Inseparable

Inseparable
Flashback (Bianca)


__ADS_3

Assalamu'alaikum, maaf nggak bisa nepatin buat up setiap hari🙏


Nggak nyangka sih kemarin habis up malah jatuh sakit, hehe🌹


JANGAN LUPA LIKE 🖤


Selamat membaca🌻


.


.


.


Flashback On


Pada hari itu Bianca pulang terlalu malam sehingga dia mengira bahwa papa dan kakaknya sudah tertidur namun dia salah ternyata mereka menunggu kedatangannya dan sedang menonton TV diruang tengah.


“Dek, dari mana aja kok baru pulang? Nggak lihat ini udah jam berapa?” ucap Deva dengan nada marah. Tadinya Bianca sudah mengendap-endap agar tidak diketahui keberadannya namun ternyata Deva menyadari kedatangannya.


“Ehm... maaf pa, kak. Bianca pulangnya terlambat.” Bianca bingung hendak menjawab, dia memang boleh pergi main hingga malam hari namun ada batasan jam untuknya yaitu pukul 9 malam.


Namun hari ini dia sangat terlambat pulang kerumah karena jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam.


“Dari mana dek?” tanya Deva yang masih dingin.


Bianca terdiam beberapa saat, tidak langsung menjawab. “Dari rumah ayah sama ibu kak, tadi sebenernya mau pulang awal tapi ditelepon sama ayah kalau ibu sakit yaudah aku kesana ngerawat ibu bentar.”


“Gimana keadaan ibu kamu nak?” papa akhirnya membuka suara.


“Udah mendingan kok pa.” Sahut Bianca tersenyum kikuk.


Deva langsung mengusap lembut pucuk kepala gadis yang sudah dianggapnya adik itu, “Dek kakak cuma takut kamu kenapa-napa. Lain kali kalau pergi malam gini biar kakak yang anter ya? Atau langsung bilang kalau pulangnya telat bia kakak bisa jemput.” Ucapnya.


“Deva jangan berlebihan, dia adik angkat kamu gimana pun juga kalian bukan mahram.” Tegas sang papa.


“Iya pa, maaf.” Deva langsung menjauh dari Bianca.


“Yaudah Bianca kekamar dulu ya pa, kak mau mandi sama ganti baju.” Bianca melangkahkan kakinya dengan ccepatnamun langkahnya terhenti karena tas selempangnya tersangkut lalu jatuh, isinya berceceran dimana-mana.


Deva dan papa menghampiri Bianca yang memunguti isi tasnya, “Ya ampun dek, hati-hati dong.” Ujar Deva sambil membantunya.


“Bianca?” ucap papa dengan suara tertahan.

__ADS_1


Deva dan Bianca langsung menoleh melihat sang papa sedang memegangi secarik kertas, “Kamu dapat ini dari mana?” papa langsung menunjukkan sebuah foto keluarga kecil.


Deva pun ikut terkejut, foto yang ditunjukkan papanya sama dengan foto yang dia pajang diatas nakas bahkan dia memandanginya saat hendak tidur.


“Ehmm... i-tu...” Bianca terbata-bata.


‘Aduh mau ngomong apa gue, itu kan fotonya Raina si cewek beasiswa itu. Waktu itu jatuh pas tabrakan diapartemen, astaga jawab apa gue?’ batin Bianca merasa cemas.


‘Lagian itu foto apa sih? Lagian kenapa masih ditas, padahal kemarin udah mau gue simpen dilaci’ lagi-lagi Bianca berbicara dalam hatinya.


“Ini kan foto yang aku pajang dinakas, kamu ambil ya dek?” Deva malah menuduh Bianca.


Bianca semakin bingung dengan yang diucapkan kakaknya, “Enggak lah kak. Coba aja cek kamar kakak! Lagian aku nggak pernah masuk kamar kakak sekalipun, karena nggak dibolehin sama papa.” Ucapnya.


Mereka bertiga langsung pergi ke kamar Deva untuk membuktikan ucapan Bianca benar atau salah. Betapa terkejutnya Bianca saat melihat foto yang berada diatas nakas kamar Deva sama dengan foto yang dia pungut saat bertabrakan dengan Raina saat itu.


‘What? Fotonya sama? Apa jangan-jangan?’ batin Bianca semakin tak karuan.


“Emang itu foto apa kak? Pa?” tanya Bianca dengan ragu-ragu. Pasalnya Papa dan kakaknya itu tidak pernah terbuka mengenai mama dan adik kandung dari Deva. Bianca hanya mengetahui bahwa sebenarnya papanya itu masih memiliki satu putri kandung yang keberadaanya masih dicari hingga saat ini.


“Ini foto mama dan adik kecil ku dek...” ucap Deva seraya mengambil dan memandangi foto tersebut yang berada diatas nakas.


‘Apa? Jadi Raina itu adik kandungnya Kak Deva alias putri papa? Eh nggak-nggak bisa jadi tuh cewek beasiswa juga cuma nemu ni foto kan?’ hati Bianca semakin berkecamuk tak karuan rasanya.


“Jadi kamu dapat foto ini dari mana?” papa kembali bertanya padanya.


“I-itu... ta-di waktu aku nemuin bapak sama ibu. Mereka bilang kalau aku bukan anak kandung mereka, dan mereka bilang kalau keluarga asli aku yang ada didalam foto itu...” Bianca berbicara sambil mengeluarkan air matanya.


(Aku ngetik dialognya Bianca kok gemes sendiri ya? Astaghfirullah....)


Raut wajah Bianca dia buat sesedih mungkin agar terlihat natural. Papa dan Deva pun langsung tercengang mendengarkan penuturan darinya. “Kamu serius nak?” papa berusaha meyakinkan.


“Pa, untuk apa aku bohong? Aku sedih ternyata bapak sama ibu bukan orang tua kandungku pantas saja mereka dengan senang hati memberiku saat kecil pada kalian... hiks...hiks...” Bianca malah menangis disana.


‘Jadi Bianca yang selama ini aku angkat sebagai anak ternyata dia adalah putri kandungku sendiri?’ batin papa sambil menatap sendu Bianca.


Papa langsung mendekat dan memeluk Bianca, “Alhamdulillah sayang ternyata kamu adalah putri kandung papa.”


Deva pun ikut meneteskan air matanya melihat sang papa memeluk gadis yang diduga adik kandungnya itu, bahkan tak segan dia juga memeluk mereka berdua.


***


Bianca masuk kekamarnya sambil gelisah, apa yang harus dilakukannya besok? Pasalnya papanya meminta untuk bertemu dengan kedua orang tuanya untuk memberi penjelasan mengenai dia bukan anak kandung dari mereka.

__ADS_1


Bianca terus mondar-mandir bingung mau bagaimana, “Ayo Bi mikir!! Gue tahu lo pinter, ayo dong!!” gumamnya pada diri sendiri. Dia akhirnya memutuskan untuk tidur dan melakukan apa yang direncanakan besok pagi.


Keesokan harinya.....


“Pa, aku pamit duluan ya kerumah bapak sama ibu. Katanya ibu tambah sakit, nanti papa sama kakak nyusul aja kesana ya?” Bianca sudah rapi dengan pakaiannya menghampiri papa dan kakaknya yang sedang menikmati sarapan.


“Mending kita barengan aja?” ucap papa, disetujui oleh Deva.


“Nggak usah kak, pa. Yaudah aku berangkat ya? Assalamu’alaikum...” Bianca langsung berlari terburu-buru, dia langsung menaiki mobil menuju rumah kedua orang tuanya.


Sampainya dirumah kedua orang tuanya dia langsung masuk tanpa mengucap salam, “Pak, bu?” teriaknya.


“Apa-apaan sih kamu Bi?! Masuk bukannya ngetuk pintu atau ngucap salam malah teriak-teriak!” sentak ibunya.


“Ngapain kesini? Bawa uang nggak? Anak nggak tahu malu udah hidup enak lupa sama orang tua!” imbuh bapaknya.


Bianca langsung mengeluarkan uang cash senilai 3 juta dari dalam tasnya. “Aku baru bawa itu,” bapaknya langsung mengambil uang yang diletakkan Bianca di atas meja.


“Aku bakal tambahin 50 atau 100 juta kalau bapak sama ibu mau ngelakuin sesuatu buat aku.” Ucapnya.


“Apa?” sahut mereka berdua secara bersamaan.


Bianca langsung memberitahu apa yang harus dilakukannya saat papa dan kakaknya datang kerumah nanti.


Dua jam kemudian, papa dan kakaknya tiba dirumah orang tua Bianca. “Silahkan masuk tuan, den” ucap Bapak Bianca mempersilahkan mereka berdua masuk.


“Ah jangan seperti itu pak, panggil saja Bimo dan anak saya Devano.” Papa Deva sangat tidak nyaman diperlakukan layaknya seorang petinggi.


“Iya om panggil aja Deva.” Imbuh Deva seraya tersenyum.


“Maaf jika saya mengganggu, oh ya apakah Bianca tidak kesini?” Papa Deva melihat sekeliling namun tidak menemukan sosok putrinya tersebut.


“Oh iya Bianca tadi sudah datang lebih awal untuk merawat ibunya yang sedang sakit, perlu saya panggilkan?” tawar Bapak Bianca.


“Oh tidak perlu, tapi apakah kita boleh sekalian menjenguk istri bapak yang sedang sakit?” sahut Papa Deva.


“Oh mari silahkan...”


.


.


Bismillah nanti up lagi, jangan lupa tinggalkan Like 🖤

__ADS_1


__ADS_2