
‘Tokk... tokk.. tokk’
Bimo mempersilakan seseorang untuk masuk saat mendengar ketukan pintu, “Masuk!”
“Maaf, Pak? Apakah saya mengganggu Pak Bimo?” tanya Faris, sekretaris Bimo.
“Enggak, Ris. Ada apa? Apa ada jadwal meeting yang diajukan? Sini, silakan duduk!” Bimo yang tadi fokus dengan laptop langsung menghentikan aktivitasnya sejenak.
Faris duduk di depan bosnya lalu berkata, “Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Bapak. Tadi katanya namanya Ara, putri Ibu Nurlita Arella...”
‘Deg!’
Jantung Bimo langsung berdetak dengan hebat, darahnya berdesir, waktu seakan berhenti setelah mendengar ucapan yang dilontarkan oleh sekretarisnya itu. Satu pertanyaan yang terlitas dibenaknya, apakah ia salah dengar?
Daripada berperang sendiri dengan argumen yang ada dipikirannya, akhirnya Bimo memutuskan untuk bertanya agar jelas, dan tidak bertanya-tanya dalam batin. “Pak, bagaimana?”
“Maaf-maaf, siapa? Bisa tolong kamu ulangi lagi, Ris?”
“Namanya Ara, putri Ibu Nurlita Arella. Kalau Bapak sibuk, biar saya sampaikan kalau Bapak tidak bisa ditemui oleh siapapun-” Faris mengulangi ucapannya namun lansung di potong oleh bosnya.
“Nggak! Saya bisa, suruh dia naik sekarang juga. Sekarang!” ucapan Bimo mendadak tegas pada Faris. “Baik, Pak. Saya permisi?” balasnya.
Beberapa menit berlalu, Bimo tampak tidak sabar untuk bertemu dengan seseorang yang tadi Faris katakan. Waktu 5 menit tampak seperti satu jam bagi Bimo, nama yang sangat familiar di telinganya kini kembali terdengar setelah beberapa tahun lamanya, terakhir ia mendengar nama itu 17 tahun yang lalu.
Sungguh, Bimo sangat merindukannya. Juga penasaran apakah benar jika Ara, putri kandungnya yang datang ke kantor miliknya? Lalu bagaimana tes DNA yang ia lakukan dengan Bianca bisa positif? Siapa yang menyabotase hasilnya? Kini keraguan Bimo kembali muncul, karena tidak mungkin ada orang yang ngaku-ngaku mengunakan nama putri kandung dan istrinya.
“Permisi Pak?” Faris kembali masuk ke ruangan Bimo.
Bimo langsung berdiri dan menghampiri sekretarisnya itu, “Gimana? Mana orangnya, mana Ris?”
Belum saja Faris menjawab, Bimo berusaha mencari keberadaan sosok yang dicarinya hingga membuka pintu dan melihatnya di luar ruangan. “Faris, mana?”
“Pak Bimo, maaf. Tapi kata yang jaga resepsionis orangnya tiba-tiba pergi sebelum saya memintanya untuk menemui Bapak disini-” tutur Faris yang belum selesai.
“Cari, cari tahu tentang dia, siapa sia, asal usul, pokoknya semuanya. Bahkan kalau bisa bawa dia untuk bertemu dengan saya, secepatnya!” Bimo kembali masuk dan duduk di kursi kerjanya.
__ADS_1
Faris menudukkan kepala, “Baik, Pak.”
...***...
Raina berjalan menyusuri trotoar, sepulang sekolah ia tidak langsung kembali ke kost. Awalnya ingin singgah sebentar di taman untuk menyegarkan pikirannya, namun beberapa saat kemudian ia beralih memesan taksi online, dan hendak pergi ke apartemen milik mendiang mamanya.
“Ma, Raina udah tahu loh siapa Papa, siapa Kakak Raina. Ternyata selama ini mereka ada didekat Raina, nggak nyangka aja Ma. Om Bimo dan Kak Deva ternyata adalah keluarga kita, skenario Allah nggak bisa ditebak ya Ma?” Raina terus bergumam sambil mengusap-usap figura foto keluarga kecilnya.
“Tapi, maaf... Raina nggak bisa masuk ke keluarga mereka. Maksud Raina, Raina belum bisa untuk mengakui siapa Raina sebenarnya-” gadis itu mengulas senyumnya, lalu menghela napas berat.
Rasanya Raina tidak kuat menahan semua beban di pundak, begitu berat, dan bahkan sangat berat. Namun, pada siapa ia harus mengadu kecuali pada Allah. Bagaimana bisa ia menyerah begitu saja? Padahal Allah sudah mempercayakan cobaan ini untuk Raina lalui, terima, dan dijalani bagaimana semestinya.
“Dulu pasti sangat berat buat Mama ya? Maafin Raina ya, Ma? Karena waktu itu Raina sempat meragukan kasih sayang Mama, Raina kira dulu Mama menitipkan Raina ke Bunda karena Mama nggak sayang. Tapi, ternyata karena Mama mau melindungi Raina...”
“Ma, Raina kangen sama Mama... hiks... hiks...” hingga tiba akhirnya air mata Raina kembali jatuh tanpa permisi.
Gadis yang masih memakai seragam sekolah lengkap itu menangis sambil memeluk figura yang masih ada di genggamannya. Untuk kali ini, ia hanya masih bisa berandai-andai. Andai saja ada sang papa dan kakak yang akan memeluknya dengan erat ketika ia mengeluhkan rindu akan mama tercinta.
Ingatan Raina kini memutar kebelakang, mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Hanya tinggal beberapa langkah, mungkin Bimo akan mengetahui bahwa dia merupakan putri kandungnya. Namun, semua berubah begitu saja ketika Bianca tiba-tiba meneleponnya. Sehingga, saat itu juga Raina memutuskan untuk meninggalkan kantor sang papa dan menundanya untuk beberapa waktu kedepan.
“Kalau lo berani bilang ke Papa, lo putri kandungnya, gue nggak akan segan untuk bertindak... menyakiti keluarga panti lo yang ada di Surabaya!”
Ancaman Bianca kembali terngiang di telinga Raina, walaupun kala itu mereka hanya berbicara melalui via telepon. Raina tidak ingin mengambil resiko dan egois akan keputusannya. Ia memiliki keluarga yang tumbuh bersama dengan keluarga panti, sungguh ia tidak ingin melukai siapapun hanya karena keputusannya. Mungkin memang belum saatnya.
---
Ketika hari libur, Raina hanya ingin bermalas-malasan di kost-nya. Namun, siapa sangka ternyata ada yang tiba-tiba datang menghampiri padahal hari ini sama sekali tidak membuat janji dengan siapa-siapa. Lagipula kata Senja, ia akan pergi berlibur ke puncak dengan keluarganya, jadi tidak mungkin Senja yang datang.
Gadis itu langsung menyambar kerudung instan yang ada di dekatnya, lalu dengan langkah gontai mau tidak mau ia harus membuka pintu kamar kost untuk mengetahui ada keperluan apa padanya atau siapa yang mencarinya. Ternyata ibu kost yang datang ke kamarnya, “Ah... Bu Ina? Ada apa ya, Bu?”
“Neng, ada cowok yang nyariin Neng Raina. Tadi Ibu tanya ada apa, katanya penting terus dia bilang ingin bicara langsung sama Neng Raina.” balas Bu Ina menjelaskan.
__ADS_1
Baru saja Raina berpikir, Bu Ina mengimbuhi ucapannya, “Kayanya dia baru pertama kali kesini Neng.”
“Oh gitu ya, Bu? Yaudah, saya ganti baju sebentar setelah itu saya akan temui dia di ruang depan. Makasih ya, Bu?” ketika ibu kost pergi, Raina langsung bergegas berganti pakaian yang sopan juga menutup seluruh auratnya kecuali telapak tangan dan wajah. Tadi ia hanya memakai baju tidur dan hijab, karena lingkup kost hanya perempuan, dan tidak ada laki-laki yang boleh masuk kecuali keperluan mendesak.
Sembari berjalan menghampiri pria yang datang ke kostnya, Raina berpikir. Kata Bu Ina, pria ini belum pernah datang ke kost lalu mengetahui kost yang ia tempati darimana? Entah mengapa tiba-tiba pikirannya tertuju pada Jonathan, padahal itu juga tidak mungkin, lantas siapa?
Wangi parfum yang begitu semerbak, baunya harum tidak menyengat. Pria itu berdiri, Raina hanya dapat melihatnya dari belakang. Memakai sweater berwarna navy lalu celana jeans berwarna cream, postur tubuh sebelas dua belas dengan kakaknya, Devano. Namun, parfum yang ia cium aromanya tidak seperti yang biasa Devano pakai.
‘Siapa ya? Apa iya Kak Jo?’ batin Raina bertanya-tanya.
“Assalamu’alaikum?” suara Raina langsung membuat pria itu menoleh, wajahnya tampan seketika membuat Raina menundukkan kepala.
“Wa’alaikumussalam, maaf apa saya menganggu waktu kamu?” Raina menggelengkan kepala, lalu mempersilakan pria di hadapannya untuk duduk.
“Maaf, anda siapa? Saya tidak pernah melihat anda sebelumnya lalu bagaimana anda tahu saya dan kost yang saya tempati?” cukup banyak pertanyaan yang di lontarkan oleh Raina pada pria yang belum ia ketahui identitasnya itu.
Pria itu tersenyum mendengar pertanyaan Raina, harusnya ia yang memberi pertanyaan pada gadis dihadapannya bukannya malah ia yang di cecar berbagai pertanyaan. Setelah Raina terdiam, baru pria ini memperkenalkan diri.
“Sebelumnya perkenalkan, saya Faris, Sekretaris Pak Bimo...”
‘Sekretaris Papa? Ada apa ya? Apa jangan-jangan dia sadar akan kehadiranku di kantor Papa beberapa hari yang lalu?’ batin Raina bertanya-tanya, ia harus bisa bersikap tenang agar pria yang bernama Faris ini tidak curiga.
“Oh, Pak Faris? Ehm... ada keperluan apa ya datang kesini menemui saya?” tanya gadis berkerudung hitam itu.
“Apa benar, kamu itu Ara putri dari Ibu Nurlita Arella?” Raina langsung gelagapan mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Faris.
Bagaimana dia bisa tahu? Padahal saat Raina datang ke kantor papanya, ia benar-benar tertutup dan memakai masker. Gadis itu juga tidak menyebutkan nama aslinya, gerak-geriknya tidak boleh mencurigakan di hadapan Faris agar ia tidak dicurigai. Sebelum menanggapi ucapan Faris, Raina menghela napas.
Raina tersenyum seakan tidak paham akan ucapan Faris, “Maaf? Maksud Pak Faris apa ya? A-ara siapa? Nama saya Raina, hanya Raina tidak ada tambahan apapun!”
“Arella Raina Anggara, bukankah itu nama lengkap kamu? Nama Ara itu di ambil dari inisial nama lengkap untuk dijadikan nama panggilan di Keluarga Anggara, bukankah begitu?” Faris menjelaskan dengan jelas membuat Raina bingung harus menyikapi pria dihadapannya bagaimana.
Daripada salah mengucap, Raina langsung beranjak dari duduknya. Gerak-gerik Raina bisa terlihat mencurigakan di depan Faris jika ia terus meladeninya. Sebenarnya Faris bisa menjadi penolong untuk membantunya menyampaikan pada Bimo bahwa ia merupakan putri kandung di Keluarga Anggara, tapi mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengakui semuaya.
“Apa maksud ucapan Pak Faris, saya sama sekali tidak mengerti. Jika maksud dan tujuan anda datang kemari hanya untuk menanyakan saya Ara atau bukan, jawabannya bukan. Karena nama saya Raina, bukan Ara.” Gadis berkerudung hitam tetap kukuh dengan jawaban awalnya.
__ADS_1