
Assalamu'alaikum, maaf telat up 🙏🏻
selamat membaca🌹.
.
.
.
Bapak Bianca langsung mengajak mereka berdua menuju kamarnya untuk melihat keadaan Ibu Bianca yang katanya sedang sakit. Papa dan Deva saling pandang melihat keadaan Ibu Bianca yang terlihat sangat pucat dari wajahnya dan mereka juga melihat bagaimana telatennya Bianca mengurusi ibunya itu.
“Oh papa, kakak udah dari tadi?” Bianca menyalimi tangan mereka seakan tidak tahu bahwa mereka sudah datang. Sedangkan Ibu Bianca hanya tersenyum melihat kedatangannya.
Mereka berempat kecuali Ibu Bianca kemudian berkumpul diruang tamu untuk membicarakan sesuatu hal. “Jadi maksud kedatangan saya kesini untuk bertanya mengenai Bianca. Maaf jika saya kurang sopan, apakah benar bahwa Bianca bukan putri kandung bapak?” tanya Papa Deva
“Jadi, semalam setelah Bianca dari sini dia langsung cerita ya bahwa dia ternyata bukan anak kandung kami?” Bapak Bianca malah berbalik nanya.
“Jadi benar?” kali ini Deva yang membuka suaranya.
Bapak Bianca tersenyum sambil mengangguk, “Dulu saya menemukan Bianca saat masih bayi didepan rumah saya, dia menangis dan berada atas kereta bayi sendirian. Padahal itu tengah malam, saya keluar dari rumah karena mendengar dia menangis. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk mengadopsi Bianca. Namun saat Bianca berumur 6 tahun dia hilang saat saya dan istri saya sedang pergi, lalu bapak dan Nak Deva yang menemukannya,”
“Saat itu saya dan istri panik mencarinya bahkan kami saat itu sedang krisis ekonomi sampai suatu hari saya mendapat info bahwa Bianca ada bersama kalian. Dan bapak berniat untuk mengangkat Bianca sebagai saat itu akhirnya saya menyerahkan saja tapi bukan karena tidak sayang melainkan karena kami ingin Bianca hidup dengan layak dan terjamin...”
Bapak Bianca mengusap air matanya yang jatuh setelah bercerita panjang lebar, Papa Bimo dan Deva pun ikut sedih mengingat kejadian itu.
“Foto yang dibawa Bianca kemarin itu ada diatas kereta bayi saat saya menemukannya dulu, dan saya baru berani mengatakan pada Bianca kemarin itu karena saya sendiri tidak sanggup dan takut jika Bianca tidak mengganggap saya sebagai bapaknya...” imbuhnya.
“Bapak nggak boleh gitu, gimanapun juga bapak udah ngerawat aku dan nerima aku.” Bianca langsung memeluk bapaknya.
Papa Deva semakin yakin bahwa Bianca putri kandungnya namun dibenaknya terlintas sebuah pertanyaan. Mengapa istrinya tega membuang putrinya sendiri? Itulah pikirnya.
__ADS_1
Senyum Deva merekah, karena telah merasa menemukan adik kecil yang selalu dia rindukan.
‘Sepertinya gue berhasil meyakinkan papa dan juga Kak Deva’ batin Bianca sambil menyeringai.
-----
Setelah kejadian itu Papa langsung berniat mengadakan syukuran besar-besaran guna menyambut sang putri yang selama ini dia cari. Namun selang beberapa Minggu entah apa yang terlintas dibenaknya sehingga dia berniat melakukan tes DNA terhadap putrinya itu.
“Apa pa? Kenapa harus tes DNA sih? Papa nggak percaya sama Bianca kalau dia bagian Keluarga Anggara.” Deva membuka suara seakan tidak setuju dengan keputusan papanya.
“Bukan begitu Deva...” Papa mencoba menjelaskan pada putranya.
“Nggak papa kok kak, lagian dengan tes DNA papa akan makin yakin kalau aku itu darah dagingnya kan?” sahut Bianca yang tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka berdua saat berada diruang kerja karena pintu yang tidak tertutup rapat.
***
Bianca langsung memutar otak bagaimana cara agar dia bisa mengambil DNA Raina supaya hasilnya nanti bisa positif.
Bianca mendekati Raina sedangkan kedua temannya menjaga pintu, Raina hanya diam menatap tajam Bianca.
Bianca mencekal tangan Raina namun dengan mudahnya Raina langsung menghempaskan, tenaga Bianca bukan apa-apa dibandingkan Raina jika satu lawan satu. “Guys.. pegang dia!” perintah Bianca pada kedua temannya.
“Lepasin!!” Raina berusaha memberontak namun dia kalah dari kedua teman Bianca.
Bianca langsung mengambil sesuatu dari sakunya dan memperlihatkan sebuah foto yang sangat familiar untuk Raina.
“Lo nggak usah sok polos dan nggak tahu. Gue yakin kok kalau lo udah tahu jati diri lo yang sebenarnya!” ujar Bianca.
“Putri Anggara... Ya! Tapi sayangnya sekarang gue yang menempati posisi lo! Gue tegasin sama lo kalau lo berani deketin keluarga gue atau coba-coba buat bilang bahwa sebenernya lo adalah Putri Anggara yang sesungguhnya jangan salahin gue saat itu juga gue bakal bikin keluarga panti lo celaka!!!” imbuhnya.
‘Jadi bener kalau aku adalah adik kandung dari Kak Deva?’ batin Raina.
__ADS_1
“Balikin foto itu!” tegas Raina.
“Buat apa? Mau bilang kalau lo itu adalah Seorang Putri Anggara yang sesungguhnya?! Cihh... mama lo udah mati jadi lo nggak bakal bisa meyakinkan Kak Deva dan Papa dengan mudah!” ucapan Bianca kali ini membuat Raina geram.
‘Plakk’ Raina langsung memberontak dan menampar pipi mulus Bianca hingga meninggalkan bekas merah. Bianca langsung menarik jilbab Raina hingga terlepas dan menampakkan rambutnya.
Bianca menarik rambut Raina dengan kencang, tentu saja tangan Raina sudah dipegangi oleh kedua temannya jika tidak Raina lebih kuat darinya. “Denger ya... lo cukup diem dan jadi anak panti jangan pernah coba-coba, inget itu!” Bianca langsung membalikkan badan.
“Udah guys, yuk cabut! Nih ambil tuh foto buat kenang-kenangan kalau lo nggak bisa masuk ke Keluarga Anggara!” Bianca melempar foto itu tepat didepan wajah Raina dan meninggalkannya sendirian.
Bianca tersenyum puas, melihat ditelapak tangannya terdapat beberapa helai rambut Raina yang tadi ditariknya.
Dengan itu dia tidak perlu foto milik Raina lagi bahkan dengan bukti DNA yang membuktikan dia putri kandung Papa Deva dia bisa menguasai segalanya.
Bianca langung memasukkan rambut Raina kedalam plastik klip untuk diserahkan papanya nanti sepulang sekolah karena papanya bilang bahwa hari ini akan ada tim forensik yang akan mengambilnya.
Empat hari kemudian dokter ditemani dengan tim forensik kerumah Bianca untuk membacakan hasilnya, “Melalui tes DNA kemarin hasilnya positif pak, jadi Bianca adalah putri kandung bapak.” Ucap dokter.
‘Yes, sesuai dugaan gue. Raina jangan harap ada celah untuk masuk ke Keluaraga Anggara’ Bianca menyeringai didalam hatinya.
Papa Bimo langsung berkaca-kaca akhrinya tidak ada keraguan bahwa Bianca adalah putri kandungnya, “Alhamdulillah sayang maaf papa sempat meragukanmu kemarin.” Ia memeluk Bianca.
Deva tersenyum lega melihat papanya sudah percaya sepenuhnya pada Bianca, dia juga bahagia Bianca adalah adik kandungnya.
Flashback off...
.
.
.
__ADS_1
Makasih untuk temen-temen yang setia menunggu dan sellau meninggalkan jejak🌹🖤