Inseparable

Inseparable
Perasaan Aneh


__ADS_3

Assalamu'alaikum jangan lupa like ya teman-teman🖤🤗


.


.


Satu minggu berlalu Raina dan Senja kembali sekolah seperti biasanya, tidak lupa Senja mengucapkan terima kasih karena berkatnya dia bisa kembali bersatu dengan kakaknya dan keluarganya sudah kembali utuh. Bahkan setelah acara ulang tahun yang digelar Senja, sontak membuatnya menjadi sorotan teman-teman sekelasnya pasalnya dia adalah adik dari Verrel anggota dari ‘Tiga Pangeran Sekolah’ di SMA nya.


“Aciieee... Sekarang jadi artis sekolah nih, ehm tapi aku heran loh kenapa tiba-tiba langsung nyebar jadi satu sekolahan tahu kalau kamu adiknya Kak Verrel ya?” Raina mengejek Senja saat ada dikantin, ya awalnya hanya teman sekelas yang tahu namun tiba-tiba seluruh murid bahkan guru pun ikut tahu.


“Nggak tahu deh, heran juga aku emang kenapa kalau aku adiknya Kak Verrel lagian dia juga udah lulus kan aneh emang.” sahut Senja merasa tidak nyaman karena murid cewek entah adik kelas hingga kakak kelas mendekatinya hanya agar bisa dekat dengan Verrel.


“Kak Verrel itu playboy ngapain pada ngejar-ngejar sih etdahh!” imbuh Senja dengan heran.


“Dia playboy gara-gara kangen sama adik perempuannya kok Nja.” balas Raina kemudian dia menyeruput es kopi yang dipesannya. Senja malah manyun mendengarkan perkataan darinya karena sebenarnya itu terdengar konyol.


Mereka ngobrol seperti biasanya entah apa saja yang dibicarakan, namun perhatian mereka teralihkan oleh kedatangan Bianca dengan ketiga temannya yang mengusir seseorang yang tengah duduk menikmati makanan dikantin dan orang yang diusir patuh lalu pergi begitu saja padahal Raina tahu bahwa mereka baru saja makan mungkin dua sampai tiga suap.


Raina yang geram menghampiri Bianca dan gengnya yang baru saja duduk dan tertawa bersama. “Kenapa kamu nggak sopan sih sama orang lain?! Kan masih banyak tempat duduk kosong, kenapa kamu ngusir orang yang lagi makan atau nggak kamu bisa nunggu dia selesai makan?!” ucap Raina dengan nada kesal namun Bianca dan teman-temannya malah tertawa bahkan senyum sinis padanya.


Senja ikut menghampiri namun dia hanya diam disamping Raina, bukan takut pada Bianca namun dia kagum pada keberanian yang dimiliki temannya.


‘Bukannya dia cewek yang kemarin diajak ngobrol Kak Deva di ulang tahunnya Senja ya? Nih anak beasiswa kok bisa deket sama Kak Deva sih?’ batin Bianca seraya memperhatikan Raina hingga selesai berbicara.


“Heh anak beasiswa ngapain sih lo sibuk ngurusin orang toh dia tadi juga nggak marah kan waktu gue usir?” sahut Bianca seakan merendahkan orang lain.


Raina ingin menjawab namun Senja memotongnya karena sudah merasa kesal pada tingkah Bianca yang kerterlaluan.


“Heh tutup mulut lo! Mau gue aduin ke Kak Deva atas kelakuan lo disekolah? Hah?!” Senja membuat Raina bingung mengapa sahabatnya itu mengatas namakan Deva untuk menggertaknya. Namun benar hal itu berhasil untuk membuat Bianca membisu dan langsung meninggalkan kantin bersama teman-temannya.


“Nja? Kok dia langsung pergi?” tanya Raina dengan heran.


“Huh, seandainya Kak Deva tahu gimana sikap dia disekolah. Pantes aja Om Bimo masukin dia ke asrama kemarin... Huft” gumam Senja pada dirinya sendiri, namun masih terdengar oleh Raina.

__ADS_1


“Eh kamu ngomong apa tadi Ra?” imbuh Senja menanyakan kembali pertanyaan yang diucapkannya tadi.


“Kenapa Bianca langsung kicep waktu kamu nyebutin nama Kak Dev?” Raina kali ini benar-benar kepo tingkat tinggi pasalnya kemarin diulang tahun Senja, Bianca menggandeng tangan Deva dengan sangat mesra begitupun Deva yang tidak keberatan menerima uluran tangan dari Bianca.


“Dia adik ANGKAT nya Kak Deva.” ujar Senja menekan kata angkat untuk memperjelasnya, sedangkan Raina hanya diam membeku memikirkan ucapan Senja.


“Tapi kayaknya dia suka deh sama Kak Deva, makanya papanya Kak Deva langsung ngirim Bianca ke asrama. Aku kaget banget waktu dia kamu tegur waktu MOS Ra, ternyata dia udah keluar dari asrama dan malah sekolah disini,” imbuh Senja panjang lebar kemudian menghela nafasnya.


“Aku kira dia pacarnya Kak Deva loh, soalnya waktu diulang tahun kamu Kak Deva bilang dia dateng sama seseorang dan selang beberapa menit Bianca dateng manggil Kak Deva terus gandengan gitu ternyata adiknya toh...” Raina menjelaskan kejadian saat di itu membuat Senja bingung karena dia belum menceritakan sebelumnya.


“Wait... Kak Deva itu berangkat bareng kakakku loh kamu salah sangka kali dan mungkin Bianca kemarin berangkat bareng Om Bimo,” Senja menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya, dan yah memang benar saat itu yang dimaksud seseorang bukanlah Bianca melainkan Verrel.


“Kamu cemburu ya?” imbuh Senja menggoda Raina sambil menyenggol bahunya dan memainkan alisnya.


“Nggak lah apaan coba, udahlah ayo balik kekelas” sarkas Raina dan langsung meninggalkan Senja begitu saja.


***


Malam haripun tiba, tidak pernah absen seharipun Raina menelepon mamanya dan bundanya namun hari ini dia merasa berbeda. Dalam hatinya dia sangat merindukan mamanya ingin rasanya bertemu bahkan memeluknya padahal sebelumnya dia tidak pernah merasa seperti itu.


“Ma, Raina kangen sama mama.” ucap Raina pada Mama Lita melalui video call.


“Masyaallah dikangenin sama anak sendiri rasanya gini ya?” sahut Mama Lita sambil tertawa renyah.


“Mama akan ke Jakarta besok ya?” imbuhnya yang langsung membuat Raina bingung sekaligus bahagia namun didalam hatinya dia tidak ingin membebani mamanya ataupun membiarkan mamanya meninggalkan tanggung jawabnya sebagai pemilik restoran dan juga harus berkerja.


“Tapi kan mama harus kerja, nggak usah deh ma biar aku tahan aja sampai besok aku balik ke Surabaya. Aku nggak mau membebani mama,” ujar Raina sambil tersenyum.


“Enggak sayang, yaudah kalau gitu kamu tidur ya udah malam.” balas Mama Lita.


“Iya ma, goodnight mama. Assalamu’alaikum” ucap Raina kemudian menutup teleponnya.


Raina memejamkan matanya sambil berpikir mengapa dia ingin sekali berada didekat mamanya padahal 3 bulan lagi dia akan balik ke Surabaya.

__ADS_1


Akhirnya Raina pun terlelap kedalam mimpinya.


Keesokan harinya adalah Hari Sabtu yang artinya Raina hanya akan menghabiskan harinya dikost karena libur tapi sebelumnya dipagi hari dia pergi untuk jogging sebentar. Raina terus berlari lalu dia istirahat sejenak disebuah taman dimana dia pernah bertemu dengan Deva saat itu.


***


Selesai jogging Raina langsung mandi dan memainkan ponselnya didalam kamar kostnya, dia melirik jam dinding menunjukkan pukul 09.30 WIB lalu dia memutuskan untuk keluar mencari makan karena belum sarapan.


Tidak lupa Raina berganti pakaian dan memakai jilbabnya lalu keluar dari kostnya, dia bertemu dengan Bu Ina dihalaman depan sedang merawat tanaman-tanaman hias miliknya yang mempercantik halaman dan membuatnya tampak asri.


“Assalamu’alaikum Bu Ina, tanamannya cantik-cantik seperti yang merawat hehe” Raina menggoda Bu Ina sambil tertawa kecil dan membuat Bu Ina ikut terkekeh malu.


“Wa’alaikumsalam neng, pagi-pagi udah iseng loh. Tapi makasih udah bilang saya cantik, ngomong-ngomong neng mau kemana udah rapi dan cantik?” ucap Bu Ina memperhatikan Raina dari atas sampai bawah.


“Makasih loh saya juga dibilangin cantik hehe, saya mau keluar cari makan bu. Ya udah saya jalan ya bu, Assalamu’alaikum” Raina berpamitan pada Bu Ina sambil tersenyum dan menundukkan kepalanya.


“Oalah ya sudah hati-hati dijalan ya neng, Wa’alaikumsalam” sahut Bu Ina kemudian melanjutkan merawat tanamannya.


Seperti biasanya sebelum pergi meninggalkan kost Raina selalu berpamitan pada Bu Ina sebagai pemilik kost dan juga sudah dianggap seperti keluarga olehnya.


Raina tidak naik angkot atau bahkan memesan ojol namun kali ini dia berjalan menyusuri jalan sendirian sambil melihat sekitar entah apa yang ada dipikirannya dia terus berjalan entah akan sampai kemana.


Tiba-tiba mood nya hilang dia tidak jadi pergi mencari sarapan namun malah menuju toko buku yang ada dimall, sambil berpikir dia merasa aneh pada dirinya sendiri padahal jarak kost dan mall yang dituju lumayan jauh namun dia berjalan dengan santai dibawah matahari yang mulai terik.


Raina memilih-milih berbagai buku yang ingin dibelinya namun dia bingung, banyak buku hingga novel yang ingin dibacanya namun dia harus pandai mengatur keuangannya meskipun Mama Lita memberi uang yang lebih untuknya.


Akhirnya Raina membeli satu novel yang menurutnya menarik, dia langsung menuju kasir untuk membayarnya. Sebelum keluar dari mall dia melaksanakan sholat dzuhur terlebih dahulu disana.


Diperjalanan pulang Raina duduk ditaman yang ada didekat mall, mencari tempat yang teduh untuk membaca novel. Cukup lama berada ditaman tersebut lalu dia menyebrang jalan karena ingin kembali ke kostnya. Namun ditengah jalan pandangannya terasa sedikit kabur dan kepalanya pusing.


‘Tinn.. tiinn.. tinn’ suara klakson menyadarkan Raina bahwa dia masih berada ditengah jalan namun kakinya terasa berat untuk melangkah bahkan berlari.


“Kyaaaaaa!!!” Raina berteriak sambil menyilangkan kedua tangannya dan memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2