Inseparable

Inseparable
Mimpi Yang Terulang


__ADS_3

Assalamu'alaikum, JANGAN LUPA LIKE🖤🖤


Maaf telat up, makasih buat kakak-kakak yang selalu mampir dan like di karyaku🖤


Happy Reading🌻


.


.


.


“Mama?” Raina tersenyum melihat mamanya berdiri dibalkon sambil menikmati udara pada sore hari.


“Sayang kamu udah bangun?” tanya Mama Lita melihat putrinya berjalan kearahnya.


“Mama jangan tinggalin aku, mama janji kan bakalan ada disamping aku terus.” dengan erat Raina memeluk wanita cantik yang sudah tidak muda lagi seakan tidak mau kehilangan.


“Kamu ngomong apa? Mama nggak akan kemana-mana, ingat mama akan selalu didalam hati kamu.” ucap Mama Lita dengan sangat lembut sambil mengusap punggung Raina.


Raina memejamkan matanya, merasakan pelukan hangat dari seseorang yang telah mengandungnya selama 9 bulan dan yang melahirkannya.


“Mama? Ma, mama dimana? Jangan bercanda deh, masak aku ditinggal?” Raina membuka matanya dan mencari keberadaan Mama Lita yang telah hilang dari pelukannya.


“MAMAAA?!!” Raina terus berteriak sambil melihat sekeliling dan sama sekali tidak melihat sosok yang dia cari.


---


“Mamaaaa....” Raina bangun dari pingsannya dan ternyata dia mengulangi mimpi buruk yang telah menghantuinya selama di Jakarta.


Keringat dingin membasahi keningnya, wajahnya pucat, dan nafasnya tidak teratur setelah mengalami mimpi buruk.


“Dek, kamu kenapa?” tanya Nadia yang terlonjak kaget mendengar teriakan dari adiknya.


“Mama mana mbak?” Raina bertanya pada Nadia seakan yang tadi terjadi hanyalah mimpi.


“Dek, kamu harus ikhlas biar Mama Lita tenang disana.” Bukan jawaban itu yang Raina harapkan dari mulut Nadia.


“Enggak mbak, mama lagi kerja kan direstoran? Tolong telepon mama, bilang sama mama kalau Raina kangen pengen ketemu sama mama sekarang.”  ujar Raina dengan bibirnya bergetar, matanya berkaca-kaca, dan menggelengkan kepalanya sekuat mungkin. Raina terus menyangkal bahwa mamanya sudah dipanggil terlebih dahulu oleh sang pencipta.


“Dek, kamu nggak boleh kayak gini. Istighfar kamu masih punya Allah, jangan hilang kendali!” Nadia sedikit tegas pada Raina agar dia tidak diselimuti rasa sedih yang berlebihan.


***


“Dok, gimana keadaan Raina, putri saya?” tanya Bunda pada dokter yang menangani Raina, ditemani dengan Alif disana sedangkan Nadia menjaga Raina dikamar.

__ADS_1


“Apa Raina baru saja mengalami hal buruk? Atau kehilangan seseorang?” dokter bertanya untuk memastikan.


“Iya dok, adek saya baru saja mengetahui mama kandungnya meninggal.” Alif menjawab.


“Raina mengalami syok berat, jika akan seperti ini terus-menerus dia akan mengalami depresi dan mentalnya akan terganggu.” ucap dokter membuat bunda dan Alif terperanjak.


“Tolong buat Raina senyaman mungkin dan jangan dulu menyinggung hal yang sensitif menurutnya misalnya tentang mama kandungnya yang sudah meninggal kecuali jika memang dia benar-benar sudah siap....” ucap dokter terhenti mendengar teriakan Raina dari kamarnya, bunda dan alif langsung berlari menuju kamar dan tentunya diikuti dengan dokter.


“Mamaaaaaa..” Raina menangis histeris dan Nadia masih memeluk adiknya agar sedikit tenang.


“Maaf, biar saya suntikkan obat penenang.” ucap dokter sambil menyiapkan suntikan dan langsung menyuntikkan pada tangan Raina.


 “Biarkan dia tenang untuk beberapa jam kedepan, jangan ditinggal sendiri ya? Kalau begitu saya permisi.” Dokter tersebut berpamitan.


“Makasih, mari saya antar sampai kedepan dok.” Alif langsung mengantarkan dokter sampai keluar dari gerbang.


“Bunda gimana ini? Raina nggak pernah sampai seperti ini?” Nadia terlihat sangat khawatir.


Bunda mengajak Nadia keluar dari kamar agar Raina bisa istirahat dengan tenang, kemudian bunda menjelaskan apa yang dikatakan oleh dokter tadi pada Nadia, Alif juga berada disana. Nadia sangat tidak menyangka Raina akan mengalami hal seperti ini.


“Alif, Nadia, bunda balik kepanti dulu. Besok pagi bunda kesini lagi, jaga adik kalian baik-baik, jangan singgung tentang Lita dulu ya?” ucap bunda mendapatkan anggukan dari kedua anaknya.


“Assalamu’alaikum.” bunda pamit, Nadia dan Alif mencium punggung tangan bundanya terlebih dahulu.


“Wa’alaikumsalam.” sahut mereka berdua.


“Mbak, mas ada yang bisa bibi bantu?” tanya salah satu pelayan yang melihat mereka meminum segelas air mineral.


“Enggak bi, makasih. Maaf kalau hari ini saya dan Alif akan menginap disini menjaga Raina.” sahut Nadia dengan lembut.  


“Iya bi, kami nggak akan merepotkan kok.” imbuh Alif sambil tersenyum.


“Tidak apa kok, lagian Non Raina memang butuh teman dan lagi Mbak sama Mas boleh tinggal disini kapan saja sampai kapan pun.” balas pelayan tersebut.


“Lif, ayo sholat dulu udah adzan,” ajak Nadia setelah selesai mendengarkan adzan berkumandang.


Nadia dan Alif melaksanakan sholat dimushola yang ada dirumah Mama Lita karena tidak ingin meninggalkan Raina jika sewaktu-waktu bangun.


Jam dinding sudah menunjukkan hampir pukul lima sore dan tepatnya 16.40. Raina belum membuka matanya, Nadia dan Alif terus berjaga didalam kamar. Tak lama kemudian Raina membuka matanya dan memegangi kepalanya yang terasa pusing.


Bahkan matanya terasa bengkak dan sangat berat untuk dibuka, “Dek?” ucap Alif melihat pergerakan dari Raina.


Nadia langsung mendekat, “Mbak? Raina mau sholat.” ujar Raina membuat Nadia dan Alif tersenyum seketika.


“Badan kamu panas, tayamum aja ya?” pinta Nadia saat membantu Raina duduk. Namun Raina menggeleng, dia tetap kekeh ingin wudhu saja.

__ADS_1


Raina sholat didalam kamar itu, pastinya dia ditemani oleh kedua kakaknya yang menunggunya sambil duduk disofa.


“Ya Allah, ampunilah hamba yang belum bisa menerima kepergian mama. Ya Allah ampuni seluruh dosa mama, semoga mama engkau tempatkan disisi-Mu. Aamiin....” sepenggal do’a yang diucapkan oleh Raina sambil menengadahkan tangannya lalu mengusapkan kewajahnya sambil mengatakan ‘Aamiin’.


Nadia dan Alif sepintas mendengarkan do’a yang diucapkan oleh Raina ikut terenyuh, mereka sangat berharap adiknya lekas bangkit dari kesedihan yang menguasai dirinya.


Selesai sholat Raina hanya duduk sambil melamun, cukup lama dia duduk hingga adzan maghrib berkumandang. Alif dan Nadia pun sholat berjama’ah bersama Raina didalam kamar itu. Mereka sholat disana hingga isya’ bahkan Raina tidak meninggalkan sajadahnya dari ashar tadi.


Pukul 7 malam, beberapa pelayan masuk untuk mengantarkan makan malam untuk Raina, Nadia, dan Alif. “Makasih ya bi.” ucap Alif setelah para pelayan selesai menata makanan diatas meja dekat sofa.


“Sama-sama mas, jika perlu sesuatu panggil saja kami.” sahut pelayan kemudian pergi keluar dari kamar.


Alif mengangguk sambil tersenyum sedangkan Nadia sedang membujuk Raina yang enggan untuk makan, jangankan makan melihat saja sudah tidak nafsu, untuk minum air saja rasanya tidak bisa tertelan.


“Dek, ayo makan sedikit saja dari tadi kamu belum memakan apapun. Atau mau minum susu aja?” kesekian kalinya Nadia membujuk Raina yang duduk dengan tatapan kosong.


“Dek makanlah sedikit.” Alif ikut membujuk adiknya yang terdiam.


Alif keluar dari kamar kemudian kembali membawa segelas teh manis hangat dan memberikannya pada Raina. Namun Raina hanya menggeleng pelan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


“Dek! Kamu kayak gini nggak akan mengembalikan Mama Lita kan?!” agak keras Alif mengutarakan itu, bukan karena kesal atau lelah membujuk Raina melainkan untuk sedikit menyadarkan adiknya.


Hati Raina langsung berdegub kencang mendengar Alif menyebut mamanya, dia langsung menatap Alif dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


‘Kejam!’ mungkin terkesan seperti itu namun niat Alif baik.


“Alif sudahlah!” Nadia memperingatkan adiknya agar tidak melewati batas.


Nadia meraih teh tersebut dan terakhir kalinya untuk membujuk Raina akhirnya membuahkan hasil, meskipun teh itu hanya berkurang setengah setidaknya ada kandungan gula yang memberi sedikit energi untuk Raina.


“Lif, sana keluar! Tidurlah dikamar sebelah, biar mbak yang disini.” titah Nadia.


Nadia mengunci pintu kamar setelah Alif keluar dari kamar, dia mendekat pada Raina yang masih duduk diatas ranjang sambil menyenderkan punggungnya.


“Jilbabnya dilepas ya?” entah bertanya atau memerintah Raina, namun Nadia langsung melepas jilbab yang melekat dikepala Raina.


Raina merebahkan dirinya, mencoba memejamkan matanya berharap bisa tertidur dan bertemu Mama Lita dimimpinya. Nadia ikut tidur disamping Raina setelah melihatnya sudah memejamkan mata.


Raina belum benar-benar terlelap, namun setelah melihat Nadia sudah tertidur pulas dia kembali mencoba untuk tidur dan akhirnya dia terlelap menuju alam mimpi.


.


.


Jangan lupa like ya🖤

__ADS_1


 


__ADS_2