Inseparable

Inseparable
Kenyataan yang Mengejutkan


__ADS_3

“Makasih ya Nja udah nganterin aku sampai sini.” ucap Raina pada Senja saat turun dari mobil.


“Iya, sana masuk. Aku langsung balik ya Assalamu’alaikum” ujar Senja sambil melambaikan tangan kemudian masuk ke mobil.


“Wa’alaikumsalam hati-hati dijalan.” sahut Raina kemudian Senja melajukan mobilnya dan Raina masuk kedalam kostnya.


Matahari akan terbenam disambut dengan senja langit mulai gelap menandakan malam hari akan tiba.


Setelah sholat isya’ Raina merebahkan dirinya dikasur sambil menatap langit-langit ada perasaan yang sangat lega karena merasa bebas dari ketua OSIS yang sangat menyebalkan itu namun dia juga merasa sedih tidak bisa melihat Deva.


“Kak Deva apakah kita akan bertemu lagi?” gumam Raina pada dirinya sendiri kemudian dia memejamkan matanya dan terlelap dalam tidur.


***


Setelah acara wisuda, selanjutnya adalah penerimaan rapor untuk murid kelas X dan XI yang akan menentukan naik atau tidaknya kekelas berikutnya.


Seperti biasa Raina meminta tolong pada Bu Ina untuk mengambilkan rapor miliknya. Selang beberapa hari setelah menerima rapor seperti biasanya Raina pulang ke kampung halamannya yang ada di Surabaya.


Sampainya di Surabaya, Alif sudah menunggu Raina distasiun kemudian mereka pulang ke panti. “Mas kok tumben sepi?” ucap Raina setelah keluar dari mobil.


“Ada didalam kali, masuk aja dulu biar koper kamu aku yang bawa.” sahut Alif mengambil koper milik Raina.


Raina berjalan dan membuka pintu yang tertutup rapat, “Assalamu’alaikum....” ucap Raina sambil membuka pintu.


“Dorr.... Barakallah fii umrik mbak Raina” teriak adik-adik dengan wajah gembira.


Raina memang berulang tahun yang ke-17 saat menerima rapor kemarin, dia tidak menyangka bahwa akan akan mendapatkan kejutan dari keluarganya yang ada di Surabaya. Raina bahagia sambil menangis haru, didalam panti sudah ada Tante Lita, bunda, Nadia kemudian Alif menyusulnya sambil membawakan koper miliknya.


Raina menerima banyak ucapan dan do’a dari semua keluarga yang ada dipanti, sebelumnya Senja menelfon Raina ditengah malam hanya untuk mengucapkan sebuah kalimat ulang tahun dan juga do’a, dia sangat merasa bahagia memiliki teman seperti Senja.


Raina kali ini berada di Surabaya cukup lama dari yang sebelumnya, setelah sholat isya’ ada acara makan malam bersama untuk merayakan ulang tahunnya semua berkumpul dengan wajah yang bahagia.


“Raina, setelah ini bunda mau bicara sama kamu diruang kerja bunda.” ucap bunda dengan wajah serius.


“Iya bunda” jawab Raina dengan singkat.


‘Bunda mau ngomongin apa ya? Tumben serius banget biasanya juga kalo mau ngobrol diruang tamu’ batinnya menerka-nerka.


Nadia dan Alif mendengarkan percakapan mereka langsung saling tatap, setelah makan Raina langsung menuju ruang kerja bundanya.


“Assalamu’alaikum bun” Raina membuka pintu. Disana sudah ada bunda dan Tante Lita yang duduk disofa menunggu kedatangannya.


“Wa’alaikumsalam” jawab mereka secara bersamaan. Raina langsung duduk didepan mereka.


“Raina sayang, ada hal yang ingin bunda sampaikan” ucap Bunda dengan penuh kehati-hatian. Raina semakin bingung dengan apa yang diucapkan oleh bunda.


“Bunda mau ngomongin apa kok serius banget” Raina mengangkat alisnya seolah tak paham. Saat bunda ingin membuka suara Tante Lita memegang tangan bunda sambil menggeleng agar tidak melanjutkan ucapannya.


“Mungkin apa yang tante ucapkan ini akan mengejutkan untuk kamu tapi saya harap kamu bisa menerima semua ini.” ujar Tante yang tidak sadar meneteskan air matanya.


“Tante kenapa nangis?” ujar Raina langsung pindah duduk lalu menghapus air mata Tante Lita yang membuatnya semakin terisak.


“Saya adalah Mama kandung kamu Raina.” ucap Tante Lita dengan lirih.


‘Deg!!’


Raina langsung mematung hatinya langsung berdesir hebat bahkan jantungnya berasa berhenti berdetak saat itu juga.


“Maksud tante apa? Bunda maksudnya apa? Kalian bercanda kan? Bunda jawab dong” ujar Raina dengan nada tinggi semakin tidak paham dengan apa yang didengarnya. Buliran bening sudah menumpuk dipelupuk matanya, lidahnya berasa kelu untuk bertanya lebih banyak lagi.


Flashback On

__ADS_1


Beberapa hari sebelum Raina pulang ke Surabaya, Tante Lita menemui Bunda dipanti asuhan.


“Ada apa Lit tumben siang-siang gini kamu kesini, bukannya kamu sibuk kerja.” tanya bunda yang melihat kedatangan sahabatnya Lita.


“Ada hal yang ingin aku bicarakan Na” ucap Tante Lita.


“Mari masuk kita bicara diruang tamu saja.” ajak bunda kemudian mereka masuk bersama.


“Nad buatkan minuman untuk Tante Lita ya” pinta bunda pada Nadia.


Bunda dan Tante Lita sudah duduk diruang tamu kemudian Nadia datang membawa dua gelas teh hangat untuk mereka, saat Nadia pamit Tante Lita mencegahnya agar Nadia juga ikut mengobrol dengan mereka.


“Ana, aku rasa kenyataan yang selama ini aku tutupi dari Raina harus segera aku ungkapkan gimanapun juga aku ingin Raina mengetahui yang sebenarnya.” ujar Tante Lita pada bunda.


“Raina akan merasa dibohongi oleh kita selama ini.” sahut bunda dengan wajah sedih.


“Maaf saya menyela bunda, tante saya rasa memang kita harus segera memberi tahu pada Raina, saya yakin dia bisa menerima jika tante menjelaskan semuanya.” balas Nadia.


“Baiklah kita beri tahu Raina saat dia datang kemari, setelah kita merayakan ulang tahunnya yang ke-17” Bunda akhirnya menyetujui mereka.


Flashback off


“Iya Raina, kamu adalah anak kandung Lita bukan anak kandung bunda tapi kamu tetaplah anak bunda sayang.” ucap Bunda menahan tangisnya.


“Apa-apaan ini! Kenapa baru ngasih tahu aku sekarang? Kenapa tante menitipkan aku di panti? Oh tidak lebih tepatnya tante memberikan aku pada bunda.” ujar Raina yang tak kuasa menahan tangisnya.


“Kenapa selama ini kalian membohogiku, apa salahku..” imbuh Raina dengan nada tinggi yang semakin terisak.


“Maafkan mama Raina, mama hanya ingin melindungimu.” ucap Tante Lita mencoba menangkan Raina.


“Maaf bunda, tante Raina butuh waktu. Saya permisi Assalamu’alaikum” Raina langsung keluar dari ruang kerja bunda.


“Sabar Lit aku yakin Raina akan menerimamu dengan baik, dia butuh waktu ” ujar bunda pada Tante Lita.


***


“Dek kamu kenapa?” tanya Nadia saat Raina masuk kamar kemudian memeluknya dengan terisak.


‘Apa bunda sudah memberi tahunya?’ batin Nadia.


“Duduk dulu, tenangin diri kamu bicara pelan-pelan.” imbuh Nadia menyuruh Raina untuk duduk ditepi kasur.


Hampir satu jam Raina bungkam dan hanya menangis membuat Nadia bingung namun dia tidak mencecar Raina dengan pertanyaan sebelum Raina sendiri membuka suara.


“Mbak apa bener kalau aku anak kandung Tante Lita?” pertanyaan itu yang langsung keluar dari mulut Raina.


“Iya, kamu anak kandung Tante Lita dek.” Nadia langsung jujur.


“Kalau mbak tahu kenapa mbak diem aja selama ini? Kenapa Mbak Nadia nggak ngasih tahu aku?!” Raina mencecar Nadia dengan semua pertanyaan yang ada dikepalanya.


“Aku nggak punya hak untuk memberitahumu dek, Tante Lita lah yang berhak memberi tahu semuanya dan ini saat yang tepat untuk memberitahumu” Nadia mengusap punggung Raina agar dia lebih tenang dan berhenti menangis.


“Bukalah hatimu untuk Tante Lita dek, jika kamu ingin tahu bertanyalah padanya jangan bertanya pada dirimu sendiri atau kamu tidak akan pernah menemukan jawabanmu. Jika orang menyimpan suatu rahasia pasti dia memiliki alasan tersendiri untuk itu.” imbuh Nadia sedikit membuka pemikiran Raina.


“Aku harus minta maaf sama Tante Lita mbak aku tadi sempat membentaknya karena aku dipenuhi dengan amarah, Astaghfirullah.” Raina menyesal.


“Beliau akan paham dek, sudah istirahatlah kamu lelah ambil air wudhu setelah itu tidur.” ucap Nadia sambil tersenyum kepada Raina.


Setelah itu Raina tidur untuk menenangkan pikirannya. Raina terbangun pukul 02.30 kemudian dia mengambil wudhu untuk sholat malam sambil berdo’a pada yang kuasa.


“Ya Allah apa ini rencana terbesar-Mu untukku, Ampunilah aku telah membentak mama kandungku, berilah aku ketabahan hati untuk menerimanya sepenuhnya. Aamiin” pinta Raina pada yang maha kuasa sambil menengadahkan kedua tangannya lalu mengusap wajahnya.

__ADS_1


Raina ketiduran diatas sajadah setelah berdo’a sambil menangis kemudian Nadia membangunkannya untuk melaksanakan sholat subuh bersama keluarganya yang ada dipanti.


***


“Bunda, dimana aku bisa menemui mama?” tanya Raina yang membuat bunda terkejut namun mengulas senyumnya, Nadia yang bersama bunda pun ikut tersenyum.


“Kamu mau menemuinya atau bunda menyuruhnya kemari sayang?” tanya bunda.


“Aku saja yang kesana bunda aku ingin minta maaf karena kemarin sempat membentaknya.” ucap Raina dengan wajah sedih.


“Biar Nadia yang mengantarkan Raina bunda, sekalian ingin berangkat kuliah” ujar Nadia, bunda meresponnya dengan anggukan.


Nadia mengantarkan Raina menggunakan sepeda motor ketempat Tante Lita bekerja karena ini sudah masuk jam kerja, setelah Raina turun Nadia berpamitan padanya untuk berangkat kuliah tidak lupa Raina mengucapkan terima kasih pada Nadia.


Raina turun disebuah restoran besar dan ternama yang ada di Surabaya, dia berjalan perlahan lalu Raina mencari tempat duduk kemudian ada pelayan yang menghampirinya.


“Selamat Pagi ada yang bisa saya bantu kak?” tanya pelayan itu padanya.


“Bisa kah saya bertemu dengan Ibu Lita?” ucap Raina dengan sopan.


“Maaf ada perlu apa? Apakah sebelumnya sudah ada janji?” pelayan itu kembali bertanya.


“Ya udah saya permisi kalau begitu.” ujar Raina sambil beranjak membuat pelayan bingung.


“Raina?” suara yang membuat hati Raina terasa sejuk menghentikan langkahnya yang sudah beberapa langkah ingin berjalan keluar.


“Ayo ikut mama keruang kerja.” ajaknya sambil menggandeng tangan Raina.


Raina hanya diam mengikutinya berjalan, sampai diruang kerjanya Raina duduk dan belum membuka suaranya.


“Raina minta maaf atas kejadian kemarin, maaf sudah membentak... mama” ucap Raina menunduk mengucap ragu kata mama. Sontak membuatnya tersenyum.


“Mama senang kamu sudah membuka hati untuk mama dan tidak memanggil dengan sebutan tante” ujar Mama Lita sambil memeluk Raina, dengan ragu akhirnya Raina membalas pelukannya.


“Betapa sakitnya hati mama yang selalu mendengar kamu memanggil mama dengan sebutan ‘Tante’ ingin rasanya mama menangis namun mama menunggu saat yang tepat untuk memberi tahu semuanya.” imbuh mama sambil menatap mata Raina.


“Maafin aku ma” hanya kalimat itu yang terlontar dari mulut Raina.


“Sudah mari kita mulai hidup baru ya sayang, mama akan menceritakan pelan-pelan apa alasan mama menyembunyikan ini semua dan menitipkanmu pada Ana.” ujar sambil tersenyum bahagia.


(Buat yang bingung siapa Ana. Ana adalah nama bunda ya, nama aslinya Anastasya panggilannya Ana)


Mama Lita berbincang cukup lama dengan Raina sambil mengenal lebih dekat, Raina tidak berani menanyakan lebih jauh karena takut menyinggung perasaan mamanya.


“Raina? Apakah kamu mau tinggal bersama mama selama kamu di Surabaya?” pinta mama pada Raina dengan wajah penuh harapan.


Raina sempat diam sejenak sambil berpikir, “Nanti Raina akan ijin dengan bunda ya ma jika bunda mengijinkan aku akan tinggal dengan mama.”


“Maaf mama merepotkanmu sayang, mama hanya ingin menebus kesalahan mama yang tidak merawatmu dari kecil.” ujar mama sambil memeluk Raina.


“Udah ma, jangan ungkit yang kemarin-kemarin aku sudah ikhlas dan aku ingin bahagia dengan mama” sahut Raina dengan tulus.


Mama Lita sangat bahagia mendengar pernyataan dari Raina, bahkan dia berjanji pada dirinya sendiri untuk memperbaiki semuanya secara perlahan.


Raina seharian menemani mamanya bekerja, lebih tepatnya dia hanya duduk disofa melihat mamanya berkutat dengan laptop entah apa yang dikerjakannya.


Raina tidak menyangka ternyata restoran ini adalah milik mamanya.


.


.

__ADS_1


.


Assalamu'alaikum gaes🤗, dukung terus novel ini ya tinggalkan jejak dengan pencet Like, thankyouu🌻🖤


__ADS_2