
Bismillah, Assalamu'alaikum selamat membaca 🌹
.
.
.
“Assalamu’alaikum Bu, maaf saya kembali lagi kesini.” Raina mencium punggung tangan wanita paruh baya yang ada dihadapannya.
Wanita itu tersenyum namun senyuman itu tidak pertahan lama setelah dia menatap wajah Raina yang sangat tampak memperlihatkan bahwa wajahnya penuh dengan kegalauannya. “Wa’alaikumussalam, kamu kenapa nak?”
“Saya tidak apa-apa bu, hanya saja...” Raina tidak menuntaskan ucapannya.
“Apa kamu belum mengatakan pada Pak Bimo dan Nak Deva?” Raina hanya menggeleng pelan sambil menundukkan pandangannya.
“Kenapa apakah ada masalah nak?” Bu Mirna bertanya padanya.
Raina malah menangis, dia terisak menutupi wajah menggunakan kedua tangannya. Tanpa ragu dan meminta izin, Bu Mirna langsung memeluknya. “Ada apa nak? Ada masalah apa ceritalah, ibu sudah menganggapmu sebagai putri ibu sendiri.”
Raina menangis cukup lama, rasanya tidak ada tempat untuk bercerita tentang masalahnya kecuali hanya pada Allah lah yang selama ini menjadi tempat mencurahkan seluruh isi hatinya. Ingin bercerita pada bunda atau Nadia pun hanya bisa melalui via telepon, bahkan Raina pun juga tidak mau membebani mereka berdua.
“Sa-saya nggak kuat bu, menanggung ini semua sendirian...hiks...” Raina terisak.
Bu Mirna ikut merasakan sesak, melihat Raina menangis sesenggukan. “Nggak, kamu nggak sendirian sayang. Bukankah Allah selalu ada bersamamu? Jangan putus asa, Allah pasti punya rencana yang jauh lebih indah dibalik air mata yang selama ini kamu sembunyikan.” Ucapnya sambil mengelus pucuk kepala Raina.
***
__ADS_1
“Jadi ceritanya seperti itu bu, saya sebenarnya ingin Kak Deva tahu bahwa saya adik kandungnya namun setelah adanya tes DNA itu saya rasa sudah tidak memiliki peluang lagi.” Raina telah menjelaskan semuanya pada Ibu Mirna.
“Astaghfirullah, ibu nggak nyangka kalau Bianca akan selicik itu untuk mendapatkan kemewahan dari papa kamu nak.” ucap Bu Mirna dengan iba.
Tapi, Raina tidak menceritakan tentang Bianca juga mengancamnya untuk mencelakai keluarganya yang ada di Surabaya jika dia berusaha untuk masuk ke Keluarga Anggara.
“Kamu masih menyimpan foto keluarga kamu kan nak? Cobalah, bicara empat mata dengan Pak Bimo karena ibu yakin sebenarnya beliau juga ragu bahwa Bianca adalah putri kandungnya.”
“Bagaimana Om Bimo masih ragu padahal beliau sudah melakukan tes dan hasilnya positif?”
Bu Mirna tersenyum, “Ya, justru itulah yang sudah jelas menampakkan keraguan beliau. Bagaimana mungkin jika beliau sudah yakin dan percaya dengan sebuah foto yang jelas-jelas itu foto keluarganya dulu, tapi masih melakukan tes DNA? Padahal jelas foto itu tidak akan sembarang orang yang punya kan?”
‘Ya Allah, apa ini petunjuk yang engkau beri untukku? Engkau membukakan perlahan jalan untuk aku mengakui jati diriku yang sebenarnya?’ batin Raina sambil berpikir.
Tak terbesit sedikitpun dipikiran Raina akan hal itu, dia sangat beruntung karena sudah mendatangi orang yang tepat. Kini dia menemukan kembali semangatnya, lagi pula dia juga ingin memenuhi wasiat dari almarhumah mamanya dan memperjuangkan haknya sendiri.
“Apa kamu paham maksud ibu? Datanglah pada beliau namun jangan sampai Bianca tahu, ceritakan apa yang pernah mamamu ceritakan pasti beliau akan paham. Atau ibu perlu membantu?”
Hari semakin malam, Raina akhirnya berpamitan dan memutuskan untuk pulang. Sampainya di kos sudah menunjukkan pukul 20.15, saat membuka kamar Raina terkejut ternyata ada Senja yang sudah lama menunggunya.
“Kamu dari mana sih Ra? Tumben pergi, mana nggak ngajak aku lagi.” Senja mengerucutkan bibirnya.
Raina bingung hendak menjawab apa, “Ehm aku dari puncak Nja, maaf ya nggak ngajak kamu. Tadi aja aku dadakan, kamu udah lama?” tanyanya mengalihkan perhatian.
Senja mengangguk, “Iya udah dari habis Maghrib sampai sini. Terus karena kelamaan nunggu Bu Ina nyuruh aku masuk kekamar kamu, maaf ya aku nunggu didalam.”
“Udah nggak papa santai aja, kesini mau ngerjain tugas kan? Aku sholat isya’ dulu ya?”
__ADS_1
“Iya, bareng ya? Aku juga belum sholat hehe”
Akhirnya mereka berdua sholat lalu mengerjakan tugas yang akan dikumpulkan besok.
----
Saat disekolah Raina menjadi pendiam, Senja pun sebagai sahabatnya ikut bingung dengan perubahan sikapnya. Senja selalu bertanya pada Raina, sedang ada masalah atau beban pikirankah? Namun jawaban dari Raina selalu sama, hanya tersenyum dan sambil berkata ‘Tidak aku baik-baik saja’.
“Rainaaaaaaaaaa......” Senja sudah merasa gemas dengan sifat tertutup yang dimiliki Raina.
“Apa sih Nja teriak-teriak?” jawab Raina dengan malas.
“Aku tahu kamu punya masalah, aku sebenarnya juga tahu kalau kamu punya privasi. Tapi kalau kamu berubah jadi diem gini aku kan jadi kepo, masalah apa sih Ra yang menimpa kamu sampai kamu kayak gini?!” jelas Senja dengan panjang lebar.
‘Ya Allah, ternyata beban pikiranku berimbas pada orang lain. Bahkan sahabatku sendiri ikut merasakan kegalauanku?’ Raina hanya mampu berbicara didalam hatinya.
“Tuh kan, batin aja terus batin. Lama-lama aku buka indra keenam deh biar kita bisa ngobrol pakai telepati.” Raina malah menertawakan ucapan Senja.
“Kamu kepo sama masalah aku?” tanya Raina.
“E-enggak kok, aku nggak bakal maksa kamu mau cerita apa enggak!” sahutnya.
“Jadi tuh gini....” Senja sudah konsentrasi untuk mendengarkannya.
Raina menahan tawa melihat ekspresi Senja, “Udah ayo balik kelas udah mau bel.” Raina langsung beranjak dari duduknya dan meninggalkan Senja.
“Astaghfirullah.... Rainaaaaa!!!!” teriak Senja, Raina menoleh kebelakang lalu tertawa kecil.
__ADS_1
Raina merasa belum saatnya dia menceritakan hal ini pada Senja. Bukannya tidak percaya hanya saja dia takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Bahkan bunda dan Nadia yang berada di Surabaya pun belum tahu jika sebenarnya Raina sudah menemukan jati diri yang sesungguhnya. Yah, seorang putri dari Keluarga Anggara. Keluarga yang sangat terpandang.