Inseparable

Inseparable
Kok Tiba-tiba?


__ADS_3

Assalamu'alaikum, jangan lupa LIKE 🖤🌻


.


.


Raina masuk ke kamar kost, dia masih tidak habis pikir bahwa hari ini dia bertemu dengan Deva namun hanya saja cara mereka bertemu tidak biasa, kemudian Raina mandi, sholat lalu tidur.


Hari Senin datang lagi, Raina berangkat sekolah seperti biasanya. Sampainya disekolah dia langsung menuju kantin untuk sarapan, tak lama kemudian Senja datang menghampirinya. “Ra, tumben sarapan dikantin?” tanya Senja yang duduk disampingnya.


“Iya nih bubur ayam langganan aku tadi libur, jadi ya udah sarapan dikantin aja.” sahut Raina sambil menikmati sepotong roti.


“Udah bel tuh, masuk kelas yuk!” ajak Senja saat mendengar bel berbunyi. Raina langsung bergegas dan kekelas bersama Senja.


Setelah istirahat pertama, jam pelajaran kosong hingga pulang nanti kemudian Raina mengajak Senja untuk pergi ke perpustakaan membaca buku.


Raina dan Senja membaca novel dengan judul berbeda namun sama-sama ber-genre romantis. Senja menendang-nendang kaki Raina karena mereka duduk berhadapan, “Apa sih Nja?!” keluh Raina yang merasa terganggu saat sedang asik membaca novel.


“Tuh” Senja mengodekan matanya agar Raina menoleh kebelakang. Raina pun mengikutnya, betapa terkejutnya bahwa ada Deva yang sedang berjalan menuju mereka berdua.


Raina memicingkan matanya sambil berpikir, sedang apa Deva berada disekolah padahal dia sudah lulus jika ingin mengurus surat, legalisir atau apapun pasti pihak sekolah akan mengantarkan kerumahnya karena dia anak dari donatur paling besar disekolahnya.


“Assalamu’alaikum Raina” sapa Deva sambil tersenyum.


“Senja” imbuhnya sambil melihat Senja, padahal baru saja Senja ingin protes karena dirinya tidak disapa.


“Wa’alaikumsalam kak,” sahut mereka berdua.


“Ngapain kak? Sama siapa?” tanya Senja saat Deva sudah duduk disebelahnya.


“Ngurusin administrasinya Bianca, terus tadi ngelihat kalian keperpus yaudah aku samperin aja deh. Oh iya tuh Verrel dikantin, jagain sana kakak kamu tadi digoda sama cewek-cewek loh...” ujar Deva disusul tawanya. Tanpa permisi Senja langsung berlari keluar, mungkin menyusul kakaknya yang sedang berada dikantin.


“Nih,” Deva menyodorkan novel yang dibelinya sabtu kemarin. Raina mengambilnya, bagaimana dia bisa melupakan novel itu dirumahnya Deva.


“Maaf baru aku kembalikan.” imbuh Deva seakan paham raut wajah dari Raina.


“Aku malah lupa kak kalau kemarin beli novel ini hehe” Raina menggaruk kepalanya yang tertutup hijab padahal tidak gatal, mungkin dia salah tingkah.


“Nyusul Senja sama Verrel aja yuk, takut berisik kalau diperpustakaan.” ucap Deva mendapat anggukan kepala dari Raina.

__ADS_1


***


“Ehem...” Senja berdehem tepat dibelakang Verrel yang sedang dikelilingi banyak cewek, entah adik kelas, kakak kelas atau seangkatan dengannya. Banyak yang ada dikantin karena ada beberapa kelas yang jam pelajarannya kosong.


“Eh dek, kok tahu aku disini?” Verrel langsung berdiri dan memeluk hangat adiknya.


Cewek-cewek yang tadi duduk bersama Verrel ada yang bisik-bisik tidak suka, ada juga yang iri Verrel sangat dekat dengan adiknya. “Ehm, kalian balik kelas dulu ya? Gue mau ngobrol berdua sama adik gue.” ucap Verrel membuat pada cewek kecewa telah diusir secara terang-terangan.


“Aish.... Dimana-mana playboy kan deketin cewek lah ini malah dikelilingi cewek, parah banget sih kak!” keluh Senja pada kakaknya.


Verrel dan Senja kemudian berbincang-bincang dengan kakaknya, sampai akhirnya Deva dan Raina datang menghampiri mereka berdua. “Eh Raina, apa kabar kamu?” sapa Verrel yang bernada menggoda layaknya seorang playboy namun hanya bercanda.


“Alhamdulillah kak, Kak Verrel juga baik kan?” sahut Raina.


“Lo kok udah nggak kerja dicafe gue sih?” tanya Verrel tanpa merasa bersalah, padahal dulu dia sendiri yang memecat Raina dengan penuh emosi.


“Kan udah dipecat ngapain balik?” Raina kembali bertanya padanya.


“Eh emang kamu pernah kerja dicafenya Verrel?” Deva bertanya pada Raina.


“Iya pernah, berapa bulan ya? 2 atau 3 bulan gitu ya kayaknya?” sahut Verrel padahal Raina lah yang ditanya.


“Iya kak, pernah kok seperti yang dikatakan Kak Verrel.” ucap Raina.


“Iya kak, asal Kak Dev tahu ya. Mungkin kalau Raina nggak kerja di V’SA Cafe aku sama kakak nggak akan seperti ini alias belum baikan. Pokoknya Raina berperan besar atas kembalinya Kak Verrel ke Keluarga Aditya.” Senja menjelaskan pada Deva kemudian memeluk Raina yang duduk disebelahnya, Raina hanya tersenyum mendengarkan tuturan Senja.


“Oh ya? Lo nggak tahu terima kasih banget sih Rel, orang udah dibantuin malah mecat Raina!” Deva malah memarahi Verrel.


“Gue udah bilang makasih dan juga gue udah minta maaf kok, bahkan gue juga udah nawarin Raina balik kerja tapi dianya nggak mau, ngapain lo malah marah-marah sama gue?” jawab Verrel yang tak kalah sewot.


“Ya iya lah Raina nggak mau pasti lo nggak ikhlas yang nawarin dia buat balik.....” ujar Deva yang belum selesai.


“Kak udah malah ribut, nggak enak tuh dilihat sama orang dikira ngributin apa,” potong Raina, padahal sebelumnya dia dan Senja malah tertawa melihat kedua cowok yang ada didepannya meributkan hal yang tidak semestinya diributkan.


Mereka berempat berbincang hangat, obrolan yang diselimuti tawa dan canda membuatnya semakin akrab. Ternyata ada sepasang mata yang sangat iri melihat kedekatan mereka berempat, siapa lagi jika bukan Bianca Geovanny.


‘Apa bener Kak Deva pacaran sama tuh cewek beasiswa? Nggak, nggak ada yang boleh disayang sama Kak Deva kecuali gue!’ batin Bianca yang mulai panas melihat kakak tersayangnya bersama dengan Raina.


“Kakak masih disini kok nggak kasih tahu aku sih? Aku kira udah pulang,” Bianca mengejutkan Deva begitu pula dengan yang lainnya karena dia tiba-tiba datang merangkul kakaknya dari belakang.

__ADS_1


“Oh dek, kamu kok disini? Nggak pelajaran emang?” tanya Deva pada adiknya.


“Ehm jamkos kak hehe” Bianca tersenyum kikuk menjawab Deva.


Raina dan Senja saling pandang seolah mereka berbicara didalam hatinya masing-masing, bisa-bisanya Bianca berbohong pada kakaknya sendiri bagaimana tidak mereka berdua tahu jika Kelas X tidak ada jam yang kosong hari ini karena banyak guru yang rapat namun untuk para guru Kelas XI dan XII.


“Oh iya Kak Raina sama Kak Senja disuruh keruang OSIS sekarang.” ucap Bianca menekan kalimat terakhirnya.


“Oh ya? Tunggu-tunggu bukannya Kelas 10 tuh nggak.... mphh..” saat Senja menanggapi perkataan Bianca, Raina langsung menutup mulut Senja menggunakan tangannya.


“Makasih ya Bianca, Kak Deva Kak Verrel kami pamit dulu. Assalamu’alaikum” Raina langsung berpamitan pada dua cowok yang statusnya mantan kakak kelasnya itu sambil menarik tangan Senja.


Saat Bianca mendapatkan celah untuk ngobrol bersama dengan kakak dan sahabat kakaknya itu dan tertawa puas dalam hatinya. “Rel, balik kampus yuk habis ini gue ada kelas nih.” ucap Deva setelah melirik jam yang melingkar di tangan kirinya.


“Yaudah ayo, gue nganter sampai depan kampus aja ya?” sahut Verrel.


“Nggak nggak lo mau bolos kan,udah ayo buruuan. Dek, aku balik dulu ya dahh...” Deva mengusap pundak Bianca sekilas lalu pergi bersama Verrel.


“Ahh siall!! Semenjak ada tuh cewek beasiswa, Kak Deva jadi beda sama gue!” gerutu Bianca setelah Deva pergi.


***


“Ya allah Ra, kenapa kamu nggak biarin aku buat bilang sama Kak Dev kalau adiknya tuh suka bolos pelajaran dan suka bikin onar disekolahan!” Senja marah-marah tidak jelas.


“Heran aku sama Bianca, jujur nih ya aku geli tahu nggak denger dia panggil kita ‘Kak’ padahal sebelumnya sama kita aja nggak takut sama sekali. Coba aja Kak Deva tahu kalau ADIK ANGKAT TERSAYANGNYA ITU BERMUKA DUA!” Senja masih nerocos sedangkan Raina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Ngapain tadi dia ngusir kita pakai alasan kita disuruh ke ruang OSIS?!” imbuhnya yang semakin tidak terima.


“Istighfar Nja, ngapain kamu marah-marah sendiri coba? Biarin aja dia bohong dosanya yang nanggung dia sendiri kan, kamu bilang Kak Deva sayang banget kan sama dia? Nah, maka dari itu aku nggak mau kamu kesannya menjatuhkan atau menjelek-jelekan Bianca, didepannya nanti malah kamu yang dapat cap jelek dari Kak Deva. Biarin aja toh lama kelamaan semuanya bakalan kelihatan aslinya gimana kan?” penjelasan Raina panjang lebar yang sangat dibenarkan Senja setelah dipikir-pikir.


“Hufttt” Senja menghela nafasnya untuk menetralkan emosinya yang memuncak gara-gara Bianca.


Drrttt.. drtt.. drtttt


Ponsel Raina berdering dan tertera nama ‘Mama’ disana, tak butuh lama Raina mengembangkan senyumnya lalu menggeser ketombol berwarna hijau.


“Assalamu’alaikum ma?” jawab Raina melalui telepon.


“APA???” Raina tampak terkejut setelah mendengarkan balasan darinya. Senja yang disampingnya pun ikut terlonjak kaget mendengarkan teriakan dari sahabatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2