
Assalamu'alaikum, JANGAN LUPA LIKE🖤🖤
Selamat membaca🌻
.
.
“Dia waktu itu sempat depresi Dev gara-gara tahu kalau mama nya meninggal, bahkan diajak ngobrol aja diem aja. Pandangannya kosong gitu deh, pokoknya beda dari Raina yang ceria dan cerewet deh.” sahut Verrel yang menjelaskan apa yang pernah terjadi.
“Kok lo tahu sih?” balas Deva sambil menyatukan alisnya.
“Lah kan gue sama Senja waktu itu nyamperin Raina ke Surabaya.” Ucap Verrel dengan santai.
“Kenapa nggak ngajak gue?” tanya Deva.
“Gue sama Senja aja dadakan Dev mana sempet ngabarin lo!” sahut Verrel yang sudah merasa geram.
“Udahhhhh, malah ribut sendiri!” sarkas Senja dengan frustasi.
Senja langsung menjelaskan semuanya pada Deva tanpa ada yang terlewat satupun, setelah mendengarkannya Deva justru ikut merasakan apa yang pernah dirasakan Raina. Hatinya semakin merasa sakit dan sesak, bahkan dirinya menyesal mengapa disaat Raina terpuruk dia tidak berada disampingnya.
Hari terus berganti, Deva selalu menemani Raina namun tidak hanya berdua pasti ada Verrel dan juga Senja disana. Lima hari Raina dirawat dirumah sakit, keadaanya semakin membaik setelah ada Deva yang selalu memberikan energi positif untuknya. Mungkin jika diperbolehkan Raina akan memeluk dan mengucapkan terima kasih pada Deva namun itu tidak mungkin dilakukan olehnya.
“Kak Deva makasih ya udah nganterin aku sampai sini, padahal tadi aku bisa naik ojek atau taksi aja.” ucap Raina sambil tersenyum.
“Aku yang bawa kamu kerumah sakit jadi harus aku juga dong yang nganter kamu balik.” sahut Deva yang tak kalah menampilkan senyum manisnya.
“Yaudah ayo aku anterin masuk, sekalian mau ketemu bentar sama ibu kost.” imbuh Deva membuat Raina bingung.
Deva langsung berjalan mendahului Raina sebelum dia bertanya macam-macam padanya, sampai diruang tamu untuk umum Bu Ina sudah datang menghampiri mereka berdua. Raina langsung dipeluk olehnya, membuat Raina tersenyum begitupun Deva yang melihatnya.
“Alhamdulillah neng, udah sehat kan?” tanya Bu Ina dengan antusias.
“Iya alhamdulillah bu, makasih udah khawatir sama saya.” sahut Raina dengan tersenyum.
“Mas, makasih udah jagain neng ya.” ucap Bu Ina pada Deva.
“Ah iya bu jangan sungkan.” balas Deva merasa tidak enak.
__ADS_1
Raina berpamitan pada ibu kost dan Deva untuk masuk kedalam kamarnya, “Alhamdulillah Neng Raina udah lebih baik dan kembali tersenyum sekarang.” gumam Bu Ina yang terdengar oleh Deva.
‘Banyak orang yang sayang sama kamu Ra, kamu bagaikan mentari untuk semua orang. Jangan sedih-sedih ya, mama kamu pasti bangga punya anak seperti kamu’ batin Deva sambil menatap punggung Raina yang semakin jauh.
“Bu makasih ya waktu itu sudah mempercayakan saya untuk membawa Raina kerumah sakit.” Deva mengatakannya dengan sangat tulus.
“Iya mas, justru saya yang makasih karena udah rawat Neng Raina dengan baik.” sahut Bu Ina.
Deva langsung berpamitan pada Bu Ina dan meninggalkan kost, Bu Ina melihat Deva dengan kagum padahal awalnya ia was-was jika Deva bukan orang yang baik dan mendekati Raina hanya untuk main-main semata namun dugaannya sama sekali tidak benar.
***
Satu Minggu Kemudian.
Raina sudah kembali melakukan aktivitas seperti biasanya termasuk kembali kesekolah, bahkan dia sudah kembali bangkit dan menjadi Raina yang dikenal oleh banyak orang. Mungkin kepribadian pendiam dan mahal senyum tidak cocok untuk gadis sepertinya.
Dihari Sabtu, Raina membersihkan kamar kostnya dia merapikan semua yang ada didalam kamar dan bahkan menata ulang agar memberikan suasana baru untuknya. Selesai merapikan semuanya dia mengambil tas dan didalam tas tersebut ada amplop putih berukuran besar.
“Ini apaan ya?” gumam Raina sambil membolak-balikkan amplop tersebut.
Tiba-tiba Raina teringat pesan bundanya sebelum dia kembali ke Jakarta, bahwa amplop itu berisi surat dari Mama Lita dan dia harus membukanya saat berada diapartemen.
“Assalamu’alaikum bun? Raina mau tanya, bunda inget nggak waktu itu aku taruh kartu apartemennya mama dimana?” tanya Raina pada bunda melalui via telepon.
“Wa’alaikumsalam, kamu taruh ditas kamu kan waktu itu. Tas selempang yang warna coklat.” sahut Bunda.
“Oh iya iya, makasih bunda.” Raina langsung sumringah setelah mendapatkan jawaban dari bunda.
“Emang kamu belum kesana?” bunda bertanya seperti itu karena pikirnya Raina akan langsung ke apartemen untuk mengetahui semuanya.
Raina langsung menceritakan bahwa kemarin dia sempat drop bahkan harus dirawat dirumah sakit kurang lebih satu minggu, karena saat Raina sakit dia sama sekali tidak memberi tahu bunda ataupun Nadia padahal mereka tidak pernah absen meneleponnya setiap malam.
“Astaga Raina, kenapa baru cerita sekarang? Harusnya waktu itu kamu cerita sama bunda atau Nadia biar kita bisa kesana buat nemenin kamu sayang, terus kamu yang jagain siapa waktu dirumah sakit?” tanya Bunda dengan antusias dan khawatir.
“Hehe nggak papa kok bun, waktu itu yang nganterin aku ke rumah sakit sama Kak Deva, kakak kelas aku. Terus dirumah sakit ditemenin sama Senja, Kak Verrel, dan Kak Deva.” jawab Raina dengan hati-hati karena takut bundanya akan marah jika Raina ditemani laki-laki yang bukan mahramnya, untung saja waktu itu Senja dan Verrel menjenguknya setiap hari meskipun yang menjaganya selalu Deva.
Entah mengapa Raina terkadang lupa bahwa Deva bukan mahramnya dan seharusnya mereka tidak berduaan, meskipun mereka selalu menjaga jarak tetap dosa. Mungkin perasaan nyaman yang selalu Deva berikan untuk Raina membuatnya lupa.
“Deva?!” balas bunda sedikit terkejut, membuat Raina memejamkan matanya sejenak.
__ADS_1
“Namanya Deva siapa sayang?” imbuh bunda sedikit merendah.
“Devano Julian kalau nggak salah bun, kenapa?” Raina malah bingung mengapa bundanya malah menanyakan nama lengkap Deva.
“Enggak-enggak secepatnya ya kamu ke apartemen mama kamu biar semuanya jelas dan tidak membuat kamu bertanya-tanya lagi, jika setelah dari apartemen ada hal yang masih mengganjal dihati kamu tanyakan sama bunda okay? Yasudah bunda tutup ya sayang Wassalamu’alaikum.” ucap bunda panjang lebar.
“Iya bunda, Wa’alaikumsalam.” Raina menutup teleponnya sambil sejenak berpikir.
“Bunda nggak marah?” gumam Raina yang masih heran, namun kemudian dia menggelengkan kepalanya dan mencari kartu agar bisa segera ke apartemen.
***
Di Surabaya.
“Bunda kenapa? Habis telepon sama siapa?” tanya Nadia dengan heran melihat wajah bunda yang sumringah.
Bunda tidak menjawab malah tersenyum sambil menatap putrinya semakin membuat Nadia bingung, “Oh ya Raina tadi cerita sama bunda kalau kemarin dia drop lagi dan dirawat dirumah sakit selama lima hari.” ucap Bunda.
“Loh bunda, Raina sakit kok bunda malah senyum tadi?” sahut Nadia sambil mengerutkan dahinya.
“Skenario Allah sangat luar biasa ya sayang, Masyaallah.” Bunda kembali tersenyum sambil menatap lurus kedepan.
“Bunda, maksudnya gimana jangan bikin aku penasaran?” balas Nadia dengan frustasi.
“Jadi gini......” Bunda mulai menceritakan.
“Bunda yakin?” tanya Nadia setelah mendengarkan apa yang diceritakan oleh bunda.
“Bunda yakin sekali, semoga Raina segera mengetahui semuanya.” balas bunda dengan mantap dan yakin.
.
.
JANGAN LUPA LIKE YAA🖤🤗
Maaf up nya cuma dikit🙏
__ADS_1