Inseparable

Inseparable
Terakhir Kalinya


__ADS_3

Assalamu'alaikum, JANGAN LUPA LIKE ya🖤🖤


.


.


Raina langsung pulang menuju kostnya setelah mendapat telepon dari mamanya, untung saja tak lama setelah mamanya menelepon bel pulang berbunyi membuatnya tak harus bolos sekolah.


Awalnya Senja menawarinya untuk mengantarkan sampai kost namun ditolak oleh Raina.


Sampainya didepan gerbang kost Raina masih dengan nafas terengah, tak sampai disitu bahkan dia kembali berlari entah apa yang membuatnya tidak sabar. Langkahnya terhenti melihat sosok yang dirindukannya selama ini sedang berbincang dengan pemilik kost.


“Neng, kok sampai ngos-ngosan gitu?” Bu Ina menegurnya, namun Raina hanya tersenyum menampakkan deretan giginya.


“Mamaaaa” Raina menghampiri seseorang yang tadi berada ditelepon, dia langsung memeluknya dengan erat dan wajah senang.


“Assalamu’alaikum sayang, kamu kok cepet sih sampainya? Jangan-jangan bolos ya?” ucap Mama Lita sambil mengusap wajah putrinya yang masih berkeringat.


Ya, sosok yang Raina rindukan selama ini sekarang ada didepan matanya bahkan berada dipelukannya yaitu Mama Lita. Seorang yang telah mengandung dan melahirkannya, tadi dia sempat terkejut pasalnya secara tiba-tiba mamanya mengatakan bahwa ia sedang berada dikostnya. Ada perasaan senang, terkejut, tidak menyangka campur aduk menjadi satu namun dia sangat bahagia ternyata mamanya benar-benar Ke Jakarta untuk menemuinya.


“Wa’alaikumsalam mama, enggak bolos kok ini udah jam nya pulang.” ucap Raina melepas pelukannya kemudian mencium punggung tangan mamanya begitupun Bu Ina.


“Bu, saya ijin bawa Raina ke hotel ya? Hanya satu hari kok, saya rindu dengannya.” pinta Mama Lita pada Bu Ina.


“Oh iya bu, silahkan. Pantesan aja neng cantik, mamanya juga cantik.” Bu Ina memuji Raina dan mamanya secara bersamaan membuatnya sama-sama tersipu.


“Ah ibu bisa saja, emang Rainanya cantik dari sana kok. Yaudah sayang bawa baju seperlunya dan keperluan sekolah buat besok ya, biar mama yang besok mengantarkanmu kesekolah.” Mama Lita kemudian berpamitan pada Bu Ina untuk kekamar Raina mengambil beberapa keperluannya.


“Kamar kamu rapi sayang, ibu kost juga baik nggak kayak yang difilm-film gitu ya posesif?” tanya Mama Lita membuat Raina terbahak seketika.


“Ya gini ma, kalau nggak rapi nanti kelihatan sumpek. Iya ma, Bu Ina baik banget sama aku!” jawab Raina antusias.


Raina dan Mama Lita menghampiri Bu Ina yang sedang menyirami tanamannya didepan, “Bu, Raina pamit ya sama mama. Makasih udah ngijinin,” Raina mencium punggung tangan Bu Ina sambil tersenyum.


“Assalamu’alaikum” ucap Raina bersama mama secara bersamaan.

__ADS_1


“Wa’alaikumsalam” sahut Bu Ina yang juga tersenyum melihat Raina tampak bahagia bersama mamanya.


***


Raina hanya mengekor sampai masuk kedalam kamar hotel yang ditempati mamannya, tak banyak bicara karena sangat menikmati setiap detik bersama wanita yang sangat hebat untuknya.


“Ma? Kenapa nggak tinggal diapartemen aja?” tanya Raina sampainya didalam kamar yang sangat mewah menurutnya.


“Apartemennya masih ada yang nempatin sayang, sholat dulu yuk habis ini kita jalan-jalan.” ucap Mama Lita membuat Raina bersorak gembira layaknya anak kecil yang diajak ketaman bermain.


Selesai sholat Mama Lita mengajak Raina pergi kesuatu tempat yang cukup jauh dari hotel yang ditempatinya. Raina tertegun setelah turun dari mobil yang dia tumpangi, matanya dimanjakan oleh pemandangan yang sangat indah, hijaunya pepohonan dan rumput yang luas, langit biru dihiasi ornamen cakrawala membuat seseorang tidak akan pernah bosan.


Ternyata Raina berada dipuncak, entah mengapa mamanya mengajak dia kesini namun dirinya senang. Tidak berhenti dia berdecak kagum hingga mamanya juga ikut tersenyum puas melihat putrinya begitu bahagia.


Mama Lita mengajak Raina duduk disebuah kursi taman, Raina bingung tempat ini sangat indah namun mengapa sangat sepi padahal awalnya dia mengira tempat yang didatangi adalah taman umum namun nyatanya seperti milik pribadi.


“Kamu suka tempat ini sayang?” tanya Mama Lita melirik putrinya. Raina mengangguk cepat kemudian tersenyum puas.


“Ma, kenapa hanya ada kita berdua disini?” akhirnya Raina memberanikan diri untuk bertanya.


‘Degg!!’


Raina langsung tertegun hatinya terasa tersambar petir mamanya memulai menyinggung tentang papa kandungnya yang selama ini tidak Raina ketahui sedikitpun. Jangankan wajah, namanya saja dia tidak tahu.


Mama Lita akhirnya menceritakan kisah cintanya bersama sang suaminya dulu yang berarti adalah papa kandung dari Raina. Raina hanya mendengarkan, dengan detail mamanya menceritakan semuanya namun belum selesai Mama Lita terisak seperti tidak kuat jika untuk membayangkan kembali masa lalunya.


“Ma, udah! Aku nggak nuntut mama buat cerita tentang papa, aku akan nungguin mama sampai mama bener-bener siap.” Raina diam sejenak sambil menghela nafasnya.


“Ma, aku nggak mau mama terbebani sendiri. Aku nggak maksa mama buat kembali ke masa lalu untuk mengingat semuanya, aku yakin semua takdir Allah. Aku nggak mau ngelihat mama nangis...” imbuh Raina kemudian memeluk mamanya yang terisak dan menghapus air mata yang tersisa diwajah cantik mamanya itu.


‘Maafin mama sayang, mama nggak tahu sampai kapan mama akan menutupinya dari kamu’ batin Mama Lita merasa sesak.


‘Apa papa jahat ma? Tapi dari cerita yang mama ucapkan kalian saling mencintai namun mengapa kalian berpisah, maaf aku berbohong ma. Sebenarnya selama ini banyak pertanyaanku mengenai papa namun aku menahannya karena tidak ingin membuat mama sakit hati’ ucap Raina dalam hati sambil memejamkan matanya sejenak.


“Mama ingin kamu janji sama mama, jangan pernah membenci papa kamu karena dia orang baik dan juga menyayangimu.” ujar Mama Lita memperingatkan Raina.

__ADS_1


‘Mana mungkin papa sayang sama aku ma kalau kita saja tidak bersamanya’ batin Raina yang mulai berburuk sangka.


“Janji sama mama!” ucap Mama Lita sedikit membentak agar Raina mengikuti ucapannya.


“Iya ma aku janji.” Raina menjawab entah terpaksa atau tidak hanya dia dan tuhanlah yang tahu.


Setelah sholat ashar dimasjid yang ada disekitar puncak, Raina mengajak mamanya kembali ke hotel dan kali ini untuk pertama kalinya Raina menyetir jarak jauh mengganti mamanya. Saat di Surabaya kemarin, Raina sempat belajar mobil tidak butuh waktu lama dia langsung bisa lalu Mama Lita sekalian mengajaknya untuk mencari SIM.


Mereka sampai dihotel tepat disaat adzan maghrib berkumandang, Raina langsung mandi dan melaksanakan sholat maghrib sendirian. Selesai sholat, dia langsung mengaji hingga isya’, Mama Lita sangat terharu mendengarkan lantunan ayat suci yang sangat merdu ditelinga dan menyejukkan hatinya itu.


“Mama nyiapin makan kok nggak panggil aku sih?” tanya Raina yang sudah duduk dimeja makan.


“Mama bisa sendiri kok, lagian kamu lagi ngaji jadi mama nggak mau ganggu kamu.” sahut Mama Lita dengan tulus.


Kamar hotel yang ditempati Mama Lita adalah kamar VVIP. Terdiri dari dua kamar yang didalamnya lengkap kamar mandi, ruang tamu yang berukuran sedang, dapur mini berserta meja makan, dan satu kamar mandi yang ada diluar kamar. Jika saja Raina tahu berapa harga sewa permalamnya mungkin dia akan menyuruh mamanya untuk ikut tidur dikostnya.


Diawal Raina masuk kedalam kamar hotel yang disewa Mama Lita, dia membelakak seketika melihat kemewahan yang berkali-kali lipat dari rumah mamanya yang ada di Surabaya. Raina sempat bertanya beberapa kali berapa harga sewanya namun tidak dijawab oleh wanita yang sangat disayanginya itu, pasalnya untuk semalam saja merogoh kantong yang dapat membeli satu unit motor matic baru.


Selesai makan mereka duduk diruang tamu, melihat acara TV sambil berbincang-bincang ringan. Disela-sela pembicaraan Raina mulai merasa aneh oleh ucapan yang dikeluarkan oleh mamanya itu.


“Ma, mama ngomong apa sih?” tanya Raina menghentikan ucapan mamanya. Tanpa menjawab, Mama Lita langsung memeluknya dengan begitu erat.


“Loh ma, tangan mama kenapa? Kok lebam?” ucap Raina sambil melihat dengan intens lebam yang ada ditangan kanan mamanya.


“Mama kepentok lemari disana, tapi nggak papa kok.” sahut Mama Lita yang cukup masuk akal menurutnya.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 21.00, tak butuh waktu lama Mama Lita mengajak Raina untuk pergi tidur karena besok harus sekolah. Namun sampainya dikamar Raina tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia terus mengoceh mengajak mamanya ngobrol padahal Mama Lita sudah menyuruhnya untuk tidur sampai akhirnya Raina terlelap sendiri dalam mimpinya.


“Selamat tidur sayang, mimpi indah, mama akan selalu ada didalam hati kamu.” ucap Mama Lita sambil memeluk dan mencium pucuk kepala putrinya.


.


.


Jangan lupa like ya teman-teman, maaf telat update dan belum feedback. Aku nggak bakalan lupa buat mampir ke karya kakak-kakak yang udah mendukung aku, makasih 🤗🖤

__ADS_1


__ADS_2