Inseparable

Inseparable
Masa Lalu Senja (3)


__ADS_3

Senja langsung dipindahkan keruang operasi setelah mendapatkan persetujuan dari pihak keluarga, Verrel dan kedua sahabatnya menunggu didepan ruang operasi dengan perasaan khawatir.


“Verrel apa yang terjadi?!” ucap papa yang baru saja datang dengan amarahnya. Verrel pun akhirnya menceritakan semua yang terjadi pada kedua orang tuanya.


‘Plakk!’ dengan penuh amarah yang menguasai dirinya Papa Aditya langsung menampar dan menonjok Verrel hingga tersungkur dilantai.


“KAMU MEMANG ANAK TIDAK TAHU DIRI VERREL!!” teriak Papa Aditya pada Verrel.


‘Bugh bugh bugghh’ tidak hanya sekali papanya langsung menghakimi dan meluapkan semua emosinya pada Verrel hingga sudut bibir sobek, hidungnya mengeluarkan darah dan beberapa luka lebam menghiasi wajah tampannya.


“Udah pa cukup! Jangan sakiti Verrel seperti itu!” Mama Vita membentak suaminya agar berhenti menyalahkan Verrel.


“Om cukup! Ini semua bukan sepenuhnya salah Verrel saya yang memaksa Verrel untuk ikut dengan kami.” ujar Jonathan yang tak kalah marah melihat sahabatnya dihakimi oleh papanya sendiri sambil menahan tubuh papanya Verrel.


“Iya om, Verrel juga terpukul saat mengetahui Senja kecelakaan.” sahut Deva dengan tenang dan juga ikut menahan papanya Verrel. Sedangkan Verrel hanya terdiam menerima semua perlakuan papanya pada dirinya.


“Pergi kamu dari sini!” usir papa yang membuat Verrel langsung mencoba untuk berdiri, melihat Verrel kesusahan untuk berdiri Deva langsung membantunya karena tamparan, pukulan, bahkan tendangan dari papanya cukup menyakitkan bagi orang yang melihatnya apalagi yang merasakan.


“Nggak pa, aku menang salah. Tapi aku ingin menunggu Senja hingga dia dipindahkan keruang rawat inap dan siuman.” ucap Verrel dengan mata berkaca-kaca dan bibirnya menahan rasa sakit karena darah segar terus mengalir dari ujung bibirnya.


“PERGI!!!” teriak Papa Aditya yang menggema hingga keseluruh penjuru. Tidak ada orang disana kecuali keluarga pasien, Deva yang tadi menyiapkan ruang VVIP agar tidak ada yang tahu keributan yang terjadi karena Jonathan sudah memberi tahunya akan terjadi keributan nantinya dan ternyata memang benar.


Verrel memaksa ingin disana, namun kedua sahabatnya langsung membawa Verrel pergi dari sana agar kemarahan Papa Aditya tidak semakin memuncak.


Jonathan meminta seorang suster untuk mengobati luka Verrel, awalnya menolak namun akhirnya dia hanya bisa pasrah dipaksa oleh kedua sahabatnya.


***


Tidak ada yang tahu apa yang terjadi satu detik, satu menit, satu jam, bahkan selanjutnya. Tidak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Yah, tidak ada yang pernah tahu tentang takdir yang akan terjadi.


Verrel kembali kerumah sakit keesokan harinya, dia bertanya pada dokter yang merawat adiknya dan ternyata setelah operasi Senja dalam keadaan koma. Karena semalam dia pulang kerumah Jonathan dan menginap disana bahkan Deva pun ikut menginap disana.


Verrel memakai pakaian khusus untuk memasuki ruangan Senja, kakinya terasa berat untuk melangkah namun hatinya berkata ingin segera melihat kondisi adiknya. Dia melihat adik yang selalu ceria, periang, murah senyum kini terbaring lemah dirumah sakit dan dalam keadaan koma.


“Dek, maafin kakak ya harusnya...” Verrel tidak bisa melanjutkan perkataannya kemudian terisak samping ranjang Senja.

__ADS_1


“Dek kamu harus kuat, kakak yakin kamu bisa melewati ini semua. Papa, mama, kakak, Jonathan, Deva, Sonya nungguin kamu disini. Kita semua sayang sama kamu, mungkin jika kemarin kakak nganterin kamu pulang kita pulang bareng, kita bakalan ngerayain kelulusan kakak sesuai yang kamu bilang dan kamu tidak akan terbaring disini...” ucapnya yang membuatnya semakin terisak.


“Kakak akan selalu nungguin kamu disini sampai kamu bangun, kakak sayang sama kamu dek. Maafin kakak, gara-gara kakak kamu sampai seperti ini...” Verrel terus berusaha mengajak adiknya berbicara, dan usahanya membuahkan hasil. Senja merespon perkataan kakaknya dengan meneteskan air matanya.


Verrel langsung memanggil dokter agar memeriksa keadaan Senja lebih lanjut kemudian dokter mengatakan bahwa adiknya merespon perkataannya dengan baik, namun entah kapan adiknya akan bangun dari komanya.


Cukup lama Verrel menemani adiknya lalu dia keluar dari ruangan itu, sampainya didepan papa dan mama nya hendak menjenguk putrinya. Mamanya tersenyum melihat Verrel namun berbeda dengan papanya yang tidak ingin menatapnya.


“Kamu semalam tidur dimana sayang? Mama Khawatir loh sama kamu,” ucap Mama Vita setelah Verrel mencium punggung tangannya.


“Aku...” belum selesai menjawab papanya langsung memotong.


“Udahlah ma, biarin aja anak seperti dia nggak perlu dikhawatirin. Ngapain kamu kesini?! Siapa yang mengijinkanmu melihat putriku?” sarkas Papa Aditya menatapnya dengan sinis.


“Dia adikku pa! Aku akan menjaganya sampai dia sadar.” sahut Verrel.


“Seandainya kamu konsisten dengan ucapanmu, adikmu tidak akan sampai koma! Harusnya kamu sadar kalau kamu salah, tapi kamu masih berani untuk lihat adikmu! Mungkin kalau Senja bangun dia juga akan kecewa sama kamu!” ujar Papa Aditya dengan suara lantang lalu melemah.


Verrel hanya diam membisu membenarkan ucapan papanya, sedangkan mama menyudahi perdebatan yang tidak berguna itu. Hal yang sudah terjadi tidak mungkin bisa diulangi lagi.


***


“Inget sama rumah juga kamu!” seru Papa Aditya yang duduk diruang tamu saat melihat putra sulungnya memasuki rumah.


Verrel hanya diam tidak menanggapi ucapan papanya kemudian mencium punggung tangan mamanya namun saat ingin mencium punggung tangan papanya, ia mengabaikannya.


“Mandi terus istirahat ya. Kalau belum makan, makan dulu.”ujar Mama Vita padanya, Verrel menanggapi dengan senyum dan menganggukkan kepala kemudian berjalan menaiki tangga.


“Kemana kamu semalam? Bikin Senja celaka, malah nggak pulang! Anak macam apa kamu katanya kamu kakak yang baik buat dia malah keluyuran!” ucap Papa Aditya menghentikan langkah Verrel.


“Pa, udah dong Senja kecelakaan itu musibah bukan salah Verrel.” sarkas Mama Vita untuk meredakan suasana.


“Apa sih ma!? Belain aja anak mama terus-terusan! Dia berani pulang setelah buat Senja koma itu udah hebat lo! Harusnya dia nggak usah pulang aja sekalian!” ucapan papanya begitu menyakitkan untuk terdengar ditelinga Verrel namun Verrel hanya diam tidak menanggapi sedikitpun.


Verrel berlari menuju kamarnya, dia membuka pintunya dengan kasar kemudian mengambil koper berukuran besar dan memasukkan bajunya kedalam koper tersebut.

__ADS_1


Yah, secara tidak langsung papanya mengusirnya secara halus namun dia juga membenarkan ucapan papanya, mungkin dia tidak pantas untuk tinggal dirumahnya setelah lalai mengakibatkan adiknya sampai mengalami kecelakaan.


Padahal itu nyata kecelakaan dan tidak akan pernah ada yang tahu bahwa akan terjadi kecelakaan tersebut namun Verrel selalu menyalahkan dirinya yang tidak memegang amanah kedua orang tuanya sehingga membuat adiknya celaka.


“Verrel mau kemana kamu sayang?” tanya Mama Vita saat melihat putranya menuruni tangga membawa koper.


“Ini kunci mobil, kartu ATM, kartu kredit dan debit yang papa berikan untuk Verrel, makasih udah pernah mencukupi Verrel.” ucap Verrel meletakkan semua fasilitas yang pernah diberikan Papa Aditya untuknya diatas meja.


“Ma, jaga diri mama baik-baik ya. Makan yang teratur, jangan banyak pikiran, Verrel pamit assalamu’alaikum” ucap Verrel pada mamanya yang sudah berderai air mata.


“VERREL!!!” teriak Mama Vita namun percuma karena Verrel sudah keluar dari rumah tersebut. Ia menangis melihat putranya pergi dari rumahnya sendiri.


Tadinya Verrel ingin keluar dari rumahnya tanpa membawa apapun karena semua baju yang dia bawa itu dibeli dengan uang papanya namun setelah berpikir tidak mungkin juga jika nantinya dia tidak berganti baju sama sekali.


Verrel berjalan entah kemana kaki akan membawanya, berjalan dipinggir jalan sambil menarik koper besar yang berisi pakaiannya lalu perutnya terasa sangat lapar, kemudian dia berhenti disebuah cafe untuk mengisi perutnya.


Selesai makan Verrel membayarnya dan mencari tempat untuk dia tidur malam ini, dia akhirnya memesan hotel berbintang untuknya menginap. Dia menuju kamarnya lalu membuka ponselnya dan ternyata kedua sahabatnya mencarinya namun saat itu dia mengabaikan lalu memejamkan matanya kemudian masuk kedalam mimpinya.


Verrel bangun dipagi hari, saat hendak meninggalkan hotel dia membuka dompetnya dan ternyata uang yang tersisa hanya tiga ratus ribu. Padahal tadinya uang tunai yang ada didompetnya kurang lebih tiga juta.


“Aishh, harusnya semalem gue cari kontrakan aja kali ya bisa buat sebulan. Gue lupa kalau udah nggak punya fasilitas sampai lupa nginep dihotel mewah lagi, tau gue keluar dari rumah gue kuras tuh ATM papa... Arrgghhhh” Verrel merutuki dirinya sendiri dan mengusap rambutnya dengan kasar merasa frustasi, mungkin dia masih terbiasa dengan kehidupan mewahnya.


***


Tiga minggu berlalu, Verrel mulai beradaptasi hidup sederhana dan hanya tinggal dikontrakannya yang sangat kecil dibandingkan rumahnya dulu. Dia juga kerja parttime untuk memenuhi kebutuhannya tidak lupa para sahabatnya yang selalu datang bahkan selalu mengajaknya untuk menginap dirumah mereka.


Dua bulan kemudian, Senja baru bangun dari komanya dan yah, pertama dia membuka matanya yang dia cari adalah kakak tersayangnya namun papanya mengatakan bahwa dia sudah pergi dan tidak akan kembali ke keluarganya sedangkan mama mengatakan bahwa Verrel sedang pergi keluar kota dan menginap dirumah saudaranya.


Bahkan semenjak Verrel menginjakkan kakinya untuk keluar dari rumah orang tuanya, hari itu juga menjadi hari terakhir dia menjenguk adik tersayangnya. Verrel tau kabar adiknya sudah bangun juga dari kedua sahabatnya.


Flashback off


.


.

__ADS_1


Assalamu'alaikum teman-teman maaf banget aku telat up, makasih buat teman-teman yang selalu setia menunggu Novel ini up. Semoga teman-teman selalu dalam keadaan sehat aamiin, Tinggalkan jejak dengan pencet Like. boleh juga jika mau bantu share agar pembacanya semakin banyak🌻🌻🌻


Love you All🖤🖤🖤


__ADS_2