
Pria yang hanya memiliki satu mata adalah mantan militer, Cuenca. sedangkan muflis adalah berpangkat kolonel dan atasan bagi Cuenca. Cuenca yang di pecat dan di penjara karena melanggar peraturan sehingga harus menerima hukuman selama sepuluh tahun.
"Kenapa kau tidak menganti pakaian?" tanya Mulfis yang melihat putrinya mengenakan baju tidur.
"Perasaan ku tidak nyaman makanya aku langsung keluar dan lupa mengantinya."
"Anak gadis tidak baik jika memakai baju tidur keluar rumah."
"Bagimana aku pulang dan menganti pakaian dulu, setelah itu baru kembali lagi ke sini?" tanya Viyone.
"Tidak perlu! sudah tidak sempat. menunggumu kembali mungkin papa sudah mati," jawab Mulfis.
"Papa sudah tua, ini adalah saatnya anakmu yang bertindak."
"Serang mereka!" perintah Cuenca pada anak buahnya yang berjumlah lima orang.
Lima pria yang berbadan tinggi dan tegap berdiri mengelilingi Mulfis dan Viyone.
"Pa, tubuh mereka terlalu besar dan tinggi, aku khawatir tenaga ku kalah dari mereka," ujar Viyone yang berbisik di telinga ayahnya.
"Kita ada cara untuk mengalahkan mereka, jangan takut!" jawab Mulfia dengan berbisik.
"Apa caranya, Pa?"
"Kita bekerja sama saja, dan hemat tenaga!"
"Caranya?"
"Apa kau masih ingat di saat kau masih kecil? kita bermain tendangan cepat?"
"Iya, aku masih ingat, Pa. gendong aku!" jawab Viyone yang berdiri di hadapan ayahnya.
Mulfis lalu mengendong putrinya yang berdiri membelakanginya, setelah mengendong dari belakang ia memutarkan badannya sehingga Viyone bisa menendang dengan keras lawan-lawannya.
Buk...
"Aahhhkkkk...."
Buk...
"Aahhhkkkk...."
Buk...
"Aahhhkkkk...."
Buk...
"Aahhhkkkk...."
Buk...
"Aahhhkkkk...."
Tendangan keras dari Viyone menumbangkan lima pria tegap itu.
"Lempar aku, Pa!" teriak Viyone.
Mulfis langsung melempar putrinya ke arah Cuenca, badan gadis itu berputar ke arah lawannya dan langsung menendang wajah pria itu.
Buk...
Tendangan keras dari Viyone mengenai tepat lagi ke wajah mantan militer itu. sehingga membuat lawannya mundur beberapa langkah ke belakang
Saat kaki Viyone menginjak tanah dia membalikkan badannya dan langsung melayangkan kakinya ke wajah pria itu lagi.
Buk...
__ADS_1
"Aahhkkkk..." rintihan Cuenca yang merasa sakit pada wajahnya itu.
"Rasakan tinju maut, hiaaaaakkkk...." teriak Viyone meninju dada Cuenca dengan bertubi-tubi.
Buk...
"Aahhkkk..."
Buk...
Aahhkkk..."
Buk...
Aahhkkk..."
Buk...
Aahhkkk..."
Akibat serangan Viyone menyebabkan Cuenca mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Hiaaaak...." teriakan Viyone yang lagi-lagi menendang bagian perut pria itu.
Bruk...
"Aauhkkk.....," jeritan Cuenca yang tumbang dan kesakitan.
"Jurus cakar harimau!" teriak Viyone yang melompat dan duduk di atas tubuh pria itu.
Bruk...
"Hiak...hiak...hiak...hiak...hiak," teriak Viyone sambil mencakar tubuh pria itu dengan ke dua tangannya.
"Hajar teruuus," teriak Mulfis dengan semangat.
Srek...
"Aarrghhh...."
Srek...
"Aarrghhh...."
Srek...
"Aarrghhh...."
"Rasakan jurus pencabut nyawa!" teriak Viyone yang ingin mencakar bagian bawah pria itu.
"Hei, hei, sudah...sudah..." seru Mulfis yang menghentikan aksi Viyone dan menariknya menjauh dari pria itu yang sedang terluka parah
"Pa, kenapa menghalangku mengunakan jurus pencabut nyawa?"
"Kau bisa mengunakan jurus pencabut nyawa, hanya saja kau salah tempat," jawab Mulfis.
"Kenapa salah tempat? bukankah itu juga bagian tubuhnya?" tanya Viyone yang tidak mengerti.
"Ehem...Viyone, tempat itu tidak seharusnya kau sentuh. karena kau adalah anak gadis. kau hanya boleh serang bagian lain!"
"Kenapa harus begini?" tanya Viyone sambil mengaruk kepalanya.
"Sudah, kau boleh pulang! mereka semua sudah dikalahkan oleh mu!"
"Apa sudah aman?"
"Sudah, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi," jawab Mulfis yang menyakinkan putrinya.
__ADS_1
"Kalau begitu aku pulang mandi dulu!" pamit putrinya yang melangkah pergi.
Mulfis menghampiri mantan militer yang ia latih saat dulu.
"Cuenca, pulang dan sampaikan ke dia, bahwa aku tidak akan menyerahkan anak itu. walau kalian akan mengambil nyawaku, aku tetap akan melawan sampai akhir," kecam Mulfis yang kemudian melangkah pergi.
Cuenca terluka cukup parah atas serangan dari Viyone, tubuh bagian depan di cakar habis-habisan oleh putri Mulfis.
Saat dalam perjalanan pulang Viyone masih merasa aneh dengan kemunculan orang-orang yang menyerang ayahnya dalam beberapa hari ini.
"Siapa mereka? apakah papa memiliki musuh di masa lalu? sepertinya papa sedang menyembunyikan sesuatu dariku.
"Hei, Nona," sapa seorang pria asing yang muncul di hadapan Viyone.
"Aku tidak mengenalmu," ujar Viyone.
"Apakah kau putri Mulfis dan Nerlin?"
"Kalau iya kenapa? kalau tidak kenapa?"
"Kalau iya berarti kau harus ikut aku pergi, kalau tidak maka kau akan mati."
"Bukankah sama saja hasilnya aku akan mati juga akhirnya," ketus Viyone dengan kesal.
"Kalau kau ikut kami pergi kami tidak akan membunuhmu," kecam pria itu.
"Kami? di sini hanya kamu seorang," ujar Viyone dengan binggung.
Tidak lama kemudian muncul beberapa pria asing yang mengelilingi Viyone.
"Kalian mengunakan cara curang untuk melawanku," ketus Viyone.
"Bawa dia pergi!" perintah pria itu pada anggotanya.
"Sebentar! aku tidak tahu apa sebabnya kalian ingin membawaku pergi, apa kalian bisa memberitahuku siapa kalian? dan apakah kalian bermusuhan dengan orang tuaku?"
"Ayah dan ibumu adalah orang yang kami incar selama ini. dan hari ini karena kami sudah mendapatkanmu maka untuk sementara kami tidak akan mencari mereka."
"Jangan berharap kalian bisa membawaku pergi, aku adalah Viyone Alexander tidak akan jatuh ke tangan orang. yang ada adalah orang jatuh ke tanganku," ucap Viyone yang tanpa rasa takut.
"Melawan tidak baik bagimu, Nona," ketus pria itu.
"Tahan dia!" perintahnya pada anggotanya.
Sebanyak lima belas orang yang ingin menahan Viyone. saat mereka menghampirinya, Viyone langsung melayangkan pukulan ke wajah salah satu lawannya itu. dan kemudian menendang lainnya. Viyone mencengkeram leher dua pria itu dengan ke dua tangannya dan langsung membanting dua lawannya itu
Bruk...bruk...
"Hiaaaak.....," teriak Viyone meninju bagian perut lawannya dengan sekuat tenaganya.
Bruk....
"Aauhhhkkkk...." jeritan lawannya yang kesakitan sehingga muntah darah dan terhempas ke lantai.
Pria yang memberi perintah pada anggotanya itu sedang memerhatikan aksi gadis itu yang beda dengan yang lain.
"Tenaga gadis ini sangat kuat, dia mampu membanting dua pria sekaligus, sangat mirip dengan dia," batinnya.
Viyone membanting mereka satu-persatu karena memang itulah kelebihannya, lawannya di tumpaskan satu-persatu karena kalah kuat dari gadis itu.
"Hiaaaak....." teriak Viyone yang melompat ke atas pundak lawannya dan sambil mencakar wajah pria itu.
"Rasakan cakaran harimau!" teriak Viyone yang mencakar wajah pria itu.
"Aarrghh...." teriakan pria itu yang kesakitan.
"Aku tidak akan membiarkan kalian pergi begitu saja!" bentak Viyone yang sambil sibuk dengan tangannya.
__ADS_1