Istri Ke Lima Untuk Pemuas

Istri Ke Lima Untuk Pemuas
Musuh Lama


__ADS_3

Setelah selesai makan malam Richard berada di ruang pribadi duduk sambil merokok. ia mengingat semula pertemuannya dengan gadis itu.


"Sepertinya wajahmu tidak asing."


"Tuan Kambing."


"Viyone Alexander yang terkenal dengan kejahilannya dan juga bisa ilmu bela diri," gumam Richard.


Richard duduk semalaman sambil memikirkan gadis itu, selama ini belum pernah ada wanita yang singgah ke hati pria dingin itu. bahkan empat wanita cantik yang dia nikahi juga tidak mampu mengerakan hatinya.


Viyone Alexander adalah wanita satu-satunya yang mampu membuat pria itu mengingatnya dan juga duduk sehingga semalaman.


Tempat tinggal Viyone.


"Preman siang itu apakah hanya kebetulan atau kiriman dari seseorang?" tanya Nerlin.


"Aku mencurigai kiriman orang, selama aku bekerja di sana tidak pernah terjadi hal seperti ini. sejak di serang kemarin terjadi lagi di tempat kerjaku. itu berarti dia sudah mengetahui keberadaan ku," jawab Mulfis.


"Bukankah ini sangat bahaya bagimu dan Viyone?"


"Jika kami bekerja sama masih bisa mengalahkan lawan, asalkan penyakitku tidak kambuh, mudah-mudahan saja musuh tidak mengunakan senjata."


"Aku sangat khawatir dengan kalian."


"Jangan dipikirkan! mereka tidak akan berhasil," ujar Mulfis.


"Andaikan dulu kita tidak mundur, tidak tahu apa yang terjadi sekarang."


"Di saat itu sudah waktunya juga kita pensiun, usia kita tidak muda lagi. lagi pula kita bertanggung jawab terhadap anak ini," kata Mulfis.


"Dan kini orang itu datang kembali," ujar Nerlin yang merasa khawatir.


"Tidak bisa di elakkan lagi, jika dia muncul kita harus menghadapinya,* ucap Mulfis yang memandang ke langit.


"Di saat kita membuat keputusan untuk melindungi anak ini maka kita sudah tahu akan ada hari ini," ujar Mulfis.


Keesokan harinya.


Mulfis seperti biasanya berangkat kerja, kali ini hanya dia sendiri. niat Mulfis memang sengaja liburkan putrinya itu. di karenakan ia merasa situasi semakin tidak aman. saat di dalam perjalanan Mulfis di hadang oleh beberapa orang yang berbadan tinggi.


"Muflis Alexander, atasan kami sedang menunggumu. ada baiknya kau jangan melawan!" kecam pria asing itu.


Muflis yang sadar dirinya dalam bahaya ia pun meninggalkan sesuatu di jalan tempat dia berdiri, dan kemudian ia ikut dengan beberapa pria itu pergi.

__ADS_1


Tempat tinggal Viyone.


"Viyone, bangun! sudah pukul 9 pagi," panggil Nerlin sambil mengetuk pintu kamar.


Tuk...tuk...tuk...tuk...tuk...


"Viyoneee...sudah boleh bangun!" teriak Nerlin.


Karena tidak ada jawaban Nerlin lalu membuka pintu kamar dan melangkah masuk.


"Anak ini selalu saja begini," ucap Nerlin yang melihat putrinya tidak ada di atas kasur lalu ia membungkuk dan melihat putrinya tidur di bawah tempat tidur dengan begitu pulas.


"Hei, bangun sudah siang!" teriak Nerlin.


Karena mendengar teriakan ibunya Viyone langsung terbangun dan terbentur kayu tempat tidur.


Bruk...


"Aauukkk."


"Mama, kenapa berteriak?" tanya Viyone sambil memegang dahinya.


"Kau di panggil berulang kali juga tidak bangun-bangun, dan kenapa kau tidur di bawah tempat tidur lagi?"


"Di mana papa?"


"Papamu sudah berangkat kerja."


"Papa sudah tua seharusnya pensiun," ujar Viyone yang berdiri di hadapan ibunya.


"Kalau papamu pensiun siapa yang beri kita makan?"


"Aku kan sudah bekerja, jadi aku bisa merawat kalian, kenapa tidak membangunkan ku?"


"Hari ini kau libur saja dulu," jawab Nerlin yang melangkah keluar dari kamar


"Untuk apa aku libur? aku juga masih kuat. perasaan ku tidak nyaman, apa papa adalah masalah di tempat kerja ya?" gumam Viyone.


Viyone yang mengenakan piyama tidur, baju dan celana panjang bermotif kartun Hello Kitty. ia langsung berlari keluar dari kamar. dan kemudian mengejar langkah ayahnya itu.


"Viyone, kau mau ke mana? kau belum ganti pakaian," teriakan Nerlin dengan nada tinggi.


Sementara Mulfis di bawa oleh orang asing ke sebuah tempat yang sepi tanpa siapapun di sana.

__ADS_1


Di tempat itu terdapat seorang pria berbadan tegap yang memakai kaca mata hitam. pria itu berhadapan dengan Mulfis.


"Sembilan belas tahun lamanya kita tidak bertemu, Kolonel. tidak ku sangka kita bisa bertemu kembali," ucap pria itu yang melepaskan kaca matanya. mata pria itu cacat di sebelah kiri.


"Untuk apa kau muncul di hadapanku? apakah ingin menjadi pasukanku lagi?" tanya Mulfis dengan bersikap tenang.


"Serahkan anak itu dan kami akan pergi!"


"Anak yang mana? aku tidak mengerti maksudmu?" tanya Mulfis dengan berpura-pura.


"Aku melihat dengan mataku sendiri kau membawa dia pergi di saat itu, saat itu dia baru dilahirkan dan sekarang dia sudah berusia sembilan belas tahun."


"Aku sudah meninggalkan dia di saat itu, aku harus bertugas demi negara," jawab Mulfis.


"Kolonel Alexander, apa mungkin kau tega meninggalkan anak itu? saat kau membawanya pergi langsung menghilang dengan istrimu, tidak mungkin kau rela meninggalkannya. kami bukannya tidak tahu anak itu adalah incaran banyak orang. dan kau menyimpannya dengan baik selama ini."


"Aku tidak tahu di mana dia, mungkin saja kini dia sudah masuk ke militer, bagaimana jika kau mencarinya di sana."


"Jangan bermain denganku lagi! kesabaranku ada batasnya, kau tahu siapa yang menginginkan anak itu, kan," kecamnya dengan tegas.


"Sudah ku katakan mungkin saja dia mengikuti wajib militer, dia adalah anak laki-laki dan pasti dia telah di panggil."


"Kolonel Alexander, serapat apa pun kau melindunginya aku tetap akan menemukan anak itu, setelah aku membunuhmu hari ini, aku pasti akan membunuh istrimu, juga" ketus pria itu.


Pria itu mulai menyerang dengan mengunakan kaki panjangnya ke arah Mulfis. Mulfis mengelak ke kiri dan kemudian melompat saat lawannya ingin menyerang kakinya.


"Hanya itukah kehebatanmu," bentak Mulfis yang sedang mengelak tanpa menyerang, tubuh besar pria itu tidak akan mempan jika Mulfis membalas serangannya, oleh sebab itu Muflis hanya diam dan mengelak. sambil menunggu kesempatan untuk meninggalkan tempat itu.


Pria tegap itu menendang lawannya dengan kaki kirinya.


"Papa...." teriakan Viyone yang baru tiba dan langsung berlari ke arah pria itu yang sedang menyerang Mulfis, kemudian Viyone melompat dan langsung menendang wajah lawannya itu.


Bruk...


Tendangan dari Viyone membuat pria itu menerima serangan ke wajahnya.


"Viyone, kenapa kau ada di sini?" tanya Mulfis.


"Papa meninggalkan kode nama jalan tempat ini, oleh karena itu aku langsung menuju ke mari," jawab Viyone.


"Siapa si jelek ini?" tanya Viyone yang berdiri di samping ayahnya itu.


"Dia adalah penjahat kela.min," jawab Mulfis dengan asal-asalan.

__ADS_1


"Kau memiliki seorang putri yang ahli ilmu bela diri, luar biasa," ucapnya dengan memberi kode kepada anak buahnya yang lain untuk menyerang lawannya itu.


__ADS_2