
Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh🙏
Taqoballahu minna waminkum minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin buat temen-temen semuanya🌹
Makasih selalu setia nungguin novel ini update, maaf ya kemarin berhenti lumayan lama🙏
Bismillah setelah ini insyaallah up setiap hari, semoga satu minggu selesai karena udah mau selesai juga✨
Mau lanjut novel yang judulnya "Untaian Do'a menjadi Nyata" di Aplikasi ijo udah up 6 bab 🖤
Selamat membaca🙏.
.
.
Raina diajak Senja dan Verrel untuk menghadiri acara syukuran yang begitu mewah dan diadakan dihotel berbintang. Ya, syukuran itu diadakan oleh Keluarga Anggara.
“Hai Raina, selamat malam?” sapa Papa Deva padanya alias Bimo Anggara.
“Ah malam om...” sahutnya dengan canggung, Raina bingung harus memanggilnya apa.
‘Papa?’ dia hanya mampu memanggilnya didalam hati.
Raina tidak berbincang lama dengan Om Bimo yang adalah papa kandungnya. Dia memilih untuk keluar dari gedung mewah itu dan memilih untuk mendinginkan pikirannya dengan duduk ditaman yang masih berada diarea sana.
“Rainaaaa...” sontak Raina yang sedang duduk sendiri ditaman langsung menoleh kesumber suara.
“Oh Bianca, selamat ya kamu ternyata adalah seorang putri yang dicari oleh Keluarga Anggara.” Sahut Raina pada seseorang yang tadi memanggil namanya.
Ya, dialah Bianca bahkan untuk kali pertamanya dia memanggil Raina tanpa ada orang namun nadanya begitu mengejek.
‘Nih cewek belum tahu ya kalau sebenernya dialah Putri Anggara yang dicari selama ini? Tapi bagus lah gue aman’ batin Bianca yang merasa curiga.
‘Aku sendiri masih ragu kalau aku sadalah bagian dari Keluarga Anggara’ batin Raina.
__ADS_1
“Nggak usah sok baik deh lo!” Bianca malah merasa sewot sendiri.
Raina hanya tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya, dia bingung mengapa Bianca menghampirinya kalau hanya mencari masalah dengannya padahal dia sendiri hanya ingin tenang tanpa mengganggu acara bahagianya.
“Aku nggak ngerti lagi deh sama kamu, ngapain kamu kesini nyamperin aku?” Raina langsung to the point.
Niatnya tadi Bianca hanya ingin menunjukkan pada Raina bahwa kedudukannya sekarang ada diatasn karena dia yang menempati posisinya sebagai anak dari Bimo Anggara. Tapi setelah Bianca mengira kalau Raina belum tahu kenyataan sebenarnya akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk menyinggungnya.
Bianca langsung pergi meninggalkan Raina tanpa mengatakan sepatah katapun.
“Nja, aku ke kamar mandi bentar ya? Jangan kemana-mana tungguin disini” ucap Raina yang beranjak dari tempat duduknya. Senja hanya mengangguk dan masih menikmati makanannya dikantin.
Raina berjalan sendiri, saat mencuci tangan diwastafel dia terkejut mendengar pintu toilet tertutup dengan keras.
“Ngapain kamu?!” ucap Raina setangah membentak saat melihat Bianca bersama kedua temannya berada didalam toilet.
Bianca mendekati Raina sedangkan kedua temannya menjaga pintu, Raina hanya diam menatap tajam Bianca.
“Lepasin!!” Raina berusaha memberontak namun dia kalah dari kedua teman Bianca.
Bianca langsung mengambil sesuatu dari sakunya dan memperlihatkan sebuah foto yang sangat familiar untuk Raina. “Lo nggak usah sok polos dan nggak tahu. Gue yakin kok kalau lo udah tahu jati diri lo yang sebenarnya!” ujar Bianca.
“Putri Anggara... Ya! Tapi sayangnya sekarang gue yang menempati posisi lo! Gue tegasin sama lo kalau lo berani deketin keluarga gue atau coba-coba buat bilang bahwa sebenernya lo adalah Putri Anggara yang sesungguhnya jangan salahin gue saat itu juga gue bakal bikin keluarga panti lo celaka!!!” imbuhnya.
‘Jadi bener kalau aku adalah adik kandung dari Kak Deva?’ batin Raina.
“Balikin foto itu!” tegas Raina.
“Buat apa? Mau bilang kalau lo itu adalah Seorang Putri Anggara yang sesungguhnya?! Cihh... mama lo udah mati jadi lo nggak bakal bisa meyakinkan Kak Deva dan Papa dengan mudah!” ucapan Bianca kali ini membuat Raina geram.
‘Plakk’ Raina langsung memberontak dan menampar pipi mulus Bianca hingga meninggalkan bekas merah. Bianca langsung menarik jilbab Raina hingga terlepas dan menampakkan rambutnya.
Bianca menarik rambut Raina dengan kencang, tentu saja tangan Raina sudah dipegangi oleh kedua temannya jika tidak Raina lebih kuat darinya. “Denger ya... lo cukup diem dan jadi anak panti jangan pernah coba-coba, inget itu!” Bianca langsung membalikkan badan.
__ADS_1
“Udah guys, yuk cabut! Nih ambil tuh foto buat kenang-kenangan kalau lo nggak bisa masuk ke Keluarga Anggara!” Bianca melempar foto itu tepat didepan wajah Raina dan meninggalkannya sendirian.
Raina langsung mengambil jilbabnya dan memakai kembali. Tidak lupa dia mengambil foto yang dilempar oleh Bianca tadi.
“Astaghfirullahaldzim... Ya Allah kuatkan hambamu yang lemah ini.” Gumam Raina setelah keluar dari toilet.
Hari terus berlalu, setiap malam Raina tidak pernah berhenti berdo’a dan meminta petunjuk pada pencipta-Nya.
Sejak hari itu dia terus merenung, bagaimana langkah selanjutnya yang akan dia ambil. Ini bukan masalah dia ingin diakui namun wasiat dari Mama Lita yang menginginkan Raina mencari sosok papa dan kakak kandungnya jadi dia harus mengikuti permintaannya.
Bahkan Raina tidak menceritakan apapun pada Senja saat dia ditindas oleh Bianca dan kedua temannya saat ditoilet waktu itu. “Ra, Raina?? Kamu kenapa sih jadi sering ngelamun? Punya masalah? Sini cerita sama aku...” ucap Senja saat mereka sedang duduk didalam kelas menunggu bel masuk.
“Kalau nggak mau cerita, biar aku yang cerita deh...” imbuh Senja setelah menunggu beberapa saat Raina yang masih enggan membuka suaranya bahkan hanya menjawab dengan menggeleng.
“Tahu nggak kalau....”
“Nja udah deh pagi-pagi jangan gibah!!!” sahut Raina, karena dia hafal betul jika sahabatnya menggunakan awalan kalimat itu pasti ingin atau akan menceritakan seseorang.
“Astaghfirulllah... jangan nuduh dong Ra!” balas Senja yang tidak terima.
“Ini penting, eh enggak maksudnya aneh aja gitu masa Om Bimo ngelakuin tes DNA sama Bianca itu artinya Om Bimo ragu kalau Bianca adalah putri kandungnya dong?” Raina tercengang seketika.
“Iya Ra, dan hasilnya udah keluar kemarin. Ya, hasilnya positif lah kan anaknya ya? Eh tapi sebenernya aku juga nggak percaya sih masa iya keluaraga baik-baik kayak Om Bimo dan Kak Deva punya keturunan uler kayak Bianca?!” Bianca menjawab ucapannya sendiri dan bergumam sendiri seakan berperang dengan pikirannya.
‘DNA nya positif? Kok bisa? Apa jangan-jangan waktu Bianca narik rambut aku cuma mau ngambil sampel buat DNA?’ Raina juga ikut memutar kembali ingatannya perihal kejadian waktu ditoilet kala itu.
‘Ya Allah aku harus bagaimana ini?’ Raina semakin putus asa, mana mungkin dengan adanya tes DNA yang sudah positif dia akan masuk ke Keluarga Anggara dan mengaku bahwa dialah anak kandung yang sesungguhnya.
“Ya Allah Raina... kenapa malah kamu tambah diem? Eh kamu nggak papa kan? Kok tiba-tiba muka kamu pucat gitu?” Senja malah panik melihat Raina yang tampak cemas.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa LIKE🖤