Inseparable

Inseparable
Kerja Parttime


__ADS_3

Banyak pelajar yang tidak menyukai hari ini, pasalnya hari ini adalah Hari Senin yang menandakan libur sudah habis dan mengharuskan para pelajar kembali ke sekolah untuk menuntut ilmu.


Raina merasa liburan kemarin sangat bersejarah baginya telah dipertemukan seorang wanita tangguh dan hebat yang telah mengandung dan melahirkannya.


Seperti biasa Raina berangkat ke sekolahnya jalan kaki karena ini masih pagi, sampainya disekolah dia langsung menuju kelas barunya karena sudah naik ke kelas XI IPA 1. Tak lama kemudian Senja datang duduk disampingnya.


Bel masuk sudah berbunyi, semua murid berbondong-bondong menuju lapangan untuk mengikuti upacara bendera. Selesai upacara para pengurus OSIS mengurus MOS murid baru, ada siswa yang patuh ada juga yang keras kepala karena merasa dia anak orang kaya.


Bukan karena dia dendam karena pernah dikerjai oleh Jonathan saat itu, namun Raina tidak membeda-bedakan kasta, baginya siapa yang salah harus mau dihukum. Semua anggota OSIS kagum dengan keberanian yang dimiliki Raina.


“Kamu, yang rambutnya terurai maju kedepan!” ucap Raina pada salah satu murid baru.


Murid itu mengikuti perintah Raina, “Kenapa?” tanya murid itu tanpa rasa bersalahnya.


“Mana ikat rambut kamu? Ikat rambutmu sekarang atau keliling lapangan 5 kali!” ujar Raina dengan santai karena memang itu hukuman untuk orang yang melanggar peraturan MOS.


“Nggak bawa dan nggak mau!” murid itu tanpa berdosanya menentang Raina.


“Siapa namamu?” tanya Raina.


“Bianca Geovanny putri dari pengusaha nomor 1 di Asia, kalo lo berani nentang gue akan pastiin ini hari terakhir lo sekolah!” ujar murid itu dengan wajah sombong.


“Aku hanya bertanya namamu bukan asal-usul ataupun mendengarkan ancamanmu.” sahut Raina dengan santai.


Semua terperanjat mendengarkan keberanian Raina, teman seorganisasinya pun ikut mengingatkan Raina agar membiarkan cewek itu daripada mendapatkan masalah.


Rahang Bianca mengeras seketika matanya merah menahan amarah, hatinya terasa kesal selama ini tidak ada yang berani padanya namun baru pertama kali ini harga dirinya terasa diinjak-injak oleh murid penerima beasiswa seperti Raina.


Bianca langsung meninggalkan lapangan tanpa mengucap sepatah katapun pada anggota OSIS. Raina hanya menghela nafas dan merasa kesabarannya sangat diuji menghadapi adik kelas seperti Bianca.


Dihari berikutnya Raina tidak melihat keberadaan Bianca mengikuti MOS, entah mengapa dia merasa sangat tidak suka dengannya karena dia hanya menggunakan kekuasaan orangtuanya sebagai tameng.


“Ra, kamu nggak takut sama Bianca?” tanya Senja saat berada dikantin.

__ADS_1


“Nggak” sahut Raina dengan mantap.


“Hati-hati dia orangnya licik Ra, bahkan bermuka dua” ujar Senja membuat Raina memicingkan matanya.


“Nggak boleh berburuk sangka sama orang Nja.” Raina seakan menceramahi sahabatnya.


“Enggak Raina, jangan diladeni aja lah pokoknya!” seru Senja, Raina hanya menggangguk menanggapinya.


***


Hari berlalu begitu cepat sudah dua minggu Raina berstatus sebagai siswi kelas XI, pada malam hari setelah menelpon mama dan bundanya di Surabaya kemudian dia bermain sosial media.


Tiba-tiba ada sebuah iklan yang membuatnya menimang-nimang kemudian tersenyum.


Keesokan harinya kebetulan hari libur, Raina yang sudah berpakaian rapi dan membawa beberapa berkas ditas ranselnya.


Raina berjalan kearah jalan raya untuk mencari angkot dan menuju kesebuah tempat, tibalah dia didepan V’SA cafe. Dengan percaya diri Raina masuk kecafe tersebut kemudian bertanya pada seorang pelayan.


“Mari saya antarkan mbak” ucap pelayan itu dengan ramah.


“Masuk” sahut seseorang dari dalam ruangan.


“Bismillahirrahmaanirrahim” gumam Raina sebelum masuk keruangan itu.


Raina tertegun melihat orang yang ada didalam ruangan, ingin rasanya keluar dari ruangan ini sekarang juga namun sudah terlanjur.


“Silahkan duduk” ucap seseorang cowok yang berada diruangan ini. Raina mengikuti perintahnya tanpa mengucap sepatah katapun.


“Siapa nama kamu?” tanya cowok tersebut.


“Nama saya Arella Raina Anggara pak, mas, kak ehh...” Raina menggigit bibir bawahnya karena bingung ingin memanggilnya apa. Membuat cowok tersebut sempat terdiam entah menahan marah atau apa hanya dialah yang tahu.


“Biasanya pada memanggilku Mas Verrel atau Kak Verrel, pilih aja sesukamu asal jangan pak itu terlalu tua untukku.” ucap cowok yang bernama Verrel. Ya, dia adalah kakak kelasnya yang pernah mendapat julukan ‘Tiga Pangeran’ yang beranggotakan Jonathan, Devano dan Verrel itu sendiri.

__ADS_1


Mereka melakukan sesi wawancara cukul lama entah apa yang ditanyakannya pada Raina. Raina merasa Verrel orangnya supel dan juga asik, mereka bahkan sesekali bersenda gurau.


Iklan yang dilihat Raina semalam adalah lowongan pekerjaan dibagian pelayan dicafe V’SA yang ternyata adalah milik Verrel sendiri.


Bahkan menariknya dilowongan itu adalah membuka kesempatan untuk para pelajar SMA atau mahasiswa yang ingin mandiri untuk mencari pekerjaan berbentuk parttime tentu saja tidak mengganggu Raina sebagai pelajar SMA karena dia pulang pukul 12.00 jadi setelah pulang sekolah dia bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.


“Jika saya menyuruhmu untuk melepas jilbab selama bekerja apakah kamu bersedia?” Raina tidak habis pikir akan ada pertanyaan semacam ini diwawancaranya.


“Tidak kak” sahut Raina membuat Verrel mangut-mangut.


“Kamu masih sekolah atau mahasiswi?” tanya Verrel membuat Raina mengedipkan matanya beberapa kali.


‘Ini serius Kak Verrel nggak inget sama aku? Eh tapi siapa juga aku sampai dia harus mengingatku’ batin Raina yang merasa bingung sendiri.


“Masih kelas XI kak, tapi saya sudah 17 tahun. Saya pulang pukul 12.00 jadi saya bisa bekerja setelah jam itu sampai selesai.” jelas Raina panjang lebar dan Verrel langsung tersenyum sinis.


“Emang saya udah bilang kalau akan menerimamu?” pernyataan Verrel membuat Raina malu sendiri. Verrel melihat Raina malah tertawa sendiri membuatnya semakin salah tingkah.


“Bercanda bercanda, oke kamu bisa mulai kerja besok sepulang sekolah dan aku tidak pernah mempermasalahkanmu memakai jilbab.” ucapan Verrel membuat Raina tersenyum seketika.


Raina mengucapkan terima kasih padanya kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan keluar, namun saat memegang knop pintu Verrel memanggilnya membuat Raina memberhentikan langkah dan menoleh seketika.


“Ehm nanti kalo gue ngomongnya pakai ‘Lo Gue’ jangan kaget ya, ini tadi sesi wawancara jadi pakai ‘Aku Saya Kamu’ biar tetep kelihatan formal.” hanya itu yang ingin diucapkan Verrel, Raina hanya menanggapi dengan senyuman dan mengangguk.


“Baiklah kalau begitu saya permisi kak, Assalamu’alaikum.” ucap Raina kemudian keluar dari ruangannya.


“Wa’alaikumsalam” sahut Verrel.


“Arella Raina Anggara? Kayak kenal gue sama namanya? Siapa ya?” gumam Verrel pada dirinya sendiri sambil berpikir.


***


“Kak Verrel ada-ada aja deh ngapain ngomong sama aku kalau dia aslinya ngomong pakai ‘Lo Gue’? Itu kan cafenya sendiri ya terserah dialah, dia bos jadi bebas mau ngapain aneh deh.” gumam Raina disepanjang perjalanan setelah keluar dari cafe.

__ADS_1


Raina kembali ke kostnya dengan wajah bahagia, dia merasa senang karena bisa mencari uang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri meskipun mama dan bundanya juga selalu transfer uang padanya. Uang dari mereka bisa ditabung dan hasil Raina kerja nanti akan digunakan untuk kehidupannya di Jakarta.


__ADS_2