
Faris menghela napas, rasanya percuma juga jika ia terus mencecar Raina dengan pertanyaan yang sama. Ia pun belum memiliki bukti yang kuat, hanya memiliki identitas lengkap Raina yang sama dengan putri kandung bosnya, Bimo. Jika Faris menunjukkan identitas putri kandung Bimo Anggara yang ternyata sama dengan Raina, bisa juga nanti Raina tetap menyangkal lalu menuduhnya memalsukan identitas.
Raina berdiri membelakangi Faris, ingin rasanya gadis berkerudung hitam itu meninggalkan Faris begitu saja. Akan tetapi, ia tahu rasa sopan santun. Apalagi Faris berstatus sebagai tamu, meskipun kehadirannya tidak diundang.
“Apa kamu kenal dekat Mas Vano?” sontak Raina membalikkan badan, “Mas Vano?” tanyanya dengan nada sedikit bingung.
“Maksud saya, Devano.” Faris meralat ucapannya.
Raina mengangguk pelan, “Iya saya mengenalnya... hanya sebatas kakak dan adik kelas.”
Perubahan raut wajah Raina bisa di lihat Faris dengan jelas, sepertinya Faris harus mendekati Raina untuk menggali informasi lebih. Tampaknya seperti ada perasaan yang Raina pendam lalu tidak dapat diungkapkan begitu saja.
“Apa saya bisa menemui kamu lagi nanti?” Raina mengernyit, tidak paham apa maksud dari ucapan yang Faris ucapkan barusan.
“Untuk apa? Saya rasa tidak ada lagi yang harus kita bahas, kalau urusan Pak Faris sudah selesai silakan pulang.”
‘Gadis yang tidak bisa di tebak’ batin Faris sebelum benar-benar pamit pulang.
“Baiklah, kalau kamu membutuhkan bantuan saya, jangan sungkan untuk menemui atau menghubungi saya-” pria berwajah tampan dan berpenampilan kasual itu merogoh saku celana lalu mengambil kartu nama yang ada di dompet dan memberikan pada gadis dihadapannya.
Tidak langsung mengambilnya, Raina hanya melihat kartu nama yang di sodorkan oleh Faris. “Terima kasih, saya rasa saya tidak memiliki keperluan apa-apa lagi dengan Pak Faris kedepannya.”
Faris tersenyum ketika Raina memalingkan wajah dan tidak menerima kartu nama yang ia berikan. Pria itu berjalan lalu meletakkan kartu nama di atas meja, “Baiklah, kalau begitu saya permisi. Assalamu’alaikum?”
“Wa’alaikumussalam Warrahmatullahi Wabarakatuh...”
---
Kemarin, Raina hanya ingin bersantai di kostnya. Namun siapa sangka? Pria yang tidak ia kenal datang untuk bertemu dengannya. Bagaimana bisa pria yang bernama Faris itu tahu identitasnya? Padahal sebisa mungkin, Raina harus bersabar dan bermain cantik untuk menghadapi Bianca yang cerdik.
Semuanya goyah setelah Faris datang dan mengetahui siapa Raina sebenarnya. Jika Raina egois, bisa saja ia meng-iyakan ucapan Faris yang mengatakan bahwa dirinya adalah Ara. Namun tidak semudah itu, ada keluarga di Surabaya yang harus ia lindungi dan jaga dari kejauhan. Jika Bianca tahu, bisa jadi ia akan melakukan hal yang tidak-tidak pada keluarganya di panti.
“Raina kenapa sih? Setiap habis libur sekolah pasti aja ngelamun kayak gini? Mikirin apa?” cecar Senja ketika mereka tengah menikmati makan siang di kantin.
__ADS_1
“Beberapa waktu lalu, sepulang sekolah. Aku datang ke kantor Papa, tapi aku nggak jadi menemuinya. Aku masih kepikiran sama ucapan Bianca, Nja.”
Raina kini sudah lebih terbuka dengan sahabat satu-satunya itu, ia selalu mengungkapkan keluh kesahnya pada Senja. Apalagi setelah Senja tahu bahwa dirinya merupakan bagian dari Keluarga Anggara.
“Ra, tinggal beberapa langkah lagi kamu akan ada diposisi kamu sebagai Putri Anggara! *Okay*, aku tahu kalau kamu tuh menjaga keluarga kamu di Surabaya. Tapi kamu berkah ada di posisi kamu, aku yakin kalau nanti kamu telanjur ngomong dan Bianca tahu. Pasti Om Bimo sama Kak Deva akan melindungi kamu dan keluarga kamu.”
Siapa juga yang tidak geram dengan tingkah Bianca yang selalu saja ingin berada di posisi teratas. Seakan ia lupa, siapa jati diri yang sebenarnya. Bianca sudah dibutakan oleh kemewahan, fasilitas, dan kekayaan yang Bimo dan Devano berikan.
Senja meraih tangan Raina untuk menguatkan, “Ra? Aku sama Kak Verrel akan selalu ada di pihak kamu...”
“Makasih, Nja. Oh iya, sebenernya kemari Minggu setelah aku pergi ke kantor Papa, sekretaris Papa mendatangi aku ke kost, namanya Pak Faris. Beliau juga sepertinya menggali informasi tentang aku, kedatangannya kemarin langsung menanyakan apakah aku itu Ara atau bukan-”
“Apa?! Serius, bagus dong! Dengan begitu, tanpa kamu bilang Om Bimo akan tahu dengan sendirinya. Jadi, Bianca nggak akan membuktikan ucapannya. Kan bukan kamu yang ngomong, tapi Om Bimo yang cari tahu sendiri.” sela Senja.
Entah Senja hanya menghibur Raina, menenangkan hatinya, atau memang ucapannya bisa di buktikan nanti. Raina lega mengatakan hal ini pada Senja, lagi pula ada benarnya juga apa yang sahabatnya lontarkan. Semoga saja Bianca tidak macam-macam dengan Keluarganya di Surabaya, karena mereka tidak tahu apapun tentang masalah ini.
“Udah ya, tenang. Kamu hanya harus fokus ke tujuan, abaikan Bianca. Anggap di nggak ada dan bukan siapa-siapa. Aku sama Kak Verrel nggak akan pernah tinggal diam kalau Bianca melangkah lebih jauh.” Pungkas Sahabat Raina seraya tersenyum.
...***...
“Assalamu’alaikum, Mbak Nadia? Mbak kenapa, kok nangis?” sahut Raina ketika sang kakak yang berada di Surabaya meneleponnya tengah malam.
“Wa’alaikumussalam Dek, panti... panti kebakaran-” tutur Nadia di sela isak tangisnya.
‘Deg!’
Jantung Raina langsung terpacu begitu cepat, darahnya berdesir hebat. Apakah semua ini hanya mimpi buruk yang selama ini ia takuti? Gadis itu langsung menepuk-nepuk pipi untuk memastikan apakah ini nyata atau hanya mimpi belaka. Ternyata bukanlah mimpi, ini merupakan kenyataan buruk yang harus ia terima. Ketakutan yang harus ia tepis jauh-jauh kini seakan berada di depan mata.
“Innalillahi Wa Innailaihi Roji’un... Terus gimana keadaan Mbak Nadia, Bunda, Mas Alif, Adek-adek, sama semuanya? Semua baik-baik ajakan?” Raina benar-benar khawatir dengan keluarga yang berada di Surabaya.
Nadia masih terdengar menangis di seberang sana, “Tony mengalami luka yang lumayan serius, A-andi... Andi meninggal Dek-”
“Innalillahi Wa Innailaihi Roji’un...” tangis Raina pecah, kakinya terasa lemas setelah mendengar ucapan Nadia.
__ADS_1
“Alhamdulillah lainnya selamat. Dek, Mbak mau izin sama kamu. Apa boleh untuk sementara kami tinggal di rumah Tante Lita?” Raina langsung memperbolehkannya, “Boleh Mbak. Kalian di sana aja dulu, Insyaa Allah Raina besok akan pulang ke Surabaya kalau dapat izin dari sekolah.”
“Alhamdulillah makasih ya, Dek. Kamu nggak perlu cemas atau khawatir, kamu cukup berdo’a aja dari sana nggak papa kok. Lagi pula bentar lagi kamu ujian nasional pasti nggak boleh sembarangan izin...” benar juga ucapan Nadia, namun bagaimanapun caranya besok Raina akan tetap mencoba untuk izin pada pihak sekolah.
“Yaudah Mbak, semoga semua baik-baik aja ya? Raina akan tetap berusaha untuk izin, Raina tutup ya teleponnya. Assalamu’alaikum?”
Setelah Nadia menutup teleponnya, Raina memutar pikiran. Satu nama yang kini langsung menjadi tersangka, yaitu Bianca. Sebenarnya gadis itu juga tidak ingin berburuk sangka, namun siapa lagi? Apa benar hanya murni sebuah kecelakaan? Semoga saja ini terakhir kali ia mendapat kabar buruk.
---
“Pak, saya mohon. Saya mau izin untuk pulang ke Surabaya, 4 hari saja. Keluarga panti saya yang ada di Surabaya semalam mendapat musibah, panti asuhan yang saya tempati terbakar-” Raina memohon pada wali kelas agar di beri izin untuk pulang ke Surabaya selama beberapa hari.
“Innalillahi Wa Innailaihi Roji’un. Saya ikut bersedih atas berita buruk yang kamu sampaikan. Raina, kamu murid beasiswa. Kamu harus memberi contoh yang baik pada mereka, kamu harus menjadi murid teladan. Kalau kamu meminta izin pada saya, jelas saya tidak berani memutuskan langsung. Apalagi menjelang ujian nasional, banyak ulangan yang harus di kejar-”
Mendengar jawaban dari wali kelas, Raina langsung merasa pesimis, seakan tidak di beri izin. Sungguh, gadis itu ingin melihat langsung bagaimana keadaan keluarganya yang ada di Surabaya.
Beberapa saat suasana menjadi hening, lalu wali kelas Raina berkata. “Coba kamu izin ke kepsek, saya akan mengantarkanmu...”
Lengkungan di bibir Raina langsung terukir. Seperti apa yang dikatakan oleh wali kelasnya, Raina di antarkan untuk menemui kepala sekolah. Dalam hatinya terus berdo’a agar ia di beri izin walau hanya dua hari.
Kini, Raina sudah berada di dalam ruangan kepala sekolah. Hanya saja masih menunggu kehadiran beliau yang belum datang ke sekolah karena menghadiri pertemuan kepala sekolah satu kota di salah satu sekolah negeri yang ada di Jakarta. Entah berapa lama, Raina akan menunggunya. Sebisa mungkin hari ini ia harus berangkat ke Surabaya.
Satu jam sudah Raina menunggu bersama wali kelasnya, akhirnya kepala sekolah datang juga ke sekolah. Wali kelas Raina menjelaskan menjelaskan maksud dan tujuan mereka menemui beliau. Tidak lupa kepala sekolah ikut prihatin dengan apa yang menimpa keluarga Raina di Surabaya.
“Pak, saya mohon izinkan saya untuk pulang ke Surabaya selama beberapa hari. Saya janji untuk mengejar ketertinggalan pelajaran sekolah setelah saya pulang dari Surabaya.” Tutur Raina dengan Bapak kepala sekolah.
“Pak Ridwan, apakah ada ulangan minggu ini?” tanya kepala sekolah pada wali kelas Raina.
Beliau mengangguk seraya berkata, “Iya Pak, ada 5 ulangan di minggu ini. Maka dari itu, saya takut jika saya mengizinkan Raina ke Surabaya Raina akan mengejar ulangan sebanyak itu apalagi ulangannya nanti di pakai untuk mengolah nilai rapor sebelum ujian nasional.”
“Maaf, Pak? Apa boleh saya kerjakan sekarang? Saya sanggup mengerjakan semuanya, asalkan setelah itu saya di izinkan untuk Pulang ke Surabaya...”
__ADS_1
“Baiklah, Pak Ridwan tolong bawakan soal-soal ulangannya kemari. Biarkan saya yang mengawasi Raina secara langsung,” Pak Ridwan permisi lalu mengambil soal-soal untuk Raina.