Inseparable

Inseparable
Perjodohan?


__ADS_3

Assalamu'alaikum, JANGAN LUPA LIKE YAAđŸ–€đŸ€—


Selamat membacađŸŒ»


.


.


Raina bangun disepertiga malam, dia langsung mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat tahajud kemudian mengaji sambil menunggu adzan subuh berkumandang. Masih terasa seperti mimpi bahwa dia sudah tahu tentang keluarganya meskipun belum mengetahui nama mereka setidaknya Raina tahu wajah papa dan kakak kandungnya.


Hari ini adalah hari Senin, Raina sudah rapi dan siap untuk berangkat kesekolah. Sampainya disekolah dia langsung menghampiri Senja yang lebih dulu sampai dikelas. Mereka berdua ngobrol hingga bel masuk berbunyi, “Kemarin weekend ngapain Ra?” tanya Senja.


“Bersih-bersih kostan Nja, kalau kamu sendiri?” sahut Raina.


“Jalan-jalan sama Kak Verrel.” jawab Senja dengan sumringah.


‘Jadi keinget kan aku harus pergi kepuncak buat cari tahu tentang papa sama kakak’ batin Raina.


Raina tidak langsung memutuskan untuk pergi ke puncak, dia harus memikirkan matang-matang dan merasa benar-benar siap untuk mengetahui semuanya. Entah kapan, Raina sendiri tidak tahu.


“Hei! Malah ngelamun, kenapa?” seru Senja.


“Enggak,” balas Raina sambil tertawa kecil.


Biasanya pada saat jam istirahat Raina dan Senja pergi kekantin setelah sholat dhuha tapi karena Raina puasa, mereka berdua memutuskan untuk pergi ke perpustakaan untuk membaca buku ataupun novel.


“Masih kontakan sama Kak Deva nggak Ra?” tanya Senja pada Raina yang tengah fokus membaca novel bergenre fantasi.


“Kenapa?” sahut Raina.


“Masih kontakan sama Kak Dev nggak setelah kamu keluar dari rumah sakit?” Senja kembali mengulang pertanyaannya, Raina hanya menggeleng membuat Senja geram.


“Rainaaaaaaa!” seru Senja membuat Raina terlonjak kaget.


“Ssssttttttt....” mereka berdua mendapatkan peringatan oleh pengunjung perpustakaan karena membuat keributan.


“Maaf, maaf...” ucap Raina sambil menundukkan kepalanya, Senja juga menundukkan kepalanya sambil tersenyum kikuk.


Raina langsung mengajak Senja keluar dari perpustakaan karena malu, “Ngapain teriak-teriak sih Nja?!!” tanya Raina dengan frustasi.


“Habisnya kamu ditanya cuma geleng-geleng doang!” sahut Senja.


“Aduhhh,,” pekik Senja karena Raina menoyor kepalanya.


“Lagian kamu ada-ada aja deh, ngajakin keperpus malah ngajak ngobrol. Harusnya tadi kalau mau ngobrol pergi ke taman atau balik kekelas aja! Lagi enak-enak baca novel kamunya ngajak ngomong” Raina tak kalah sewot dengan Senja.


“Oh iya yaaa,” Senja menertawakan kebodohannya sendiri.


***


Sepulang sekolah Senja mengantarkan Raina ke kostnya sekalian mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan besok. “Assalamu’alaikum Rainaaaaaaaa,” ucap Senja setengah teriak saat masuk kekamar kost Raina.


“Wa’alaikumsalam, jangan teriak-teriak nggak enak sama yang lainnya.” balas Raina sambil menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya yang konyol.


Mereka berdua langsung mengerjakan tugas, sambil memakan cemilan yang sudah mereka beli sebelumnya disupermarket. Senja senang melihat Raina sudah kembali seperti dulu yang dia kenal saat awal masuk SMA.


“Ra, kamu ngontrak 3 tahun sekalian ya?” tanya Senja ditengah-tengah mengerjakan tugas.


“Iya Nja, kenapa?” sahut Raina.


“Nggak bosen? Nggak pengen pindah?” Senja terus mencecar pertanyaan.

__ADS_1


“Enggak Nja, lagian mau pindah kemana juga. Disini udah nyaman sama Bu Ina, deket juga dari sekolah.” Senja hanya mangut-mangut menanggapi Raina.


“Tinggal dirumah aku aja yuk Ra?” usul Senja yang menurut Raina tidak masuk akal.


“Eh Ra kamu belum pernah main ke rumah ku lohhh, katanyaaa....” Senja terus nerocos, sangat cerewet melebihi Raina ternyata.


“Iya iya, besok weekend aku kerumah kamu yaaa. Udah kerjain dulu tugasnya biar cepet selesai.” balas Raina, Senja hanya tertawa kecil.


Beberapa saat kemudian, “Akhirnya selesai jugaaaaa......” teriak Senja sambil membanting tubuhnya ke kasur.


“Jangan teriak-teriak Senjaaaa,” Raina memperingatkan untuk kedua kalinya.


“Kok kamu jadi hobi teriak-teriak sih Nja!” imbuh Raina.


“Cerewet lagi.” Tambahnya.


“Iya apa? Gara-gara dirumah berantem mulu sama Kak Verrel kali ya? Iya kayaknya, gara-gara itu deh, suka ngajak ribut sih Kak Verrel nya.” sahut Senja.


‘Enak ya punya kakak? Dulu aku sama Mas Alif juga berantem sih tapi kadang, terus setelah Mas Alif tahu kalau aku bukan anak kandung bunda dia jadi pendiem sama aku. Oh ya, kakak aku kayak apa ya? Apa kalau nanti kita ketemu, kita akan saling menyayangi dan akur?’ ucap Raina dalam hati.


“Hei malah diem!” seru Senja.


“Apa sih Senja yang cerewet nya minta ampun.” sahut Raina dengan geram.


Mereka terus mengobrol hingga langit berganti malam, Senja pulang dari kost Raina setelah sholat maghrib. Entah apa saja yang mereka bicarakan hingga selama itu.


***


Hari demi hari terus berganti, pagi ini langit terlihat sangat cerah langit berwarna biru dihiasi ornamen cakrawala yang sangat pekat, burung berkicauan, dan berterbangan dilangit.


Raina keluar dari kamar kostnya dan ternyata didepan kost, ojol yang dipesan sudah menunggunya. Tak butuh waktu lama, ojol tersebut berjalan sesuai rute jalan yang Raina minta sesuai aplikasi.


Raina memasuki kawasan perumahan elit, tidak heran baginya jika keluarganya Senja tinggal diperumahan elit. Yah, sesuai janji Raina pada saat weekend dia pergi ke rumah Senja. “Benar ini rumahnya mbak?” tanya pengemudi ojol.


“Terima kasih banyak mbak, jangan lupa bintang lima ya.” balas pengemudi ojol , Raina mengangguk sambil tersenyum.


“Assalamu’alaikum,” ucap Raina setengah teriak didepan gerbang.


“Wa’alaikumsalam, mau cari siapa mbak?” tanya satpam yang menghampirinya.


“Nyari Senja pak, saya temen sekolahnya.” sahut Raina sambil tersenyum.


“Sebentar saya panggilin dulu ya Non Senja nya.” Satpam tersebut meninggalkan Raina yang masih berdiri didepan gerbang.


***


“Non, kata Mang Ujang ada yang nyariin Non Senja didepan, katanya temennya Non Senja.” ucap Mbok Inah yang bekerja sebagai asisten rumah tangga dirumah Senja.


“Sekarang dimana?” tanya Senja yang sedang menikmati teh hangat digazebo belakang rumahnya.


“Masih nunggu didepan non,” balas Mbok Inah.


“Lah kok nggak disuruh masuk sih?” Senja langsung berlari kedepan menghampiri Raina yang masih menunggunya didepan.


“Pak kok temen saya nggak disuruh masuk sih?!” ucap Senja setengah marah pada Mang Ujang yang tidak mempersilahkan Raina masuk.


“Maaf non, soalnya nggak pernah ada orang kesini apalagi temennya Non Senja.” sahut Mang Ujang.


“Udah nggak papa kok,” Raina menegur Senja yang hampir memarahi Mang Ujang hanya karena tidak langsung mempersilahkan Raina masuk.


“Yaudah masuk yuk Ra,” ajak Senja.

__ADS_1


“Maafin saya yang pak, gara-gara saya hampir kena marah sama Senja.” ucap Raina sambil tersenyum pada Mang Ujang.


“Nggak papa mbak, saya juga minta maaf.” balas Mang Ujang.


Tidak heran jika Mang Ujang harus bertanya pada Senja terlebih dahulu, karena ini pertama kalinya ada teman Senja yang datang kerumah. Raina adalah teman pertama yang main kerumahnya lagi setelah sekian lama, lebih tepatnya setelah Verrel meninggalkan rumah. Karena sejak itu Senja menjadi orang yang introvert dan lebih suka sendiri hingga enggan berteman karena dia sadar teman yang mendekatinya hanya memanfaatkan dia saat itu.


“Assalamu’alaikum.” ucap Raina memasuki rumah Senja.


“Wa’alaikumsalam, duduk dulu Ra. Mau minum apa?” balas Senja sambil duduk disofa yang ada diruang tamu.


“Air putih aja,” ujar Raina yang ikut duduk disamping Senja.


Senja kemudian mengajak Raina kekamarnya, tak lama kemudian Mbok Inah membawakan nampan yang berisi dua gelas air putih dan cemilan. Mereka berdua ngobrol cukup lama, entah apa saja yang mereka bicarakan.


“Dirumah sendiri Nja?” tanya Raina sambil membaca novel milik Senja.


“Enggak, papa mama ada kok tadi katanya mau beli cake tapi belum balik sampai sekarang, kalau Kak Verrel biasalah udah dicafe.” sahut Senja.


Raina hanya mangut-mangut kemudian melanjutkan membaca novel yang tadi dipegang sedangkan Senja sibuk dengan ponselnya. Tiba-tiba ada yang membuka pintu dengan keras membuat keduanya terlonjak kaget.


‘Brakk’ ternyata Verrel lah yang membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


“Astaghfirullah” ucap mereka secara spontan lalu mengelus dada mereka.


“Eh ada Raina” ujar Verrel tanpa rasa bersalah.


“KAK VERREL!!! KALAU MASUK KETUK DULU PINTUNYA!!!” teriak Senja pada kakaknya.


Raina menutup telinganya daripada mendengarkan Senja berteriak, ternyata benar penyebab dia menjadi cerewet dan suka teriak-teriak adalah kakaknya yang tidak lain Verrel. 


“Nggak usah teriak-teriak dek.” Verrel memperingatkan adiknya padahal dialah yang menyebabkan Senja berteriak.


“Iya maaf,” Senja mengalah karena menurutnya tidak sopan juga seorang wanita bicara dengan nada tinggi, Raina mengeleng melihat kakak beradik yang sedang berdebat kecil.


“Itu dicariin mama dibawah” ujar Verrel menyampaikan apa yang diucapkan mamanya tadi.


“Ayo Ra ikut aku turun!” ajak Senja lalu Raina mengekor dibelakangnya.


“Yah gue ditinggal”gumam Verrel melihat kedua gadis itu meninggalkan kamar.


***


Senja menuruni tangga diikuti oleh Raina, mereka berjalan kearah dapur karena ternyata mamanya sedang menata cake yang beraneka ragam dipiring.


“Ada apa ma?” tanya Senja yang baru saja menghampiri mamanya yang bernama Vita.


“Bantuin mama nata snack sayang, oh ada temen kamu ya?” sahut Tante Vita yang melihat Raina.


“Assalamu’alaikum tante, saya Raina.” Raina langsung mencium punggung tangan Tante Vita dengan sangat sopan.


“Wa’alaikumsalam Raina, Senja kamu punya temen kok baru diajak kesini sih?” sahut Tante Vita.


“Mama jangan gitu dong ngomongnya, kesannya aku nggak pernah punya temen tauk!” Senja manyun pura-pura marah dengan mamanya.


Mamanya malah menertawakan anak gadisnya, karena memang Senja tidak pernah membawa temannya kerumah.


“Oh ya ma, mama tahu nggak kalau Kak Verrel mau balik kerumah lagi tuh berkat Raina loh.” Senja menceritakan kembali kebaikan Raina untuk keluarganya.


“Oh ya? Makasih ya Raina, kamu cantik, baik lagi. Mau nggak Tante jodohin sama Verrel?” ucap Tante Vita dengan entengnya.


“Hah?” Raina hanya tersenyum kikuk menanggapinya.

__ADS_1


 


__ADS_2