanas.


‘Brak!’


Senja membuka pintu secara kasar, membuat Bianca dan gengnya terlonjak kaget. “Ah sial pintunya susah dibuka, eh ada kalian maaf ya ngagetin!” Senja pura-pura tidak mendengar apa yang mereka bertiga bicarakan.


“Sejak kapan lo disitu!?” tanya Bianca yang tidak sopan.


“Sejak tadi! Oh ya apa jadinya ya kalau Kak Devano mendengarkan rekaman ini....” Senja langsung memutarkan obrolan Bianca dan temannya yang sempat direkamnya tadi.


“Sh*t! Sini in HP lo! Awas aja lo berani buat ulah sama gue!” Bianca berusaha merebut ponsel milik Senja namun tidak berhasil.


‘Dasar wanita ular!’ batin Senja semakin menjadi-jadi.


Senja langsung berlari sebelum ponselnya direbut karena dia dikeroyok oleh kedua teman Bianca. Dia langsung menyusul Raina yang ada dikantin kemudian menariknya pergi dari sana. Raina pun bingung mengapa Senja bertingkah konyol seperti anak SD yang sedang main kejar-kejaran.


“Kenapa sih Nja? Lagi main petak umpet? Sama siapa?” tanya Raina yang sangat tidak berfaedah dan terdengar menyebalkan ditelinga Senja.


“Sstttt!” Senja menempelkan jari telunjuknya tepat dibibir Raina.


Senja sendiri merasa ngos-ngosan karena berlarian, sebenarnya dia tidak takut hanya saja rekaman ini bisa menjadi bukti untuk diserahkan pada kepala sekolah meskipun dia sendiri tidak bisa menjamin bahwa Bianca akan dihukum sesuai dengan hukuman yang ada, pasalnya status Bianca adalah putri dari Om Bimo alias papanya Kak Deva yang menjadi donatur utama disekolahnya.


Sepulang sekolah Senja langsung mengantarkan Raina sampai kekost dan pastinya dia mampir meskipun hanya sebentar, tapi nggak mungkin ding kalau dua cewek main hanya sebentar pasti disela-sela obrolannya terdapat gibah-gibah yang membuat waktu berjalan tiga kali lipat lebih cepat.


Tanpa basa-basi sesampainya didalam kamar Raina, Senja langsung menceritakan mengapa dia harus berlari tadi saat disekolah. Awalnya Raina berpikir positif dan menasehati Senja agar tidak berburuk sangka namun setelah Senja memutar rekaman pembicaraan Bianca dan temannya, Raina hanya diam sambil berpikir.


‘Kenapa Bianca membuat ulah denganku? Apa salahku? Apa hanya karena masalah hari pertama MOS aku memperingatkan dia waktu itu?’ pertanyaan yang terngiang dikepala Raina.


“Emang aku buat salah apa sih sama dia? Sampai-sampai dia kurang kerjaan banget buat aku nggak nyaman disekolah dengan menyebarkan berita yang enggak-enggak.” Raina berbicara sambil menatap Senja.


“Tenang Ra, rekaman ini bakal gue kasih kekepala sekolah yah meskipun nggak tahu bakalan ngefek apa enggak hukumannya ke Bianca tapi setidaknya Om Bimo atau Kak Deva tahu kalau dia bukan wanita baik dan polos seperti yang mereka kira!” emosi Senja tersulut seketika, entah kenapa dia sangat membenci sifat bermuka dua yang dimiliki Bianca.

__ADS_1


“Huft, udah biarin Nja. Masalahnya udah ilang juga disekolahan, jangan buat ulah biarin aja.” entah baik, entah bodoh, entah sabar Raina tidak terlalu ambil pusing masalah kemarin.


__ADS_2