
Assalamu'alaikum, JANGAN LUPA LIKEđ€đ€đ€
Happy Readingđ»
.
.
Raina bangun dipagi hari, kepalanya terasa berat, dan merasa udara dingin menyelimuti tubuhnya. Dia tetap memutuskan untuk sekolah padahal dia merasa tidak enak badan atau sakit, bahkan tadi saat saat dia berpamitan pada Bu Ina untuk berangkat sekolah, Bu Ina sudah mengingatkan untuk ijin sekolah saja karena wajahnya terlihat pucat dan lesu.
Sepulang sekolah Raina langsung kembali ke kost tanpa singgah ditaman seperti biasanya, dia merasa kepalanya berat dan segera ingin tidur. âNeng Raina sakit, mau saya antar ke rumah sakit?â ucap Bu Ina melihat Raina pulang ke kost tepat waktu.
âEnggak bu, saya mau tidur aja. Agak nggak enak badan,â sahut Raina dan langsung meninggalkan Bu Ina disana.
âApa gara-gara semalam ditaman kelamaan? Nggak biasanya Neng Raina kena angin malam kan?â Bu Ina menerka-nerka.
Bu Ina masih khawatir dan beberapa kali melihat pintu kamar Raina yang masih tertutup bahkan belum keluar sama sekali dari tadi sepulang sekolah. Jam sudah menunjukkan pukul 20.15, Bu Ina mencoba untuk mengetuk pintu kamar Raina untuk mengingatkan agar tidak lupa makan dan minum obat.
âNeng? Ini ibu bawain makan dan obat biar neng cepet sembuh.â Bu Ina terus mengetuk pintu kamarnya namun sama sekali tidak bergeming.
Ingin mencoba membuka pintu namun ternyata terkunci, tak butuh waktu lama kemudian Bu Ina membukanya menggunakan kunci cadangan.
âCeklekk...â Bu Ina membuka pintunya dan betapa terkejutnya melihat kondisi Raina.
âInnalillahi Neng Raina......â Bu Ina berteriak. Kemudian ia membuka ponselnya dan menghubungi seseorang.
***
Deva sedang dinner bersama dengan papa dan adiknya, Bianca. Mereka juga ditemani dengan Keluarga Aditya yaitu orang tua Verrel dan Senja. Kedua orang tua mereka membahas bisnis sedangkan anak-anaknya ngobrol santai seperti biasanya, mereka sangat menikmati obrolan yang membahas apapun. Namun berbeda dengan Bianca, dia ikut ngobrol namun juga merasa was-was karena ada Senja yang sewaktu-waktu membicarakan hal yang dilakukannya saat disekolah.
âOh ya Nja, kamu kadang kumpul bareng nggak sama Bianca? Dia gimana disekolah?â tanya Deva pada Senja membuat Bianca gelagapan sendiri.
âLah kenapa lo nanya sama Senja, emang nggak pernah lo ngobrol sama Bianca gimana hari-harinya disekolah?â Verrel menyahuti perkataan Deva.
âYa ngobrol, tapi kan gue pengen tahu dari Senja! Napa lo yang sewot!â Deva malah emosi mendengarkan perkataa Verrel, terjadilah perdebatan antar sahabat disana.
âUdahhhh, malah ribut sendiri! Kak Deva pengen tahu gimana Bianca disekolah?â tanya Senja sambil tersenyum manis namun dibuat-buat sambil melirik Bianca yang telah memperhatikannya.
âJadi tuh Bianca kalau disekolah....â ucap Senja terpotong karena ponsel Deva berdering.
âDrrtt.. drrtt.. drttâ ada notif telepon namun hanya sebuah nomor yang tertera disana, awalnya ragu untuk mengangkat namun akhirnya dia mengangkatnya.
âHalo? Assalamuâalaikum...â Deva menjawab sedangkan Verrel memperhatikannya dan kedua cewek yang disana masih saling pandang agar Senja tidak mengadu pada kakaknya.
âWaâalaikumsalam mas, maaf saya telepon malam-malam. Ini Neng Raina sepertinya pingsan, kalau bisa tolong kesini dan bawa Neng Raina kerumah sakit.â Deva yang tadi bingung akhirnya tahu bawa ibu pemilik kost yang ditempati Raina lah yang meneleponnya.
Deva yang mendengarnya pun ikut panik dan khawatir jika terjadi apa-apa dengan Raina, âBaik bu, saya segera kesana!â Deva langsung mematikan teleponnya dan berdiri.
âMau kemana lo?â tanya Verrel, bukan menjawab Deva langsung menghampiri papanya dan berpamitan tidak lupa dia juga berpamitan dengan kedua orang tua Verrel.
Deva berlari menuju mobilnya dan langsung menuju kost Raina, âYa Allah tolong lindungi dan jaga Raina.â Deva terus bergumam didalam perjalanan.
__ADS_1
***
âRaina?!â Deva langsung masuk kedalam kamar Raina.
âMas, tolong bawa Neng Raina kerumah sakit!â pinta Bu Ina pada Deva.
Deva langsung membopong Raina dan membawanya masuk kemobil, dia bisa merasakan bahwa badan Raina sangat panas namun wajahnya dipenuhi dengan keringat dingin.
Deva tidak konsen membawa mobilnya karena berkali-kali dia melirik Raina yang duduk disampingnya tampak sedang mengigau namun tidak jelas.
Sampai didepan IGD beberapa suster mendorong brangkar mendekat dimobil Deva, dengan sigap dia langsung memindahkan Raina keatas brangkar. Deva memarkirkan mobil terlebih dahulu kemudian masuk untuk menemani Raina yang sedang ditangani oleh dokter.
Deva tampak khawatir dan menunggu dokter yang menangani Raina keluar dari ruangan, ponselnya beberapa kali berdering dan dia melihat nama Verrel lah yang berkali-kali meneleponnya bahkan Bianca juga ikut meneleponnya namun dia sama sekali tidak menghiraukan dan malah mematikan ponselnya.
âGimana dok keadaan Raina?â tanya Deva pada dokter yang baru saja keluar diikuti dengan dua suster dibelakangnya.
âKondisinya benar-benar down, sepertinya makannya sangat tidak teratur, bahkan dia sempat mengalami stres yang cukup berat. Pasien harus dirawat beberapa hari kedepan untuk memulihkan kondisinya.â dokter menjelaskan membuat Deva semakin khawatir dan berpikir apa yang sebenarnya telah terjadi pada Raina.
âApa saya bisa menengoknya dok?â tanya Deva membuat dokter tersenyum dan mengangguk.
âMas, pasien ingin dipindahkan keruang rawat. Ingin dipindahkan keruang apa?â tanya suster pada Deva.
âRuang VVIP ya sus, segera pindahkan saja. Saya akan segera selesaikan administrasinya.â suster hanya mengangguk menanggapi Deva.
Deva menengok Raina terlebih dahulu, dia melihat wajah Raina yang tenang namun terlihat pucat. âKamu kenapa Ra?â tanyanya dengan pelan.
Tak lama kemudian ada tiga suster yang hendak memindahkan Raina, Deva langsung menyelesaikan administrasi lalu menuju ruangan Raina. Deva melihat Raina yang masih belum sadar, bahkan Raina masih memakai seragam sekolah lengkap dengan jilbabnya.
âHatiku sangat sakit ngelihat kamu yang ceria terbaring lemah Ra, cepat sembuh ya. Banyak orang yang khawatir sama kamuâ batin Deva sambil menatap Raina yang masih memejamkan mata.
Deva terbangun dari tidurnya karena mendengarkan suara Raina, awalnya dia mengira Raina sudah sadar namun ternyata salah. Raina mengigau sambil menangis, âMama.... jangan pergi..â suaranya pelan namun Deva bisa mendengarnya.
Keringat membasahi wajah Raina, Deva mengelapnya dengan tisu dan ternyata suhunya kembali meningkat. Deva langsung keluar dan memanggil dokter agar memeriksa Raina.
âApa dia baik-baik saja dok?â Deva bertanya pada dokter.
âYa untung saja kamu tepat waktu memanggil saya, dipantau terus ya jangan ditinggal jika ada apa-apa panggil lagi saya.â Dokter langsung keluar dari ruangan itu.
Adzan subuh telah berkumandang, Deva langsung mengambil air wudhu dan sholat disana.
***
Raina membuka matanya, dia melihat sekeliling dan merasa asing dengan ruangan bernuansa putih yang dia tempati sekarang. Dia melihat ada seorang laki-laki yang telah melaksanakan sholat, âKak Deva?â ucap Raina membuat Deva langsung menoleh setelah selesai berdoâa.
âRaina kamu udah bangun? Aku panggilin dokter bentar ya?â Deva tersenyum senang melihat Raina yang sudah membuka matanya, baru saja membalikkan badan tangannya dicekal oleh Raina, dia menggeleng.
âKamu mau apa?â tanya Deva dengan sangat lembut kemudian duduk disampingnya.
âAku mau ketemu mama.â Raina langsung meneteskan air mata membuat Deva bingung.
Raina langsung bangkit dari tidurnya dan berusaha duduk, Deva membantunya. âKamu mau kemana? Kamu belum sembuh,â Deva menyadarkan Raina bahwa dia sedang sakit.
__ADS_1
âAku mau ketemu sama mama kak, aku kangen sama mama.. hiks.. hiks..â Raina terus menyebutkan mama, Deva mencoba menenangkan Raina sebisa mungkin.
âIya nanti kamu ketemu mama, tapi kalau udah sembuh ya?â Deva terus merayu Raina yang semakin menangis. Tanpa ijin Deva langsung memeluk Raina berusaha menenangkannya.
Raina merasakan pelukan hangat yang pernah dia rasakan saat Mama Lita memeluknya, dia kembali menangis dan Deva membiarkan Raina menangis dalam pelukannya.
âKenapa sesakit ini aku melihat Raina menangis? Apa yang terjadi Ra sehingga kamu menangis seperti ini?â batin Deva saat memeluk Raina.
Deva masih berdiri disamping Raina sambil memeluknya yang duduk dibrangkar, hampir lima menit Raina baru berhenti menangis hingga matanya sembab dan hidungnya terlihat merah.
âAku panggilin dokter ya biar kamu segera diperiksa?â Deva bertanya pada Raina yang sudah kembali berbaring setelah menangis.
Deva keluar dan memanggil dokter, Deva membiarkan dokter masuk dan memeriksa Raina yang ada didalam sedangkan dia membuka ponselnya yang ternyata mati karena semalam dia merasa terganggu banyak panggilan masuk.
Devano : Senja nanti tolong ijinin Raina ya, dia nggak masuk dan lagi dirawat dirumah sakit. Nanti surat ijinnya aku antar ke sekolah agak siang, makasih.
Senja  : Raina kenapa kak? Raina dirawat dimana kak? Iya nanti aku ijinin, jangan lupa kabarin aku ya kak.
Deva langsung mengantongi kembali ponselnya tanpa membaca pesan dari Senja, dia masuk keruangan dan berpapasan dengan dokter yang akan keluar.
âKamu udah merasa baikan?â tanya Deva.
âEhm udah kak, kok bisa kakak yang bawa aku kesini?â Raina bertanya balik.
Bukannya menjawab Deva malah tersenyum melihat Raina yang sudah bisa diajak bicara, tapi didalam pikirannya masih ada beberapa pertanyaan yang akan dia simpan dulu hingga Raina benar-benar sudah pulih.
âKamu mau baju ganti biasa, apa pakai baju pasien dari rumah sakit?â Deva mengalihkan pembicaraan.
Belum sempat menjawab sudah ada dua suster yang masuk kedalam ruangan Raina, yang satu membawa baju pasien dan yang satu lagi membawakan sarapan beserta obat. âMbak ganti baju ini dulu ya, pasti nggak nyaman pakai seragam sekolah dari kemarin.â ucap suster cantik membuat Raina tersenyum kikuk.
âMau saya bantu atau bisa ganti sendiri?â tanya suster saat Raina menerima setelan piyama lengan panjang.
âYaudah aku keluar dulu ya. Sus, tolong jagain sebentar ya?â pinta Deva kemudian dia keluar.
Suster membantu Raina untuk berganti pakaian, âMbak beruntung ya punya kakak yang perhatian gitu, kayaknya kakaknya sayang banget sama mbak.â ucap suster. Raina hanya tersenyum menanggapi tanpa berkata apapun.
âSeandainya Kak Deva beneran kakakku, aku mungkin akan jadi orang yang paling beruntung sedunia. Kak Deva baik, penyayang, dan pelukannya sangat hangatâ batin Raina kemudian dia tersenyum tipis.
âEh bentar, tadi Kak Deva peluk aku? Astaghfirullah, ampuni aku ya allah. Raina bisa-bisanya kamu pelukan sama cowok yang bukan mahram sih, sama Mas Alif aja nggak pernah padahal dia udah aku anggap sebagai kakak kandung. Aduh, bakalan malu sama Kak Deva nih!â Raina baru menyadari hal yang tadi terjadi, kemudian dia memukul-mukul dahinya.
âMbak kenapa? Ada yang sakit?â suster bingung melihat tingkah Raina.
âEnggak kok sus, makasih ya.â sahut Raina.
âUdah tugas saya mbak, yaudah saya permisi. Jangan lupa makan dan minum obatnya.â kedua suster itu meninggalkan Raina yang sedang merutuki kebodohannya.
.
.
JANGAN LUPA LIKE yaaa makasihđ€
__ADS_1
Follow juga ig ku : @erlindans__
Â