Inseparable

Inseparable
Mama Jahat!!


__ADS_3

Assalamu'alaikum, JANGAN LUPA LIKE 🖤🖤


.


.


‘Pyar!’


Senja dan Raina sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Bianca pada ponsel milik Senja barusan. “OH ****!!!” Senja langsung berteriak seketika melihat ponselnya sudah pecah akibat dibanting oleh Bianca.


“DASAR CEWEK GILA!!!” Senja seperti sedang kesurupan membuat Raina bingung bagaimana menenangkannya.


“Kenapa? Denger ya SENJA! Jangan berani-beraninya berurusan sama gue!” ucap Bianca, membuat Senja memutar bola matanya dengan malas sambil menyeringai.


“Tenang aja, gue bakalan ganti HP lo dengan keluaran yang terbaru kok.” imbuh Bianca yang begitu enteng.


“Cihh... bener-bener nggak waras lo ya?!” Senja benar-benar merasa bahwa perempuan yang dihadapannya memiliki gangguan kejiwaan.


“Nja udah, ayo nggak usah diladeni.” Raina langsung mengajak Senja pergi menjauh dari Bianca daripada Senja terus mengumpat tidak jelas dan malah menimbulkan banyak dosa.


“Ra, tuh cewek emang sinting ya? Ngapain dia banting HP gue kayak tadi?!” ujar Senja dengan frustasi.


Tadi Senja dan Raina sedang menikmati makan siang dikantin tiba-tiba datang Bianca dan gengnya yang langsung merampas ponsel Senja yang berada diatas meja, tidak sampai disitu dia langsung membantingnya kelantai dengan sangat keras hingga layarnya sudah seperti sarang laba-laba alias pecah.


Senja semakin emosi karena setelah merusak ponsel miliknya dengan santai Bianca langsung mengatakan bahwa dia akan menggantinya dengan yang baru.


Jangankan Bianca mengganti bahkan disaat itu juga Senja bisa saja langsung menelepon seseorang untuk membelikan ponsel berlogo apel tidak utuh keluaran terbaru 10 unit sekaligus. Tapi, ponsel yang sudah rusak itu adalah pemberian atau hadiah ulang tahunnya kemarin dari kakak tersayangnya.


“Bianca bodoh apa gimana sih Ra? Dikira setelah ngrusak HP aku rekaman kemarin ilang? Ya enggak lah! Dilaptop, 3 flashdisk, dan bahkan diHP kamu juga ada!” Senja terus mengomel, Raina hanya tertawa sambil menggelengkan kepala.


***


Senja melupakan masalah ponselnya yang rusak, dia juga sudah menyerahkan rekamannya pada kepala sekolah namun hasilnya nihil. Dia juga ingin melaporkan kelakuan adik angkatnya pada Deva namun Raina terus mencegahnya. Okay terserah Raina, Senja akhirnya ikutan acuh menyikapi Bianca yang semakin menjadi-jadi.


Hari berlalu begitu cepat, sebulan kemudian. Dimalam hari yang cuacanya tidak begitu bagus, suara gemuruh sesekali terdengar dari atas langit bahkan beberapa kilatan yang terlihat dari jendela kamar kost yang Raina tempati, menandakan sebentar lagi mungkin akan turun hujan.


Raina dibuat cemas, sangat cemas dan pikirannya sudah travelling kemana-mana. Sudah sebulan mamanya tidak ada kabar bahkan saat dia menelepon nomornya tidak aktif, apabila mamanya mengganti nomor otomatis ia akan mengabarinya. Sempat bertanya pada bundanya namun jawaban bunda sangat ganjal menurutnya.


“Ponsel Lita sedang rusak, dan lagi dia sibuk karena banyak sekali pekerjaan. Kamu harap maklum ya...” itulah kalimat yang selalu bunda lontarkan padanya.


Bukan hal yang sulit untuk mamanya membeli ponsel baru jika memang benar ponselnya sedang rusak. Apalagi menggunakan alasan sibuk, Mama Lita yang dikenal Raina pasti akan selalu menyempatkan waktu untuk menanyakan kabar dan selalu setia mendengarkan cerita yang dilontarkan olehnya.


Raina pernah mengalami mimpi buruk sehingga dia selalu cemas akan Mama Lita yang jauh dari dirinya namun dia harus berdo’a agar semuanya akan baik-baik saja.


Dua bulan sudah Raina yang setiap harinya, setiap menit bahkan setiap detik selalu memikirkan mamanya yang hilang darinya. Dia sangat takut jika Mama Lita akan pergi meninggalkannya namun itu tidak mungkin bukan, itulah pikiranya.

__ADS_1


Seminggu Raina menjalani ujian akhir semester, “Nja aku besok mau ke Surabaya.” ucapan Raina membuat Senja melongo hingga mulutnya berbentuk O.


“Nggak nunggu penerimaan rapor dulu?” Senja heran mengapa Raina begitu gelisah.


“Senja, Raina kalau kalian masih ngobrol silahkan keluar!” satu kalimat tegas dari sang ketua OSIS. Yah, karena mereka sedang rapat untuk acara classmeeting besok.


“Maaf kak.” dua kalimat yang bisa mereka lontarkan karena merasa salah.


***


Raina tiba di stasiun yang ada di Surabaya sekitar 10 menit yang lalu, dia masih duduk dikursi untuk menunggu jemputan dari Alif.


Raina tidak bercanda pada ucapannya saat itu, sepulang sekolah dia langsung memesan tiket kereta lalu dia mengemas beberapa barang yang akan dibawanya. Perasaanya sangat tidak enak, sampai dikota tujuannya pun dia belum tenang karena belum bisa melihat mamanya.


“Dek, kok kamu dadak banget sih? bukannya penerimaan rapor masih minggu depan?” tanya Nadia yang datang bersama Alif.


Raina langsung mencium punggung tangan kakak perempuan dan memeluknya secara singkat namun tidak dengan kakak laki-laki yang bukan mahramnya itu.


“Aku kangen sama mama mbak.” ucap Raina dengan singkat, tegas, tanpa tersenyum.


‘Deg!’


Darah Nadia langsung berdesir mendengar penuturan gadis berhijab yang sudah dianggapnya sebagai adik kandung. Nadia dan Alif langsung saling pandang, “Yaudah yuk?” ajak Alif pulang namun tujuannya ke panti.


“Mas, kerumah mama dulu ya?” ucap Raina setelah melihat jalan yang dilewati bukanlah menuju rumah Mama Lita namun panti asuhan.


Sampainya didepan panti, Raina enggan untuk turun karena ingin sekali segera sampai dirumah Mama Lita. “Dek, ayo turun dulu salim sama bunda. Masak iya kamu mau nunggu disini?” Alif mencoba untuk membujuk Raina.


‘Mengapa semuanya seperti mengulur waktu?’ batin Raina.


Akhirnya Raina turun, dan mencium punggung tangan bunda yang sudah menunggunya didepan ruang tamu. “Gimana kabar kamu Raina?” tanya bunda sambil mengusap bahunya.


“Alhamdulillah bun.” jawabnya dengan singkat.


“Kamu kok pulangnya lebih cepet? Apa nggak papa ijin sekolah sebelum penerimaan rapor?” bunda kembali bertanya sambil menyuruh Raina duduk disofa yang ada diruang tamu.


“Iya bun, nggak papa kok. Aku kangen sama mama, aku pengen ketemu mama bun.” hanya itu yang keluar dari mulut Raina tanpa ekspresi.


Bunda, Nadia, dan Alif langsung saling pandang. “Ayo mas, mbak katanya tadi jemput bunda dulu habis itu kerumah mama. Berangkat sekarang aja, keburu adzan...” baru saja selesai mengatakan, adzan dzuhur telah berkumandang.


“Ayo sholat dulu ya?” pinta bunda. Raina langsung menuju kamar diikuti Alif yang membawakan koper miliknya.


“Bun, gimana kita ngomongnya?” tanya Nadia dengan gelisah.


“Masyaallah, ikatan batin seorang ibu dan anak memang sangat kuat.” imbuh Nadia.

__ADS_1


“Ayo sholat, setelah itu kita antarkan adekmu ya.” sahut bunda sambil mengusap punggung Nadia.


***


Seperti apa yang diucapkan bunda, selesai melaksanakan sholat dzuhur akhirnya mereka berempat menuju kerumah Mama Lita sesuai yang diinginkan Raina. Sampainya didepan gerbang Pak Agus membukakan gerbang dan mempersilahkan mereka masuk. Pak Agus adalah satpam yang sudah mengabdi dengan mamanya Raina selama 17 tahun. Istrinya bernama Minah, ia juga menjadi kepala ART dirumah mamanya.


“Assalamu’alaikum....” sapa Raina dengan tersenyum.


“Wa’alaikumsalam mbak.” sahut para pelayan yang berada dirumah mamanya.


Seperti biasanya Raina selalu disambut layaknya seorang tuan putri. Meskipun dia selalu bilang untuk memperlakukannya seperti orang biasa namun para pelayan tetap saja menyambut putri satu-satunya dari majikan yang telah baik pada mereka.


“Mama ada?” tanya Raina, bukannya mendapat jawaban semua pelayan justru terlihat terkejut mendengarkan pertanyaan dari Raina dan langsung menunduk.


“Kok pada diem?” imbuh Raina. Tanpa kembali bertanya dia langsung berlari menaiki lantai dua menuju kamar mamanya.


Kamarnya sepi yang berati mamanya tidak ada disana, semua ruangan Raina masuki sampai akhirnya kembali bertanya pada para pelayan yang masih setia berdiri didepan ruang tamu.


“Mama kerja? Bi, mama ganti nomor ya? Udah dua bulan aku nggak bisa menghubunginya.” tutur Raina yang membuat semuanya tetap membisu.


“Raina duduklah, biar bunda yang bicara.” pinta Bunda dan akhirnya Raina duduk disebelahnya, Nadia dan Alif juga ikut duduk namun belum membuka suaranya sama sekali.


“Bunda harap kamu bisa tabah dan sabar ya sayang?” ucapan bunda yang membuat Raina berpikir kemana-mana namun segera dia menyangkalnya.


“Sebelumnya bunda minta maaf, harusnya bunda bilang dari awal namun....” imbuh bunda yang sangat bertele-tele menurut Raina.


“Bunda, kalau mama kerja mending Raina kesana aja sekarang. Raina udah kangen sama mama.” Raina langsung beranjak dari duduknya, baru dua langkah dia berjalan.


“Mama kamu sudah meninggal dua bulan yang lalu.” ucap bunda menghentikan langkahnya.


‘DEG!!!!’


Satu kalimat yang dilontarkan oleh bunda sontak membuat jantungnya seolah berhenti berdetak, darahnya berhenti mengalir, lidahnya keluh, dan badannya terasa kaku. Raina syok kemudian menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


“Maksud bunda?” bibir Raina bergetar, dia membalikkan tubuhnya menghadap bunda.


“Mama kamu meninggal satu minggu setelah dari Jakarta,” bunda mengulangi ucapannya.


“Nggak! Ini nggak mungkin kan mbak, mas, bi?!” Raina masih mencoba mengontrol dirinya. Matanya mulai terasa panas hingga air matanya jatuh membasahi pipi mulusnya.


“Mama nggak mungkin ninggalin aku?! Mama sayang sama aku bun, mama nggak mungkin pergi duluan! Hiks.. hikss..” Raina berteriak seakan tidak terima, lututnya terasa lemas hingga dia terjatuh dilantai kemudian menangis.


“MAMA JAHAT!!! Hiks.. hikss.. hiks” Raina terus terisak, Nadia mendekati kemudian memeluknya untuk memenangkan.


“Mamaaaaaaa.... Jangan tinggalin aku sendiri..” Raina masih menangis tersedu-sedu hingga sesenggukan dan tentunya Nadia masih memeluk adiknya agar tenang dan bisa mengikhlaskan apa yang telah terjadi.

__ADS_1


“Dek? Dek bangun...” Nadia sangat panik melihat adiknya ternyata pingsan. Alif langsung membawanya kekamar yang ada dilantai bawah. Pelayan yang berada dirumah Mama Lita langsung menelepon dokter pribadi majikannya.


 


__ADS_2