
Selesai upacara Raina dan Senja kembali ke kelas mereka dan mengikuti pelajaran selanjutnya, saat bel istirahat mereka berdua pergi ke kantin seperti biasanya.
“Ra? Emang bener apa kalo kamu tadi pagi berangkat bareng Kak Deva?” tanya Senja, Raina hanya menanggapinya dengan anggukan.
“Kalian pacaran ya?” Senja kembali bertanya membuat Raina tersedak.
“Uhuk.. uhukk” Raina langsung meminum air mineral yang ada dihadapannya.
“Heh apaan pacaran-pacaran nggak mungkin lah kamu mah ada-ada aja, aku tadi pagi nggak sengaja ketemu Kak Deva dijalan terus dia maksa aku buat berangkat bareng yaudah aku yang awalnya nolak terus ngikut aja deh.” jelas Raina sedangkan senja hanya mangut-mangut seolah paham.
“Hehe maaf lagian kalo beneran pacaran juga nggak papa” sahut Senja sambil tertawa kecil.
“Nggak ada kata pacaran dikamus aku Nja.” balas Raina dengan santai.
***
Setelah kejadian itu Raina dan Deva jarang bertemu sekali bertemu pun tidak bertegur sapa membuat Raina bingung dengan tingkah Deva, dia berpikir apakah Deva marah saat dia pergi meninggalkan Deva setelah menegur kakak kelas yang bicara tidak-tidak mengenainya tapi dia merasa sudah pamitan saat itu bahkan mengucapkan terimakasih padanya. Senja pun ikut heran padahal sebelumnya Deva sangat hangat pada Raina.
“Nja aku ke toilet bentar ya tungguin disini jangan kemana mana!” pinta Raina pada Senja yang tengah menikmati makannya dikantin.
“Iya iya” jawab Senja dengan singkat.
Setelah Raina dari toilet dia kembali kekantin untuk menemui senja, Raina berjalan sambil membenarkan jilbabnya sampai tidak memperhatikan jalan.
‘Bughh’ Raina bertabrakan dengan seseorang hingga terjatuh.
“Woy jalan pakai mata dong!” ucap seorang cowok yang menyalahkan Raina. Dia langsung mendongak keatas melihat cowok yang sudah berdiri itu.
‘Kak Ketos?’ gumamnya dalam hati sambil memutar bola matanya.
“Heh kak ketos! Yang salah tuh kakak jalan nggak bener nabrak orang malah marah-marah!” ucap Raina yang tak kalah marah.
“Dasar cewek aneh, lo yang salah malah marah sama gue hah?!” bentak Jonathan pada Raina.
Raina melirik ponsel yang ada ditangan Jonathan, “Makanya kalo jalan tuh jangan sambil main HP giliran nabrak nyalahin orang dasar!” ucap Raina mendengus kesal.
Memang benar tadi saat Jonathan berjalan dia terlalu fokus dengan ponselnya sampai tidak memperhatikan sekitar akhirnya bertabrakan dengan Raina.
“Bukannya minta maaf sama gue malah marah-marah lagi.” sahut Jonathan.
Raina langsung pergi meninggalkan Jonathan begitu saja, “Astaga dari sekian banyak murid yang ada disini kenapa harus ketemunya sama tuh cewek aneh sih!” gumam Jonathan saat Raina pergi.
Raina duduk didepan Senja dengan wajah kesalnya, “Kenapa sih Ra? Dateng-dateng mukanya ditekuk gitu? Nahan BAB ya?” tanya Senja padanya.
“Nggak lah, tadi habis ketemu sama ketos nyebelin itu dia nabrak aku malah dia marah-marah” Raina masih menyalahkan Jonathan padahal mereka sama-sama salah.
“Udah jangan marah-marah gitu ah nanti jodoh lo ahahahah” ucap Senja terbahak.
“Dih apaan nggak lah” sahut Raina yang langsung merinding, tidak bisa membayangkan jika mereka berjodoh.
***
Sesekali Raina bertemu dengan Jonathan dan hanya ada keributan jika mereka bertemu, Raina yang tidak ingin mengalah sedangkan Jonathan yang keras kepala membuat orang yang melihatnya hanya mampu menggelengkan kepalanya.
Waktu berjalan dengan cepat, kelas XII melaksanakan ujian nasional selama 4 hari berturut-turut sedangkan adik kelas belajar dirumah saat itu juga. Selesai UN giliran adik kelas yang bersekolah untuk mempersiapkan ujian akhir semester 2 mereka.
Senja sesekali belajar bersama di kostnya Raina, sampai selesai ujian mereka mengerjakan tanpa ada suatu hambatan. Saat semua sedang sibuk classmeeting Senja dan Raina sibuk membahas untuk acara wisuda kelas XII nanti, mereka berdua masuk diorganisasi bagian perencanaan dan penataan acara.
Mereka bukan hanya berdua namun ada dua cowok kelas XI juga yang sama dengan bagian mereka, bagian mereka bertugas untuk membahas event-event penting yang ada disekolah misalkan acara HUT, prom night, dan wisuda sedangkan classmeeting yang mengatur adalah klub olahraga.
“Rasanya mau pecah kepalaku Ra mikir acara wisuda nanti.” keluh Senja setelah keluar dari ruang rapat.
“Nikmatin aja Nja lagian kamu sendiri yang milih bagian ini” sahut Raina sambil menggelengkan kepalanya melihat temannya terus-terusan mengeluh.
“Aku kan pengen bareng kamu terus Ra.” balas Senja sambil manyun.
“Iya iya terima kasih teman terbaikku.” Raina terkekeh sambil merangkul Senja.
“Iya lah orang kita cuma berdua!” seru Senja lalu mereka berdua tertawa bersama.
Saat pembagian anggota OSIS Raina terlebih dahulu dimasukkan diperencanaan dan penataan acara lalu Senja langsung mengajukan diri agar bisa satu bagian dengan Raina.
***
Akhirnya hari wisuda telah tiba, semua siswa berpakaian formal sedangkan siswi ada yang memakai dress, gaun, dan juga kebaya modern untuk tampil cantik diwisudanya.
Raina bertugas membawa nampan yang berisi penghargaan untuk lulusan terbaik nanti, sedangkan Senja menjadi MC/pembawa acara. Setelah semua murid dan orang tua/wali sudah berkumpul acara dimulai.
“Mari kita panggil lulusan terbaik disekolah kita, selamat kepada Jonathan Ardiansyah siswa kelas XII IPA 2 yang meraih nilai sempurna. Kami persilahkan untuk naik keatas panggung dan menerima penghargaan dari kepala sekolah”. ucap Senja membacakan urutan acara yang kesekian.
__ADS_1
‘Hah? Kak Ketos? Yang bener aja aku harus membawakan pernghargaan untuknya? Semoga dia tidak bersikap menyebalkan’ batin Raina merasa tidak percaya.
Jonathan sudah berada diatas panggung sedangkan Raina malah melamun, “Ehem Ra sana jalan, Kak Nathan udah naik” Senja berdehem kemudian berbisik pada Raina yang berdiri disebelahnya.
Raina tersadar dari lamunannya lalu berjalan dan berdiri disamping bapak kepsek untuk memberikan penghargaan pada Jonathan.
“Selamat Nathan kamu bertahan jadi murid dengan nilai yang selalu sempurna.” ucap kepsek pada Jonathan saat menyerahkan penghargaan sambil berjabat tangan.
“Terima kasih pak” sahut Jonathan sambil tersenyum.
Raina mengalihkan pandangannya agar tidak melihat wajah yang sangat menyebalkan baginya selama ini. Setelah menerima perghargaan Jonathan berjalan hendak turun dari panggung namun dia berhenti tepat disamping Raina.
“Nggak usah terpesona sama gue” bisik Jonathan ditelinga Raina sambil tersenyum sinis membuat Raina geram kemudian Jonathan turun dari atas panggung.
Akhirnya acara wisuda berakhir, ada yang langsung pulang dan ada juga yang berfoto distudio yang sudah disediakan OSIS.
“Astaghfirullah sabarr” ucap Raina saat berjalan menuju masjid.
“Ada gitu ya orang se PD dia huft” gumam Raina disepanjang perjalanan.
Selesai sholat Raina duduk diteras masjid sambil menggunakan sepatunya, “Ya Allah kenapa ucapannya tadi terus terngiang dikepalaku sungguh menyebalkan!” Raina kembali kesal mengingat ucapan Jonathan yang sangat percaya diri tadi.
“Siapa yang nyebelin?” tanya seorang cowok yang tiba-tiba berdiri didepannya dan suara ini sangat Raina kenali.
“Eh Kak Deva?” Raina langsung berdiri begitu saja.
“Kamu ngomel sendiri dari tadi kenapa?” tanya Deva sambil menatap Raina membuatnya salah tingkah.
“Oh ehm itu tadi anu kak nggak papa kok hehe” ujar Raina dengan polos sambil tertawa kecil.
“Oh ya kak selamat atas kelulusannya maaf aku nggak ngasih hadiah, aku nggak nyangka kita bakal ngobrol seperti ini lagi.” imbuhnya yang langsung to the point.
“Iya makasih, aku mau minta maaf. Aku nggak bermaksud ngejauhin kamu setelah kejadian waktu itu aku sadar kalo aku terus deket sama kamu nanti kamu bakal dikatain yang enggak-enggak sama anak-anak.” ucap Deva dengan tulus.
“Aku kira kakak marah sama aku gara-gara ninggalin kakak waktu itu.” sahut Raina dengan polosnya, membuat Deva tertawa.
“Maafin aku ya kak, padahal nggak masalah dikatain orang lain kalo kitanya sendiri emang nggak ada apa-apa.” tambah Raina.
“Oh jadi pengen ada apa-apa nih?” Deva menggoda Raina membuatnya semakin salah tingkah.
“Oh ya kamu masih bisa ngasih aku hadiah kok” ucap Deva kembali.
“Apa kak? Emang ada yang jualan buket disini? Kalo ada aku mau beli untuk Kak Deva” ucapan Raina membuat Deva terbahak. Sedangkan Raina cemberut karena malah diketawain.
“Yaudah ayo!” Raina hendak melangkahkan kakinya namun tangannya ditarik oleh Deva.
Deva langsung jongkok mengikat tali sepatunya yang belum selesai tadi, “Hehe makasih kak” ujar Raina sambil tersenyum.
“Kak masih ngantri banyak tuh, mending duduk aja dulu.” ucap Raina sampai distudio.
“Raina, sekali lagi aku minta maaf ya pernah bikin kamu nggak nyaman gara-gara kejadian itu.” ujar Deva membuat Raina merasa tidak enak hati.
“Udah kak nggak usah dipikirkan, kita malah ngerasa nggak enak semua gimana. Biar jadi angin lalu aja lah lain kali kalo ada apa-apa diobrolin gitu.” ucap Raina tanpa sadar.
“Eh ehm maksudnyaa....” lanjut Raina dengan menggantung.
“Hahaha santai aja Raina, aku seneng kamu ngobrol sama aku tanpa rasa canggung” sahut Deva dengan serius.
“Rainaaaaaaaa” teriak seseorang membuat Raina dan Deva langsung menoleh.
“Apa sih Nja teriak-teriak malu-maluin tau!” ujar Raina merasa sebal.
“Dicari Kak Bagas tuh, katanya kamu ditelfon nggak nyambung malah dianya marah-marah sama aku! Kak Deva pacarannya nanti ya aku ambil Raina dulu daripada kena omel.” Senja mengoceh terus sambil menarik tangan Raina membawanya pergi, Deva hanya menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil.
Raina dan Senja menuju ruang organisasi mereka mengadakan rapat untuk penutupan, ternyata rapat berlangsung cukup lama memakan waktu hampir 2 jam hingga adzan ashar berkumandang rapat baru selesai.
Raina dan Senja sholat dimasjid sekolah, selesai sholat Raina mengajak Senja kembali ke studio foto ternyata sudah tutup dan orang yang dicari Raina sudah tidak ada disana.
“Nja aku nggak enak sama Kak Deva, tadi sebelum kamu dateng aku tuh diajak dia foto buat kenang-kenangan sebagai hadiah gitu soalnya aku nggak bawa hadiah buat dia. Yaudah kita balik aja yuk mungkin dia udah pulang” ujar Raina dengan wajah kecewa.
Mereka berjalan ingin pergi dari situ namun tiba-tiba ada yang memegang pundak Senja dan membuatnya menoleh, Senja tadi ingin berteriak namun orang itu mengodenya untuk diam dan berhenti lalu orang itu berjalan disamping Raina sedangkan Raina terus mengoceh gara-gara rapatnya terlalu lama.
“Nja, dari tadi aku ngomong kok kamu diem aa-jaa” ucap Raina yang terkejut ternyata yang disampingnya adalah Deva, lalu dia menengok kebelakang ternyata Senja berjalan dibelakangnya dan melambaikan tangannya sambil tertawa mengejek.
“Aku kira Kak Deva udah pulang hehe” imbuh Raina dengan gugup.
“Enggak aku nungguin kamu, mending kita foto disini aja studionya udah tutup” ujar Deva sambil menunjuk arah studio.
“Sini sini biar aku fotoin” sahut Senja.
__ADS_1
“Ayo agak deket, Raina senyumnya jangan kaku, Kak Deva senyum yaa. Satu... duaa....tigaaa” ujar Senja sambil mengarahkan.
‘Cekrekk..cekrekk’ hasil jepretan Senja bagus dan nyaris sempurna.
“Makasih Raina, makasih Senja. Kalian semangat sekolahnya ya, semoga kita bisa bertemu lagi” ucap Deva sambil menatap Raina.
“Iya kak, makasih udah jadi kakak kelas yang bersikap baik buat aku dan ....” ucap Raina terpotong karena seseorang.
“Woy, mau pulang nggak gue tinggal nih!” ujar seorang cowok pada Deva.
“Nathan?” ucap Deva.
“Kak ketos?” gumam Raina.
“Bakalan ada perang lagi nih” ujar Senja sambil memutar bola matanya.
“Astaga Devano, lo suruh gue nungguin lo lebih dari 2 jam cuma gara-gara lo pengen ketemu sama cewek aneh ini?!” ucap Jonathan sambil menunjuk Raina.
“Heh Kak Ketos! Nggak usah tunjuk-tunjuk dong!” Raina merasa tidak terima.
“Eh cewek aneh ngapain sih yang selalu dihadapan gue tuh harus elo, nggak ada apa yang lainnya. Dan lo! Nggak usah teriak-teriak kalo ngomong sama gue!” ucap Jonathan dengan nada tinggi.
“Eh Kak Ketos ini pertemuan terakhir kita ya, aku sangat sangat sangat merasa senang akhirnya ketos nyebelin diangkatan aku telah lulus dan pergi dari sekolah ini!” ujar Raina yang tak kalah sengit.
“Berani lo ngomong gini ke gue! ....” ucap Jonathan yang belum selesai namun Deva buru-buru menariknya agar terjauh dari Raina.
“Raina makasih ya, aku pulang dulu!” ujar Deva padanya sambil menarik Jonathan.
“Heh cewek aneh! Gue juga seneeeennnggg banget nggak bakal ngeliat lo lagi!” teriak Jonathan yang sudah jauh namun masih terdengar oleh Raina.
Raina yang awalnya hanya diam kemudian dia hendak melangkahkan kakinya untuk mengejar Jonathan namun Senja langsung menariknya.
“Eh coy santai dong, udah kamu mah kalo ketemu Kak Nathan berantem mulu deh ah.” ucap Senja mendengus kesal.
“Astaghfirullah Senja kalo aja nggak ada Kak Deva udah aku tonjok tuh muka songongnya!” Raina masih ngomel-ngomel setelah Jonathan pergi. Senja langsung mengajak Raina pulang daripada marah-marah nggak jelas.
***
“Lepasin gue Deva, kenapa lo malah narik gue sih? Belum selesai urusan gue sama tuh cewek aneh!” ucap Jonathan yang masih marah-marah sama Deva.
‘Brak’ tidak sengaja mereka berdua ribut sampai menabrak mobil Jonathan yang terparkir diarea sekolah.
“Aduhh, kalian kenapa sih malah ribut sendiri ganggu orang tidur aja deh.” ujar seorang cowok yang baru saja keluar dari mobil.
“Ini nih Nathan kesurupan, bantu bawa masuk gih.” ujar Deva sambil menarik maksa Jonathan agar masuk mobil.
“Woy woy kalian kenapa sih etdahhhh!” teriak Jonathan pada mereka. Deva langsung masuk kedalam mobil dan dia yang menyetir.
“Huft harusnya tadi tuh lo biarin gue nyelesein masalah sama tuh cewek aneh!” Jonathan yang masih ngedumel.
“Rel, Verrel lo sumpel aja tuh mulutnya berisik tau nggak.” sahut Deva pada Verrel.
“Lo kenapa sih Nat beneran kesurupan apa?” tanya Verrel yang masih heran.
“Rel lo tau nggak? Kita nunggu 2 jam disini tuh nunggu siapa? Nungguin cewek aneh yang gue hukum waktu MOS hari pertama itu nyebelin banget tau nggak! Tau gitu nih ya tadi mending gue pulang duluan bareng Sonya bener-bener Deva ngerjain kita apa gimana sih?!” Jonathan bertanya namun dijawab sendiri membuat Deva terbahak bahkan Verrel pun ikut terbahak mendengar sahabatnya.
“Cewek aneh mana sih? Gebetan lo Dev?” Verrel merasa bingung sendiri dengan tingkah kedua sahabatnya.
“Cewek satu-satunya yang pake hijab disekolah kita Rel.” sahut Deva yang masih fokus menyetir sambil mengulas senyumnya. Verrel hanya mangut-mangut seakan mengerti.
“Lagian kenapa sih Nat lo malah ngajak ribut dia, dia punya salah apa coba sama lo heran gue.” imbuh Deva sambil menggelengkan kepalanya merasa pusing.
“Gimana gue nggak marah, dia ketemu gue nggak ada sopan-sopannya. Ngomong ngegas terus manggil Kak Ketos. Dia nggak waras kalik ya orang ganteng kayak gue nama bagus-bagus dipanggilnya KETOS!” jawab Jonathan yang masih kesal, kedua sahabatnya terkekeh sendiri mendengar omelan darinya.
“Untung aja tadi ada Senja kalo misal tadi tuh nggak ada Senja nggak tau deh gimana cara gue misahin kalian berdua.” ujar Deva.
“Senja?” gumam Verrel secara tidak sadar.
Jonathan dan Deva langsung melirik kebelakang melihat raut wajah Verrel menjadi muram.
“Sampai kapan lo kayak gini? Kemarin Senja nanyain lo ke gue” ucap Deva.
“Kasian Senja Rel gue sempet ngelihat Senja tersenyum saat mandang lo dari jauh” imbuh Jonathan.
.
.
Yahh Jonathan pisah deh sana Raina, nggak bakalan ngeliat mereka berantem lagi dong 😂.
__ADS_1
Tapi insyaallah mereka bakalan aku buatin dijudul yang berbeda🙏
Haii assalamu'alaikum, makasih yang udah mau baca ceritaku yang monoton dan masih amburadul bahasanya, tinggalkan jejak dengan Like like like yaaaa. Thankyuuuu🖤🖤🖤🖤🖤🖤