Inseparable

Inseparable
Maaf Merepotkanmu


__ADS_3

Assalamu'alaikum, maaf ya baru bisa update🖤


Kemarin keyboard laptop nya rusak🙏


Happy Reading, Jangan lupa LIKE🖤


.


.


Sudah dua minggu Raina berada di Surabaya. Semua surat pengalihan harta sudah selesai, meskipun kemarin sempat ada perdebatan sedikit dengan bundanya karena bunda merasa terkejut dengan penuturan Raina mengenai hak warisan Mama Lita yang diberikan padanya.


Flashback On


Beberapa hari berlalu setelah Raina bertemu dengan putra dari Pak Yoan selaku pengacara pribadinya Mama Lita. Beliau mengabarkan bahwa semua berkas sudah diubah sesuai dengan permintaan yang Raina ucapkan pada putranya saat itu.


Hari ini Raina bersama Bunda diminta bertemu dengan Pak Yoan untuk pengalihan harta sesuai dengan yang diucapkan Raina kala itu. Bahkan, dia tidak memberi tahu bundanya bahwa hari ini adalah pengalihan hak warisan dari mamanya. Yang bunda tahu, ia hanya diminta Raina untuk menemaninya bertemu dengan pengacara Mama Lita.


“Selama siang Non, Bu?” sapa Pak Yoan pada mereka Raina dan Bunda.


“Siang pak, makasih sudah meluangkan waktunya untuk kami. Dan jangan panggil saja non, panggil saja Raina.” balas Raina dengan sopan.


‘Sangat rendah hati sama seperti Bu Lita’ batin Pak Yoan.


“Baik, mungkin saya memanggil Mbak Raina saja. Terasa sungkan jika saya langsung memanggil nama saja.” sahut Pak Yoan dengan tersenyum.


“Baiklah, boleh saya liat berkasnya pak?” Pak Yoan kemudian memberikan berkasnya pada Raina untuk dibaca dan dipahami.


“Sesuai dengan permintaan dari Mbak Raina, semua aset atas nama Ibu Lita Arella akan dialihkan pada Ibu Anastasya kecuali rumah ini.” penjelasan Pak Yoan sontak membuat bunda terkejut.


“Tunggu! Apa ini Raina? Jelaskan sama bunda!” ucap bunda setengah marah dan menuntut sebuah penjelasan dari Raina.


Raina pun mengajak bunda ngobrol berdua diruang kerja milik Mama Lita dulu, meninggalkan Pak Yoan diruang tamu sendirian.


“Bunda tenang dulu, semua aset yang mama kasih ke aku aku alihkan sama bunda kecuali rumah ini. Maaf bunda, Raina nggak cerita sama bunda sebelumnya karena aku tahu bunda pasti bakalan nolak. Bunda, tolong terima ya?” ucap Raina dengan sangat hati-hati.


“Bunda nggak bisa, mama kamu udah banyak memberi bunda. Panti Asuhan, menjadi donatur tetap, menyekolahkan semua anak panti, bahkan menjadi sahabat bunda. Itu udah lebih dari cukup.” balas bunda dengan mata berkaca-kaca.


“Bunda, Raina paham. Tapi nggak mungkin diusia Raina sekarang memiliki kekayaan dari Mama yang begitu banyak. Aku ingin menjadi Raina yang dikenal sebagai anak panti, bukan anak pengusaha bun. Aku nggak mau orang mendekatiku dan menyalahgunakan aku sebagai alat nantinya.” ucap Raina berusaha memberi penjelasan.


“Bunda, tolong terima ya? Aku yakin bunda bisa mengelolanya dengan baik, dan nantinya bakalan ada Mbak Nadia atau Mas Alif yang bisa bantu bunda. Bun banyak hal yang harus aku cari tahu sekarang, aku nggak ada waktu untuk mengelola bisnis mama.” Raina menatap bunda dengan tatapan sendu.


“Aku masih harus mencari Papa dan Kakak, aku masih harus mencari tahu semuanya sendirian, dan aku yakin papa aku nanti juga akan setuju dengan keputusan yang aku ambil bun.” imbuh Raina diakhir kalimatnya.

__ADS_1


‘Bahkan papa kamu lebih kaya dari yang kamu kira sayang, haruskah bunda menerima semua ini?’ batin Bunda menatap Raina yang begitu sendu.


“Baiklah, bunda akan menerima dan mengelolanya sekarang. Tapi, jika suatu saat nanti kamu membutuhkan atau memintanya balik, kamu jangan sungkan untuk mengatakannya. Bunda akan memberikan kembali pada kamu.”


‘Bunda, apa yang pernah aku berikan tidak akan pernah aku minta kembali’ batin Raina sambil tersenyum.


“Iya bun, jadi bunda mau ya tanda tangan?” Raina kembali mengulangi pertanyaannya.


Bunda hanya mengangguk menanggapi pertanyaan yang dilontarkan Raina. Raina pun akhirnya bisa tersenyum lega. Mereka kemudian kembali keruang tamu menemui Pak Yoan.


“Maaf menunggu lama, bisa kita lanjutkan?” ucap Raina yang baru saja datang.


“Tidak apa mbak, bisa. Silahkan tanda tangan disebelah sini.” Pak Yoan menunjukkan bagian yang harus ditanda tangani oleh Raina.


Raina pun membubuhkan tanda tangannya diatas materai pada bagian yang tersedia, begitupun dengan bunda.


“Mulai hari ini semua aset sudah dialihkan pada Ibu Anatasya, dan sertifikat rumah ini akan segera diubah menjadi milik Mbak Raina.” ucap Pak Yoan pada Raina dan Bunda.


“Terima kasih pak, jika ada apa-apa beri tahu saja pada bunda. Karena saya harus kembali ke Jakarta.” sahut Raina dengan sopan.


“Baik mbak, bu. Saya permisi, Assalamu’alaikum” Pak Yoan pamit dan meninggalkan kediaman Mama Lita.


“Wa’alaikumsalam” sahut bunda dan Raina secara bersamaan.


Raina termenung sendiri dikamarnya, sudah hampir pukul dua belas malam namun matanya masih terjaga. Belum ada tanda-tanda dirinya ingin tidur, sudah mencoba berbagai cara agar cepat tidur namun semuanya gagal. Padahal besok pagi dia ingin kembali ke Jakarta, ada hal yang membuatnya ingin segera balik padahal masih ada waktu satu minggu dihari libur panjangnya.


‘Tingg’


Tiba-tiba saja ada notif pesan masuk dari ponselnya, malam-malam begini siapa yang mengiriminya pesan, begitulah pikirnya.


Matanya langsung membelalak begitu mendapat pesan dari seorang yang tidak terduga, bagaimana tidak ditengah malam begini Deva mengirim pesan pada Raina.


📩 Kak Deva         : Assalamu’alaikum Ra, maaf ganggu ditengah malam gini. Mau nanya apa kamu masih di Surabaya?


📨Raina                : Wa’alaikumsalam Kak, iya nggak papa kok lagian aku juga belum tidur. Masih kak, emangnya ada apa ya?


Tanpa menunggu lama Deva langsung menelepon Raina, “Assalamu’alaikum halo Ra? Ehm sebelumnya maaf banget loh kalau aku ganggu, dan lagi aku nggak tahu harus minta tolong kesiapa lagi...”


“Wa’alaikumsalam, ada apa sih kak kok kayak panik gitu? Iya-iya nggak papa kok, ada yang bisa aku bantu?” tanya Raina melalui panggilan telepon.


“Ra, kamu tahu nggak daerah XXX. Ban mobil aku pecah dan aku nggak bawa cadangan, aku telepon orang yang aku kenal di Surabaya nggak ada yang ngangkat. Aku boleh minta tolong sama kamu nggak? Kamu punya kenalan tukang bengkel yang bisa kesini nggak sekarang?” jelas Deva panjang lebar.


“Oh gitu ya kak, yaudah oke-oke aku akan menghubungi tukang bengkel yang aku kenal. Sekitar 10 menitan lagi bakal sampai, yaudah aku tutup teleponnya ya kak? Assalamu’alaikum.” Raina mematikan teleponnya setelah Deva menjawab salam darinya.

__ADS_1


***


Dari pukul 8 pagi hingga 3 sore dia menyelesaikan kontrak bersama pengusaha asing di cabang perusahaan papanya yang ada dikota selanjutnya dia harus memantau proyek yang letaknya di area pedesaan dan jauh dari hotel tempatnya beristirahat bahkan dari tempat proyek menuju hotelnya memakan waktu kurang lebih 2 jam.


Deva yang sudah merasa lelah setelah mengontrol dan memantau proyek milik papanya yang ada di Surabaya, niat ingin segera kembali ke hotel untuk beristirahat malah mendapat kesialan yang tidak terduga. Ban mobil yang dikendarainya tiba-tiba pecah, Deva langung membuka bagasi belakang dan ternyata tidak ada ban cadangan disana, jalanan begitu sepi dan jauh dari pedesaan.


Tanpa pikir panjang Deva langsung menelepon orang-orang yang dikenalnya di Surabaya namun keberuntungan tidak berpihak padanya saat itu, satupun tidak ada yang menjawab panggilan dari seorang Devano Julian. Dia berangkat dari Jakarta hingga sampai Surabaya sendirian jadi tidak ada yang menemaninya kemana-mana.


“Ahh sial!! Pada kemana sih? Nggak tahu apa gue butuh bantuan?!” Deva mengumpat sendirian, dia sendiri tidak sadar atau memang tidak tahu waktu. Ditengah malam begini sudah jelas semuanya istirahat pastinya namun dia sepertinya tidak peduli akan hal itu.


Deva kembali memutar otaknya, “Apa gue telepon Raina aja ya? Tapi ini udah jam 12, kalau dia tidur gimana? Nanti ganggu dong?” mengingat nama Raina pikirannya bisa berjalan dengan normal.


Ya, beberapa hari sebelum Deva ke Surabaya dia main ke rumah Verrel. Entah bagaimana ceritanya saat itu Deva menanyakan kabar dan keberadaan Raina pada Senja. Senja pun menjawab bahwa jika libur panjang, Raina akan menghabiskan waktunya di Surabaya tanpa tersisa. Itulah yang diucapkan Senja.


Mata Deva berbinar melihat terakhir dilihat Raina baru satu menit yang lalu, yang artinya jika mencoba tidur pun pasti belum terlelap, pikir Deva. Mencoba memberanikan diri akhirnya dia mengirim pesan terlebih dahulu pada Raina agar tidak terlalu menganggu, setelah mendapatkan respon dia langsung mengubah menjadi panggilan telepon. Mendapatkan sinyal bantuan dari Raina, Deva pun tersenyum lega.


Sepuluh menit kemudian seperti yang dijanjikan oleh Raina, Deva melihat ada sorot lampu dari sebuah sepeda motor yang melaju kearahnya. Lengkungan senyum pun akhirnya terukir jelas pada wajah Deva. Dia semakin bernafas lega ketika motor matic berhenti tepat didepan mobilnya.


Deva langsung membuka pintu mobil dan betapa terkejutnya dia, “Loh Raina?”


“Maaf kak, nunggu lama ya?” tanya Raina yang justru merasa sungkan.


“Kok kamu yang kesini? Tukang bengkelnya mana? Kamu bisa benerin ban mobil aku? Dan lagi mana ban cadangannya?” bukannya menjawab Deva malah terus mencecar Raina dengan berbagai pertanyaan yang sangat konyol.


“Kak tenang dulu, tenang okee? Tadi aku udah nyamperin tukang bengkelnya tapi ternyata ibunya lagi sakit jadi dia jaga ibunya dirumah sakit dan aku cuma punya satu kenalan. Terus aku kesini deh, buat jemput kakak...”


“Kak, mobilnya tinggal sini aja. Kak Deva ikut ke tempat tinggalku, kamu capek kan pastinya kak?  Biar besok Mas Alif yang benerin mobil kakak, gimana?” imbuh Raina.


Deva tampak berpikir, namun dia sudah merasa lelah, dan ingin segera tidur, “Baiklah Ra.”


Deva langsung mengambil ponsel, dompet, dan kuncinya. Dia langsung mengunci mobil dan menghampiri Raina, “Biar aku yang boncengin kamu” Raina pun langsung memberikan kunci motornya.


“Maaf Ra aku merepotkanmu.” ucap Deva sebelum menaiki motor sambil menatap Raina.


.


.


Jangan lupa LIKE🖤


terimakasih, follow juga ig ku : erlindans__


Kalau mau di folback Dm aja yaa🤗

__ADS_1


 


__ADS_2