
"Apa kau bisa diam!" bentak Mulfis yang malu karena ulah putrinya.
"Kenapa papa marah? kan bukan rahasia permainan papa dan mama, jadi untuk apa di sembunyikan?"
"Lanjutkan kerja kalian!" perintah Mulfis pada pekerjanya.
"Iya," jawab mereka yang sambil menahan tawa.
"Mari pulang!" ajak Mulfis yang menarik telinga putrinya
"Sakit, Pa. jangan menarik telingaku!" teriak Viyone yang ikuti langkah ayahnya itu.
"Kenapa kau tidak bisa diam dan terlalu banyak bicara," bentak Mulfis.
"Hah...lepaskan tangan papa! telingaku sakit sekali," pinta Viyone yang melepaskan tangan ayahnya itu.
"Jangan berulah! cepat pulang cabut rumput!"
"Di halaman sudah bersih tidak ada rumput lagi."
"Kalau begitu kumpul daun dari setiap pohon seratus lembar daun!"
"A-apa? seratus lembar daun? berarti semua lima ratus lembar? untuk apa?" tanya Viyone
"Untuk menghukummu."
"Papa, di halaman kita depan hingga ke belakang ada lima pohon, kenapa tidak satu pohon saja langsung lima ratus lembar?"
"Tidak bisa, lakukan sesuai perintahku! jangan membantah!" jawab Mulfis dengan tegas.
"Papa, apakah setelah selesai mengumpulkan daun, papa akan mengajarkan permainan uurrgghhh....aarrrghhhh..uurrgghhh....aarrrghhhh?" tanya Viyone dengan polos.
"Jangan sebut itu lagi! cepat pulang!" jawab Mulfis yang melangkah pergi.
"Papa, ajarkan aku! aku mau belajar, bagaimana cara mainnya?" tanya Viyone yang ikuti langkah ayahnya.
Di saat Mulfis dan putrinya sedang berjalan pulang, Richard Valentino sedang mengikuti dari belakang dengan mobilnya.
__ADS_1
"Gadis ini begitu lincah tapi tidak paham mengenai asmara. tuan yang selama ini diam dan tanpa senyum bisa tertarik padanya, ini sangat mengejutkan sekali. andaikan nona itu masuk ke dalam keluarga besar Valentino bukankah akan heboh karena ulahnya? empat nyonya itu walau pun anggun akan tetapi mereka saling iri dan tidak akur. mereka pasti akan menindas nona ini. tapi nona ini bisa bela diri seharusnya tidak bisa di tindas," batin Mike yang sedang menyetir.
Tidak lama kemudian Mulfis dan Viyone tiba di rumah mereka, sementara mobil Richard mengikutinya dari jarak jauh.
"Nah...lakukan tugasmu sekarang juga!" titah Mulfis yang ingin menguji putrinya itu.
"Papa, apa kita masih bisa berunding?"
"Tidak bisa, harus seratus lembar setiap pohon, pilih daun yang segar jangan yang kering!"
"Papa, aku harus memanjat lima pohon dalam sehari sambil memilih daun, aku bisa mati kecapean," gerutu Viyone.
"Aku bukannya tidak tahu dengan tingkahmu, bukankah dulu kau juga suka memanjat pohon tetangga untuk mengambil buah naga."
"Papa, pohon itu tidak tinggi dan aku hanya panjat satu pohon, sedangkan ini daunnya juga tidak lebat untuk apa pilih-pilih daunnya? bisa-bisa sebelum mencapai lima ratus lembar aku sudah mati duluan," jawab Viyone yang menolak permintaan ayahnya.
"Papa mau pergi tidur siang, lakukan perintahku, jangan membantah!" ucap Mulfis dengan tegas dan melangkah masuk ke dalam rumah..
"Papa...." teriak Viyone dengan kesal.
"Hei, Mulfis. apa kau tidak salah menyuruh putri kita memilih daun segar seratus lembar setiap pohon? mana mungkin dia bisa melakukannya," kata Nerlin yang tidak yakin.
"Aku yakin dia pasti tidak bisa melakukannya, dan mungkin saja dia pasti akan mengambil lima ratus daun itu di satu pohon," ujar Nerlin.
"Aku tidur sebentar, nanti kalau dia sudah selesai bangunkan aku!" kata Mulfis yang melangkah ke kamar.
Richard Valentino keluar dari mobilnya melangkah menghampiri pintu rumah Viyone yang tidak tertutup saat mereka pulang tadi. ia berdiri di pintu dan melihat gadis itu yang sedang melakukan hal yang di luar dugaan.
Setelah setengah jam kemudian.
Mulfis tidak bisa tidur dengan nyenyak karena suara bising dari luar, tidak tahu apa yang sudah terjadi, sementara Nerlin sedang mencuci pakaian sehingga tidak tahu apa yang terjadi di halaman mereka.
"Kenapa bising sekali," ketus Mulfis yang berubah posisi duduk di atas kasurnya.
Karena merasa kesal ia pun keluar dari kamarnya dan berjalan ke halaman. saat ia melangkah keluar ke halaman ia terdiam melihat apa yang ada di depan matanya itu.
Saat Mulfis keluar dari rumahnya dan berdiri di halaman Richard langsung bersembunyi di samping tembok dekat pintu itu.
__ADS_1
"Viyone Alexandeeeeeerrrrrr....." teriakan Mulfis yang memenuhi satu ruangan rumahnya.
"Papa sudah bangun, ini semua daunnya yang segar sudah ku pilih. tidak kurang dari permintaanmu. semuanya lima ratus lembar," ujar Viyone yang menunjukkan ke arah lantai ada terdapat lima tempat daun-daun yang sudah dia pilih.
"Viyone Alexander, apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan?" tanya Mulfis yang menahan emosinya yang sedang memuncak.
"Aku tahu apa yang aku lakukan, aku kan sudah mengumpulkan lima ratus lembar daun yang segar-segar," jawab Viyone dengan tanpa merasa bersalah.
"Viyone Alexandeeeeerrr....aku hanya memintamu mengumpulkan lima ratus daun dari lima pohon, kenapa kau malah menebang semua pohon ini?" tanya Mulfis dengan sangking kesalnya, ia melihat semua pohonnya di tebang habis oleh putrinya itu.
"Papa, aku tidak salah. papa hanya menyuruhku mengumpulkan daun segar dari lima pohon. tapi tidak menyuruhku jangan tebang pohonnya. lagi pula lebih mudah untuk memilih daunnya ketika pohon sudah tumbang."
"Kenapa kau ini sangat bodoh sehingga tidak bisa lagi pikirkan ide yang lebih baik," bentak Mulfis dengan mengambil sapu lidi.
"Pa, ini adalah ide yang paling baik untuk bisa memetik dan memilih daunnya," jawab Viyone yang berlari keluar dari halamannya.
"Viyone Alexandeeeeerrr....jangan lariiiii!" teriak Mulfis yang mengejar putrinya.
Viyone berlari ke arah mobil yang berparkir di depan rumahnya, ia mengelilingi mobil tersebut, mobil itu adalah milik Richard yang masih berdiri di luar halaman rumah Mulfis.
"Hei, jangan lari! hari ini jika aku tidak memberi hukuman padamu maka aku tidak akan tidur dengan tenang," bentak Mulfis sambil mengejar putrinya itu.
Di saat mereka sedang kejar-kejaran Mike bersama bosnya sedang berdiri di samping melihat mereka.
"Tolong....harimau jantan mengamuk," teriak Viyone yang berlari mengeliling Richard dan Mike
"Jangan sembunyi! keluar!" bentak Mulfis yang mengambil sapu lidi sambil mengejar putrinya.
"Tuan, tolong aku! papaku sedang emosi!" teriak Viyone yang memeluk Richard dari belakang
Mike yang melihat gadis itu memeluk bosnya ia merasa terkejut, karena selama ini bosnya sama sekali tidak suka di peluk oleh siapa pun. bahkan ke empat istrinya juga tidak bisa melakukan hal seperti itu.
"Hei, jangan libatkan orang lain," bentak Mulfis.
"Apa kau sudah puas memelukku?" tanya Richard yang melihat ke gadis itu yang memeluknya dengan erat
"Sepertinya wajahmu tidak asing," ujar Viyone yang melihat wajah pria itu.
__ADS_1
Setelah berpikir sejenak Viyone langsung ingat kembali pria yang pernah di selamatkan olehnya.
"Tuan Kambing," ucap Viyone yang masih memeluk Richard dengan erat.