
Assalamu'alaikum, selamat sore maaf ya baru bisa update🖤
Happy Reading, Jangan lupa LIKE🖤
.
.
.
“Alhamdulillah ya, keadaan Mbak Raina lebih baik dari yang sebelumnya” ucap salah satu pelayan.
“Iya alhamdulillah” sahut yang lainnya.
“Udah lanjutkan pekerjaan kalian, jangan ngegosip aja” Mbok Inah datang dari belakang mereka kemudian mereka bubar begitu saja.
...----...
Raina memasuki ruang kerja milik mamanya, dia langsung tertegun saat melihat foto berukuran besar yang terpajang disana. Foto keluarga yang pernah dilihatnya saat diapartemen saat itu.
“Mama punya foto ini disini?” gumamnya sambil mendekati foto tersebut.
Dari pertama Raina memasuki rumah mamanya baru kali ini dia masuk keruang kerja milik mamanya. Baru pertama kali masuk, dia sudah dikejutkan dengan keberadaan foto milik keluarga kecilnya.
“Oh iya, aku belum ke puncak untuk mencari jawaban dari semuanya.” lagi-lagi Raina bergumam pada dirinya sendiri.
Raina berkeliling disana, namun tidak mendapatkan apapun kecuali hanya foto berukuran besar yang terpapang jelas disana. Padahal dia ingin mendapatkan kepingan petunjuk lainnya disini.
‘Tok... tokk.. tokk’ Ketukan pintu membuyarkan Raina, dia langsung bergegas membukakan pintu.
“Oh mbok, ada apa ya?” ucap Raina dengan ramah pada Mbok Inah saat ia mengetuk pintu.
“Sarapannya sudah siap, mau makan sekarang atau nanti mbak?” tanya Mbok Inah.
“Ah, seharusnya tidak perlu repot-repot mbok. Tapi makasih, saya akan segera turun.” Raina tersenyum, kemudian Mbok Inah meninggalkannya.
Raina menuruni tangga kemudian menuju meja makan, dia tertegun melihat satu meja makan penuh dengan makanan dengan aneka ragam lauk pauk, sayur, dan buah-buahan.
‘Bagaimana bisa satu orang dihidangi makanan sebanyak ini?’ batin Raina sambil tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Ehem, makan bareng-bareng aja yuk? Nggak mungkinkan saya makan sendirian dengan makanan sebanyak ini?” ucap Raina pada para pelayan.
“Maaf mbak, bukannya kami menolak tapi tidak sopan jika kami makan bersama dengan majikan.” sahut Mbok Inah.
“Nggak ada kata majikan ataupun pelayan disini, kita semua sama, satu keluarga. Ayo duduk, kita makan bareng” ucap Raina dengan serius.
“Kalau nggak mau, saya juga nggak akan makan” imbuh Raina setengah mengancam.
“Baik mbak” sahut Mbok Inah, kemudian para pelayan yang berdiri menduduki kursi kosong dan menemani Raina sarapan.
__ADS_1
Raina tersenyum melihatnya, bahkan untuk mengurangi rasa canggung sesekali dia mengajaknya ngobrol ringan.
Selesai sarapan, Raina tidak langsung pergi begitu saja. Bahkan dia membantu membersihkan meja makan dan mencuci piring. Tidak hanya sekali dua kali Mbok Inah melarangnya namun Raina tidak mempedulikan.
...-----...
Raina duduk ditaman rumahnya sambil membaca buku, sambil menghirup udara segar dia ingin bernostalgia sedikit mengenai mamanya. Saat tengah menikmati udara yang begitu sejuk ada suara yang membuyarkannya.
“Siapa kamu?” ucap Raina saat menoleh mendapati seorang pria muda yang berumur sekitar 22 tahunan dengan setelan jas berwarna navy yang tampak begitu elegan, gagah, dan juga tampan.
“Saya...” belum selesai bicara, Raina sudah memotongnya.
“Keluar! Siapa yang mengijinkanmu masuk?!” entah mengapa Raina yang ramah menjadi tampak begitu galak dan sinis.
“Tapi non, saya itu...” lagi-lagi Raina memotong ucapannya.
“Keluar!” bentak Raina. Pria itu menghela nafasnya sejenak kemudian pergi meninggalkan Raina sendirian ditaman.
“Astaghfirullah” Raina kemudian kembali duduk sambil mengusap wajahnya yang terasa panas. Kepalanya mendadak pusing begitu saja, lalu dia memutuskan untuk kembali masuk kerumah.
“Mbok saya ingin tidur sebentar, kepala saya pusing. Nanti kalau ada pengacaranya mama yang datang kesini tolong bangunkan saya ya?” ucap Raina pada Mbok Inah saat tidak sengaja berpapasan dengannya.
“Ah iya baik mbak” sahut Mbok Inah dengan ragu-ragu.
Kemudian Mbok Inah menghampiri pria yang tadi diusir Raina keruang tamu.
“Tidak apa-apa bi, mungkin kehadiran saya membuat Non Raina nggak nyaman. Saya menunggu saja disini.” balas laki-laki itu dengan sopan.
“Yaudah mas, anggap aja rumah sendiri. Saya ambilkan minum sebentar ya” sahut Mbok Inah, dia menanggapinya dengan mengangguk sambil tersenyum.
***
Raina membuka matanya, dia melihat sekeliling yang merasa tak asing baginya. Satu jam Raina tertidur dikamar yang ditempatinya dulu bersama dengan Mama Lita. Melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah satu siang, Raina langsung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu kemudian melaksanakan sholat dzuhur.
“Kenapa tadi aku marah-marah? Apa jangan-jangan dia kakak? Oh nggak mungkin!” gumam Raina pada dirinya sendiri.
“Tapi kalau bukan, dia siapa? Aku nggak ada janji selain sama pengacaranya mama, Astaghfirullah.” imbuh Raina merasa frustasi.
‘Tok... tokk.. tokk’ lagi-lagi suara ketukan pintu membuat Raina tersadar akan lamunannya.
“Maaf mbak, mbak udah sholat?” tanya Bi Ani, salah satu pelayan yang ada dirumah Mama Lita.
“Udah Bi, oh iya pengacaranya mama udah dateng belum?” ucap Raina memastikan.
“Udah mbak, dari tadi saat Mbak Raina baru tidur.” balasnya.
“Kok nggak bangunin saya? Atau kenapa nggak balik aja nanti dianya?” tanya Raina yang entah pada Bi Ani atau pada dirinya sendiri.
“Ditunggu diruang tamu mbak, mau saya antarkan?” balas Bi Ani.
__ADS_1
“Nggak usah bi, makasih ya” Raina tersenyum kemudian berjalan menuju ruang tamu.
... -----...
“Kamu masih disini? Mana pengacara yang tadi dibilang sama bibi?” tanya Raina dengan nada ketus.
“Saya non” jawab pria itu membuat Raina mengerutkan dahinya.
“Mak-sud-nya?” sahut Raina dengan terbata-bata.
“Saya menggantikan Pak Yoan, beliau ayah saya dan sedang sakit. Tadi saat ayah saya ingin kesini sakit lambungnya kambuh, jadi saya yang menggantikannya.” Imbuh pria itu dengan sopan.
‘Astaga Raina, kenapa tadi nggak dengerin dulu penjelasannya? Kenapa tadi langsung bentak-bentak dia dan malah ngusir gitu aja?’ batin Raina.
“Oke, langsung aja. Ada perlu apa sampai Pak Yoan mengajak saya bertemu, silahkan duduk!” ucap Raina yang masih berusaha bersikap biasa.
Pria tersebut kemudian membacakan berkas-berkas yang dibawanya, Raina hanya mendengarkan namun tidak begitu konsentrasi pada apa yang diucapkan oleh pria itu.
‘Bisa-bisanya aku mikir kalau dia tadi tuh kakak, aku membentaknya apa karena sebenarnya aku belum siap untuk mengetahui semuanya? Tentang papa atau kakak kandungku?’ batin Raina yang terus menggebu.
“Itu isi berkasnya non, adakah yang belum jelas?” ucapan pria itu membuat Raina terkejut seketika.
“Ah maaf bisa katakan tadi intinya apa?” tanya Raina karena dia memang tidak mendengarkan dengan serius apa yang diucapkannya tadi.
“Semua aset atas nama Ibu Lita akan dialihkan pada Nona tanpa terkecuali.” pria itu menyampaikan inti dari berkas yang tadi dibacanya.
“Semua aset atas nama mama akan saya berikan pada bunda saya, Bunda Ana. Restoran, hotel, semua usahanya, kecuali rumah ini. Bisa?” ujar Raina sambil menatapnya sekilas.
“Saya akan menyampaikan dulu dengan ayah saya non, saya akan segera memberitahunya. Ada lagi yang bisa dibantu non?” sahutnya.
“Udah, itu aja.” balas Raina dengan singkat.
“Saya permisi non, Assalamu’alaikum.” pria itu beranjak dari tempat duduknya sambil menunduk pada Raina.
“Wa’alaikumsalam, tunggu...” ucap Raina menggantung.
“Jangan panggil saya Non, nama saya Raina.” pria itu hanya tersenyum dan menunduk kembali pada Raina.
.
.
Jangan lupa LIKE🖤
terimakasih, follow juga ig ku : erlindans__
Kalau mau di folback Dm aja yaa🤗
__ADS_1