
Assalamu'alaikum teman-teman, JANGAN LUPA LIKE🖤, Selamat membaca🌻
.
.
Bianca pulang kerumah setelah hangout bersama temannya tadi siang. Sampai dirumah dia memicingkan matanya melihat wanita berhijab yang sedang duduk bersama papa dan kakaknya diruang tamu bahkan berbincang hangat.
Flasback On
Tadi setelah makan, Deva dipanggil papanya ke ruang tamu namun Raina memaksa ikut keluar dari kamar karena tidak enak jika keterusan didalam kamar padahal dirinya merasa baik-baik saja tapi dirumah Deva dia diperlakukan bak seorang putri membuatnya tidak nyaman.
“Loh Van, kok kamu juga ngajak dia keluar? Biarkan dia istirahat dulu dikamar,” ujar papanya pada Deva.
“Saya yang ingin ikut kok om.” sahut Raina dengan cepat.
Lalu Deva dan Raina duduk bersama diruang tamu, Raina merasa canggung namun Deva membuatnya agar tetap nyaman meskipun ada papanya disana.
“Namamu siapa nak?” tanyanya pada Raina.
“Nama saya Raina om, saya adik kelasnya Kak Deva di SMA dulu.” jawab Raina dengan hati-hati.
“Nama saya Bimo, panggil saja Om Bimo jangan sungkan disini ya.” pinta Om Bimo, Raina hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Raina nggak nanya nama papa,” sarkas Deva membuat Raina tersenyum kecil.
“Biarin ngapain kamu sewot! Papa ngomong sama Raina kok bukan sama kamu!” sahut Om Bimo yang tak kalah sewot.
Terjadi perdebatan kecil membuat Raina sesekali tertawa kecil, melihat Deva dan papanya sangat dekat membuat Raina ikut merasakan kehangatan keluarganya. Kemudian mereka bertiga ngobrol biasa seakan mereka sudah sangat dekat.
Flashback Off
Bianca masih berdiri dibelakang mereka bertiga, banyak sekali pertanyaan yang ada didalam pikirannya. Dia mengira apakah gadis berhijab itu pacar dari Deva atau wanita yang akan dijodohkan dengan kakaknya kelak, karena papanya pernah menyinggung bahwa suatu saat jika Deva mau akan dijodohkan dengan rekan bisnisnya.
“Oh iya katanya kamu tadi adik kelasnya Vano di SMA kan? Jangankan adik kelas kamu jadi mantu om aja langsung om terima.” ucap Om Bimo langsung tertawa, Raina hanya tertawa kecil sedangkan Deva meminta maaf atas sikap konyol papanya itu.
__ADS_1
“Ehem” deheman dari Bianca sontak membuat semuanya menoleh kearahnya. Bianca sempat terperanjat melihat yang ada didepan matanya adalah Raina, seorang kakak kelas yang sangat dia benci. Tidak-tidak karena sebenarnya mereka seumuran hanya saja Bianca telat sekolah, jadi mereka hanya beda tingkat.
‘Ngapain tuh cewek disini? Jangan-jangan dia pacarnya Kak Deva? Nggak-nggak aku nggak akan biarin dia sama kakak!’ gerutu Bianca dalam hati.
Sekilas Raina melihat perubahan wajahnya saat melihat dia yang sangat terlihat tidak nyaman ada dia dirumahnya.
“Tumben udah pulang sayang, biasanya kalau pulang selalu larut loh.” ujar Papa Bimo pada putrinya itu.
“Iya dek, apa ada yang ketinggalan?” tanya Deva pada Bianca.
‘Iya, tadinya pulang cuma mau ganti baju terus pergi lagi. Tapi karena ada tuh cewek gue jadi nggak bisa pergi lagi, kalau gue pergi bisa-bisa dia ngomong yang enggak-enggak tentang gue disekolah!’ batin Bianca seraya melirik Raina.
“Oh iya pa, kak aku udah pulang. Padahal tadinya aku mau ngajak dinner bertiga loh, kan udah lama kita nggak dinner tapi ada tamu ya? Nggak jadi deh,” ucap Bianca dengan santai dan menampakkan senyum palsunya.
“Oh iya om, kak udah mau maghrib saya pamit pulang ya?” pamit Raina yang merasa diusir secara halus oleh Bianca.
“Eh jangan, mending kita dinner berempat aja dirumah kan sama aja.” sahut Om Bimo mencegah Raina untuk pulang.
“Iya bener, udah Ra santai aja nanti aku akan mengantarkanmu sampai didepan pintu kamar kost mu....” ujar Deva diakhiri dengan gelak tawanya, karena dia sendiri merasa aneh dengan ucapannya barusan yang terkesan sedang menggombali seorang cewek.
“Nggak boleh masuk kedalam kak, kostku khusus putri kok.” balas Raina. Bianca semakin merasa panas dan menyesal mengajak dinner, padahal tadi hanya ingin mengusir Raina namun justru malah mereka akan makan malam bersama.
Setelah sholat isya’ Deva berjanji akan mengantarkan Raina pulang ke kostnya. Tadinya Bianca ingin ikut karena tidak ingin kakaknya berduaan dengan Raina namun papanya menyuruhnya untuk tetap tinggal dirumah.
“Om saya pamit, terima kasih untuk jamuan makan malamnya. Saya juga ingin minta maaf kedatangan saya tadi dalam keadaan pingsan, saya telah merepotkan...” Raina belum selesai berbicara sudah dipotong oleh Om Bimo.
“Sudah, tadi saya sudah bilang, nggak usah sungkan. Saya sangat senang kamu bisa sampai disini, lain kali main lagi kesini ya?” pinta Om Bimo pada Raina.
Raina hanya mengangguk kemudian dia mencium punggung tangan Om Bimo, “Assalamu’alaikum om” dengan tersenyum Raina kemudian masuk kedalam mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh Deva.
“Wa’alaikumsalam, Vano bawa mobil jangan ngebut!” teriak Om Bimo pada putra sulungnya mendapatkan acungan jempol dari Deva kemudian dia ikut masuk kedalam mobil.
‘Gadis yang sangat sopan, seandainya dia adalah bagian dari keluargaa ini aku akan sangat bahagia’ batin Om Bimo yang masih memperhatikan mobil yang dikendarai putranya bersama Raina keluar dari gerbang sambil tersenyum bahagia.
Diperjalanan sempat hening beberapa menit, mereka bingung ingin membicarakan apa. Raina hanya melihat jalanan dari jendela mobil sedangkan Deva fokus mengemudi namun sesekali melirik Raina yang melihat arah luar.
__ADS_1
“Ehem” Deva berusaha memecahkan keheningan.
“Ehm, kakak butuh temen ngobrol?” tanya Raina seolah paham kode darinya.
“Eh oh ehm.....” Deva bingung dan berpikir sejenak ingin membicarakan apa dengan Raina.
“Oh iya alamat kost kamu dimana ya? Aku belum tahu pasnya soalnya,” memang benar Deva belum tahu alamat pastinya. Raina memberitahukan alamat lengkapnya padanya dan Deva langsung mengerti.
“Kak, makasih ya. Aku selalu ngerepotin kakak,” lagi-lagi Raina hanya bisa mengucapkan kata terima kasih padanya.
“Aduh Raina, udah dong. Udah berapa kali coba kamu ngucapin makasih ke aku? Aku malah nggak enak sendiri kamu ngomong makasih terus padahal aku nggak ngelakuin apa-apa ke kamu.” ujar Deva membuat Raina tersenyum.
Akhirnya Raina mengajak Deva ngobrol tentang kuliahnya sedangkan Deva sesekali bertanya tentang keluarganya di Surabaya. Tak terasa akhirnya sampai didepan gerbang kost yang ditempati oleh Raina, disana masih ada Bu Ina sang pemilik kost yang sangat baik padanya.
“Assalamu’alaikum bu,” Raina mencium punggung tangan Bu Ina sambil tersenyum.
“Ya Allah neng, saya khawatir lo padahal tadi pagi neng cuma pamit buat cari sarapan kok sampai sekarang baru pulang makanya saya sampai nungguin neng disini.” sahut Bu Ina dengan tulus dan merasa khawatir.
Deva keluar dari mobil dan ikut menyalami Bu Ina kemudian memperkenalkan dirinya, “Maaf bu, tadi Raina hampir kecelakaan terus pingsan lalu saya bawa dulu kerumah saya dan maaf saya mengantarkannya terlalu malam.” Deva menjelaskan apa yang terjadi.
“Neng tapi nggak papa?” Bu Ina heboh langsung membolak-balikkan tubuh Raina, membuat Deva dan Raina tertawa.
“Nggak papa bu, makasih udah khawatir sama saya, Kak Deva makasih banyak ya. Saya masuk dulu ya kak, bu. Assalamu’alaikum” pamit Raina pada keduanya.
Deva masih melihat sosok gadis berhijab yang makin menjauh hingga tidak nampak, Bu Ina memperhatikan Deva dengan tatapan menyelidik.
“Kamu pacarnya Neng Raina? Tapi saya nggak percaya kalau Neng Raina pacaran,” ucapan Bu Ina membuat Deva tertawa.
“Bukan bu, saya kakak kelasnya Raina di SMA kok tapi saya sudah lulus.” Bu Ina hanya mangut-mangut seakan mengerti.
Deva mengeluarkan dompet dan mengambil secuil kertas kemudian memberikannya pada Bu Ina, “Bu ini nomer saya, jika ada apa-apa soal Raina jangan sungkan untuk menghubungi saya, tapi saya harap ibu jangan bilang sama Raina jika saya memberikan nomer saya pada ibu.” ucapan Deva yang tulus sambil menampilkan senyumnya membuatnya tampak sangat tampan.
‘Dia sepertinya suka dengan Neng Raina, udah deh saya ambil aja buat jaga-jaga tapi semoga tidak ada apa-apa kedepannya’ batin Bu Ina sambil menerima kertas yang bertuliskan nomer HP nya yang tadi dia tulis saat dirumah tanpa sepengetahuan Raina.
“Baik nak, makasih tadi sudah menolong dan merawat Raina.” ujar Bu Ina.
__ADS_1
“Ya sudah, saya pamit ya bu. Assalamu’alaikum” Deva mencium punggung tangannya kemudian masuk kedalam mobil.
Diperjalanan pulang Deva tertawa pada dirinya sendiri, “Dev Dev lucu banget sih lo, ngasih nomer lo ke ibu kost! Ngapain coba lo nggak minta nomernya Raina atau lo ngasih nomer lo sendiri ke Raina, dasar beg*!” gerutunya pada diri sendiri sambil menggelengkan kepalanya dan memukul stir.