
Assalamu'alaikum, JANGAN LUPA LIKE🖤🖤🖤
Happy Reading🌻
.
.
Hari demi hari terus berganti dan berlalu begitu saja, sudah satu minggu Raina masih sama dengan awal pertama dia mendengar Mama Lita telah meninggal. Dia menjadi pendiam, makan sama sekali tidak teratur, sosok yang dulu ceria, cerewet, dan pembawa bahagia untuk orang lain sudah hilang.
Nadia dan Alif menjaganya secara bergantian karena mereka harus kuliah dan bunda selalu berada disamping Raina, sedangkan panti asuhan sudah diurus oleh 3 pengasuh lainnya. Mereka semua bingung bagaimana membuatnya kembali seperti dahulu namun juga merasa senang, Raina tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Ponselnya terus berbunyi setiap hari sejak Raina meninggalkan Jakarta tanpa mengetahui Senja, bahkan didalam pikirannya Senja lah yang menelepon dan menanyakan kabarnya. Namun setelah mendapat kabar duka, dia enggan membuka ponsel, dan berkomunikasi dengan siapapun.
Raina duduk digazebo didekat kolam renang, dia sendirian menatap kedepan dengan tatapan kosong, mungkin dia sedang berkomunikasi dengan dirinya sendiri melalui dalam hati. Bunda yang melihat putrinya dari jauh merasa semakin iba, para pegawai yang bekerja dirumah Mama Lita pun ikut sedih melihat Nona yang selalu ceria menjadi pendiam.
“Mama...” gumam Raina yang entah setelah memikirkan apa. Tentu saja setelah menyebut kata itu air matanya langsung lolos begitu saja dari pelupuk mata.
“Ya Allah, berikanlah keikhlasan hati untuk menerima kepergian mama..” dia selalu berdo’a seperti itu namun jauh didalam hatinya sama sekali belum bisa menerima kehilangan mamanya.
Bunda yang melihat putrinya menangis lalu mendekat, “Sayang, mama kamu bakal ikut sedih jika kamu terus sedih seperti ini.” Bunda memeluknya, bukannya Raina tenang justru semakin terisak.
“Bunda kenapa Allah mempertemukan aku dengan mama hanya sesingkat ini. Kenapa Allah mengambil mama secepat ini, kenapa?” Raina seakan menyalahkan takdir, membuat bunda melepaskan pelukannya.
“Istighfar kamu, Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita! Raina, banyak orang yang sayang sama kamu disini. Sampai kapan kamu seperti ini?!” bunda berbicara pelan namun tegas, Raina menangis tanpa suara.
***
Nadia yang baru saja datang langsung masuk kedalam rumah sambil menyapa para pegawai yang dia temui sambil tersenyum dan mengucapkan salam. Nadia mencari Raina didalam kamar namun tidak ada, saat ingin keluar langkahnya terhenti mendengar ponsel milik Raina yang berbunyi.
Nadia menghampiri nakas untuk melihat siapa yang menelepon dan lagi-lagi nama ‘Senja Nirmala Aditya’ yang tertera disana. Mungkin kemarin-kemarin Nadia merasa lancang jika mengangkat telepon dari ponsel milik adiknya tanpa seijinnya namun akhirnya dia menggeser ketombol hijau untuk mengangkatnya.
“Halo Assalamu’alaikum Ra, Ya Allah kamu dari mana aja sih? Aku udah telepon sebanyak 50 kali lebih malah, kamu disana apa kabar? Liburan tinggal semingu nih kapan balik? Besok aku jemput yaaa? Halo Ra, kok nggak dijawab?” Senja langsung mencecar berbagai pertanyaan membuat Nadia sendiri tersenyum kecut mendengarnya, memang benar Senja menelepon bahkan hampir 100 kali namun Raina mengacuhkannya, Nadia pun bingung ingin menjawab bagaimana dan mulai dari yang mana.
“Halo Ra?”
“Arella Raina?”
“Raaaa......”
“Wa’alaikumsalam Se-nja?” jawab Nadia ragu-ragu.
“Eh maaf? Ini siapa ya?” Senja yang berada disana bingung mengapa suara sahabatnya berbeda dan langsung menjauhkan ponselnya melihat apakah yang dia telepon itu bener Raina? Dan memang benar namanya Raina tapi mengapa suaranya berubah? Pikir Senja.
“Saya Nadia, kakaknya Raina.” sahut Nadia kembali, Senja hanya mangut-mangut disana.
__ADS_1
“Maaf selama ini, Raina sedang tidak bisa dihubungi atau diganggu. Ada perlu apa ya, mungkin nanti bisa saya sampaikan?” imbuh Nadia.
“Maaf kak, apa terjadi sesuatu terhadap Raina? Dia kenapa? Atau aku kesana aja sekarang? Kak boleh minta alamatnya nggak?” ucapan Senja langsung membuat Nadia kebingungan pastinya.
“Ehm....” Nadia berpikir, sambil menggaruk pelipisnya yang mendadak terasa gatal.
***
Setelah menempuh waktu beberapa jam akhirnya Senja ditemani dengan Verrel tiba bandara yang berada dikota Surabaya.
Nadia yang awalnya hanya memberi tahu keadaan Raina akhirnya didesak Senja agar memberi tahu sekalian alamat tempat tinggal Raina agar bisa menemui sahabtya itu, Nadia awalnya tidak mau tapi setelah dipikir-pikir mungkin kedatangan seorang sahabat bagi Raina akan membawa dampak baik untuknya.
Verrel langsung mencari mobil rental terdekat agar bisa leluasa pergi kemana-mana tanpa menaiki taksi, setelah mendapatkan akhirnya mereka berdua bisa langsung menuju ke alamat Raina yang diberitahukan melalui Nadia.
“Yakin dek disini rumahnya? Kata kamu Raina tinggal dipanti asuhan?” tanya Verrel untuk memastikan saat dia berhenti disebuah rumah mewah yang berwarna putih.
“Lah ini alamatnya disini kok, aku coba telepon lagi ya?” ucap Senja kemudian menelepon nomor Raina yang ponselnya masih berada ditangan Nadia.
Setelah sholat dzuhur, Raina berpindah menenangkan dirinya ditaman yang cukup asri pemandangannya dan dia tidak sendiri namun ditemani dengan Nadia.
Nadia yang menemani Raina tidak hanya diam, dia mengajak ngobrol adiknya itu meskipun dijawab dengan seadanya. Ditengah perbincangan, Nadia melihat ponsel Raina bergetar dan Senja meneleponnya. “Dek, aku angkat telepon bentar ya?” ucap Nadia.
Raina hanya mengangguk tanpa menoleh, bahkan dia sendiri tidak tahu jika Nadia mengangkat telepon menggunakan ponselnya.
“Wa’alaikumsalam, oh iya bentar aku jemput didepan.” Nadia langsung mematikan telepon dan berlari kedepan dan memang benar ada mobil pajero sport berwarna hitam mengkilat terparkir diseberang rumah milik mamanya Raina.
“Pak, tolong buka gerbangnya ya. Itu temennya Raina datang biarkan mobilnya masuk,” pinta Nadia dengan lembut dan tersenyum pada Pak Agus dipos satpam.
“Baik mbak” Pak Agus langsung membuka gerbangnya, Nadia langsung melambaikan tangannya agar mobil Senja bisa masuk.
“Senja ya?” tanya Nadia saat Senja keluar dari mobil.
“Iya kak, Kak Nadia?” Senja juga ikut bertanya.
“Iya, panggil mbak aja ya?” pinta Nadia.
‘Masyaallah udah cantik, lembut, berhijab. Nggak heran Raina juga agamis meskipun dia rada bar-bar’ batin Senja merasa kagum melihat kecantikan Nadia.
Nadia bingung melihat Verrel keluar dari pintu kemudi, Senja langsung paham dan memperkenalkan padanya.
“Oh kenalin mbak ini kakakku namanya Verrel.” Senja memperkenalkan kakaknya.
‘Masyaallah cantik’ batin Verrel tanpa berkedip melihat Nadia.
__ADS_1
“Verrel,” ucap Verrel memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.
“Nadia,” berbeda dengan Verrel, nadia menangkupkan kedua tangannya didepan dada membuat Verrel menarik tangannya membenarkan rambutnya kebelakang. Yah, Verrel si playboy ini salah tingkah ketemu Mbak Nadia loh wkwkwk.
“Pfftt” Senja menahan tawanya, mendapatkan senggolan dari kakaknya.
“Yaudah ayo masuk!” ajak Nadia berjalan didepan diikuti dengan Verrel dan Senja.
Sampai didepan pintu menuju taman langkah Nadia terhenti, “Saya mohon jangan singgung soal mamanya Raina dulu ya? Dia belum bisa ikhlas, saya takut nanti dia akan menangis lagi.” pinta Nadia mendapatkan anggukan dari Senja, sedangkan Verrel masih terus menatap Nadia.
“Mbak jangan pakai saya ngomongnya, aku kamu aja soalnya aku kan temennya Raina dan lebih muda dari Mbak. Yaudah saya kesana dulu ya?” Nadia mengangguk, Senja langsung berjalan menghampiri Raina.
“Jangan menatap lawan jenis lebih dari 5 detik, zina mata! Dan saya rasa, saya lebih tua dari kamu, tolong yang sopan!” Nadia berbicara tepat disamping Verrel, bicaranya lembut namun tegas.
“Masyaallah, marah aja cantik lo. Aduh mbak, tunggu gue ya? Bakal gue jadiin lo istri gue nanti.” gumam Verrel setelah Nadia pergi, masih sempat-sempatnya mas playboy yang satu ini ngegombal.
***
“Assalamu’alaikum Ra?” Senja menyapa Raina tepat dibelakangnya.
“Mama?” ucap Raina sambil menolah kebelakang.
Senja yang mendengarnya tertegun, Raina yang tadinya tersenyum langsung pudar senyumnya. Senja ikut merasakan apa yang dirasakan Raina melalui raut wajahnya.
“Senja?” ujar Raina setelah Senja duduk disebelahnya.
“Haii, aku kangen loh sampai harus nyusulin kamu kesini. Kamu apa kabar?” Senja meyapa dengan tingkah kocaknya.
“Baik.” hanya satu kata yang keluar dari mulut Raina.
Senja terus mengoceh namun hasilnya tetap sama, Raina hanya menjawab ucapan Senja jika itu perlu dijawab tapi jika menurutnya tidak penting dia sama sekali tidak menggubris. Senja menghela nafasnya beberapa kali, sahabat bar-bar, cerewet, cerianya hilang, pikirnya.
“Apa yang kamu rasain Ra, aku akan dengerin semua yang kamu ucapkan, jangan kayak gini. Raina yang dulu mana?” Senja sudah merasa pasrah.
“Aku kangen sama mama Nja, apa kalau aku balik kayak dulu mama akan balik kesini?” Raina berbicara dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
“Kenapa diem Nja? Mama nggak bakal balik kan?” Raina menoleh kearah Senja kemudian meneteskan air matanya.
“Ra, kamu nggak kasian sama bunda? Sama kakak-kakak kamu dan keluarga dipanti? Aku tahu ini berat, mungkin kalau sekarang mama kamu disini, beliau nggak akan suka melihat putrinya seperti ini. Kamu masih punya Allah Ra!” ucapan Senja sedikit menggetarkan hati Raina.
.
.
Jangan lupa like ya kak🤗🖤
__ADS_1
Boleh juga loh follow ig ku : @erlindans__