Inseparable

Inseparable
Berlibur ke Puncak


__ADS_3

Assalamu'alaikum semuanya, maaf banget aku telat update😭🙏. Mohon dimaklumi yaa, Makasih juga buat kakak-kakak yang stay dinovelku dan selalu memberi dukungan dengan Like🖤


Jangan lupa LIKE🖤🖤🖤


.


.


Detik berjalan menjadi menit, menit berjalan menjadi jam, jam berjalan menjadi hari, hari berjalan menjadi minggu, bahkan waktu terus berlalu. Raina masih belum memikirkan untuk ke puncak, entah belum siap untuk mengetahui semuanya atau belum siap menerima kenyataan selanjutnya.


Dua minggu kemudian


Raina fokus membaca novel didalam perpustakaan sekolah sendirian, baru beberapa menit dia membaca novel tiba-tiba ada sebuah pengumuman yang mengalihkan perhatiannya.


“Assalamu’alaikum wr.wb, minta perhatian semuanya. Untuk seluruh kelas XI dimohon untuk berkumpul diaula sekarang juga, terima kasih Wassaamu’alaikum wr.wb” ucap seseorang dari sebuah salon pengumuman.


Raina langsung bangkit dari duduknya dan mengembalikan novel ketempat semula. Sampai didepan pintu ternyata Senja datang menjemputnya, “Ada apa sih Nja?” tanya Raina pada Senja sambil berjalan menuju aula.


“Kepo, nanti juga tahu” balas Senja sambil menjulurkan lidahnya. Raina bertanya pada Senja pasalnya tadi Senja lah yang mewakilinya untuk rapat OSIS.


Semua murid telah berkumpul diaula, kepala sekolah berdiri didepan. Beberapa pengumuman disampaikan oleh beliau, semua murid yang mendengarkannya bersorak gembira layaknya anak kecil yang mendapatkan mainan baru dari orang tuanya.




Dihari Kamis, Raina berangkat sekolah menggunakan pakaian santai namun tetap sopan dan membawa tas gunung yang berukuran sedang dan berisi beberapa setelan baju untuk tiga hari kedepan. Senin lalu, kepala sekolah memberikan pengumuman yang sangat membuat semua murid gembira.



Pasalnya, tiga hari kedepan kelas XI mengadakan camping bebas dipuncak untuk merefresh pikiran mereka yang akan melaksanakan ujian akhir semester 2, dua minggu lagi. Sebenarnya tidak hanya kelas XI namun semua murid hanya saja waktunya tidak bersamaan, kelas XII sudah lebih dulu sebelum ujian nasional berlangsung, sedangkan kelas X akan berangkat minggu depan.



Camping bebas yang dilaksanakan bisa dibilang adalah tradisi dari sekolahan mereka, karena para guru tidak ingin para siswa terlalu stres memikirkan ujian yang akan mendatang. Perlu sesekali mereka refreshing agar tidak terlalu terpacu pada materi-materi pelajaran.



Sampainya didepan kost, sudah ada Senja dan Verrel yang menjemput Raina. Mobil yang mereka tumpangi membelah jalanan yang tidak begitu ramai. Tak butuh waktu lama untuk sampai disekolah karena mereka tidak terjebak oleh macet.



“Jaga diri baik-baik ya dek disana, kalau butuh apa-apa telepon aja.” ucap Verrel pada adiknya.



“Iya kak, yaudah hati-hati dijalan ya. Assalamu’alaikum” Senja mencium tangan kakaknya.



Raina hanya menyaksikan mereka berdua tanpa membuka suara, namun sudut bibirnya membuat lengkungan senyum.



‘*Kenapa melihat mereka berdua aku jadi kangen sama Kak Deva*’ batin Raina.



Entah mendapat bisikan apa atau pikiran darimana, dia bisa merasakan kerinduan kecuali dengan Mama Lita. Raina langsung menyadarkan dirinya agar tidak terjerumus kedalam dosa.



“Makasih Kak udah ngasih tumpangan buat aku, hati-hati dijalan.” ujar Raina pada Verrel, kemudian Verrel masuk kedalam mobil meninggalkan Senja dan Raina yang masih berdiri diparkiran.



“Yaudah yuk kita masuk” tangan kanan kiri Senja merangkul pundak Raina.



Semua murid kelas XI sudah berkumpul diaula sambil membawa bawaan mereka, setelah mendapatkan beberapa pengarahan dari kepala sekolah dan do’a bersama, semuanya berangkat menggunakan bus sesuai dengan kelas masing-masing.

__ADS_1



Banyak hal yang dilakukan para siswa untuk mengatasi kejenuhannya karena jalanan macet, ada yang bersenda gurau dengan teman sebangkunya, ada yang karaokean bersama, ada yang makan, bahkan ada pula yang memilih untuk tidur.Mereka semua akhirnya sampai ketempat tujuan, butuh waktu kurang lebih 4 jam karena jalanan macet.



“Akhirnyaaaaaa sampai juga!!!” teriak Senja saat turun dari bus.



Bukan hanya Senja, hampir semua siswi berteriak senang kecuali dengan Raina yang hanya tersenyum sambil memperhatikan sekitar dan menghirup udara yang sama sekali tidak tercemari oleh polusi, karena mereka ada disalah satu hutan yang berada dibogor yang juga biasanya ditempati untuk camping.



Meskipun dinamakan Camping Bebas, ada juga beberapa rangkaian acara yang dilaksanakan bersama-sama, seperti api unggun dan permainan lainnya.



Raina dan ketiga temannya sedang mendirikan tenda, begitupun juga Senja dan ketiga teman sekelasnya. Mereka berdua memang tidak satu tenda namun tenda mereka bersampingan.



“Ra, kamu nanti yang masak ya? Soalnya kita nggak bisa masak hehe” ucap Amel, salah satu temannya.



“Iya, kalian bawa bahan apa?” tanya Raina padanya.



“Aku bawa tempe sama tahu buat lauk.” sahut Niken.



“Aku bawa sosis sama telur biar gampang kalau laper tinggal goreng.” imbuh Amel sambil tertawa kecil.




“Kalian kok bawanya yang berat-berat, masa aku cuma bawa bumbu-bumbu aja?” balas Raina dengan heran.



“Nggak papa, kan kamu yang masak. Jadi kita yang bawa bahannya, santai dong Ra nggak usah sungkan gitu” sahut Amel dengan ramah. Raina tersenyum bahagia, mempunyai teman setenda yang baik seperti mereka bertiga.



Meskipun mereka dari sekolah elit, namanya camping mereka harus tetap mandiri dan mendekatkan diri dengan alam. Disamping melatih kemandirian, mereka juga harus kompak dengan teman setendanya.



Mereka sudah diperintahkan untuk membawa bahan masakan untuk mereka makan, untuk beras, peralatan masak, dan dapur sudah disediakan oleh pihak sekolah. Pihak sekolah membuat 10 dapur yang akan digunakan secara bergantian nantinya.



Tenda Raina sudah berdiri kokoh, sedangkan dia melihat Senja dan ketiga temannya masih ribut sendiri. Yah, memang Raina akui dua dari ketiga teman setenda Senja memang tergolong orang yang manja dan sombong jadi ya, begitulah.



“Woy, mak lampir! Sini bantuin dong! Lo mau tidur dimana hah kalo tendanya nggak berdiri?!” sentak Senja yang sudah merasa kesal melihat Dania dan Caca hanya duduk sambil bermain ponsel tanpa membantu Senja dan Dinda yang dari tadi berusaha mendirikan tenda.



“Apa sih berisik tau nggak! Ya gue tidur ditenda lah, tapi kalian yang bangun tendanya nanti kita tinggal istirahat.” sahut Dania dengan percaya diri.



“Dihh, kalo tendanya udah berdiri dan lo sama sekali nggak ngebantu nggak bakalan gue kasih tempat kalian buat tidur!” ucap Senja dengan mengancam.


__ADS_1


“Udah deh, cepet bangun tendanya gue capek nih pengen tidur dulu.” balas Caca dengan santai.



Ingin Senja membalas omongan mereka namun Dinda mencegahnya, “PAK, DANIA SAMA CACA NGGAK MAU BANTUIN SAYA DAN SENJA MENDIRIKAN TENDA!!” teriak Dinda yang menggema keseluruh penjuru, sontak membuat Dania dan Caca bergegas berdiri dan membantu mereka berdua.



Senja tertawa kecil sambil kagum dengan tindakan Dinda, pasalnya Dinda terkenal pendiam dan pemalu dikelasnya namun kali ini dia berubah menjadi gadis yang berani. Bahkan Senja berpikir mengapa dia tidak memakai cara itu dari tadi. Raina sendiri hanya membulatkan mata melihat perlakuan temannya.



Semua tenda sudah berdiri, per regu merapikan pakaian mereka dan menata peralatannya didalam tenda. Hari menjelang sore, untuk makan siang ternyata sudah disediakan oleh pihak sekolah namun hanya satu kali itu saja, setelahnya mereka harus menyiapkan dan memasak makanan sendiri-sendiri.



Setelah sholat ashar, Raina dan Senja mencari air disungai terdekat untuk persediaan masak atau membuat minuman panas. Bukannya tidak ada air dikamar mandi, namun para guru pembimbing berkata bahwa air yang ada dikamar mandi hanya untuk mandi dan buang air.



Mereka berdua menyusuri jalan yang hanya ada pepohonan tinggi. Disepanjang perjalanannya mereka tidak mungkin diam, tentu saja sambil mengobrol bahkan sesekali bernyanyi untuk mengurangi rasa bosannya.



“Dimana sih Ra sungainya? Katanya deket?” tanya Senja yang sudah mulai kelelahan sepertinya.



“Udah capek? Sabar dong ah gitu aja ngeluh, Tuh ada anak panah didepan tinggal belok kanan sampai.” ujar Raina sambil melihat sekeliling.



Dan benar ucapan Raina, mereka berdua telah sampai ditepi sungai yang sangat jernih airnya. “Mandi disini seru deh kayaknya” ucap Senja dengan asal.



“Yaudah nyebur aja sana, aku tinggal.” Balas Raina yang sudah membawa ember yang berisikan air.



“Ra, tungguin! Berat nih!” keluh Senja yang sedikit berlari menyusul Raina.



\_\_\_\_\_



Hari semakin gelap menandakan malam akan segera tiba, teman setenda Raina sudah mandi dan selesai memasak untuk nanti malam. Sedangkan ditenda Senja, masih saja Senja beradu mulut dengan Dania dan Caca.



Setelah semuanya sudah melaksanakan Sholat Isya’, seluruh murid disuruh berkumpul untuk mengikuti pesta api unggun. Mereka semua membentuk sebuah lingkaran yang sangat besar.



Ada beberapa hiburan yang dipentaskan misalnya: bernyanyi sambil bermain gitar, stand up comedy, musikalisali puisi, musikalisasi drama, dan masih banyak lainnya. Semuanya tampak menikmati dan bahkan ikut bernyanyi bersama.



Ada dua orang laki-laki yang berdiri ditengah-tengah lingkaran yang mereka buat. Yang satu memegang gitar yang sepertinya akan dimainkan, sedangkan yang satu lagi bernyanyi. Raina mengenali suaranya namun merasa tidak mungkin jika dia sampai disini, ingin melihat wajah si penyanyi pun tidak bisa karena hanya tampak *backlight*.


.


.


Maaf kalau kecewa dengan episode kali ini, aku merasa hampa dan nggak ada emosi sedikitpun di eps kali ini. Sekali lagi maaf🙏, sekali lagi maaf karena telat update juga🖤



 

__ADS_1


__ADS_2