
Jam dinding menunjukan pukul 21.00. di malam itu Richard berdiri di balkon sedang merokok dan memegang gelas yang berisi whiskey.
Sambil memandang bintang yang berkedip-kedip, wajah tampan, hidung mancung, serta badannya yang berotot dan tinggi, seakan tidak memiliki kecacatan sedikitpun pada pria itu. wajah tampannya selalu saja terlihat sangat serius dan tanpa senyuman walau dalam situasi apa pun. sehingga membuat banyak orang selalu saja berhati-hati di saat berbicara dengannya. di usianya yang baru 32 tahun telah berhasil menjadi pebisnis sukses yang menembus ke asia dan di bagian eropa.
Sesaat kemudian seorang wanita cantik yang mengenakan dress seksi melangkah masuk ke ruangan pribadi Richard, wanita itu yang tidak lain adalah istri ke empat, Laneza. dan yang paling cantik di antara semua istri pria itu.
"Richard, sudah malam. kenapa masih belum tidur?" tanya Laneza yang memeluk suaminya dari belakang.
"Apa kau sudah lupa dengan peraturan?" tanya Richard yang melepaskan pelukan wanita itu.
"Aku adalah istrimu, kau sudah seminggu tidak pulang dan aku hanya ingin menemani mu saja," jawab Laneza yang ingin mencium suaminya akan tetapi di dorong oleh pria dingin itu.
"Pintu di sana!" ucap Richard dengan berniat mengusir istrinya.
"Richard, apa kau ingin menikah lagi? kalau hanya demi pewaris aku juga bisa melahirkan untukmu."
"Kau tidak layak," ketus Richard dengan singkat.
"Aku juga adalah istrimu, kenapa tidak layak? apakah gadis pilihanmu itu layak?"
Richard mendekati istrinya dan mencubit dagunya dengan kasar.
"Kau harus tahu satu hal, kalian semua hanyalah di pilih menjadi istriku untuk menyenangkan mamaku saja, sementara gadis pilihan ku untuk menyenangkan ku," kata Richard dengan tegas.
"Richard, aku mencintaimu. kenapa kau begitu tega padaku? kita telah menikah selama tiga bulan, tapi kau tidak pernah menyentuhku," ujar Laneza dengan penuh rasa kecewa.
Richard menyentuh wajah istrinya dan berkata," karena aku menikah denganmu demi permintaan mamaku, dan bukan keinginan ku sendiri."
"Apa kau tidak akan memberiku kesempatan?" tanya Laneza dengan mata berkaca-kaca.
"Untuk selamanya kau hanya akan menjadi istriku di atas kertas, dan ingat kataku malam ini. jangan pernah menginjak kakimu di ruangan ini lagi jika tidak mau kehilangan dua kakimu," kata Richard dengan mengancam.
Laneza hanya bisa menerima kekecewaan dan keluar saat mendengar ucapan suaminya itu. bukan hanya Laneza saja, bahkan tiga istri lainnya juga tidak pernah mendapatkan layanan istimewa dari suami mereka. selalu dingin seperti es, selalu keras bagaikan batu.
Nada dering berbunyi di handphone milik Richard.
Richard mengeluarkan handphone miliknya dan menjawab panggilan tersebut.
"Hm...."
"Tuan, alamat gadis itu sudah dapat," kata Mike yang di seberang sana.
"Siapa dia?"
"Ayahnya bernama Mulfis dan ibunya Nerlin. ayahnya bekerja di gudang sebagai pengawas, dan Viyone Alexander sebagai karyawan di gudang tempat ayahnya bekerja."
__ADS_1
"Aku sudah tahu," jawab Richard yang kemudian memutuskan panggilannya.
"Viyone Alexander?" ucap Richard yang lalu menghabiskan minumannya.
Keesokan harinya.
Tempat Mulfis bekerja.
Muflis selama ini bekerja sebagai pengawas di sebuah gudang besar, sementara Viyone bekerja di bawah pengawasan ayahnya itu.
Viyone yang memiliki tenaga yang kuat bekerja sebagai pengangkat barang, setiap masuk barang ia akan membantu menyusun ke gudang bersama para karyawan pria lainnya. semua pekerja di sana sudah sangat mengenal sikap dan tingkah gadis itu. selama tiga tahun Viyone sudah bekerja di sana.
Saat ada pemasukan barang dari truk datang beberapa preman yang sengaja ingin menimbulkan keonaran.
"Hei, cepat bayar uang keamanan di sini!" bentak salah satu preman itu.
"Apa kau tidak salah tempat? ini adalah kawasan kami, kalian tidak berhak meminta uang keamanan di sini," ketus Mulfis yang berdiri di hadapan mereka.
"Kalau tidak ingin membayar jangan salahkan kami tidak memberi peringatan padamu," gertak preman itu dengan nada tinggi
"Ingin uang? terima pukulan anjing dari ku, hiaaaaaak," teriak Viyone yang melayangkan pukulan ke wajah pria itu.
Buk....
"Aarrghhhh...," jeritan preman itu yang mengeluarkan banyak darah di mulutnya.
"Papa, dia meninggikan suara di depanmu. aku hanya memberi pelajaran saja."
"Serang mereka!" perintah salah satu preman itu.
Lima preman berbadan besar mengunakan kayu sebagai senjata mereka untuk berlawan Mulfis dan Viyone.
Di siang hari itu terjadilah perkelahian di antara Mulfis, Viyone dan para preman itu.
Semua karyawan di gudang sudah sangat paham dengan pengawas mereka, bisa di katakan Mulfis dan Viyone sangat kompak walau terkadang sering bertengkar.
Di saat terjadi perkelahian Richard Valentino sedang melihat dari seberang sana, ia berada di dalam mobilnya bersama dengan asistennya, Mike.
"Pukulan maut," teriak Viyone yang sedang melayangkan pukulan mengenai bagian perut lawannya. dan kemudian Viyone langsung membanting preman yang berbadan besar dengan satu tangannya.
Bruk...
"Wah...bagus sekali,"teriak para pekerja yang sedang melihat Viyone menghajar preman si pembuat onar.
"Jurus tendangan tanpa bayang," ucap Viyone dan Mulfis sambil menendang tubuh lawan masing-masing.
__ADS_1
Buk...
"Aaarrghhh..."
Buk...
"Aaarrgghh..."
"Jurus tamparan monyet," seru Viyone dan Mulfis sambil menampar lawan mereka.
Plak...plak...plak...plak...plak...
Tamparan yang di lakukan oleh Viyone dan Mulfis dengan serentak menghajar lawan mereka masing-masing.
"Aaarghh....," jeritan mereka berdua yang di hajar oleh Viyone dan Mulfis.
Viyone dan Mulfis menampar lawan mereka selama beberapa menit sehingganya membengkak dan mengeluarkan darah di mulutnya.
Sesaat kemudian mereka menghentikan aksi mereka, preman yang menerima tamparan wajah mereka merah dan bengkak di ke dua belah pipi.
"Pa, tidak seru begitu cepat mereka kalah."
"Papa sudah tua dan sudah lelah pada hal baru menghajar beberapa orang saja," kata Mulfis sambil lap keringatnya.
"Mulfis, walau usia mu sudah tua tapi kau masih jago dalam bertarung. kau mengajar Viyone dengan baik sehingga mampu membantu menghajar preman," ucap salah satu pekerja.
"Iya, gadis ini tidak memiliki kelebihan selain bisa bertarung," jawab Mulfis dengan tertawa.
"Papa mengejekku ya?" tanya Viyone dengan kesal.
"Tidak...tidak...papa hanya kewalahan karena sudah tua, tidak bisa lagi seperti muda dulu," ujar Mulfis.
"Papa kewalahan bukan karena tua, tapi papa kurang tidur."
"Kenapa kurang tidur?" tanya pekerja dengan penasaran
"Setiap malam papa hingga larut malam juga belum tidur," jawab Viyone.
"Kenapa bisa begini? apa butuh obat tidur?" tanya pekerja itu lagi.
"Tidak perlu paman, papaku tidak bisa tidur karena sering bermain membuka kaki mama dan masuk ke dalam terus," jawab Viyone dengan terus terang
"Jangan mendengar katanya, dia hanya anak kecil saja," kata Mulfis yang membekap mulut anaknya.
Para pekerja hanya menahan tawa di saat mendengar perkataan dari gadis itu.
__ADS_1
"Papa, aku bukan anak kecil lagi. lagi pula aku mendengarnya dengan jelas papa mengatakan sangat nikmat dan rasa perawan. kalian bermain uurgghh....aarrrgghh...uurgggh.....aarrrgghh.. setiap malam hingga aku tidak bisa tidur," ucap Viyone yang melepaskan tangan Mulfis dan bicara tanpa berhenti.