
Raina kembali ke kostnya dengan perasaan sedikit lega, sekarang ada Senja dan Verrel yang dengan terbuka siap membantunya kapan saja. Alih-alih ingin mengatakan sejujurnya pada Bimo, ayah kandungnya. Raina memikirkan kembali ucapan yang pernah terlontar dari mulut Senja yang tidak akan segan melakukan apa saja jika ia berani melangkah maju untuk mengungkap jati diri.
Di rundung rasa bimbang, ingin juga rasanya Raina mengatakan pada bunda dan keluarga di Surabaya bahwa ia sudah mengetahui siapa dia sebenarnya. Menghela napas berat, Raina memilih untuk mengistirahatkan pikiran sejenak. Semua tampak melelahkan, ia harus bisa melewati ini, dan berusaha semaksimal mungkin. Tidak ada salahnya untuk mencoba saran yang diberikan oleh Verrel tadi saat di cafe.
Keesokan harinya, Raina pergi ke sekolah naik angkot seperti biasa. Sampainya di sekolah, ia melihat Bianca turun dari mobil yang ternyata di antar oleh Devano. Melihat hal itu membuatnya tersenyum getir, bukan karena ingin merasakan diantar menggunakan mobil, hanya saja ingin sekali merasakan kasih sayang dari kakak kandungnya yang terpisah selama bertahun-tahun.
“Sekolah yang rajin ya? Nanti pulang biar Kakak yang jemput,” tutur Devano pada Bianca sambil mengusap pucuk kepalanya.
“Iya, Kak. Nanti Bianca telepon ya pulang jam berapanya, Kak Deva juga kuliah yang rajin biar cepet lulus...” balas Bianca seraya tersenyum manis.
Hati Raina merasakan sesak yang begitu luar biasa, daripada menyaksikan mereka berdua lebih baik ia masuk ke dalam sekolah. Namun, siapa sangka jika ternyata Devano menyadari keberadaannya. “Raina!”
Kaki Raina langsung berhenti ketika mendengar suara Devano memanggil namanya, “Iya, Kak?”
Devano meninggalkan Bianca lalu menghampiri Raina yang belum bergerak dari sana, “Hai? Apa kabar, lama udah nggak ketemu ya?”
‘Masyaa Allah, Kak Devano? Bagaimana respon Kakak ketika tahu kalau sebenarnya akulah adik kandungmu?’ batin Raina merasa sedih.
“Ra, kamu nggak papa?” suara Devano memecahkan lamunannya.
“Ah iya, Kak? Ehm, Alhamdulillah aku baik. Yaudah, aku masuk ke kelas dulu ya? Ada piket, permisi Kak...”
Raina melenggang pergi meninggalkan Devano yang masih memandanginya dari kejauhan, merasa ada yang berbeda dari Raina. Terlihat sekali jika gadis itu tampak menghindarinya, sontak pikiran Devano langsung macam-macam. Apakah ia ada salah? Atau mengapa Raina menghindar darinya?
“Kak, kenapa?” kini Devano terlonjak kaget ketika Bianca menghampirinya.
“Ah nggak papa, yaudah Kakak pulang dulu ya? Assalamu’alaikum,” Devano meninggalkan adiknya tanpa menunggu jawaban salam darinya.
“Wa’alaikumussalam...”
‘Sebenernya apa sih yang Kak Deva pikirin tentang cewek beasiswa itu? Apa Kak Deva sebenernya suka sama dia? Pokoknya apapun itu gue nggak akan pernah biarin Kak Deva deket sama dia!’ gerutu Bianca dalam hati.
---
Sepulang sekolah, Raina berdiri di depan sekolah sendirian untuk menunggu taksi online yang tadi sudah ia pesan. Namun ternyata tiba-tiba dari ponselnya terdapat notifikasi yang menyatakan bahwa driver telah membatalkan. Raina langsung menghela napas berat, sudah cukup lama ia menunggu dan berdiri sendirian di sana, tapi siapa sangka tiba-tiba taksi online tidak dapat datang.
__ADS_1
Baru saja berjalan satu langkah, ada mobil yang sangat familiar bagi Raina. “Raina mau pulang? Bareng sama kita aja, gimana?” tawar Devano saat keluar dari mobilnya.
‘Nggak mungkin aku ikut sama Kak Deva dan Bianca’ ucap Raina dalam hati setelah melihat di dalam mobil juga ada Bianca.
“Ehm... nggak usah, Kak, makasih.” Tolak Raina sambil tersenyum masam.
“Ayo, Kak. Nggak papa, bareng kita aja...” imbuh Bianca dari dalam mobil melalui kaca yang terbuka.
Lagi-lagi Raina hanya tersenyum, “Enggak, makasih. Lagian aku mau pergi ke sesuatu tempat, yaudah kalau gitu aku duluan ya? Assalamu’alaikum Bi, Kak?”
‘Ra, kamu kenapa sih? Nggak kaya dulu, apa aku beneran punya salah sama kamu?’ batin Devano lagi-lagi dibuat sedih perihal Raina yang dingin padanya padahal mereka sudah lumayan lama tidak bertemu.
“Kak, ayo pulang!” ajak Bianca pada kakaknya.
Jika hanya pulang ke kost, Raina juga tidak akan naik taksi. Ia memesan taksi karena ingin datang ke kantor Om Bimo secara diam-diam, seperti yang Verrel katakan kemarin bahwa lebih baik ia menemui Om Bimo diam-diam dan berbicara empat mata. Mungkin, sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk mengatakannya.
Raina berjalan di trotoar sendirian menuju kostnya, ada sedikit rasa menyesal menolak ajakan kakak kandungnya, tapi ia juga merasa waktunya tidak tepat jika harus dekat dengan kakaknya. Apa jadinya jika ia disatukan dengan Bianca bersama dengan Deva? Entahlah, Raina tidak bisa membayangkan hal itu.
“Kak Deva, maafin aku ya? Untuk sekarang aku memang harus menjaga jarak dengan Kakak, tapi aku yakin suatu saat nanti Allah akan membukakan semua kebenaran dan kita bisa bersama-sama terus...” ucap Raina untuk menghibur dirinya sendiri.
...***...
Devano dan keluarganya tengah menikmati makan malam bersama, tidak ada obrolan apapun yang menghiasi, hanya saja beberapa kali terdengar suara dentingan alat makan yang tidak terlalu keras. Bimo melihat putranya tampak tidak menikmati makanan yang ada di hadapannya, sedari tadi Devano hanya memainkan sendok dan garpu. Entahlah mengapa, nampaknya pikirannya tertuju pada adik kelas yang tadi pagi dan siang ia temui di sekolahan Bianca.
Ya, Raina-lah orangnya. Gadis itu tidak sehangat dulu, wajahnya sama sekali tidak memancarkan keceriaan seperti biasanya. Yang Devano rasakan ketika berada di dekatnya adalah rasa nyaman. Melihat senyuman dari gadis itu merupakan kebahagiaan tersendiri.
Baru kali ini Deva merasa seperti ini menghadapi seorang wanita. Sepertinya naluri sebagai seorang kakak terhadap adiknya mulai dirasakan oleh Devano, hanya saja ia belum menyadari, dan mungkin tidak menyadarinya.
Berbeda dengan sudut pandang Bimo, ia melihat putranya tampak sedang galau akan asmara. “Vano, makannya dihabiskan dong. Jangan dimainin kaya gitu!” tuturnya memperingatkan sang putra.
“Ah, iya, Pa. Maaf...” lamunan Devano pecah, kemudian ia melanjutkan makannya.
‘Kak Deva kenapa sih? Apa jangan-jangan mikirin cewek beasiswa itu?’ batin Bianca melihat kakaknya.
“Mikirin apa sih kamu? Kuliah? Perusahaan? Kayanya nggak mungkin kalau soal itu,” tanya Bimo pada putrannya.
“Nggak papa kok, Pa. Oh iya, pertemuan sama orang tuanya Nathan jadi?” Devano mengalihkan topik pembicaraan.
“Jadi dong, mau bahas projek baru sama sekalian perjodohan Bianca sama Nathan-”
__ADS_1
“Uhukk... uhukk... Apa? Perjodohan? Yang bener aja, Bianca baru kelas XI loh.” Bianca tersedak makanannya karena ucapan sang papa yang tiba-tiba membahas perjodohan.
Bagaimana mungkin, yang Bianca cintai hanyalah Devano yang kini menjadi kakaknya. Kini Bianca merasa sedikit menyesal, karena jika ia berperan sebagai adik kandung Devano otomatis mereka tidak akan mungkin bisa bersama. Namun, disisi lain ia juga tidak bisa membiarkan Raina masuk ke Keluarga Anggara.
“Kok tiba-tiba perjodohan sih, Pa? Bener omongan Bianca kalau dia aja masih kelas XI, Nathan juga udah punya Sonya. Pacaran mereka udah lama loh...” Devano nampak tidak setuju dengan ucapan papanya.
“Ya nggak papa, lulus SMA langsung nikah juga Papa nggak masalah. Lagi pula pacaran belum tentu berjodohkan? Bianca kan usianya juga udah 17 tahun,” mereka semua terdiam ketika Bimo berkata seperti itu.
---
Beberapa hari kemudian, akhirnya hari ini Raina menginjakkan kaki di perusahaan papanya, Bimo. Apapun yang terjadi nanti ia sudah siap, percaya atau tidaknya Bimo dengan pernyataan yang akan ia sampaikan, yang terpenting Raina sudah berusaha.
“Bismillah...” ucap Raina sebelum masuk ke dalam.
“Permisi, Kak? Ehm... bisa saya bertemu dengan Pak Bimo Anggara?” tanyanya pada wanita cantik yang menjaga resepsionis.
“Maaf, apa sudah ada ada janji sebelumnya?” Raina menggeleng pelan, “Kalau begitu maaf Mbak. Silakan buat janji terlebih dahulu dengan beliau, karena beliau tidak bisa menemui orang sembarangan apalagi yang belum membuat janji dengan beliau.”
Sesuai dengan dugaan Raina, menemui papa kandungnya di kantor tidaklah semudah yang dibayangkan. Beliau bukan orang sembarangan, tidak mungkin karyawan disana mengizinkan dirinya untuk masuk dan bertemu dengan Pak Bimo.
“Sayang, kalau kamu ingin bertemu dengan Papa bilang saja kamu anak Mama. Sebut nama Mama dan ARA, Ara itu nama panggilan kamu dari inisial nama lengkap.”
Tiba-tiba ucapan yang pernah mamanya lontarkan dulu, ia mampu mengingatnya. Baru saja membalikkan badan, Raina kembali ke resepsionis untuk mencoba apa yang mama pernah katakan padanya.
“Mbak, maaf? Boleh coba tolong tanyakan apakah Pak Bimo ada waktu, tolong katakan Ara putri dari Nurlita Arella ingin bertemu, sebentar saja...”
Gadis itu tampak bersusaha kembali dan bernegosiasi pada wanita cantik yang tengah menjaga resepsionis. “T-tapi kalau misal Pak Bimo sedang sibuk mungkin saya bisa datang lain waktu kok, Mbak?” tiba-tiba ada keraguan lagi didalam hatinya.
Wanita itu tersenyum pada Raina, “Baik, sebentar ya? Saya tanyakan pada sekretaris Pak Bimo dulu apakah beliau sedang sibuk atau tidak. Maaf, tadi putri dari Nurlita Arella ya?”
Seulas senyum terpancar di wajah Raina ketika diusahakan untuk bertemu dengan papanya, “Iya Mbak, Nurlita Arella.”
__ADS_1
“Baik, silakan tunggu disebelah sana...” Raina langsung menuju sofa untuk menunggu yang sudah disediakan.