Inseparable

Inseparable
Perjodohan? (2)


__ADS_3

Assalamu'alaikum, Jangan lupa LIKE🖤🤗


.


.


Tante Vita, Raina, Senja, dan beberapa asisten rumah tangga masih berkutat didapur sambil berbincang ringan. Tante Vita menanyakan latar belakang Raina untuk mengenalnya lebih dekat, awalnya Raina merasa canggung karena takut mereka membeda-bedakan kelas atau level dari segi materi namun dugaannya salah. Dia diperlakukan sangat baik, bahkan keluarganya Senja tidak membeda-bedakan kasta.


“Ada acara apa sih ma, kok banyak banget makanan?” tanya Senja sambil mengabsen setiap snack yang ditata diatas piring.


“Nanti sore kan ada syukuran kecil-kecilan sayang. Om Bimo, Deva, dan Bianca nanti juga kesini kok. Kamu lupa hari ini hari ulang tahun pernikahan mama sama papa yang ke 22?” Tante Vita menjelaskan pada putri bungsunya.


“Astaga mama, maaf aku lupa. Happy Anniversary yang ke 22 mama,” sahut Senja yang langsung memeluk mamanya.


‘Ada Om Bimo dan Kak Deva? Yah tahu gitu tadi nggak kesini deh. Habis sholat dzuhur nanti pulang aja lah, nggak enak’ batin Raina sambil melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 11.00.


“Raina kenapa bengong? Itu loh ditanya sama mama?” ujar Senja yang mengagetkan Raina.


“Ah iya kenapa?” tanya Raina merasa bingung.


“Kamu nanti disini dulu nggak papa kan? Pulangnya biar dianter sama Verrel nanti.” ujar Tante Vita yang membuat Raina sempat terdiam.


“Ehmm, maaf tante habis dzuhur saya mau pulang ada urusan sebentar.” tolak Raina secara halus.


***


Setelah sholat ashar, lebih tepatnya pada pukul 16.00 acara syukuran yang diselenggarakan Keluarga Aditya dimulai. Satu persatu tamu undangan mulai berdatangan, saudara, rekan bisnis, kolega, dan teman semasa sekolah Om Aditya dan Tante Vita.


Suasana rumah yang mulai tampak ramai, dekorasi yang simple dan elegan menghiasi Rumah Keluarga Aditya. Bagi Keluarga Aditya mungkin adalah syukuran yang sederhana namun berbeda dengan yang melihatnya langsung, mereka akan berkata bahwa ini adalah pesta yang mewah.


Verrel dan Senja berbincang dengan saudara mereka yang telah datang, sedangkan kedua orang tuanya menyalami para tamu yang telah datang. Dari kejauhan Deva beserta keluarganya datang mengenakan baju yang senada, Verrel langsung menghampirinya.


“Ayo kita nyamperin Om Bimo dulu” ucap Verrel pada adiknya.


“Makasih ya om udah dateng” Verrel menyalami Om Bimo dengan sopan, begitupun juga Senja.


“Makasih juga udah diundang” sahutnya.

__ADS_1


“Ehem, makasihnya cuma sama papa gue nih?” balas Deva sambil berdehem.


“Hehe makasih juga bro udah mau dateng” ujar Verrel sambil memeluk sahabatnya itu.


Om Bimo bergabung dengan dengan para rekan bisnis yang dikenalnya, Verrel bersama Deva juga bergabung dengan para putra pengusaha yang ada disana, sedangkan Senja menatap malas karena dia berhadapan dengan Bianca.


“Ngapain sih lo ngikut kesini?” ucap Senja dengan asal. Bianca hanya berdecak kesal sambil memutar bola matanya, dia memilih diam daripada membuat keributan dan membuat malu papa dan kakaknya.


___


“Gue ambil minum bentar ya?” ucap Deva pada yang lainnya.


“Oh iya” sahut mereka.


Deva mengambil minum namun matanya terhenti pada seseorang yang tidak asing dimatanya, minum yang diambil dan belum diminumnya kembali dia letakkan dan menghampiri orang tersebut.


“Raina?” tegur Deva pada seorang gadis dengan balutan hijab dan gaun yang senada.


“Hai kak” sahut Raina sambil mengangkat sedikit tangannya.


Ya, orang itu adalah Raina. Meskipun tadi dia sempat menolak namun usahanya sia-sia, Tante Vita dan Om Aditya memaksanya untuk tetap tinggal mengikuti syukuran yang sederhana yang digelar dirumahnya. Menurut mereka sebagai ucapan terima kasih karena telah membawa Verrel kembali kerumah mereka, padahal menurut Raina itu bukanlah apa-apa dan Verrel mau kembali kerumahnya karena keinginannya sendiri.


“Iya kak dari tadi pagi, Kak Deva sama Om Bimo?” Raina kembali bertanya.


“Iya, mau ketemu papa?” tawar Deva dan Raina mengangguk sambil tersenyum.


Deva dan Raina berjalan hendak menghampiri Om Bimo yang sedang berbicara dengan Om Aditya bersama dengan istrinya.


“Hai Om, apa kabar?” ucap Raina sambil mencium punggung tangan Om Bimo.


“Raina, alhamdulillah baik. Kamu kemana aja? Kok nggak pernah main lagi ke rumah?” sahut Om Bimo dengan ramah, seperti seorang ayah yang merindukan putrinya. Raina pun merasakan kehangatan darinya.


Deva, Raina, Om Bimo berbincang hangat layaknya keluarga kecil. Tawa bahagia menyelimuti pembicaraan mereka, entah apa saja yang dibicarakannya. Namun ternyata dari kejauhan ada seseorang yang sangat membenci apabila mereka bertiga bersama, Bianca dialah orang yang sedang melihat papa dan kakaknya bersama dengan Raina.


Acara sudah dimulai, Keluarga Aditya sangat bahagia dan mengucapkan terima kasih pada para tamu undangan yang sudah berkenan untuk hadir. “Saya ingin memanggil seseorang untuk ikut bergabung dengan kami disini, Raina sini sayang!” ucap Tante Vita membuat Raina tertegun.


“Iya ayo sini” ujar Tante Vita saat Raina menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan.

__ADS_1


Raina berjalan kemudian berdiri disamping kiri Tante Vita dan Om Aditya, bahkan Senja dan Verrel juga berada di sisi kanan mereka. “Dia adalah seseorang yang telah membawa putra saya Verrel kembali ke Keluarga Aditya. Kami sangat berterima kasih dengan kamu Raina, mungkin jika kamu tidak ada entah kapan Verrel akan kembali.” Om Aditya sangat tulus mengucapkannya.


Raina malah merasa tidak enak sendiri, dia hanya bisa tersenyum kikuk dan menunduk. Sedangkan semua tamu memberikan tepuk tangan dan merasa kagum oleh kebaikan dan kecantikan yang dimiliki Raina, ditambah lagi hijab yang membalut kepalanya.


Senja kemudian berpindah disamping Raina, karena dia paham sahabatnya itu sedang merasakan gugup. “Nggak usah grogi” bisik Senja pada Raina.


“Raina mau nggak saya jodohin sama Verrel? Biar Verrel menjadi anak yang lebih baik, mungkin kamu bisa mendampingi dia haha” dua kali, ini kali kedua kalinya Raina mendengarkan kata ‘Perjodohan’ yang pertama dari Tante Vita dan kali ini Om Aditya.


“Ya sudah, semuanya silahkan menikmati hidangan yang telah disediakan.” imbuh Om Aditya mengurangi rasa gugup Raina.


Ingin rasanya Raina menghilang dari sana sekarang juga, Raina sangat berharap apa yang diucapkan dengan kedua orang tua Senja hanyalah sebuah candaan. Namun berbeda dengan Senja yang akan merasa sangat senang jika Raina adalah jodohnya Verrel. sedangkan Verrel sendiri juga bingung dengan apa yang diucapkan oleh kedua orang tuanya.


‘Hah? Om Aditya nggak salah mau jodohin Kak Verrel sama tuh cewek? Nggak malu apa derajat keluarganya bakalan turun?!’ batin Bianca sambil menatap Raina dengan tatapan tidak suka dari kejauhan.


“Yah mana mau Raina sama Verrel, nggak mungkinlah!” gumam Deva yang terdengar oleh Bianca.


“Kamu cemburu? Salah siapa kalah cepet!” sahut Om Bimo pada putranya.


“Apaan sih pa!?” balas Deva.


‘Mending sama Kak Verrel ajalah daripada sama Kak Deva!’  lagi-lagi Bianca hanya bisa membatin.


***


Raina berada didalam mobil bersama Deva menuju kostnya. Tadi sempat terjadi perdebatan yang cukup panjang hanya karena mereka berebutan untuk mengantarkan Raina pulang, namun Deva lah yang akhirnya dipilih Raina untuk mengantarkannya pulang.


“Kamu Dijodohin Ra sama Verrel?” tanya Deva membuka obrolan setelah hening beberapa waktu.


“Enggak kak, mungkin tadi mereka cuma bercanda. Lagian kalo memang mereka serius aku akan menolaknya, karena aku yakin jodoh akan datang tanpa dijodohkan.” balas Raina dengan bijak.


“Tapi jika memang berjodoh dengan jalur perjodohan itu beda cerita kak,” imbuh Raina sambil menoleh kearah Deva.


Deva hanya tersenyum, mereka berdua jika sedang bersama tidak ada rasa canggung. Mereka seperti kakak adik yang sangat akrab dan saling menyayangi.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa LIKE yaa makasih 🤗🖤


 


__ADS_2