
5 tahun yang lalu.
Verrel sekolah di SMP elit bertaraf internasional saat itu, dengan mudah dia menjadi murid disana karena kekayaan melimpah yang dimiliki oleh kedua orang tuanya. Verrel Mathew Aditya, dia merupakan putra sulung dari Keluarga Aditya dan memiliki seorang adik perempuan yang terpaut usia 2 tahun, dia bernama Senja Nirmala Aditya. Kedua orang tuanya memiliki sebuah perusahaan yang dinamai Aditya Group.
Verrel sangat menyayangi adik satu-satunya itu begitupun dengan sebaliknya, mereka tidak bisa dipisahkan dari SD bahkan sampai SMP mereka selalu bersekolah ditempat yang sama. Bagi Senja, Verrel adalah sosok kakak yang selalu melindunginya saat disekolah bahkan jika dia melakukan kesalahan dirumah dan saat itu juga ada Verrel disisinya Verrel lah yang selalu mendapat omelan dari papanya.
Entah pilih kasih atau bukan, Verrel tidak pernah menghirukan itu karena baginya melindungi seorang adik merupakan salah satu hal yang penting dihidupnya. Namun Senja juga bukan sosok adik yang egois dan terima kakak tersayangnya dimarahi oleh papanya atas kesalahan yang telah dia perbuat.
Mungkin seorang ayah memang menyayangi putrinya dengan cara yang bisa dibilang berlebihan, namun itulah bentuk kasih sayangnya pada putrinya. Akan tetapi lambat laun papa mereka berlaku adil dan menyayangi mereka berdua.
Saat itu Verrel menginjak kelas IX SMP dan saat itu ada sebuah pesta kelulusan disekolahnya yang digelar cukup meriah karena sekolah itu diisi dengan anak-anak seorang pengusaha yang kaya raya.
“Selama kak, kakakku yang sangat ganteng ini lulus dengan nilai yang sempurna.” ujar Senja sambil memeluk kakak tersayangnya yaitu Verrel.
“Yang nilainya sempurna bukan cuma aku doang dek, ada Deva sama Nathan juga” sahut Verrel membalas pelukan Senja.
Sejak SMP juga Devano, Jonathan, dan Verrel mendapatkan julukan ‘Tiga Pangeran sekolah’.
Devano dan Jonathan sudah bersahabat sejak kecil bahkan dari TK mereka sekolah disekolahan yang sama lalu mereka berdua bersahabatan dengan Verrel dan Sonya saat masuk SMP. Dari saat itulah Senja mengenal mereka berempat dengan baik.
“Tapi bagiku, Kak Verrel lah yang paling terbaik hehe” ucap Senja dengan tulus sambil tersenyum.
“Besok kita rayain dirumah ya kak sama mama dan papa, mereka pasti sangat senang putranya mendapatkan nilai yang sempurna.” Imbuh Senja yang masih menampakkan senyumnya yang begitu manis.
“Iya pasti!” sahut Verrel merasa bahagia bisa melihat adiknya tersenyum setiap saat bahkan dia berjanji untuk membuat adiknya selalu bahagia dan tersenyum.
Disore hari akan ada sebuah wisuda yang mengundang para orang tua untuk menghadiri acara tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Senja memang benar kedua orang tua mereka sangat senang mengetahui putranya mendapatkan nilai yang sempurna seperti kedua sahabatnya, Deva dan Jonathan.
“Papa bangga sama kamu dan kamu pantas menjadi penerus Aditya Group.” ucap papa sambil memegang bahu putra sulungnya dengan bangga.
“Selamat ya sayang” ucap mama sambil memeluk putranya.
“Makasih ma, pa. Aku masih SMP pa, dan masih harus banyak belajar.” ujar Verrel dengan rendah hati.
“Oh ya nanti kamu pulang bareng Senja ya, soalnya habis ini kami harus menghadiri undangan dari klien” imbuh papa.
“Siap pa!” balas Verrel dengan mantap.
Kemudian Verrel mengantarkan kedua orang tuanya sampai didepan gerbang sekolah lalu dia kembali masuk ke dalam mencari adiknya.
“Halo, dek kamu dimana? Cepet kesini, kakak tunggu didepan perpustakaan” ucap Verrel melalui via telepon saat menghubungi adiknya.
Selang beberapa menit Senja datang menghampiri kakaknya, “Apa kak?” tanyanya.
“Kamu mau pulang kapan? Nanti pulang bareng aku ya, papa sama mama udah pulang duluan ada janji sama klien.” ucap Verrel dan Senja hanya menanggapi dengan mangut-mangut.
Merasa gemas dengan tingkah Senja, Verrel langsung menyentil keningnya membuat Senja manyun dan Verrel malah tertawa terbahak.
“Hei bro, nanti mau ikut nggak?” tanya Jonathan yang baru saja datang langsung merangkul bahu Verrel sambil memainkan alisnya. Jonathan datang tidak sendirian tapi bersama dengan Deva.
“Jauh jauh sana jijik gue deket sama lo!” ucap Verrel dengan asal.
“Haha gimana nanti ikut nggak? Kita nggak akan lengkap tanpamu” ujar Jonathan sambil tertawa sedangkan Deva hanya menggelengkan kepalanya melihat kekonyolan kedua sahabatnya itu dan Senja hanya menyimak pembicaraan mereka.
Verrel diam seperti sedang berpikir sambil menatap Senja, saat ingin mengucapkan sesuatu Senja lebih dahulu berbicara. “Udah sana kak nggak papa ikut aja, nanti aku bisa pulang naik taksi kok” ucap Senja mencoba memberi pengertian sambil tersenyum.
__ADS_1
“Noh, udah dapet ijin dari adik tercintah gimana?” Jonathan kembali bertanya dan menampilkan ekspresi yang benar-benar membuat Verrel muak.
“Nggak lah, gue dapet amanah dari bokap buat nganterin Senja pulang.” ucap Verrel.
“Kak Verrel ikut kok kak, nanti aku pulang naik taksi aja. Yaudah yaa aku balik sama temen-temen dahh, have fun kakak mwah” sahut Senja mencium kakaknya dari jauh sambil melambaikan tangan lalu meninggalkannya.
“Yaudah deh gue ikut” ujar Verrel membuat Jonathan bersorak gembira dan Deva hanya tersenyum sambil mangut-mangut.
Kelas IX akan menggelar sebuah pesta dihotel berbintang untuk merayakan kelulusannya tanpa ada adik kelas ataupun guru. Jonathan mengajak Verrel karena ingin formasi ‘Tiga Pangeran Sekolah’ lengkap.
***
Verrel dan kedua sahabatnya sudah berpakaian rapi dan sudah berada ditempat pesta. Hampir semua murid mengikuti acara kelulusan, mereka bertiga menikmati acara itu dan Sonya juga ada diantara mereka.
“Gue telepon adik gue dulu ya, disini berisik” ucap Verrel mendapatkan respon anggukan dari ketiga sahabatnya.
Verrel berjalan ketoilet karena hanya disanalah yang sunyi menurutnya, sampainya ditoilet dia langsung menghubungi adik tersayangnya.
“Halo kak?”
“Udah pulang dek?”
“Ini lagi dijalan kak, bentar lagi sampai.”
“Yaudah nanti kalo sampai rumah kabarin ya.”
“Siap kak, have fun kakak"
Verrel tersenyum lega mendengarkan suara adiknya melalui via telepon, kemudian dia kembali menghampiri sahabat-sahabatnya.
“Lo kenapa sih Rel?” tanya Deva yang melihat sahabatnya tampak bingung.
“Nggak tau, perasaan gue nggak enak Dev. Gue pulang dulu ya mau lihat Senja udah sampai rumah belum.” ucap Verrel dengan wajah yang tidak bisa didefinisikan.
“Yaudah kita pulang aja biar gue yang anter.” ucap Jonathan.
Akhirnya mereka bertiga pulang kerumah Verrel untuk memastikan apakah Senja udah sampai dirumah atau belum. Sampainya dirumah, Verrel langsung keluar dari mobil dan berlari masuk kedalam rumahnya yang ternyata kedua orang tuanya juga belum sampai dirumah.
Verrel panik mencari semua sudut rumah dan bertanya pada para pelayan dan penjaga rumah namun mereka mengatakan bahwa Senja belum pulang sejak tadi. Kedua sahabat Verrel juga ikut panik mendengarnya.
“Lo lacak aja Rel lewat panggilannya Senja tadi.” saran Deva, kemudian Jonathan yang merebut ponsel Verrel untuk melacaknya karena Verrel sedang merasa kacau.
Setelah mendapatkan lokasinya mereka bergegas menuju lokasi tersebut, “Kok lokasinya nggak jalan sih!?” ucap Verrel dengan geram.
“Perasaan gue nggak enak, nanti kalau sampai terjadi apa-apa sama Senja gue nggak akan maafin diri gue sendiri!” keluh Verrel sambil mengacak rambutnya dengan kasar.
“Udahlah Rel, jangan mikir yang enggak-enggak mungkin aja jalannya macet makanya tuh lokasi diem aja.” ucap Jonathan berusaha menangkan.
“Ini udah jam 8 malem nggak mungkin macet didaerah sana!” sarkas Verrel dengan nada tinggi.
Deva yang sedang mengemudi melirik Jonathan memberikan kode untuk tidak menanggapi Verrel mungkin pikirannya sedang kacau sekarang. Deva melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena Verrel tidak sabaran dan memintanya agar segera sampai kesana.
Sampainya dilokasi yang telah dilacak, banyak sekali polisi yang menutup jalannya, dengan sangat tidak sabaran Verrel langsung keluar dan memastikan apa yang terjadi.
‘Degg!’ dunia Verrel rasanya berhenti disitu juga, didepan matanya terjadi kecelakaan beruntun yang sangat parah. Verrel berlari dan memaksa masuk kearea kecelakaan namun dihentikan oleh polisi setempat.
__ADS_1
“Maaf mas, dilarang melewati garis polisi.” ucap seorang polisi dengan ramah.
“Nggak saya harus masuk!” Verrel tetap memaksa dan malah menimbulkan sedikit keributan disana.
Deva dan Jonathan yang tadinya ketinggalan oleh Verrel akhirnya menemukan Verrel ditahan oleh beberapa polisi karena membangkang.
“Pak biarin kami masuk, dia mau cari adiknya yang menaiki salah satu taksi. Ini kartu nama saya, saya dari Keluarga Anggara.” ucap Deva mencoba bernegosiasi pada polisi itu dan akhirnya mendapatkan ijin.
Mereka mencari akhirnya menemukan sebuah taksi yang sangat parah keadaannya, tanpa sengaja Jonathan menginjak sebuah ponsel yang berlumuran darah didekat taksi tersebut. Kaki Verrel merasa lemah dan jatuh ketanah karena ponsel yang ditemukan itu adalah milik adik tersayangnya.
Dengan sigap Jonathan langsung bertanya pada petugas yang ada disana dirumah sakit mana korban kecelakaan dibawa. Setelah mendapatkan info mereka menuju ke rumah sakit terdekat untuk mencari Senja.
Kecelakaan beruntun yang disebabkan oleh seorang supir truk bermuatan mengantuk kemudian menabrak 4 mobil dan 2 taksi, korban meninggal ada 5 orang dan 3 orang luka parah dilarikan kerumah sakit terdekat.
***
“Sus, korban kecelakaan dibawa keruang mana ya?” tanya Deva pada salah seorang suster yang menjaga resepsionis.
“Tadi ada 3 korban dengan luka parah kemudian yang satu sudah meniggal dunia sudah dibawa keruang jenazah dan kedua pasien lainnya masih diruang ICU mendapatkan perawatan lebih lanjut” sahut seorang suster.
“Korban yang meninggal laki-laki atau perempuan?” tanya Deva dengan ragu.
“Perempuan kisaran usia belasan tahun” ucapan suster tersebut sontak membuat ketiganya membeku, Verrel langsung berlari menuju ruang jenazah diikuti oleh Joanthan.
“Makasih sus” ucap Deva dengan ramah kemudian dia ikut berlari mengejar kedua sahabatnya.
Sampainya didepan ruang jenazah, Verrel langsung masuk begitu saja sedangkan Jonathan terhenti sebentar didepan pintu untuk bernafas sejenak karena dari tadi dia berlarian mengejar Verrel. Sampainya Deva diruang jenazah dia langsung menarik Jonathan untuk masuk menemani sahabatnya.
“Dek, ini nggak mungkin kamu kan? Maafin kakak, harusnya kakak tadi nggak seneng-seneng sama yang lainnya. Harusnya kakak tadi nganterin kamu pulang dan kita rayain kelulusan kakak sama mama dan papa, maafin aku dek” Verrel menangis tersedu-sedu didepan jenazah itu.
Deva dan Jonathan ikut prihatin melihat sahabatnya yang begitu sangat terpukul, tidak lama kemudian ada kedua orang tua yang memasuki ruang jenazah itu dengan tangisan yang tak kalah serunya.
Ternyata jenazah itu bukanlah Senja adik Verrel melainkan orang lain yang memang seumuran dengan Senja. Ada perasaan lega namun juga masih cemas, dimanakah adiknya sekarang.
Deva kembali bertanya kepada suster kemudian mereka bertiga berjalan menuju ruang ICU dan yah, ternyata Senja lah salah satu korban dengan luka yang cukup parah. Suster itu dapat mengetahui bahwa dia Senja melalui identitas yang ada didompetnya yang terdapat dalam tas ransel miliknya.
Kaki Verrel melemah dan jatuh kelantai, Deva langsung membantunya berdiri lalu duduk dikursi yang ada didepan ICU.
“Apakah anda keluarga dari pasien perempuan yang ada didalam?” tanya dokter yang baru saja keluar dari ruangan.
“Ya dok, saya kakaknya. Bagaimana kondisi adik saya?” tanya Verrel yang sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaaan Senja.
“Kami harus segera mendapatkan persetujuan dari pihak keluarga untuk melakukan beberapa operasi demi keselamatan pasien.” ujar dokter membuat Verrel membisu, mendengarkan kata ‘beberapa operasi’ itu artinya kodisi Senja sangatlah parah itulah yang ada dipikirannya sekarang.
“Lakukanlah apapun dok, pastikan adik saya selamat.” sahut Verrel dengan mantap.
.
.
.
Assalamu'alaikum maaf banget aku telat up, semoga teman-teman nggak lupa sama alurnya yaa 🙄
Semoga teman-teman selalu dalam keadaan sehat selalu aamiin, thanks yang selalu support dan meninggalkan jejak Like. Love you All🖤🖤🖤🤗
__ADS_1