
Assalamu'alaikum, selamat malam maaf ya baru bisa update🖤
Happy Reading, Jangan lupa LIKE🖤
.
.
.
Flashback On
Senja terbangun dari tidurnya, dia melihat sekeliling dan merasa asing dengan tempat itu. Senja lupa bahwa dia sedang camping dan tidur didalam tenda bersama ketiga temannya.
“Din, bangun dong anterin aku ketoilet” Senja mencoba membangunkan temannya yang tengah terlelap dalam tidurnya.
Dinda pun tidak bergeming sama sekali, mau tidak mau Senja keluar dari tenda dan perpindah ke tenda Raina, memintanya untuk mengantarkannya ke toilet yang lumayan jauh dari tenda mereka.
“Ra.. Rainaaa.. anterin ketoilet yuk, kebelet pipis nihh!” berulang kali Senja memanggil sang pemilik nama namun tidak ada jawabannya.
“Rainaaaaaa....” Senja semakin mengeraskan suaranya agar Raina segera keluar dari tenda.
“Siapa sih berisik banget?!” sahut Amel yang baru keluar dari tenda.
“Senja? Kenapa kamu?” imbuh Amel yang diikuti Niken dan Sindy.
“Raina mana? Pengen minta dia buat nganterin aku ketoilet, kebelet pipis banget nihh.” ucap Senja.
“Lahh, Raina nggak ada ditenda aku kira sama kamu?” balas Niken.
“Raina nggak ada? Terus dimana dong? Nanti kalo dia ilang gimanaa?!!!” ujar Niken yang berlebihan.
“Yaudah ayo kita anter kamu dulu ketoilet, habis itu cari Raina sama-sama.” sahut Amel, mendapat persetujuan dari semuanya.
***
Dinda membuka matanya kemudian melihat kanan kirinya dan tidak menemukan Senja, dia kemudian membuka ponsel untuk melihat jam dan ternyata menunjukkan pukul satu dini hari.
“Kemana sih Senja malem-malem gini?!” dengan sangat terpaksa Dinda mengumpulkan nyawanya kemudian beranjak dari tidurnya untuk mencari Senja.
Dinda terus berjalan, kemudian mencari Senja ketenda Raina dan hasilnya nihil. “Pada kemana sih malem-malem gini? Kenapa nggak ngajak aku?!” gumam Dinda dengan asal.
Dinda kemudian pergi ketoilet untuk mencuci muka, namun ditengah perjalanan dia melihat Raina dan Deva sedang berbincang berdua didepan api unggun.
“Cuci muka aja dulu deh, habis itu tanya Raina dimana Senja.” ucap Dinda pada dirinya sendiri.
---
“Kalo malem gini serem juga ya ditengah hutan?” tanya Sindy dengan polosnya.
“Ya iyalah, pake nanya lagi. Bayangin coba tiba-tiba ada yang nepuk bahu kamu dari belakang....” jawab Amel dengan santai.
“Hush udah diem deh, kalian tuh penakut ngapain ngomong yang enggak-enggak!” potong Niken.
“Mel, jangan bercanda deh!” ucap Sindy dengan kesal.
“Kenapa sih?” balas Amel.
“Nggak usah nepuk-nepuk bahuku, aku nggak takut!” sentak Sindy.
“Hah? Apaan nih tangan Amel ada disini” balas Niken sambil menunjukkan kedua tangan Amel.
“Senja, jangan nakut-nakutin deh!” ucap Amel.
“Guys, itu kamar mandinya yang dipake Senja masih nutup pintunya.” sahut Sindy.
Merek bertiga langsung saling tatap, kemudian menoleh kebelakang dan, “Kyaaaaaa!!!!!” mereka berteriak secara bersamaan.
“Apaan sih, ini aku Dinda.” ucap Dinda sambil menenangkan mereka bertiga.
“Yeee! Ngapain juga disini? Kenapa nggak manggil aja sih malah nakut-nakutin!” ujar Sindy dan Niken yang merasa kesal.
“Yaudah sih maaf, oh ya kalian lihat Senja nggak?” tanya Dinda.
“Kenapa nyariin? Tadi aja dibangunin nggak bangun-bangun!” sahut Senja yang baru saja keluar dari toilet.
“Oh ya? Maaf deh” balas Dinda.
“Yaudah yuk, kita cari Raina.” ujar Senja.
“Kalian nyariin Raina? Raina lagi ngobrol sama Kak Deva didepan api unggun tadi.” ucap Dinda.
__ADS_1
“Yaudah kita kesana yuk” ajak Amel, kemudian mereka memutuskan untuk menghampiri Raina.
Dari kejauhan mereka melihat Raina tidak hanya berdua dengan Deva, disana juga ada Verrel dan Pak Agus yang tampak sedang memarahinya. Tanpa pikir panjang mereka menghampiri Raina, Deva, dan Verrel yang ternyata memang benar sedang ditegur oleh Pak Agus.
Flashback Off
“Jadi gitu ceritanya kakak” ucap Senja yang telah selesai menceritakan semuanya.
“Duhh, adikku pinter banget deh. Makasih yaa” balas Verrel yang langsung merangkul Senja.
“Ehem, Kak Verrel kita juga mau loh dipeluk.” ujar Niken yang sedang bercanda dan menggoda Verrel.
“Aku juga siap loh kak jadi kakak iparnya Senja, ya nggak?” sahut Sindy sambil menyenggol Senja.
“Hushhh, kalian ini! Nggak salah godain playboy?!” ucap Senja menanggapi mereka.
“Kamu ini kakak sendiri malah dibilang playboy!” Verrel merasa tidak terima kemudian menoyor kepala Senja.
“Aduhhhhh!” pekik Senja.
“Udahh, berantem terus. Makasih ya temen-temen udah bantuin kita” ujar Raina.
Hari terus berlalu, hingga camping bebas telah usai. Setelah acara camping sekarang saatnya para murid mempersiapkan ujian akhir semester untuk kenaikan kelas.
Akhirnya hari ujian telah tiba, murid Kelas X dan Kelas XI seperti tengah berperang dengan soal-soal ujian. Berbeda dengan murid-murid yang rajin, bertemu dengan soal ujian berasa seperti bertemu dengan orang yang dicintainya.
Dua minggu berlalu, Raina yang tengah bingung karena besok saat penerimaan rapor tidak ada yang menjadi wali untuk mengambilkan miliknya. Biasanya Bu Ina yang menjadi walinya sedang berhalangkan karena pergi ke luar kota untuk menengok mertuanya yang tengah sakit.
Raina akhirnya berangkat kesekolah untuk mengambil rapor miliknya sendiri, yah semoga saja ada keringanan dari guru untuk memberikan rapor miliknya karena ketentuan dari sekolah bahwa rapor harus orang tua atau wali yang mengambilkannya.
Raina langsung berdiri dan menghampiri meja guru untuk mengambil rapor miliknya, “Loh Raina? Tidak ada wali kah untuk mengambilkan rapor milikmu?” tanya pak guru.
“Maaf nggak ada pak, ibu kost yang biasanya menjadi wali saya tengah berhalangan.” Raina berusaha menjelaskan dan bernegosiasi dengan guru yang ada dihadapannya.
“Maaf Raina, meskipun kamu murid beasiswa dan murid terbaik disekolah kami, yang namanya aturan tetap aturan. Jadi maaf, rapor kamu tidak bisa kami serahkan.” ucapan pak guru membuat Raina sedih, padahal Raina ingin memperlihatkan nilainya pada bunda saat Di Surabaya nanti.
“Yasudah pak, terimakasih.” Raina langsung beranjak dari duduknya, dan keluar dari kelas.
Raina berjalan terus dengan kepala menunduk, sampai-sampai dia menabrak seseorang saat diloby. Begitu cerobohnya Raina hingga berjalan tidak melihat jalanan yang dilaluinya.
‘*Brukk*’
Keduanya tidak jatuh hanya berbenturan, bahkan Raina lah yang terpental dan ingin jatuh namun kedua tangannya ditahan oleh seorang laki-laki.
“Maaf, pak saya nggak sengaja.” ucap Raina sambil melihat wajah orang tersebut.
“Om Bimo?” imbuh Raina tampak terkejut.
“Maaf om, saya jalan nggak lihat jalan.” ujar Raina dengan perasaan tidak enak.
__ADS_1
“Enggak, om juga minta maaf jalan nggak lihat ada kamu.” sahut Om Bimo.
“Oh ya, kamu kenapa kok jalan nunduk gitu? Dan orang tua yang mengambilkan rapor kamu ada dimana?” tanya Om Bimo yang sontak membuat Raina sedih.
“Orang tua saya ada Di Surabaya om, dan wali yang biasanya mengambilkan rapor saya lagi berhalangan dan pergi ke luar kota, jadi rapor saya belum bisa diambil.” Raina menjelaskannya dengan keadaan tersenyum meskipun itu senyuman paksa.
“Oh yaudah, ayo biar om yang ambilkan rapor kamu.” Om Bimo akhirnya menawarkan dirinya untuk menjadi wali Raina.
“Serius om? Nggak papa? Nggak ngerepotin?” perasaan Raina bahagia, tidak percaya, dan senang menjadi satu.
“Iya ayo kita kekelasmu.” ajak Om Bimo, dengan senang hati Raina langsung berjalan bersamanya menuju kelasnya.
\*\*\*
“Terima kasih banyak om, udah ngambilin rapor saya.” ucap Raina dengan tersenyum saat keluar dari ruang kelasnya.
“Nggak usah sungkan, om mau kok jadi wali kamu seterusnya bahkan jadi ayah kamu juga mau.” entah mengapa ucapan Om Bimo tampak hangat didalam hati Raina.
Raina hanya tersenyum menanggapi ucapannya, sampai akhirnya ada Bianca yang menghampirinya.
“Papa? Kemana aja sih, aku udah nungguin di mobil dari tadi loh.” ucap Bianca dengan manja dan sepertinya kesal melihat Raina bersama dengan papanya.
“Maaf ya papa nggak bilang kamu, papa ngambilin rapornya Raina dulu karena walinya nggak bisa dateng.” Om Bimo menjelaskan pada Bianca.
“Yaudah ayo pulang.” rengek Bianca seperti anak kecil.
“Iya ayo, Raina ayo bareng sama kita aja sekalian?” ajak Om Bimo yang jelas Bianca tidak suka.
“Makasih om, saya naik angkot aja.” Raina menolak dengan halus.
“Yaudah ayo sayang kita pulang” ajak Om Bimo.
“Ah iya pa, duluan aja aku mau ketoilet bentar.” balas Bianca, kemudian Om Bimo meninggalkan mereka berdua.
“Heh! Anak beasiswa, jangan berani-beraninya lo deketin Kak Deva ataupun papa gue! Paham! Awas aja ya sampai sekali lagi lo ngusik keluarga gue, gue nggak akan segan buat hidup lo sengasara!” ancam Bianca, kemudian meninggalkan Raina dan menyenggol bahunya dengan keras.
.
.
Jangan lupa LIKE🖤
terimakasih, follow juga ig ku : erlindans\_\_
Kalau mau di folback Dm aja yaa🤗
__ADS_1