
Assalamu'alaikum, selamat malam semuanya🤗
Maaf banget baru update, aku udah janji kok dari awal buat namatin novel ini. Jadi, aku nggak akan bikin novel ini ngegantung. Tapi maaf ya kalau telat update, soalnya kadang-kadang pulang kerja udah nyicil cuma nggak bisa jadi satu episode😭. Makasih buat yang selalu nungguin novel ini update dan selalu memberi dukungan, maaf juga belum bisa feedback.
Happy Reading, Jangan lupa LIKE🖤
.
.
.
Bertaut (Nadin Amizah)
Bun, hidup berjalan seperti bajingan
Seperti landak yang tak punya teman
Ia menggonggong bak suara hujan
Dan kau pangeranku, mengambil peran
Bun, kalau saat hancur ku disayang
Apalagi saat ku jadi juara
Saat tak tahu arah kau di sana
Menjadi gagah saat ku tak bisa
Sedikit ku jelaskan tentangku dan kamu
Agar seisi dunia tahu
Keras kepalaku sama denganmu
Caraku marah, caraku tersenyum
Seperti detak jantung yang bertaut
Nyawaku nyala karena denganmu
Aku masih ada sampai di sini
Melihatmu kuat setengah mati
Seperti detak jantung yang bertaut
Nyawaku nyala karena denganmu
Bun, aku masih tak mengerti banyak hal
Semuanya berenang di kepala
Dan kau dan semua yang kau tahu tentangnya
Menjadi jawab saat ku bertanya
Sedikit ku jelaskan tentangku dan kamu
Agar seisi dunia tahu
Keras kepalaku sama denganmu
Caraku marah, caraku tersenyum
Seperti detak jantung yang bertaut
Nyawaku nyala karena denganmu
Aku masih ada sampai di sini
Melihatmu kuat setengah mati
Seperti detak jantung yang bertaut
Nyawaku nyala karena denganmu
Semoga lama hidupmu di sini
Melihatku berjuang sampai akhir
Seperti detak jantung yang bertaut
__ADS_1
Nyawaku nyala karena denganmu
Raina mendengarkannya dengan seksama, suaranya begitu teduh ditelinganya, dia sangat menikmati suara yang sangat tidak asing ditelinganya. Namun dia masih penasaran karena orang yang bernyanyi tampak backlight, maka dari itu Raina tidak yakin bahwa pemilik suara yang didengarnya tidak mungkin orang yang dikenalnya.
“Rainaaa!!!!” suara Senja mengagetkan Raina yang barusan melamun memikirkan pemilik suara yang sudah hilang itu.
“Apa sih?” Raina merasa kesal dengan Senja.
“Udah pada bubar tuh! Kamu mau disini sampai kapan hah?!”
Raina hanya celingukan melihat sekitar yang sudah tidak ada orang, hanya ada Senja yang berada disamping Raina. “Hehe, kok udah pada bubar?” Raina malah kembali bertanya.
“Kamu terlalu terpesona sama yang nyanyi barusan!” ucap Senja dengan menekan kata belakang.
“Yaudah ayo balik! Nunggu apaan?” Raina malah meninggalkan Senja yang masih duduk.
“Raina tungguuuuu!!!!!!” Senja berlari menyusul Raina yang sudah agak jauh.
Hari semakin malam, Raina duduk didepan api unggun yang dibuatnya sendiri. Dia belum tertidur sedangkan yang lainnya mungkin sudah terlelap dialam mimpinya. Hanya terdengar suara hewan malam disana, untung saja cuaca sangat cerah, banyak bintang yang menghiasi langit yang gelap dan bulan sabit yang begitu cantik.
‘*Masa iya sih tadi yang nyanyi Kak Deva*?’ batin Raina, bahkan lagu bertaut tadi terus terngiang-ngiang ditelinga dan pikirannya
“Akkhhh, masa iya Kak Deva ada disini?!” teriak Raina yang merasa frustasi.
“Kalau disini emang kenapa?” jawab seorang cowok dari belakangnya. Sontak Raina menoleh kebelakang namun tidak ada siapapun.
“Tuh kan, aku halu. Masa nggak ada Kak Deva tapi ada suaranya.” Raina menggelengkan kepalanya kuat-kuat, ada juga sedikit rasa takut didalam hatinya pasalnya hanya Raina sendiri yang ada diluar tenda.
“Enggak Raina enggak ada siapa-siapa disini, yang lain udah pada tidur kok!” Raina meyakinkan dirinya sendiri.
“Kyaaaaaaaaa...... mmpphhh...” Raina berteriak namun mulutnya langsung dibungkam oleh orang yang ada disampingnya.
“Sssttt... Ini aku Deva, jangan teriak-teriak. Kamu mau semuanya pada bangun terus ngira aku ngapa-ngapain kamu?” ucap Deva pada Raina yang masih melotot tak percaya.
“Habisnya, Kak Deva ngagetin aku sih!” Raina kesal, bukannya minta maaf justru Deva bicara yang tidak masuk akal.
“Iya-iya maaf, kamu ngapain nggak tidur? Mikirin aku ya?” Deva semakin menyebalkan menurut Raina.
“Belum ngantuk kak, enggak lah ngapain mikirin anak orang.” Raina menjawab dengan nada ketus.
“Ini udah malam loh Ra hampir jam satu, nggak takut disini sendirian?” ujar Deva yang hanya sekedar basa-basi.
“Iya tahu dari tadi juga udah malam kok, kalau aku takut nggak ada disini dong?” jawab Raina yang membuatnya sedikit kesal.
Mereka berdua kemudian saling diam, baru kali ini mereka tidak ada bahan obrolan. Mereka hanya mengulurkan kedua tangannya agar dekat dengan api unggun untuk merasakan kehangatan.
“Hei kalian berdua ngapain?!” seru seorang cowok dari belakang mereka.
__ADS_1
“Sialan! Apaan sih lo Rel!” sentak Deva.
“Hehe sorry, habisnya kalian berduaan sih. Tahu nggak kalau berduaan nanti yang ketiganya setan!” ujar Verrel dengan wajah serius.
“Iya lah ini setannya dateng.” sahut Raina dan Deva secara bersamaan.
“Dihhh, gitu aja kompak!” sewot Verrel.
Mereka bertiga akhirnya ngobrol bersama hingga pukul dua dini hari, sampai akhirnya ada pak guru yang menghampiri mereka bertiga.
“Kalian ngapain disini?!” antara marah dan bertanya saat pak guru yang bernama Agus menghampiri mereka bertiga.
“Kamu Raina! Malam-malam kok belum tidur malah masih disini sama dua cowok lagi!” sentak Pak Agus yang langsung tertuju pada Raina.
“Saya...” ucap Raina yang terpotong.
“Apa pantas murid berprestasi dan berjilbab seperti kamu, malah berkumpul bersama laki-laki dimalam hari?!” sahut Pak Agus yang tampak membuat kesalahan untuk Raina.
“Cukup pak! Iya saya tahu saya salah, tapi jangan pernah salahkan jilbab saya atas kesalahan yang saya perbuat apapun itu.” ujar Raina yang merasa geram.
“Apaan sih pak lagian kita kan bertiga nggak berdua!” seru Verrel.
“Dan lagi kita saudara, emang salah kalau ngobrol bareng-bareng?” imbuh Deva dengan santainya.
‘*DEG*!’
Raina sangat tertegun mendengarkan ucapan Deva barusan, entah perasaan apa yang membuat hatinya langsung merasakan hal yang aneh. Mengapa dia merasa apa yang diucapkan Deva adalah kenyataan? Tidak-tidak Raina langsung membuang pikiran itu sekarang, lagian tidak mungkin jika dia memiliki hubungan dengan Deva meskipun saudara jauh sekalipun.
“Bapak punya masalah apa sih? Malem-malem gini malah ribut!” ujar Verrel dengan konyol.
“Kalian ini...” Pak Agus ingin membalas ucapan Verrel namun dipotong oleh seseorang.
“Ada apa sih pak ribut-ribut? Mereka nggak bertiga kok, ada kita.” Ucap Senja yang baru saja datang dari belakang Pak Agus bersama dengan Amel, Niken, Dinda, dan Sindy.
“Ja-dii, ka-lii-aan nggak cuma bertiga? Yaudah yang penting kalian jangan membuat keributan!” balas Pak Agus yang gugup dan terkesan tidak masuk akal, bahkan ia langsung meninggalkan mereka begitu saja.
“Dasar guru aneh!” seru Senja setelah Pak Agus pergi.
“*Wait*! Kok kamu bisa ada disini sama temen-temen kamu sih dek?” pertanyaan itu dilontarkan oleh Verrel namun juga ada dibenak Deva dan Raina.
.
.
Jangan lupa **LIKE** yaa makasih ^\_^ 🖤🖤🖤
__ADS_1