
Assalamu'alaikum, selamat malam maaf ya baru bisa updateđź–¤
Happy Reading, Jangan lupa LIKEđź–¤
.
.
.
Pukul 18.15 Raina tiba Di Surabaya setelah penerimaan rapor, tanpa menunggu lama dia langsung membeli tiket dan pulang Ke Surabaya saat itu. Raina langsung menuju panti menaiki taksi online yang tadi dipesannya, karena kepulangannya kali ini tanpa sepengetahuan bunda, Nadia, ataupun Alif. Setahu mereka Raina pulang satu atau dua hari setelah penerimaan rapor.
“Assalamu’alaikum” ucap Raina saat masuk kedalam panti.
“Wa’alaikumsalam Mbak Rara” balas adik perempuannya yang bernama Sinta, memang sebagian adiknya lebih memilih memanggil Raina dengan sebutan Rara. Mereka bergantian mencium punggung tangannya, Raina bahagia memiliki adik-adik yang lucu, sopan, sholeh, dan sholeha.
“Oh ya bunda, Mbak Nadia, Mas Alif dimana dek?” tanya Raina pada adik-adiknya.
“Mbak sama Mas kuliah, bunda pergi sama Bu Novi.” sahut adiknya yang bernama Tony.
“Oalah yaudah, kalian lanjut aja mainnya. Dan jangan bilang kalau Mbak pulang ya!” ujar Raina, adik-adiknya hanya mengangguk menurutinya.
Raina langsung menuju kamar sambil menarik koper kecilnya dengan malas, dia langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur berukuran kecil. Tanpa sadar dia pun terlelap dalam tidurnya.
Nadia yang baru pulang masuk ke kamar dan melihat Raina yang tidur terlelap, dia langsung meninggalkan adiknya tanpa mengganggu sedikitpun.
...---...
“Assalamu’alaikum” ucap Bunda saat memasuki rumah.
“Wa’alaikumsalam, bunda darimana? Kok pulangnya malem banget?” sahut Nadia sambil mencium punggung tangan bundanya.
“Bunda tadi ada rapat sama rekan-rekan, nggak nyangka juga bakalan sampai malem gini. Oh ya, Adik-adik kamu udah makan malam?” tanya Bunda sambil melihat jam dinding yang menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
“Udah kok bun. Oh iya bun, itu Raina udah pulang tapi masih tidur. Coba bunda bangunin, belum sholat isya’ juga kayaknya.” imbuh Nadia.
“Loh biasanya pulangnya beberapa hari setelah penerimaan rapor kan? Katanya rapornya juga nggak ada yang ngambilin” ucap Bunda, Nadia hanya menggeleng menanggapinya sambil mengangkat bahunya.
__ADS_1
“Yaudah bunda bangunin Raina dulu ya, kamu istirahat udah malem.” Bunda berkata sambil berjalan meninggalkan Nadia.
Bunda memasuki kamar Raina dengan perlahan, ia melihat putrinya yang tidur terlelap. Bukannya langsung membangunkan, bunda duduk ditepi tempat tidur sambil memandangi wajah Raina yang tertidur pulas.
“Raina sayang, ayo bangun dulu” ucap bunda sambil mengusap lembut lengan Raina.
Raina yang tertidur langsung terusik kemudian membuka matanya, “Bunda” gumam Raina sambil mengusap-usap matanya.
“Assalamu’alaikum bunda, maaf aku ketiduran.” ujar Raina sambil mencium punggung tangan bundanya.
“Wa’alaikumsalam, kok pulang nggak ngabarin bunda atau mbak sih?” sahut bunda, bukannya menjawab Raina hanya tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.
“Udah jam sembilan, ambil wudhu habis itu sholat isya’ dulu ya. Kita ngobrol besok aja nanti sehabis sholat kamu lanjut istirahat.” Bunda beranjak dari tepi tempat tidur.
“Iya bunda, selamat malam, selamat tidur, selamat istirahat bunda.” balas Raina.
Selesai sholat Raina yang tadinya ingin kembali tidur, namun rasa kantuknya hilang seketika setelah wajahnya terkena air wudhu.
“Kok aku kepikiran sama Kak Deva ya? Astaghfirullah Raina nggak boleh mikirin cowok!” Raina yang tadinya memikiran Deva langsung menepuk-nepuk pipinya untuk menyadarkan dirinya sendiri.
***
“Mau kemana pergi sepagi ini sayang?” ucap bunda sambil melihat arah jam dinding yang menunjukkan pukul 6 pagi.
“Mau kerumah mama bun, boleh?” sahut Raina.
“Boleh, tapi bolehkan bunda minta waktu kamu sebentar? Ada yang mau bunda tanyakan.” balas Bunda, kemudian Raina mengiyakan dan mereka menuju ruang kerja bunda.
“Ada apa bun?” tanya Raina setelah duduk disofa.
“Makasih sayang udah memberikan nilai terbaikmu pada bunda dan semuanya.” ucapan bunda membuat Raina tersenyum seketika.
“Oh ya, kamu bilang Bu Ina yang biasanya menjadi wali kamu sedang berhalangan? Tapi kok kamu bisa membawa rapor pulang?” bunda kembali bertanya, menanyakan hal yang dari semalam dipikirannya.
“Bunda kepo yaaa...” Raina malah bergurau membuat bunda menghela nafasnya.
Raina pun menceritakan apa yang terjadi tanpa ada yang terlewat satupun. Bunda yang hanya menjadi pendengarnya menyimak dengan seksama, awalnya bunda mengira orang tua Senja yang menjadi wali pengganti untuk Raina namun dugaannya salah. Dan, pernyataan Raina membuat bunda tertegun.
__ADS_1
“Jadi akhirnya Om Bimo yang jadi wali pengganti buat aku bun.” ucap Raina pada akhir ceritanya.
“Om Bimo?” tanya bunda yang begitu menggantung.
“Iya papanya Kak Deva.” Imbuh Raina untuk memperjelas.
***
Raina sampai dirumah mamanya tepat pukul 8 pagi, dia sendiri tidak menyangka ngobrol bersama bunda akan memakan waktu kurang lebih 2 jam namun Raina juga memakluminya. Waktu ngobrol yang mungkin terkesan lama tapi bagai Raina dan bunda waktu begitu cepat karena mereka keasikan ngobrol.
“Assalamu’alaikum” sapa Raina pada para pelayan saat memasuki rumah mamanya.
“Wa’alaikumsalam, selamat pagi non, apa kabar?” sahut para pelayan.
“Alhamdulillah bi, jangan panggil saya non. Panggil Raina aja, anggap saya seperti keluarga sendiri jangan sungkan ya.” pinta Raina dengan tulus dan tersenyum manis.
“Biarkan kami memanggil Mbak Raina saja ya?” sahut kepala pelayan yang bernama Mbok Inah.
“Baiklah mbok, lanjutkan saja pekerjaannya saya hanya ingin keruang kerja mama.” Raina langsung beranjak meninggalkan para pelayan dengan pekerjaannya.
“Masyaallah ibu dan Mbak Raina sama-sama memiliki hati yang baik, saya yakin papa dan kakaknya juga orang yang baik.” Gumam Mbok Inah yang melihat Raina jalan menjauh darinya.
...---...
Raina terus berkeliling dirumahnya, disetiap sudut memiliki kenangan bersama mamanya meskipun dia mengetahui bahwa Mama Lita adalah mama kandungnya belum lama. Namun ikatan batin antara ibu dan anak selalu ada sehingga mereka dekat dalam waktu yang cepat.
Raina percaya mamanya sudah bahagia dan tenang diatas sana, apalagi dia sudah bisa mengikhlaskan kepergian Mama Lita untuk selama-lamanya. Memang Mama Lita tidak ada disisinya namun kata-kata bahwa mama selalu ada didalam hatinya sudah melekat dalam dirinya.
Dulu hanya ada tangis, kesedihan, dan duka saat Raina memasuki rumah Mama Lita setelah meninggalnya. Namun sekarang, saat kakinya melangkah masuk semua kesedihan sudah diganti senyuman yang mengingatkan kenangan tentang Mama Lita.
Raina tidak mau mamanya disana sedih melihatnya yang terus terpuruk dan meratapi kepergian mamanya.
.
.
Jangan lupa LIKEđź–¤
__ADS_1
terimakasih, follow juga ig ku : erlindans__
Kalau mau di folback Dm aja yaa🤗