
"Hahahah...aku sangat pintar, dengan begini tidak sulit untuk memeriksa akar-akarnya, tapi bagaimana caranya membedakan masak dan tidak masak ya? buahnya sama saja warna dan bentuknya, oh...aku sudah tahu di makan saja maka bisa membedakan yang mana masak yang mana tidak," ucap Viyone yang mengupas kulit buah naga dan mengigit buah tersebut.
"Ini sudah masak," ucap Viyone yang sedang merasakan buah itu
Setelah tidak lama kemudian.
Yury datang ke halaman belakang, saat ia melihat ke arah pohon-pohon naga itu ia langsung membulatkan mata besarnya.
"Aaarrrgghhh...."teriak Yury yang mengema satu halaman besar.
Viyone yang sedang makan buah itu langsung dikejutkan suara yang bagaikan petir itu.
"Kakak ketiga, kenapa berteriak?"
"A-apa yang sudah kau lakukan, Viyone Alexander?" tanya Yury dengan nada tinggi.
"Kakak ketiga, ini buah yang sudah ku pilih untukmu," kata Viyone yang menyerahkan buah naga yang ditaruh ke dalam keranjang.
Saat melihat semua buah naga yang ada di dalam keranjang itu emosinya semakin memuncak, karena semua buah itu ada bekas gigitan Viyone.
"Apa maksud mu dengan semua ini? kenapa kau mencabut semua pohon ini sampai habis? dan kenapa semua buah ini ada gigitanmu?" tanya Yury sambil menahan kesal.
"Bukankah kakak ketiga menyuruhku memeriksa akar-akar itu? makanya aku cabut saja semua pohonnya agar bisa melihat akarnya, jadi salahku di mana?" tanya Viyone dengan nada kesal.
__ADS_1
"Dan..dan kenapa semua buah ini ada gigitanmu?"
"Bukankah kakak ketiga menyuruhku memilih buah yang manis, selain mencobanya aku tidak ada cara lain untuk mengetahui buah itu manis atau tidak, jadi salahku di mana lagi?" tanya Viyone dengan kesal."
"Kenapa kau bisa begitu bodoh menjadi orang...ha? pohon naga ini adalah kesukaan mama tapi kau malah mencabutnya, apa kau tidak takut kena hukum? lain kali kalau mama mau makan buah naga apa kau bisa memberikan padanya?"
"Kenapa tidak bisa? aku tinggal meminta uang dengan suami kita dan beli buah dipasar, apa yang susah."
"Viyone Alexander, kau sangat bodoh sekali menjadi orang," ketus Yury sambil menunjuk jari telunjuknya ke kepala Viyone.
Buk...
Pukulan yang dilakukan oleh Viyone mengenai hidung Yury sehingga patah tulangnya.
"Aarrghhh...."
"Jangan menghinaku bodoh! yang bodoh itu adalah kamu, dasar wanita aneh. kau mengira aku takut padamu hanya karena kau lebih tua dariku...ha? jangan bermimpi! dengan Richard saja aku juga tidak takut untuk apa aku takut padamu," bentak Viyone dengan kesal.
"Aku akan menuntutmu," ketus Yury.
"Tuntut saja kalau berani! aku akan menyuruh si ular piton itu mengeluarkanku dari penjara, kalau dia tidak mau maka jangan berharap dia bisa mengunakan ular pitonnya lagi," jawab Viyone dengan yakin.
"Kau wanita tidak waras," bentak Yury yang memegang hidungnya yang sedang berdarah.
__ADS_1
"Semua menantu keluarga ini memang tidak waras, seharusnya kalian tinggal di rumah sakit jiwa dan bukan di sini," ketus Viyone yang melangkah pergi.
"Cepat panggil dokter!" teriak Yury yang sedang menahan sakit
"Tidak mau!" jawab Viyone yang tanpa menoleh ke wanita itu
"Dasar kurang ajar," ketus Yury.
Di sisi lain Richard sedang menonton lewat rekaman cctv diruangan pribadinya. raut wajahnya yang biasanya datar tanpa senyuman kini ia tersenyum terus saat melihat istri-istrinya di hajar habis-habisan oleh Viyone.
"Viyone Alexander, kau memang selalu buat kejutan, bahkan semua pohon buah naga milik mamaku juga kau cabut semuanya," ucap Richard dengan tersenyum.
Tidak lama kemudian Viyone melakukan tugas Laneza, istri keempat Richard.
"Bersihkan semua halamanku! jangan sampai ada sisa-sisa rumput yang mengotori tanamanku!" perintah Laneza dengan gaya sombongnya.
"Kakak keempat, lalu bagaimana dengan bunga itu kalau dibersihkan?" tanya Viyone dengan binggung, karena ia mengira wanita itu memintanya mencabut semua bunga yang dihalamanya.
"Urus dengan baik bungaku! selama setahun aku menanamnya jangan sampai rusak!" jawab Laneza dengan tegas dan pergi meninggalkan Viyone di sana.
"Pikiran orang kaya memang aneh, dia bilang sudah setahun dia menanam bunga ini dan kini suruh aku bersihkan semua halamannya, apa dia tidak sayang dengan bunganya? kalau sudah mau dibersihkan kenapa harus pesan aku jangan merusakkan bunganya?" ucap Viyone sambil mengaruk kepalanya
"Biar saja! aku melakukan saja sesuai permintaannya," gumam Viyone yang mencabut rumput-rumput serta bunga-bunga itu.
__ADS_1
Rumput dan bunga dicabut dan kemudian dipisahkan. semua bunga itu mencabut dari akar agar tidak merusak setiap kelopak bunganya.
"Baru sehari menjadi menantu di sini aku sudah ditindas oleh mereka, jangan sampai aku cabut semua pohon-pohon yang ada di sini, selain besar rumahnya, mereka juga memiliki banyak pohon buah. mereka sangat kaya sekali. kalau rumah kami ada pohon-pohon buah ini pasti sudah kami petik dan dijual," ucap Viyone yang sambil sibuk dengan tangannya.