
"Viyone, hentikan niatmu itu! dia adalah suamimu," perintah Loza yang merasa cemas melihat pisau yang di asah oleh menantunya itu.
"Mama, bagaimana kalau pendekkan saja ular pitonnya?" tanya Viyone.
"Viyone, jangan sentuh pisau itu lagi! dan jangan menyakiti Richard dengan pisau itu!" pinta Loza.
"Iya, Ma. aku hanya merasa kesal karena dia tidak melepaskanku walau hanya satu malam," jawab Viyone yang meletakkan pisaunya.
"Viyone, bukankah begini lebih baik, mungkin saja tidak lama lagi kamu akan mengandung anaknya," kata Loza dengan berharap.
"Mama, aku masih muda dan usiaku baru sembilan belas tahun, aku tidak mau perutku besar dulu. dulu aku pernah melihat bibi sebelah sedang hamil kondisi perutnya sangat besar dan di bawa ke mana-mana sangat merepotkan. aku belum bersedia melahirkan," jawab Viyone dengan tegas.
"Ah..itu...," ucap Loza yang terhenti.
"Adik kelima, kalau begini kau sudah salah besar, sebagai seorang istri seharusnya melahirkan anak untuk suaminya dan seorang cucu untuk mertuanya. sedangkan dirimu malah menolak hamil," ujar Kimmy dengan sengaja.
"Adik kelima, sia-sia saja Richard menikahimu karena kau tidak ingin memberi dia keturunan," ujar Laneza dengan mengejek.
"Iya, hanya buang waktu bersamamu," lanjut Yury.
Prak..
Hentakan pisau yang dilakukan oleh Viyone ke talenan kayu. Viyone mengambil pisau itu dan menghampiri Kimmy dengan berkata," kakak pertama, aku menolak karena aku masih muda, sedangkan dirimu sudah tua kenapa bukan kamu saja yang melahirkan?"
Kimmy memundurkan langkahnya saat Viyone sedang mendekatkan pisau padanya. ia merasa gemetar dan keringat dingin. setelah habis berbicara dengan Kimmy, Viyone lalu mendekati Laneza
__ADS_1
"Kakak keempat, bukankah kau sama saja sia-sia dinikahi oleh Richard, karena dia sama sekali tidak ingin menyentuhmu, bahkan bentuk ular pitonnya sepanjang apa kau juga tidak tahu, kan?" ucap Viyone yang sambil menepuk pundak Laneza dengan pisaunya. sehingga membuat istri ke empat Richard ketakutan.
"Kakak ketiga, untuk apa kau tinggal di sini kalau kau juga tidak bisa memberikan keturunan? bukankah sama saja membuang waktu," ketus Viyone yang menunjuk-nunjuk pisaunya ke arah Yury sehingga membuat wanita gemetar diseluruh tubuh.
"Kalian saja tidak bisa bertelur malah ingin menyalahkanku, masih mending aku bisa menjadi santapan ular piton dari pada kalian yang tidak bisa apa-apa," ketus Viyone dengan kesal.
"Ambil ini!" bentak Viyone pada Laneza sambil meletakan pisau ke telapak tangannya dan kemudian melangkah pergi.
"Ma, bukankah wanita ini sangat membahayakan?" tanya Yury yang sedang gemetar.
"Mama sarankan kalian jangan terlalu mencari masalah dengannya, masih beruntung dia hanya menakuti kalian. andai saja kalau dia melukai kalian mama juga tidak bisa berbuat apa-apa," ujar Loza.
Malam hari..
Rumah sakit tempat Mulfis dirawat.
"Tenang saja! suaminya sangat baik. di saat kamu belum sadar Richard setiap hari menyuruh asistennya mengantar makanan dan kebutuhan lainnya untukku. tanpa bantuan dia aku juga tidak tahu harus bagaimana," jawab Nerlin dengan senyum.
"Ada baiknya dia cepat menikah, kalau dia tinggal bersama kita, aku merasa sangat khawatir sekali," kata Mulfis dengan mengeluh.
"Mulfis, apa kamu khawatir kalau mereka akan muncul lagi?"
"Iya, kondisiku sekarang tidak sanggup melakukan apa-apa, kalau mereka datang menyerang aku hanya bisa pasrah," jawab Mulfis.
"Mereka tidak akan tahu kita di sini."
__ADS_1
"Nerlin, kalau saja mereka datang kau harus segera tinggalkan tempat ini!"
"Mulfis, di saat kita memilih keluar dari militer, kita sudah berjanji harus melindungi anak ini. dan kita juga sudah berjanji berkorban demi negara dan anak ini juga. orang itu berkorban demi melindungi negara. dibandingkan dengan kita yang belum melakukan apa pun. jadi, aku tidak akan mundur di saat mereka datang," jawab Nerlin.
"Ini adalah bagian tugas kita, dan tidak menyangka anak ini sudah besar dan menikah. andaikan orang itu tahu dia pasti bahagia di syurga. hanya saja aku sangat berharap aku bisa bertahan lama dan panjang umur agar bisa melindunginya," ujar Mulfis.
"Bagaimana dengan Richard? apakah kita harus memberitahunya? ini adalah rahasia besar. jika musuh kita tahu maka Viyone akan dalam bahaya."
"Apakah dia bisa dipercaya?"
"Mudah-mudahan saja bisa," jawab Nerlin.
"Aku harus bertemu dengan dia langsung baru membuat keputusan apakah harus memberitahu dia atau tidak,"ucap Muflis.
Jam dinding menunjukan pukul 01.00.
Malam itu rumah sakit sudah sepi. terdapat empat pria yang bertubuh tinggi berjalan menuju ke salah satu koridor.
"Apakah kamu yakin dia ada di sini?" tanya salah satu pria itu pada temannya.
"Benar, nomor kamarnya adalah 116."
"Mari kita bawa mereka pergi!"
"Kalau saja mereka masih tidak ingin bekerja sama dengan kita, maka kita siksa atau bunuh salah satu dari pasangan itu."
__ADS_1
"Hm...dengan cara ini kita mungkin bisa mengumpan anak itu keluar."