Inseparable

Inseparable
Ikhlas


__ADS_3

Assalamu'alaikum, JANGAN LUPA LIKE🖤🖤🖤


Happy Reading🌻


.


.


Verrel duduk diruang tamu menunggu adiknya yang sedang berusaha menghibur dan menyadarkan sahabatnya. Matanya terasa pegal yang sedari tadi memandangi ponsel untuk mengatasi kebosanannya, kemudian dia melihat sekeliling dan dirinya baru sadar ada foto Mama Lita yang terpajang disana, ada juga foto masa kecil Raina yang terpampang disana.


‘Kayak pernah lihat, tapi dimana? Apa cuma mirip-mirip aja kayak yang lainnya?’ batin Verrel memandangi foto itu dengan intens.


Entah sejak kapan dia berdiri mendekati foto Mama Lita yang terpajang disana, yang dari tadi dibenaknya foto yang dia lihat saat ini dia pernah melihatnya namun dimana? Itulah pikirnya.


“Siapa kamu?” Alif yang baru saja masuk langsung mengangetkan Verrel.


Verrel melihat celingukan dan ternyata dirinyalah yang ditanya oleh Alif, “Gue Verrel.” ucap Verrel sambil mengulurkan tangannya pada Alif.


“Aku nggak tanya namamu, kamu ngapain disini?” Alif terus bertanya hingga Nadia menuruni tangga menghampiri Alif.


“Assalamu’alaikum mbak,” Alif langsung mencium punggung tangan Nadia membuat Verrel melongo seketika.


‘Apa dia suaminya? Tapi kok yang cium tangan kebalik?’ batin Verrel, mengapa orang menjadi bodoh seketika setelah jatuh cinta? Sedangkal itukah pikiran Verrel.


“Wa’alaikumsalam, Kenalin dia kakaknya temennya Raina dari Jakarta.” ucap Nadia memperkenalkan Verrel tanpa menyebutkan namanya. Wajah Alif seakan penuh dengan tanda tanya, bagaimana bisa?


“Nanti aku ceritain, kamu temani dia dulu.” imbuh Nadia tanpa melihat Verrel sedikitpun.


Alif pun duduk diruang tamu menemani Verrel tanpa bicara sepatah katapun dan fokus pada ponsel masing-masing, “Eh lo siapanya Nadia?” tanya Verrel membuat Alif melihat Verrel seketika.


“Ngapain nanya-nanya? Kamu suka ya sama Mbak Nadia?” Alif langsung bisa menebak apa yang ada dipikirannya Verrel.


“Kamu sama sekali bukan tipenya, tipe Mbak Nadia tuh, sholeh, rajin sholat, taat agama, pinter ngaji, terus....” imbuh Alif belum selesai saja sudah membuat Verrel tertohok.


“Alif!” Nadia langsung menghentikan ocehan adiknya yang tidak jelas.


“Kamu disini dulu ya, bunda rapat sampai malam. Mbak mau kesupermarket bentar,” imbuh Nadia.


“Gue anterin?” tawar Verrel dan ditolak mentah-mentah oleh Nadia.

__ADS_1


“Bwahahahahahah..” Alif yang disana langsung tertawa terbahak-bahak setelah Nadia pergi.


“Diem lo!” Verrel langsung melempar bantal tepat diwajah Alif.


“Lo siapanya Nadia? Lo belum jawab!” Verrel pantang menyerah, terus bertanya siapa Alif.


“Aku adiknya Mbak Nadia, dan juga wali nikahnya nanti.” Verrel merasa lega mendengar jawaban dari Alif.


Adzan maghrib berkumandang, Alif langsung beranjak dari duduknya. “Kayaknya aku juga nggak akan restuin Mbak Nadia dapet cowok playboy kayak kamu.” ucap Alif lalu meninggalkan Verrel. Pasalnya dari tadi tanpa sengaja Alif mendengar Verrel bertelepon dengan beberapa cewek dan memanggilnya sayang.


“Tuh orang nggak ada akhlak ya emang!” gerutu Verrel setelah Alif pergi.


***


Senja hanya bisa tiga hari di Surabaya karena Verrel ada jadwal kuliah yang tidak bisa ditinggalkan, Senja yang ingin balik ke Jakarta bersama Raina tidak diijinkan oleh kakaknya dan terpaksa harus berpamitan.


“Ra, aku pamit ya. Kamu harus semangat terus, aku tunggu di Jakarta ya?” ucap Senja sambil memeluk Raina.


“Makasih Nja.” jawab Raina.


“Makasih ya udah sempetin buat main kesini buat Raina,” ucap Nadia dan Bunda.


“Wa’alaikumsalam.” sahut mereka secara bersamaan.


“Mari bunda, mbak” Verrel tersenyum sambil mengangguk, didepan bundanya saja dia memanggil Nadia dengan sebutan ‘Mbak’.


Setelah kedatangan Senja, Raina sedikit lebih baik. Dia tidak sependiam dulu bahkan tidak sering menangis. Raina masuk kedalam kamarnya, dia mengambil air wudhu lalu mencoba untuk tidur.


Raina bangun pukul 2 dini hari untuk sholat malam, tanpa sadar dia ketiduran diatas sajadah. Lalu Raina bermimpi bertemu dengan Mama Lita, didalam mimpi Raina tersenyum bahagia berada dipelukan mamanya.


“Raina sayang, kamu nggak boleh sedih terus, kalau kamu sedih mama juga sedih disini. Masa depan kamu masih panjang, mama dipanggil lebih dulu karena Allah sayang sama mama, Mama tunggu kamu disurga.” ucap Mama Lita saat memeluk Raina.


Raina langsung terbangun dari mimpinya, dia mendengar adzan subuh berkumandang. Dia langsung mengambil air wudhu dan sholat subuh didalam kamarnya. “Ya Allah, ampuni aku. Selama ini aku berburuk sangka pada-Mu, Insyaallah aku ikhlas menerima kepergian mama. Berikanlah mama ditempat terbaik-Mu, Aamiin.” do’a Raina kemudian mengusap kedua tangannya diwajahnya.


Mimpi yang menjadi sebuah pesan untuk Raina agar dia tidak berlarut-larut dalam kesedihan, Allah memiliki rencana luar biasa diluar sana, banyak yang menyayanginya disini. Mulai detik ini, Raina harus bangkit dan mencoba kembali bahagia.


“Bunda, Raina ingin kemakam mama.” ucapan Raina membuat bunda terkejut sekaligus bahagia, Nadia yang sedang duduk disamping bundanya pun ikut tersenyum.


***

__ADS_1


Raina ditemani oleh bunda, berjalan memasuki makam yang berjajar rapi dan sangat terawat. Langkah bunda terhenti setelah sampai didepan makam yang batu nisannya bertuliskan ‘Lita Arella Binti Wahyudi’.


Lagi-lagi air mata Raina menetes namun dia segera menyekanya, Raina berjongkok kemudian berdo’a. Bunda ikut berdo’a, selesai berdo’a bunda memperhatikan Raina yang masih memejamkan matanya sambil menengadahkan kedua tangannya.


“Aamiin.” Raina mengusap kedua tangannya diwajahnya.


“Ma, maaf aku baru bisa kesini. Maaf Raina nggak bisa nganterin mama ketempat peristirahatan terakhir, Raina akan tumbuh menjadi wanita kuat dan tangguh seperti mama. Raina janji akan sering datang nengokin mama kesini. Terima kasih mama udah menjadi mama yang hebat buat aku, semoga kita bisa berkumpul disurga nanti. Raina pamit ma, assalamu’alaikum.” ucap Raina sambil menyeka air matanya berulang kali diakhiri mencium batu nisan yang bertuliskan nama ibu yang telah melahirkannya.


Bunda yang mendengar ikut tersentuh, namun dia harus bisa menguatkan putrinya. Sekarang ialah yang menjadi sosok ibu untuk Raina sekarang. “Ayo sayang,” ajak bunda setelah Raina menaburkan bunga mawar diatas makam mamanya.


“Kamu wanita kuat sayang, kamu harus tabah dan ikhlas, mama kamu pasti bahagia disana melihat putrinya tersenyum.” ucap bunda sambil merangkul Raina didalam mobil.


Dimalam hari Raina menghampiri bunda dan kedua kakaknya yang sedang berbincang diruang tamu. “Bunda, boleh Raina tahu penyebab mama meninggal?” itulah hal pertama yang ada dipikirannya sekarang.


“Lita sudah cukup lama divonis kanker darah atau leukimia, awalnya tidak ada efek yang diterima tapi lambat laun tubuhnya mulai lemah. Sebenarnya Lita ingin mengatakan bahwa dia mama kandungmu setelah kamu lulus SMA karena dia tidak ingin membebani pikiranmu. Tapi dia menyadari sendiri akan kondisinya yang makin parah, sesekali mamamu sampai pingsan ditempat kerjanya.” Bunda mulai bercerita dan Raina konsen mendengarkannya.


“Diulang tahunmu yang ke-17 akhirnya Lita mengatakan bahwa dia mama kandungmu, bunda sempat melarangnya karena bunda takut jika kamu tidak bisa menerimanya dan ya, awalnya kamu memang tidak percaya untung tidak berlangsung lama hanya butuh satu hari untuk kamu menerima kenyataan dan membuat Lita bahagia karena kamu bisa menerimanya sebagai mama kandungmu. Bunda takut jika kamu menjadi anak yang durhaka namun alhamdulillah itu hanyalah prasangka buruk bunda.”


“Bunda terkadang menemani mamamu untuk kontrol ke rumah sakit, bunda tidak hanya sekali menyuruhnya untuk melakukan kemo tapi mamamu menolak karena takut kamu tahu jika nanti rambutnya akan rontok akibat kemoterapi. Awalnya stadium pertama hingga stadium terakhir, mamamu memutuskan untuk menengokmu ke Jakarta karena dia sudah memiliki firasat bahwa umurnya tidak akan lama lagi.” penjelasan Bunda sudah mulai membuat mata Raina terasa panas, bahkan hatinya terasa sesak.


“Tanda-tanda bahwa dia memiliki penyakit mulai terlihat, bahkan Lita sempat bercerita pada bunda setelah pulang dari Jakarta bahwa kamu melihat lebam yang ada ditangannya. Lita mengatakan bahwa dia terbentur lemari bukan? Padahal itu karena sakitnya sudah semakin parah.” Bunda menghapus air mata yang tiba-tiba menetes membasahi pipi Raina.


“Hari kelima setelah dari Jakarta kondisi mamamu sangat drop, pihak rumah sakit mecoba mencari donor sum-sum tulang belakang yang cocok dengan Lita namun belum ada hasilnya. Bahkan bunda, Nadia, dan Alif juga ikut mengajukan donor sum-sum tulang belakang untuk mama mu namun hasilnya sama, diantara kami tidak ada yang cocok. Bunda ingin mengabari kamu saat hari keenam namun mamamu dengan tegas menolaknya, Lita tidak ingin membuat kamu cemas disana.” Raina semakin tidak kuasa menahan tangis mendengarkan penjelasan dari bundanya yang belum selesai.


“Tepat satu minggu atau hari ketujuh, beberapa jam sebelum mamamu menghembuskan nafas terakhirnya dia berpesan,” ucap bunda yang masih menggantung.


“Ana tolong jaga Raina seperti yang sebelumnya, jangan beritahu Raina melalui telepon jika aku sudah tiada nantinya. Tunggulah dia sampai pulang sendiri ke Surabaya, jangan membuatnya cemas dan sedih disana. Sampaikan ucapan terima kasihku padan bahwa Raina karena sudah bisa menerimaku sebagai mamanya, aku sangat menyayangi Raina, dan sampaikan maafku karena tidak bisa menemaninya lebih lama lagi.” Itu pesan Mama Lita yang diucapkan melalui Bunda.


“Mamaa.. hiks.. hikss... maafin Raina ma belum bisa menjadi yang terbaik buat mama.. hikss...” Raina menangis sesenggukan setelah mendengarkan semua yang bunda ceritakan padanya.


“Sudah sayang, mamamu sudah tenang disana. Do’akan dia selalu setelah sholatmu, bunda, Mbak Nadia, Mas Alif, dan juga adik panti disini sangat menyayangimu.” ucap bunda sambil memeluk Raina. Nadia juga ikut memeluk Raina sedangkan Alif hanya tersenyum memandangi mereka.


.


.


JANGAN LUPA LIKE YAA🖤🖤🖤


 

__ADS_1


__ADS_2