
‘Tumben bunda nggak ngelarang aku deket-deket sama cowok? Bunda udah kenalan sama Kak Deva?’ batin Raina yang merasa bingung.
“Nggak, masa Raina berduaan sama cowok sampai Jakarta sih bun?” Alif yang menentang.
“Udah nggak papa, ayo kita sarapan dulu.” Ajak bunda, Alif semakin bingung dengan bundanya begitupun dengan Raina.
*****
“Bunda, Raina sama Kak Deva pamit ya? Makasih udah ngijinin aku balik bareng Kak Dev...” Raina mencium punggung tangan bundanya.
“Bunda kita pamit ya, makasih udah menerima saya dengan baik..” Deva juga ikut mencium tangan bunda.
Bunda merasa bahagia, sangat bahagia karena melihat Raina bisa bahagia seperti sekarang ini, “Nak Deva titip Raina ya? Sayang hati-hati jangan nakal sama Kak Deva ya?” Raina tak terima dengan ucapan bundanya.
“Bunda ih, yang bisa nakal emang cuma aku aja? Kak Deva enggak?” protesnya.
Deva pun ikut terkekeh mendengarkan Raina protes, “Yaudah ayo Ra, Assalamu’alaikum bunda, Mbak Nadia, dan Alif..” ucapnya.
Raina memeluk bunda dan juga Nadia, dia juga berpamitan pada Alif namun tidak memeluknya. “Assalamu’alaikum...” ucap Raina.
“Wa’alaikumsalam warrahmatullahi wabarokatuh...” sahut mereka secara bersamaan.
Mobil yang dikendarai Deva dan Raina kini membelah jalan yang sepi, mereka saling diam seperti biasanya. “Kak maaf ya kalau keluargaku bikin kamu nggak nyaman?” akhirnya Raina membuka suara terlebih dahulu.
“Enggak kok, santai aja lah. Malahan aku mau makasih sama kamu karena udah ngenalin keluarga kamu ke aku.” Sahut Deva.
“Oh ya Ra, Alif itu tadi kakak kamu?” Deva pun menanyakan apa yang ada dipikirannya.
“Iya, tapi anak kandung bunda. Jadi, bukan kakak kandung aku.” Balas Raina.
‘Pantesan, eh Raina sadar nggak ya kalau Alif tuh nggak nganggep dia sebagai adiknya?’ ucap Deva didalam hatinya, entah mengapa insting sebagai seorang kakak tiba-tiba muncul.
“Emangnya kenapa kak?” tanyanya dengan polos.
“Enggak cuma penasaran aja.” Sahut Deva.
-----
Hari libur hanya tersisa dua hari lagi, hari ini Raina memutuskan untuk pergi ke sebuah villa yang sudah dipesankan almarhumah mamanya. Sampainya disana Villa nampak sepi, sudah dua kali dia mengucapkan salam namun tidak ada yang menjawab. “Assalamu’alaikum...” ucapnya yang ketiga kali.
Dia menunggu beberapa saat, sampai akhirnya dia memutuskan untuk kembali karena villa yang ada dipuncak tempatnya sekarang nampak tidak berpenghuni.
__ADS_1
“Wa’alaikumsalam nak?” ada seseorang yang menyahut saat Raina baru saja melangkahkan beberapa langkahnya.
Raina sontak langsung menoleh, senyumnya merekah seketika. “Silahkan masuk?” ucap seorang ibu paruh baya yang usianya berkisar 50an tahun.
“Maaf jika boleh tahu ada keperluan apa? Dan bagaimana bisa tahu villa ini nak?” tanyanya saat sudah berada diruang tamu.
“Dari mama saya bu, Mama Lita...” ucap Raina yang begitu Ragu, namun ibu itu sontak langsung terkejut mendengarkan nama Lita.
“Saya Ara, putrinya.” Imbuhnya dengan mantap.
Ibu itu sontak langsung memeluknya dan menangis, Raina bingung. “Masyaallah kamu sudah besar nak?” ucap ibu itu dengan tatapan sendu.
“Panggillah saya Ibu atau Bi Mirna...” imbuhnya.
“Ibu mengenal baik Mama Saya? Bagaimana ibu tahu saya dan tidak ragu dengan saya?” Raina tidak bisa menahan pertanyaan yang terus berkeliling dipikirannya.
-----
Hari Senin tiba, usailah libur akhir semester 2. Kini Raina dan Senja sudah menyandang status kelas 12. Baru saja hari pertama, Senja sudah begitu heboh saat dikantin.
“Ra, tahu nggak masa....” ucapan Senja belum usai namun dipotong oleh Raina.
“Senja habis sholat dhuha nggak boleh gibah!” Raina memperingati sahabatnya itu.
“Mending ke perpustakaan aja baca buku yuk?” ajak Raina yang sudah beranjak dari duduknya.
“Bianca itu adik kandungnya Kak Deva!!” Raina langsung menghentikan langkah kakinya.
‘Bagaimana mungkin?’ batin Raina.
“Serius?” tanya Raina yang langsung berubah menjadi serius.
“I-iyaa..” sahut Senja yang mendadak bingung perubahan raut wajah Raina.
*****
Ditengah jam pelajaran berlangsung Raina terus melamun, bahkan sama sekali tidak memperhatikan guru yang sedang mengajar didepan kelas. “Ra, Raina!!!” Senja menyenggol tangan Raina.
“Apa sih Nja?!” sahutnya yang merasa terganggu.
Senja mengodekan matanya kedepan kelas, “Itu dari tadi dipanggi Bu Suci....” bisiknya.
__ADS_1
“Ahh i-iya bu?” ucap Raina dengan terbata-bata.
“Kenapa kamu ngelamun? Nggak pehatiin pelajaran saya ya? Coba jelaskan apa yang saya ucapkan tadi!” Bu Suci nampak agak marah padanya.
“Tadi tentang apa Nja?” tanyanya pada Senja dengan berbisik.
“Turunan Fungsi Aljabar.” Sahutnya.
Raina langsung maju kedepan kelas dan menjelaskan materi sesuai dengan yang diperintahkan Bu Suci padanya. Semua temannya tidak heran sih jika Raina sangat fasih dan lancar menjelaskan materi itu, namun Bu Suci merupakan guru baru yang mengajarnya dikelas 12 kagum padanya.
“Maaf bu, apa ada yang kurang?” tanya Raina setelah selesai menjelaskannya.
“Ah sudah cukup, terima kasih. Silahkan kembali duduk, dan jangan bengong lagi dikelas!” Raina menunduk dan kembali ketempat duduknya.
Sepulang sekolah Raina yang sedang jalan kaki pulang menuju kostnya, tiba-tiba dihadang sebuah mobil yang sangat tidak asing baginya. Namun saat pengemudi mobil keluar, membuatnya sedikit menghela nafas. Karena itu adalah Bianca.
“Jangan pernah ganggu keluarga gue lagi!” bentak Bianca.
“Wa’alaikumsalam...” Raina menyindirnya.
“Kalau ketemu orang, ucap salam dulu.” Jelasnya.
“Inget kata-kata gue ya?! Gue nggak akan segan buat nyelakain keluarga lo yang ada di Surabaya kalau lo berani deket-deket sama keluarga gue meskipun hanya via chat! Gue nggak pernah main-main sama ucapan gue!” Bianca langsung pergi meninggalkan Raina disana setelah mengancamnya.
‘Ya Allah, cobaan apa lagi ini? Kuatkanlah aku’ batin Raina yang terus beistighfar.
***
Raina terus mengingat ucapan Bu Mirna yang mengatakan bahwa “Kamu adalah putri Anggara, anak kedua dari Bimo Anggara. Dan kamu memiliki kakak bernama Devano Julian Anggara.” Kalimat itu terus terngiang dikepalanya.
Mengapa dia tidak pernah sadar ada sebuah marga yang tertera dibelakang namanya? Dan bagaimana dia hanya tahu nama Deva adalah Devano Julian tanpa tahu ada Anggara juga dibelakangnya?
Sungguh Raina kembali berperang dengan pikirannya sendiri, bagaimana dia mengatakan bahwa dia adalah bagian dari Keluarga Anggara jika disaat yang bersamaan Bianca diakui sebagai adik kandung Deva, putri Anggara?
“Astaghfirullah aku harus bagaimana?” Raina memejamkan matanya.
“Apa aku minta bantuan Senja sama Kak Verrel ya?” tanyanya pada diri sendiri.
“Nggak, ini masalah kamu Ra. Jangan sangkut pautkan dengan orang lain...” dia menjawabnya sendiri.
“Mama, aku rindu. Ma, bagaimana aku menghadapinya sendirian?” Raina meneteskan air matanya. Dia terus berperang dengan pikirannya hingga dia terlelap tidur.
__ADS_1