Inseparable

Inseparable
Masih Berduka


__ADS_3

JANGAN LUPA LIKE🖤🖤🖤


.


.


Raina yang mulai membaik hari demi harinya, namun dia masih belum seceria dulu. Dia lebih sering diam sambil menatap langit melalui balkon dikamarnya, memandangi kolam ikan yang ada ditaman, dan berdiam diri ditaman sambil menikmati udara sejuk.


Tiba harinya Raina harus kembali ke Jakarta untuk melanjutkan sekolahnya, bunda dan Alif lah yang mengantarkannya sampai di bandara. Raina sebenarnya tidak masalah jika berangkat menaiki kereta namun Alif mengusulkan pada bundanya agar Raina naik pesawat dan segera sampai di Jakarta untuk istirahat.


“Ini surat dari mamamu, ini kartu untuk masuk apartemen, passwordnya udah bunda kirim lewat WA, bukalah surat itu setelah kamu masuk didalam apartemen.” ujar Bunda, Raina hanya mengangguk sambil menerimanya.


“Makasih bun, mas. Raina pamit ya, Assalamu’alaikum” ucap Raina.


“Wa’alaikumsalam.” Sahut bunda dan Alif sambil memandangi Raina yang mulai menjauh.


***


Raina tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, dia menghela nafasnya. Sebenarnya terasa berat dia meninggalkan Surabaya namun dia ingat pesan mamanya yang membuatnya harus ikhlas dan mencoba bahagia.


Raina menuju kostnya menaiki ojek online yang sudah dipesannya, dia langsung masuk kedalam kamar untuk mencuci muka, dan berganti pakaian.


Tibalah hari Senin, Raina bersiap untuk berangkat sekolah. Saat dia sedang mengunci kamar kostnya, Bu Ina terkejut melihat Raina yang hendak berangkat kesekolah.


“Loh Neng, kapan datangnya? Kok nggak bilang sama ibu kalau udah pulang?” tanya Bu Ina saat melihat Raina.


“Udah dari kemarin-kemarin bu, maaf saya nggak bilang.” ucap Raina dengan senyum tipis.


“Yaudah saya berangkat dulu ya bu, Assalamu’alaikum.” Raina mencium punggung tangan Bu Ina lalu pergi.


“Neng Raina kenapa ya?” gumam Bu Ina pada dirinya sendiri.


***


Senja terlihat heboh dan bahagia melihat Raina masuk dikelasnya, “Gimana kabar kamu Ra?” tanya Senja setelah Raina duduk disebelahnya.


“Alhamdulillah Nja.” jawab Raina dengan senyuman tipis.


Pelajaran berlangsung seperti biasanya, ditengah pelajaran ada Bu Dewi seorang Guru BK yang masuk kedalam kelas mereka. Bu Dewi tersebut berbisik kepada guru yang sedang mengajar dikelas mereka.


“Disini ada Arella Raina Anggara?” tanya Bu Dewi tersebut sambil membacakan sebuah nama yang ada disebuah jurnal kelas.


“Saya bu,” Raina mengangkat tangannya.


“Ikut saya sebentar.” Raina beranjak dari duduknya dan mengikuti Bu Dewi tersebut.


‘Arella Raina Anggara? Kok namanya kayak nggak asing ya?’ batin Senja yang baru sadar dan merasa aneh dengan nama lengkap Raina. Padahal mereka sudah menjadi sahabat dari awal masuk hingga kelas XI memasuki semester 2 namun Senja baru merasa janggal dengan nama sahabatnya itu.

__ADS_1


Raina memasuki ruang BK (Bimbingan Konseling), dia duduk disana. Kemudian Bu Dewi datang menghampirinya bersama dengan wali kelas dan kepala sekolah, kemudian Raina diajak keruang kepala sekolah.


“Raina, kamu tahu mengapa kami memanggil kamu kesini?” tanya bapak kepala sekolah membuat Raina hanya menggeleng sambil berkata tidak.


“Mengapa kamu tidak masuk tanpa ijin selama satu minggu kemarin saat semua murid sedang melaksanakan classmeeting? Memang benar hari itu sudah bebas, namun bebas dalam arti bebas pelajaran bukan berati boleh bolos sekolah. Apalagi kamu salah satu murid terbaik disekolah ini, jadi kamu nggak boleh seenaknya!” wali kelasnya bernama Suryo menjelaskan apa yang terjadi membuat Raina sadar akan kesalahan dan kelalaiannya tidak ijin sama sekali.


“Maaf sebelumnya pak, bu, saya salah karena tidak ijin waktu itu. Saat itu saya pulang ke Surabaya, tadinya saya ingin memberi tahu Pak Suryo sampainya di Surabaya namun setelah saya baru sampai disana, saya diberi kabar bahwa mama saya meninggal jadi maaf saya lupa bahwa saya belum ijin pihak sekolah jika saya sedang pulang ke Surabaya.” Raina menjelaskan apa adanya, dia merasa sedih lagi mengingat mamanya sudah meninggal namun dia harus menahannya.


“Maaf Raina, saya turut berduka cita. Mama kamu pasti bangga memiliki anak yang cantik, pandai, dan juga sangat sopan, semoga mama kamu mendapatkan tempat terbaik.” sahut bapak kepala sekolah.


“Aamiin.” Jawab semua semua serentak, namun nyatanya perasaan tidak bisa dibohongi, air mata Raina lolos begitu saja menendengarkan do’a tulus yang diucapkan oleh kepala sekolah membuatnya teringat kembali sosok Mama Lita.


“Kamu sabar ya sayang, kamu kuat. Yaudah kamu boleh kembali kekelas.” Bu Dewi merangkul Raina yang sedang menyeka air matanya yang terus keluar.


“Sekali lagi saya minta maaf pak, bu, saya permisi kembali kekelas. Assalamu’alaikum” Raina menundukkan kepalanya kemudian keluar dari ruang kepala sekolah.


“Wa’alaikumsalam” sahut mereka dengan kompak.


***


Raina pulang ke kostnya dengan jalan kaki padahal tadi Senja sudah menawari bahkan memaksa untuk mengantarnya namun dia menolak. Raina tidak langsung pulang, dia berhenti disebuah taman yang tidak jauh dari kostnya.


Raina duduk sendirian disana namun banyak anak kecil yang sedang bermain ditemani oleh orang tua mereka. Raina memperhatikan mereka satu persatu, ada perasaan iri bahwa masa kecilnya bukan bersama mama kandung atau keluarganya sendiri namun dia langsung menepisnya agar bisa menjalani semuanya dengan ikhlas.


Raina percaya pada Allah bahwa didepan nanti akan ada kebahagiaan yang menantinya, akan ada kejutan yang tidak terduga dan yang pasti skenario Allah itulah yang terbaik untuknya.


Raina langsung menghampiri anak itu dan membantunya berdiri, “Anak cantik, udah jangan nangis ya nggak papa kok nggak ada yang luka.” Raina tersenyum sambil mengusap air mata anak kecil itu yang masih sesenggukan.


Ada seorang laki-laki dan perempuan langsung menghampiri anak itu mungkin ayah dan ibunya., “Ya Allah sayang, kamu nggak papa? Ada yang sakit nggak?” ayahnya langsung menggendongnya, anak itu menggeleng.


“Makasih ya mbak, maaf menganggu mbak yang sedang santai disini.” Ibunya tersenyum pada Raina.


“Ah nggak papa kok bu,” Raina juga tersenyum menanggapinya.


Mereka meninggalkan Raina yang masih memperhatikan mereka, namun langkahnya terhenti padahal baru beberapa melangkah. Anak kecil itu menoleh pada Raina, “Makasih kakak cantik, jangan sedih ya.” Anak itu berteriak sambil tersenyum menampilkan giginya yang ompong 1.


Raina langsung tersenyum sambil melambaikan tangannya pada anak itu, bagaimana anak sekecil itu bisa tahu suasana hatinya sekarang? Itu yang sedang berada dipikiran Raina sekarang.


‘Apa mama dan papa akan seperti itu jika bersamaku waktu kecil? Apa mereka akan menjadi penolongku disaat aku terjatuh dan menangis?’ lagi-lagi ada pikiran yang menguasai dirinya.


Raina meninggalkan taman dan kembali berjalan menuju kostnya, sampainya di kost seperti biasa ada Bu Ina yang menunggunya didepan sambil merawat tanamannya.


“Assalamu’alaikum bu.” Raina mencium punggung tangan Bu Ina.


“Wa’alaikumsalam neng, kok tumben baru pulang? Banyak tugas apa banyak kegiatan OSIS disekolah neng?” seperti biasanya Bu Ina menanyakan seputar hal apa saja yang terjadi setelah dia sekolah.


“Tadi habis dari taman, yasudah saya masuk dulu bu, saya belum sholat ashar.” jawaban Raina membuat Bu Ina terheran-heran, sosok Raina yang selalu antusias menceritakan kejadiannya disekolah dan ceria hilang tergantikan oleh Raina yang pendiam dan bicara seadanya.

__ADS_1


“Neng Raina kenapa ya? Kenapa setelah pulang dari Surabaya jadi beda?” gumam Bu Ina setelah Raina pergi.


***


Tiga hari kemudian, Raina masih seperti biasanya sepulang sekolah dia pasti singgah sebentar ditaman untuk melihat anak kecil yang sedang bermain dan ditemani oleh orang tua mereka masing-masing. Bu Ina masih belum mengetahui ada apa dengan Raina yang menurutnya menjadi berbeda.


Dimalam hari, Raina keluar untuk mencari angin agar tidak terlalu memikirkan mamanya yang sudah tenang dialam sana. Namun, dia merasa harinya semakin berat bahkan rasa rindu yang selalu menyelimuti dirinya.


Tanpa pamit Raina keluar dari kost, dia berjalan terus hingga sampai ditaman. Mengapa taman menjadi tempat favoritnya saat merasa sedih, gelisah, rindu, dan kosong? Hanya Raina dan tuhanlah yang tahu. Suasana malam ternyata berbeda dengan siang hari, biasanya Raina melihat anak kecil berlarian namun dimalam hari Raina hanya melihat orang-orang berpacaran ada yang sudah halal hanya sebatas kekasih biasa.


Sepertinya hanya Rainalah yang sendiri disana sedangkan yang lain bersama pasangan masing-masing, jam tangan yang melingkar ditangan kanannya sudah menunjukkan pukul 9 malam padahal dia keluar dari sejak pukul 7 lebih tepatnya sehabis sholat isya’.


‘Udah 2 jam ternyata aku diem disini’ batin Raina setelah melihat jam tangannya.


Raina memutuskan untuk pulang, sampainya didepan kost ternyata ada Bu Ina yang ingin mengunci gerbang. “Loh Neng Raina kok ada diluar? Ibu kira udah tidur loh, darimana neng?” Bu Ina tampak terkejut melihat Raina yang baru saja pulang dari taman.


“Maaf tadi saya nggak pamit bu, saya dari taman.” Raina merasa bersalah, mungkin jika telat satu menit saja dia akan terkunci dan tidak masuk ke kostnya. Berbeda saat dia kerja parttime di V’SA Cafe, dia diberi kunci cadangan karena terkadang pulang malam melebihi batas aturan kost.


“Neng, ibu mau bicara sebentar boleh?” tanya Bu Ina yang ingin menggali informasi dari Raina dan bertanya mengapa Raina berbeda dari biasanya. Raina hanya mengangguk dan duduk didepan kost bersama Bu Ina.


“Neng, mamanya apa kabar?” pertanyaan Bu Ina langsung membuat hati Raina terasa sakit bahkan sangat sakit. Raina hanya tersenyum tipis dan berusaha menahan airmatanya.


“Alhamdulillah bu, mama sudah berada ditempat yang terbaik.” jawaban Raina sontak membuat Bu Ina semakin tidak paham.


“Maaf neng, maksudnya gimana?” Bu Ina semakin memperjelas.


“Mama... udah meninggal bu, dua bulan yang lalu.” benar-benar tidak bisa menahan sedihnya, tangis Raina kembali pecah.


Bu Ina bingung langsung menenangkan Raina, setelah merasa tenang dia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi saat dia pulang ke Surabaya. Bu Ina bisa merasakan apa yang dirasakan Raina saat itu hingga sekarang, terlihat jelas masih ada rasa duka yang mendalam dihati Raina.


“Maafin ibu ya neng udah tanya seperti itu, ibu cuma heran kenapa kamu berubah menjadi pendiam, pulang telat, dan keluar tanpa pamit seperti tadi. Kamu yang sabar ya, masih ada ibu kok, ibu udah anggap kamu seperti anak sendiri. Jangan sungkan bilang sama ibu kalau ada apa-apa ya?” Bu Ina mengusap bahu Raina agar merasa lebih baik, ada rasa menyesal menanyakan hal yang berhubungan dengan Mama Lita namun dia tidak tahu bahwa ternyata beliau sudah meninggal.


“Makasih ya bu, maaf kalau Raina malah nyusahin ibu. Yaudah saya masuk dulu ya,” Raina tersenyum lalu meninggalkan Bu Ina.


“Ya Allah neng, semoga Allah selalu melindungi kamu.” ucap Bu Ina melihat Raina yang semakin jauh.


.


.


Aku up 2 eps dulu ya, makasih buat kakak-kakak yang selalu support dan meninggalkan jejak di karyaku. Oh ya ini hari terakhir ditahun 2020, semoga ditahun yang akan datang semua kesedihan tergantikan dengan kebahagiaan, apapun yang belum tercapai bisa tercapai ditahun depan, aamiin🤗🖤.


Tetap jaga kesehatan yaa kakak-kakak🤗, wassalamu'alaikum.


Follow ig ku juga boleh : @erlindans__


 

__ADS_1


__ADS_2