Inseparable

Inseparable
Mengungkap Kembali Jati Diri


__ADS_3

Assalamu'alaikum 🌹


Happy Reading ✨


.


.


Hari demi hari terus berganti, Raina setiap malam selalu memikirkan bagaimana ia mengungkapkan jati dirinya pada papa kandungnya yaitu Bimo. Di samping itu, Raina juga memikirkan ancaman dari Bianca yang pastinya tidak akan segan untuk mencelakai keluarganya di Surabaya.


Raina di rundung berbagai masalah sendirian, ia harus kuat menghadapi semua ini. Ia merasa bahwa Bimo berhak mengetahui siapa dia yang sebenarnya. Apalagi Devano, kakak kelas yang ternyata merupakan kakak kandungnya. Bisa-bisa Devano mengira bahwa Bianca itu adik kandungnya maka ia tidak segan untuk menyentuh gadis itu. Padahal mereka sebenarnya bukanlah mahram.


Mungkin benar apa yang di katakan oleh Bu Mirna, jika sebenarnya Bimo belum sepenuhnya yakin bahwa Bianca-lah putri kandungnya. Namun, Devano sudah telanjur merasa senang karena adiknya telah di temukan keberadaanya. Jika Raina bersikukuh mengatakan pada Devano sudah pasti ia akan menyangkalnya dengan tegas.


Seperti yang Verrel katakan, jika Devano sangat menyayangi Bianca ketika menjadi adik angkatnya, apalagi sekarang ketika ia sudah mengetahui jika Bianca adalah adik kandungnya.


Raina menghembuskan napas dengan berat, mengapa masalah yang ia hadapi semakin rumit seperti ini? Bianca bukanlah orang sembarangan, ia tipe orang yang akan melakukan apa saja jika keinginannya belum terpenuhi. Raina harus menyelamatkan papa dan kakak kandungnya dari Bianca, jika tidak bisa saja mereka akan terpedaya oleh tipu muslihat gadis yang tengah mengambil posisinya itu.


Hingga tertidur Raina memikirkan semua beban dan masalah yang tengah menghantamnya. Biarkan pikirannya istirahat untuk sejenak, besok ketika ia membuka mata untuk menyambut dunia. Satu persatu masalah akan kembali masuk ke dalam pikirannya tanpa permisi, bagaimanapun itu Raina harus siap menghadapi.


Keesokan harinya, Raina berangkat ke sekolah seperti sedia kala. Menjalani hari-hari sebagai siswi di salah satu SMA ternama di kota besar. Beruntung ia mampu bertahan hidup di kota ini, itu semua juga karena kehadiran sang sahabat yang setia menemani dalam keadaan apapun.


“Assalamu’alaikum, selamat pagi kawan? Udah dari tadi sampai, Ra?” sapa Senja yang baru saja sampai dan langsung duduk di samping Raina yang pagi-pagi sudah melamun.


“Wa’alaikumussalam Warrahmatullahi Wabarakatuh, pagi juga Senja. Iya udah dari jam enam sampai sini, piket soalnya.”


Senja hanya manggut-manggut mendengar jawaban dari sahabatnya itu, mereka berdua menceritakan hal random apa saja, tetapi tidak gibah. Hingga bel masuk berbunyi, pelajaran berlangsung, dan mata pelajaran bergulir secara bergantian sesuai jadwal hari ini.


Sepulang sekolah, Raina meminta pada Senja untuk menemaninya bertemu dengan Verrel di cafe. Ada sesuatu hal yang ingin ia bicarakan, sepertinya ada sesuatu hal serius. Tentu saja, Senja mau menemani sang sahabat untuk bertemu dengan kakaknya. Kebetulan sekali, hari ini kuliah Verrel kosong jadi kemungkinan ia ada di cafe.


“Hai Raina? Gimana kabarnya?” salah satu karyawan cafe yang dulu pernah bekerja bersama dengan Raina menyapanya.


“Mbak? Alhamdulillah baik, Mbak sendiri gimana kabarnya?” sahut Raina dengan antusias.


“Alhamdulillah aku baik, oh iya kamu mau ngapain ke sini? Sama siapa?”

__ADS_1


Raina langsung melirik Senja yang ada di sebelahnya, “Ini teman sekolahku, adiknya Kak Verrel. Aku ke sini mau ketemu sama Kak Verrel, ada?”


“Oh maaf saya nggak tahu,” ucap teman lama Raina pada Senja merasa tidak enak hati.


“It’s okay, santai aja. Tolong panggilin Kakak, ya?” tutur Senja seraya tersenyum.


“Oh iya, silakan duduk biar saya panggilkan...”


Senja mengajak Raina untuk mencari tempat duduk yang nyaman, hingga beberapa saat Verrel datang menghampiri mereka berdua.


Jujur Verrel merasa cukup terkejut dengan kehadiran adik dan temannya yang pernah bekerja di cafe. Saat Senja menyadari kedatangan sang kakak, ia langsung berdiri mencium punggung tangannya lalu memeluknya sepintas.


“Tumben dateng ke sini nggak ngomong dulu, Dek? Ada perlu apa?” tanya Verrel pada adiknya.


“Heheh... Aku tahu kalau kuliah Kakak kosong hari ini makanya aku langsung ke sini sama Raina,” ucapan Senja membuat Verrel langsung melirik kearah Raina yang masih duduk.


“Hai Raina? Lo ada perlu sama gue?” mendengar itu Raina langsung mengangguk, “Iya Kak. Ada hal yang ingin saya tanyakan ke Kakak.”


Verrel langsung mengajak sang adik dan temannya itu ke ruangannya, firasat Verrel mengatakan bahwa Raina ingin membicarakan hal yang cukup serius. Maka dari itu, ia mengajak mereka agar membicarakan hal itu di dalam ruangannya saja agar tidak ada orang yang mendengar.


Mendengar itu, Raina mengulum senyum. Ia kagum dengan Senja, walau sahabatnya itu memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, namun tidak pernah memaksa atas pertanyaan yang terbesit di pikirannya. “Nggak papa, Nja. Lagian kamu dari kemarin tanyakan kenapa akhir-akhir ini aku jadi pendiam? Ada satu masalah yang aku rasa, aku nggak bisa selesaikan sendirian.”


“Kenapa Ra? Kenapa lo temuin gue? Emang lo kira gue bisa menyelesaikan masalah yang menimpa lo?” seperti biasa nada bicara Verrel terkesan menyebalkan.


“Bukan gitu, Kak. Tapi mungkin, Kakak bisa menjawab pertanyaan yang ingin saya tanyakan.” Raina menjeda sebentar ucapannya sebelum ia memulai apa yang ingin ia katakan pada lawan bicara yang tengah menunggunya.


“Kak, sejauh mana kamu mengenal Kak Deva dan seberapa tahu kamu tentang Bianca?” jangankan Verrel, Senja saja langsung mengernyitkan kening mendengar pertanyaan sahabatnya itu.


Verrel tidak langsung menjawab, ia berusaha mengingat-ingat bagaimana awal mula dirinya dan Deva bisa berteman hingga bersahabat sampai detik ini. “Yang gue tahu Deva sayang banget sama Bianca, apalagi sekarang nih Bianca udah terbukti adik kandungnya yang selama ini pergi sama Mamanya-”


“Kalau Bianca gue nggak tahu banyak, soalnya gue nggak suka aja sama dia. Suka cari perhatian sama Om Bimo apalagi kalau ada Deva, beuhh... manja banget. Kalau dilihat-lihat nih ya, Bianca kayaknya suka deh sama Deva. Tapi ya, Deva selalu aja bilang kalau nggak mungkin, karena mereka kakak adik...”


“Kakak tahu cerita tentang adik Kak Deva yang pergi di bawa sama Mamanya?” sela Raina.


Verrel menggeleng, “Karena gue kenal sama Deva itu waktu SMP. Dan, sekilas gue pernah denger kalau mamanya pergi bawa adiknya itu waktu Deva umur 3 atau 4 tahun gitu. Nathan sih yang udah kenal Deva dari bayik, mungkin dia tahu semua masalah di Keluarga Anggara.”

__ADS_1


“Kak Jonathan maksudnya?” Verrel mengangguk. Raina kembali menghela napas berat, “Sekarang Kak Jonathan dimana?”


“Dia kuliah di Jerman, baliknya satu tahun sekali. Kemarin dia habis balik Indo terus udah kembali ke Jerman. Kenapa sih emangnya?” akhirnya jiwa keingintahuan Verrel pun keluar.


“Kalaupun aku ngomong hal ini ke kalian, mungkin kalian nggak akan mungkin percaya.” Raina membuat Verrel dan Senja saling pandang kebingungan.


Senja yang sedari tadi hanya diam, kini akhirnya ikut membuka suara. “Kenapa sih, Ra? Nyari-nyari Kak Nathan, nanti ketemu cuma mau perang?”


“Nja, mungkin saat ini cuma dia yang bisa aku harapkan untuk bantuin aku.” Wajah Raina sontak berubah menjadi sedih dan pikirannya tiba-tiba kalut.


“Kamu nggak bilang masalah kamu apa, jadi gimana caranya aku sama Kak Verrel bantuin kamu? Kenapa sih Ra? Kamu ngomong pelan-pelan, kita janji kalau kita bisa bantuin kamu, kita bakal bantuin kamu.” Senja meyakinkan hal itu pada sahabatnya.


Akhirnya, setelah mengumpulkan niat dan berdo’a Raina menceritakan semuanya dari awal pada Senja dan kakaknya itu. Raina yakin mereka bisa di percaya dan menjaga hal yang selama ini ia sembunyikan juga di pendam sendirian. Air matanya kembali jatuh mengingat mamanya yang telah pergi, meninggalkan semua beban yang harus ia pikul sendirian.


“Astaghfirullah, Ra. Kenapa selama ini kamu nggak ngomong sama aku? Kalau kamu ngomong ke aku, mungkin aku bisa bantuin kamu. Sebelum hasil tes DNA Bianca keluar waktu itu,” tutur Senja.


Sedangkan Verrel masih mencoba mencerna semuanya, “Jadi lo sebenarnya adik kandung Deva?” Raina mengangguk dengan lemah.


Kini Verrel yang menghela napas, “Pantes gue juga nggak yakin kalau Om Bimo punya anak kaya Bianca gitu. Yaudah ayo sekarang kita ngomong sama Om Bimo dan Deva kalau lo itu keluarga mereka yang asli.”


“Kak! Nggak semudah itu, Bianca udah ngancem saya buat mencelakai keluarga saya yang ada di Surabaya.”


“Raina sabar ya? Semua pasti ada jalan keluarnya, kita cari sama-sama solusinya ya?” Senja menenangkan sahabatnya dengan mengusap-usap bahu Raina.


Verrel menjentikkan jari setelah beberapa waktu berpikir keras sendirian, “Kita nggak mungkin ngomong hal ini ke Deva. Kita langsung aja ketemu Om Bimo tanpa sepengetahuan Deva dan Bianca, gue yakin ikatan batin antara ayah dan anak itu juga ada.”


Senja dan Raina saling pandang, “Caranya Kak?”


.


.


.


Terima kasih untuk teman-teman semua yang masih setia dan berkenan membaca novel ini. saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya karena hiatus sangat lama. Insyaa Allah kedepannya akan lebih rajin Update, Jazaakumullah Khairan🌹🙏

__ADS_1


__ADS_2