Inseparable

Inseparable
Jangan Sedih Lagi Ya?


__ADS_3

Assalamu'alaikum, JANGAN LUPA LIKE 🖤🖤


Happy Reading🤗.


.


.


“Rel, hari ini gue nitip absen ya? Gue nggak bisa pergi ke kampus,” ucap Deva pada Verrel melalui via telepon.


“Lah kenapa? Tumben banget seorang Devano Julian...” sahut Verrel yang belum selesai.


“Udah diem, pokoknya hari ini gue nggak ke kampus!” sarkas Deva kemudian memutus telepon.


“Sialan, belum juga selesai ngomong juga! Lagian tumben banget Deva nggak kuliah?” gerutu Verrel saat teleponnya dimatikan sepihak.


***


Beberapa jam setelah minum obat Raina tertidur pulas, Deva mengambil kesempatan itu untuk meninggalkan Raina sebentar dan mengantarkan surat ijin dari dokter kesekolahannya.


Sampainya disekolah, Deva menunggu Senja dikantin sekolah. “Kak Deva udah lama?” tanya Senja menghampiri Deva yang sedang duduk sendirian dikantin.


“Enggak baru aja kok, oh ya ini surat ijin dari dokter nitip kasih ke wali kelas kamu ya?” sahut Deva sambil menyodorkan amplop dari rumah sakit.


“Kenapa nggak kakak kasih langsung ke guru aja?” tanya Senja dengan polos.


“Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Raina, nanti malah dikiranya Raina yang enggak-enggak kalau aku yang ngasih.” Senja hanya mangut-mangut, karena benar apa yang diucapkan Deva.


“Oh ya nanti sebelum kamu ke rumah sakit tolong mampir ke kostnya Raina sebentar ya buat ngambilin baju gantinya Raina dan bilangin ke ibu kost kalau Raina harus dirawat sampai beberapa hari kedepan.” imbuh Deva.


“Oh oke kak, makasih udah jagain Raina ya kak.” ucap Senja dengan tulus.


“Iya sama-sama, santai aja kalik. Yaudah aku balik dulu ya, soalnya aku tadi ninggalin Raina waktu dia tidur.” Deva pamit pada Senja.


Deva berjalan menuju parkiran mobilnya, “Kak Deva?” teriak Bianca yang melihat kakaknya dari belakang sedang berjalan keluar melewati lobi sekolahnya. Deva yang mendengarkan suara yang sangat familiar menurutnya langsung menghentikan langkah dan menoleh kebelakang.


“Kakak ngapain disekolah? Oh ya semalam Kak Dev kenapa nggak pulang? Dari mana aja kak?” tanya Bianca yang bertubi-tubi.


“Ada urusan sebentar tadi, semalam kakak dirumah sakit.” jawab Deva seadanya.


“Siapa yang sakit kak?” tingkat kepo Bianca langsung meningkat.


“Raina” jawaban Deva sontak membuat Bianca diam sejenak.


‘Ngapain sih tuh cewek beasiswa gangguin Kak Deva mulu! Siapa sih dia?!’ batin Bianca yang merasa kesal, namun dia sangat-sangat pandai menutupinya.

__ADS_1


“Dirumah sakit mana kak, nanti pulang sekolah biar aku jenguk dia. Semoga lekas sembuh ya,” Bianca membuat raut wajah sesedih mungkin seakan ikut cemas.


“Nggak usah, iya aamiin. Yaudah kakak balik dulu ya takutnya nanti Raina nyariin kakak, semangat belajarnya sayang.” Deva mengusap pucuk kepala Bianca lalu meninggalkannya.


“SIAPA SIH RAINA?! Awas aja lo berani ngrebut Kak Deva dari gue!” gumam Bianca yang semakin menggebu-gebu.


***


Raina membuka matanya setelah mendengar knop pintu yang artinya Deva keluar dari ruangannya. Sebenarnya tadi Raina hanya pura-pura memejamkan mata agar Deva bisa melakukan apa yang ingin dilakukannya seperti pulang untuk mandi dan berganti pakaian atau berangkat kuliah.


Raina keluar sambil mendorong tiang infus, dia ingin menghirup udara segar dan tujuannya taman yang ada dirumah sakit. Dia terus berpikir mengapa dirinya sangat teledor dan tidak menjaga kesehatannya sendiri, memang wajar merasa sedih saat kehilangan orang yang disayang apalagi dia adalah mama, namun Raina terlalu berlarut-larut dalam kesedihannya.


Tapi entah mengapa setelah dipeluk oleh Deva, ada rasa tenang dan nyaman tersendiri didalam hatinya. Mengingat pelukan dari Deva membuat Raina malu sendiri, bisa-bisanya dia diam saja dipeluk oleh laki-laki yang bukan mahramnya.


“Raina bodoh! Harusnya tadi kamu nggak mau dipeluk sama Kak Deva, dosa Ra!” ucap Raina pada dirinya sendiri.


“Ehem, maaf ya tadi udah peluk kamu tanpa ijin.” sahut Deva yang tiba-tiba ada dibelakangnya, Raina gelagapan dan salah tingkah sendiri.


Setelah Deva dari sekolah, dia langsung kembali kerumah sakit. Dia masuk keruangan Raina namun tidak menemukannya disana, Deva panik akhirnya dia keluar dan mencari Raina. Dia bertanya pada suster namun tidak ada yang tahu hingga akhirnya dia mencoba ketaman dan mendapati Raina yang duduk sendirian.


Deva langsung bernapas lega, dia menghampiri Raina dengan pelan agar tidak mengagetinya namun langkahnya terhenti tepat dibelakangnya dan mendengar jelas ucapan Raina yang terdengar lucu ditelinga Deva.


Deva langsung duduk disampingnya, “Kamu tadi pura-pura tidur ya?” pertanyaan Deva semakin membuat Raina salah tingkah.


“Kok Kak Deva tahu?” Raina kembali bertanya dengan nada sedikit gugup.


“Maaf kak, soalnya aku lihat Kak Deva kayak sungkan buat ninggalin aku sendiri. Jadi aku pura-pura tidur biar Kak Deva bisa melakukan kegiatan lain,” jawab Raina dengan jujur.


“Jadi kamu dari tadi ngelihatin aku?” Deva malah menggoda Raina.


“Enggak gitu kak, Kak Deva bercanda mulu ih!” sarkas Raina sambil malu-malu.


“Hehe iya-iya maaf, aku tadi keluar bentar buat nganterin surat ijin kamu dari dokter ke sekolah...” ucap Deva yang belum selesai namun langsung dipotong Raina.


“Astaga Kak Deva, maaf aku ngrepotin kakak terus. Tapi makasih udah ngijinin aku ke sekolah, aku nggak tahu lagi gimana caranya harus balas semua kebaikan kakak.” potong Raina dan langsung nerocos sendiri.


Deva diam sambil berpikir sejenak, “Kamu bisa balas kebaikan aku dengan menceritakan alasan kenapa kamu tadi sampai nangis dan kondisi kamu bisa drop?” ucap Deva sambil menatap Raina.


“Eh maaf, aku nggak maksa kok kalau nggak mau cerita juga nggakpapa.” imbuh Deva.


Deva baru sadar bahwa pertanyaannya tidak sopan karena menyangkut privasi Raina, apalagi dia sempat mendengar bahwa Raina menangis sambil menyebut mamanya.


“Aku kangen sama mama kak, tapi aku nggak bisa ketemu sama mama. Mama udah tenang disana kak, tapi aku malah membebaninya dengan kesedihanku yang tak kunjung hilang.” Raina berbicara dengan menatap lurus kedepan.


‘Mamanya udah meninggal? Astaga Deva, hobi banget sih lo bikin anak orang sedih!’ batin Deva merutuki dirinya sendiri.

__ADS_1


“Maaf maaf, aku nggak bermaksud buat ngingetin kamu lagi tentang mama kamu.” sahut Deva merasa bersalah.


Raina tersenyum menatap Deva, dia menarik napas sejenak kemudian menceritakan apa yang selama ini dia rasakan dan membuatnya tidak bersemangat menjalani hari-harinya. Deva larut dan sangat konsen mendengarkan apapun yang dilontarkan oleh Raina setiap kalimat bahkan setiap katanya.


‘Mengapa aku ikut merasakan sesak mendengarkan cerita Raina?’ batin Deva ditengah-tengah Raina bercerita.


“Mungkin kata-kata dariku udah kamu dengar dari mulut orang lain, kamu yang sabar ya, aku yakin kamu bisa ngelewatin semuanya.” ucapan Deva memang sama dengan yang orang lain katakan namun Raina lebih lega setelah mengungkapkan isi hatinya pada Deva.


“Jangan sedih lagi ya.” pinta Deva sambil menatap Raina.


Raina tersenyum, untuk pertama kalinya Raina kembali tersenyum lega setelah mamanya meninggal. Entah mengapa Raina sangat nyaman berada didekat Deva dan merasa kembali seperti Raina yang dulu.


Deva sangat memberi dampak positif untuk Raina, namun dia tidak menyadari itu karena Raina hanya menceritakan mamanya yang sudah meninggal tanpa mengatakan bahwa dia sempat mengalami depresi yang cukup berat saat di Surabaya.


***


Raina sudah kembali ke kamarnya dan Deva masih setia menemaninya, mereka ngobrol seperti biasa tanpa rasa canggung. Sesekali Deva menghibur Raina agar tertawa dan kembali bahagia melupakan kesedihannya.


“Rainaaaaaaaaa....” teriak Senja yang langsung heboh saat masuk keruangan Raina.


Senja langsung memeluk Raina dan membolak-balikkan tubuhnya memastikan bahwa dia tidak apa-apa. “Wa’alaikumsalam Senja” Raina menyindir Senja yang masuk tanpa mengucap salam.


“Hehe... Assalam’alaikum Raina,” Senja merasa malu sendiri, sedangkan Deva menahan tawa melihat tingkah kedua sahabat itu.


“Nih aku bawain baju ganti dan ponsel kamu,” Senja langsung menyodorkan paperbag. Raina bingung kemudian dia melirik Deva seakan bertanya.


“Iya, aku yang suruh Senja mampir ke kost kamu sekalian bilang sama ibu kost kalau kamu harus dirawat dulu disini.” sahut Deva yang langsung paham.


“Assalamu’alaikum semuanya, Nih Dev pesenan lo. Hai Raina gimana keadaan kamu?” Verrel masuk dan langsung memberikan pesanan Deva yaitu baju gantinya.


“Thanks Rel,” sahut Deva langsung masuk ke kamar mandi untuk mengganti bajunya.


“Alhamdulillah kak.” balas Raina pada Verrel.


Mereka ngobrol santai seperti biasanya sampai akhirnya Raina tertidur setelah meminum obat, Deva mengajak Verrel dan Senja keluar agar tidak menganggu tidurnya. Mereka menuju kantin rumah sakit untuk berpindah tempat ngobrol.


“Dev, gimana ceritanya lo bisa dihubungin ibu kostnya Raina?” tanya Verrel yang masih heran.


“Kepo lo ah!” sarkas Deva bercanda.


“Eh Kak Dev, aku tadi tuh seneng banget loh lihat Raina soalnya dia udah kembali seperti biasanya meskipun belum sepenuhnya tapi setidaknya Raina jauh lebih baik dari saat dia di Surabaya.” ucap Senja pada Deva.


Deva bingung apa yang dimaksud Senja, “Emang waktu di Surabaya Raina kenapa?”.


JANGAN LUPA UNTUK LIKE YAA, MAKASIH🖤🖤

__ADS_1


 


__ADS_2