
Mike yang mendengar ucapan gadis itu lagi-lagi merasa gemetar karena takut bosnya akan emosi.
"Tuan Kambing? iya Tuhan, gadis ini apa sudah bosan hidup ya?" batin Mike.
"Hei...hei...cepat lepaskan tanganmu! jangan tidak sopan," teguran Mulfis pada putrinya.
"Maaf," ucap Viyone yang melepaskan pelukan dan menghampiri ayahnya.
"Masuk ke dalam!" titah Mulfis yang menarik telinga putrinya melangkah ke dalam rumah.
"Sakit...lepaskan tanganmu!" teriak Viyone yang di tarik ke dalam halaman. sementara Richard dan Mike hanya diam melihat ulah ayah dan anak itu.
"Mama, tolong....." teriak Viyone yang mencari pembelaan.
"Ada apa dengan kalian...ha? kenapa bising sekali dari tadi?" tanya Nerlin dengan nada tinggi.
"Nerlin, kau lihatlah semua pohon kita sudah di tebang oleh anak ini," jawab Mulfis.
"Viyone, kenapa setiap kau melakukan sesuatu pasti tidak pernah becus?" bentak Nerlin dengan nada tinggi.
"Mama, ini bukan salahku. papa hanya menyuruhku mengumpulkan daun, tapi tidak menyuruhku jangan menebang pohon. jadi salahku di mana?" jawab Viyone yang tidak mau kalah.
"Lihatlah anak ini terlalu bodoh sehingga tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar," kata Mulfis dengan menahan emosi.
"Hari ini jika aku tidak menghukummu maka aku bukan Mulfis Alexander," bentak Mulfis yang melayangkan sapu lidinya ke arah putrinya itu.
Viyone mengelak setiap serangan ayahnya itu.
"Hiaaaak....aku ingin melihat sehebat apa kau bisa mengelak seranganku," teriak Mulfis yang sambil melayangkan sapu lidinya dari atas, bawah, kiri dan kanan
"Tidak kena, tidak kena, tidak kena," seru Viyone yang mengelak ke sana sini.
"Hufff..dua orang ini," gumam Nerlin yang sudah biasa dengan ulah suami dan anaknya.
"Mama, tolong aku!" teriak Viyone yang lari ke sana ke mari
"Kau sudah buat kesalahan mana mungkin mama membantumu," teriak Nerlin yang melihat putrinya berlari keliling halaman.
"Nerlin, cepat bantu tangkap dia!"teriak Mulfis yang sedang mengejar putrinya.
"Mama, papa menghukum ku karena aku melarangnya melirik wanita cantik," teriak Viyone dengan sengaja.
"Apa..?" tanya Nerlin.
"Jangan dengarkan dia! dia hanya ingin mencari pembelaan," ujar Mulfis sambil melayangkan sapu lidinya.
"Mama, papa mengajak wanita itu bermain uurrrggghhhh....aarrgghhh....uurrrggghhhh....aarrgghhh....," teriak Viyone yang sengaja memprovokasi ibunya.
__ADS_1
"Durhakaaaa...," bentak Mulfis.
"Mulfis Alexandeeeeerrr, kau ingin mati yaaaaa!" teriak Nerlin yang langsung mengambil pisau sayur dari dapur dan mengejar suaminya yang sedang mengejar putrinya.
"Nerlin, dia bohong itu tidak benar!" teriak Mulfis yang berlari dengan cepat.
"Aku masih hidup kau sudah berani berselingkuh," bentak Nerlin sambil mengejar suaminya.
"Mama, berselingkuh itu apa?" tanya Viyone yang masih sedang berlari karena di kejar oleh ayahnya yang juga di kejar oleh ibunya.
"Nerlin, kenapa kau tidak percaya padaku? Viyone hanya bicara sembarangan," ujar Mulfis.
Di siang itu Viyone di kejar oleh ayahnya dengan mengunakan sapu lidi, sementara ayahnya itu di kejar oleh ibunya yang mengunakan pisau dapur.
Aksi kejar-kejaran di lihat oleh Richard yang sedang berdiri di luar pintu.
"Sekeluarga ini memang benar-benar lucu," ucap Mike yang tertawa kecil.
"Papa, jangan kejar aku lagi! usiamu sudah tidak muda lagi," teriak Viyone yang langsung memanjat ke tiang lampu begitu juga dengan Mulfis yang ikut memanjat.
"Papa, jangan panjat nanti kamu terjatuh," teriak Viyone yang memeluk tiang lampu dengan erat.
"Karena ulahmu aku kena di kejar oleh mamamu dengan pisau sayur, kalau aku tidak panjat aku bisa mati menjadi cincang daging," jawab Mulfis.
"Hei...tua bangka, cepat turun! aku akan memotong alatmu itu, agar tidak bisa bermain dengan wanita lain," bentak Nerlin
"Alat apa, Ma?" tanya Viyone yang sambil melihat ke bawah.
"Alat yang membuat ayahmu suka bermain dengan wanita," jawab Nerlin dengan kesal sambil berdiri di depan tiang lampu.
"Oh...kalau begitu potong saja, Ma. dan di jual ke pasar!" ucap Viyone yang tidak mengerti.
"Apa kau bisa diam!" bentak Mulfis yang melihat ke atas yang di mana anaknya sedang memeluk tiang.
"Mulfis Alexandeeeeerrr, berani sekali kau mengajak wanita lain, jangan turun selagi kau tidak berubah!"
"Aku tidak melakukannya sama sekali, anakmu ini yang menuduhku. dia hanya ingin membuat kita bertengkar saja," jelas Mulfis.
"Jangan mencari alasan lagi! kau adalah hidung belang," bentak Nerlin .
"Mama, ada yang aku tidak mengerti."
"Apa lagi?" tanya Mulfis dan Nerlin yang sedang kesal.
"Kenapa mama bisa begitu marah saat aku mengatakan papa mengajak wanita lain bermain uurrgghhhhh....aarrggghhhh....uurrgghhhhh....aarrggghhhh....?"
"Diam!" bentak Mulfis dan Nerlin dengan kesal.
__ADS_1
Di siang itu Viyone dan Mulfis memeluk tiang lampu di ketinggian sedangkan Nerlin sedang berdiri di depan tiang itu sambil memegang pisau sayur.
Richard hanya diam saat melihat ulah keluarga itu tanpa senyum, sementara Mike tertawa lucu dengan nada kecil.
Malam hari.
Richard makan bersama dengan sang ibunya, Loza. di dunia ini hanya Loza wanita yang paling Richard utamakan. satu-satunya wanita yang paling penting bagi Richard.
"Richard, apakah kau sudah bertemu dengan gadis itu? mama sedang menunggu menantu ke lima ini."
"Masih belum waktunya, aku akan mencari akal untuk membuat dia setuju menikah denganku."
"Membuat dia setuju? apa maksudmu, Richard? bagimu jika ingin menikah kau hanya perlu membuka suara saja, dan wanita-wanita itu sudah setuju tanpa berpikir."
"Dia berbeda dengan yang lain, dia harus bisa di jinakan agar bisa patuh."
"Apakah dia adalah wanita liar?"
"Bukan, dia dari keluarga yang baik-baik. hanya saja dia tidak mengerti soal asmara. jadi, kalau pun aku melamarnya dia juga tidak akan setuju."
"Sebenarnya dia sesulit apa? mama menjadi penasaran."
"Dia masih sangat muda, usianya hanya 19 tahun."
"Hehehehe....kau tertarik pada daun muda," ucap Loza dengan tertawa.
"Dia pernah menyelamatkanku, dan sifatnya juga sangat berbeda dengan empat orang istriku itu."
"Apakah kau ingin membalas budi oleh karena itu kau ingin menikahinya?"
"Bukan, jika aku ingin membalas budi aku hanya perlu mengunakan uang."
"Apa kau menyukainya?"
"Tidak tahu."
"Jika tidak suka mana mungkin kau sendiri yang mengatakan ingin menikahinya, selama ini mama yang memintamu menikah hingga kini kau telah memiliki empat orang istri," ujar Loza.
"Bukankah aku melakukan demi keinginanmu, aku menikah dengan mereka karena permintaan mu."
"Hahahaah...walau kau menikah dengan mereka, mama bukannya tidak tahu kau tidak pernah menginjak masuk ke kamar mereka," kata Loza sambil menyantap makanannya.
"Aku hanya menikah saja dan tidak berminat dengan tubuh mereka," jawab Richard yang menyantap dengan lahap.
"Dan bagaimana dengan gadis itu? apakah nasibnya akan sama dengan mereka?"
"Dia akan ku lahap habis-habisan," jawab Richard dengan cepat.
__ADS_1